UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 80


__ADS_3

Jakarta, Indonesia.


Gedung tua di sekitaran pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.


Sekumpulan pria-pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam berkumpul di bawah remang-remang lampu yang menggantung di atas meja lumayan besar.


Ruangan gelap, hanya ada satu lampu yang menjadi pusat terang.


Bagai ruangan sipir tahanan di penjara yang di gunakan sebagai tempat introgasi terhadap tersangka kejahatan.


Seseorang pria berwajah codet di bagian wajah duduk dengan mengangkat kaki dan meletakkannya di atas meja.


Pria yang terlihat berwajah seperti pria Asia timur dengan mata sipit, kulit kuning langsat mengenakan sepatu boot kulit berwarna cokelat dan berjas hitam panjang.


"Ini bos berita terkini dari si bocah cecunguk itu," pria dengan kepala botak dan bertubuh gemuk melemparkan sebuah Poto di atas meja pada pria yang sedang duduk santai.


"Bagaimana keadaannya?" tanya pria ini sambil mengambil foto yang tergeletak di atas meja. "Setelah sekian lama tidak berjumpa, bocah sialan ini semakin menawan," dia menyeringai tertawa licik.


"Kabar yang baru kami dapatkan dari mata-mata di Shanghai mengatakan bahwa dia tengah menikmati liburan di Korea," jelasnya.


"Tuan K tidak pernah berpikir bebas sebelum memberikan dia kejutan," ucap bos yang di sebut sebagai tuan K.


"Menurut kabar yang beredar, dia saat ini sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita, tapi identitasnya di rahasiakan, publik masih bertanya-tanya seperti apa rupa wanita itu," anak buah Tuan K memberi tahu.


"Cari kabar mengenai wanita yang tengah dekat dengan bocah cecunguk itu," perintah pria codet ini. "Sekalian pastikan jangan sampai kepolisian di Indonesia mengetahui keberadaan kita," Tuan K mengkhawatirkan dirinya.


"Untuk keamanan bos di Indonesia, di jamin tidak akan bocor. Kami memastikan bahwa kepolisian Indonesia tidak akan menemukan tempat ini," pria gemuk yang di panggil Don ini terlihat sangat patuh.

__ADS_1


Di sekeliling Tuan K berdiri, ada begitu banyak pengawal garang dengan tubuh di penuhi tato. Dia menyeringai tertawa puas saat melihat targetnya dalam keadaan bahagia.


"Bagiamana dengan kepolisian Frankfurt?" tanya Tuan K.


"Mereka di pastikan berkerja sama dengan kepolisian Indonesia," jawab Don. "Tapi kami jamin mereka tidak bisa mendeteksi keberadaan kita!" tegas Don.


"Untuk sementara waktu, biarkan bocah cecunguk itu menikmati udara yang berhembus. Kita akan bertindak saat dia mulai lengah," Tuan K menaikan tangannya.


Seperti sedang meminta sesuatu. Kedua penjaga yang berdiri di sebelahnya memberikan sebuah stick berdiameter beberapa centi.


"Di dalamnya ada kekuatan listrik yang lumayan ampuh melumpuhkan mangsa, cukup membuat bocah itu tidak berdaya untuk sesaat," jelas anak buahnya.


Tuan K menyeringai tertawa picik. "Pantau terus keberadaan bocah itu, jangan sampai dia mengetahui kalau kita memata-matai dia," perintah Tuan K.


"Siap bos!" mereka patuh.


Dengan duduk santai, pria dengan sebutan Tuan K ini menikmati hisapan setiap batang rokok yang terbakar.


"Sebentar lagi kamu akan merasakan apa yang aku rasakan," dia tertawa dengan ekspresi wajah mendendam. "Bocah cecunguk sialan!"


Di ruangan gelap ini, pria berusia kepala tiga itu mengenang kejadian beberapa tahun terakhir. Dia mendendam, bahkan ingin melucuti mangsanya sesegera mungkin.


Poto yang tergeletak di atas meja, yang mengancam keselamatannya, ia remat-remat hingga menjadi sebuah kertas tak berguna. Ia mengepal tinju sekeras yang dia bisa.


"Aku pastikan kali ini dia akan mati," Tuan K tersenyum memaksa. "Atau, aku sendiri yang akan mati. Aku pastikan dia lebih dahulu mati menjemput ajalnya!"


Di tangan Tuan K selain ada stick berisi listrik bertegangan tinggi, juga ada pistol berkaliber lumayan besar.

__ADS_1


Dia memain-mainkan pelatuk pistol sambil membayangkan wajah pria yang paling ia tunggu kematiannya.


Dia lah Steve, musuh abadi yang tak akan bisa dia lupakan. Tuan K sangat menantikan kematiannya.


Dia bangkit dari duduknya, berdiri menuju sebuah dinding yang terpampang gambar wajah Steve.


Wajah besar yang menghiasi dinding gedung usang, membuat Tuan K makin berang dan geram setiap kali melihatnya.


Dadanya terasa mau pecah saat melihat wajah Steve. Karena tak bisa menahan amarahnya, Tuan K melempar wajah Steve menggunakan pisau.


Tepat mengenai sasaran, pisau tajam yang sering di gunakan oleh angkatan darat ini menancap di wajah Steve.


"Hidup yang malang," seringai Tuan K. "Hari-hari mu akan berakhir di tangan ku, cecunguk kecil!"


Dia memandangi bagian wajah Steve. Pemikirannya sudah di penuhi ambisi balas dendam yang kuat.


"Akan aku runtuhkan sesegera mungkin perusahaan wong yang tersebar di seluruh Asia. Sama seperti yang pernah cecunguk itu lakukan, aku akan membereskan semua ini secepat mungkin!" Seru pria Tuan K, pria yang di juluki mafia dari Hongkong.


Ekstra part. Bagian ini berkaitan dengan episode 44. Dimana Zico kala itu membisik di telinga Steve.


Jika kurang paham bisa baca ulang bagian 44 walau kurang jelas apa yang mereka katakan, author juga bingung mereka bilang apa.


Hehehehe.


BERSAMBUNG


Kemarin ada yang spoiler bab 77 dan spoiler-nya tepat sekali. Kali ini mungkin pembaca akan bertanya-tanya siapa pria di bagian bab ini?

__ADS_1


Ada yang mau spoiler, siapa tahu tebakan kalian benar seperti bagian komentar episode 77.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. ^^


__ADS_2