UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 124


__ADS_3

DUA BULAN PERTAMA


Pagi itu pukul setengah delapan. Johan baru saja turun dari tangga sambil mengancingkan kerah di pergelangan tangannya.


Di luar hujan, seperti biasa. Hujan memang terus melanda akhir-akhir ini, apalagi banjir terus saja mengeroyok beberapa daerah di Ibukota.


"Sudah rapi, sarapan dulu sebelum berangkat," kata Nyonya Diana mengingatkan putranya itu. Mereka berpapasan di anak tangga.


"Iya Ma," balas Johan singkat. Pria yang tengah berdiri sejengkal dari Ibunya itu, memang sedang ingin menuju ke meja makan.


Tapi sebelum itu, Nyonya Diana ingat kalau dia ingin bertanya sesuatu pada anaknya itu.


"Oh, ngomong-ngomong sudah tiga bulan ini putra grup Wong itu belum ada kabarnya. Apa kamu sudah tahu berita tentang dia?" Nyonya Diana yang baru saja ingin berlalu dari anak tangga. Tepat sebelum pergi, dia bertanya pada Johan. Sudah menjadi kebiasaannya menggosip, dan itu tidak bisa hilang. Terutama berita Steve, dia makin tertarik membahasnya kala si pria yang pernah memperlakukan tidak baik di hadapannya itu sekarat.


"Johan juga nggak tahu Ma kabar dia. Lagi pula nggak ada hubungannya sama Johan kan antara hidup dan matinya dia." Johan acuh tak acuh menanggapi perkataan sang Ibu. Dia juga geram kalau membahas si cecunguk itu. Pokoknya, bagi johan sial kalau membahas Steve atau menyebut namanya itu.


"Mama pikir kamu tahu sesuatu," kata Nyonya Diana yang agak kecewa di ujung bicaranya.


Johan menoleh, Ibunya terlihat agak bersemangat membahas pria itu tadi. "Memangnya kenapa kalau dia nggak ada kabarnya. Tumben Mama mau membahas dia?" tanya Johan yang mulai penasaran.


"Yah, bagus aja kalau dia nggak pulih dari penyakitnya itu. Atau sekalian saja dia mati. Mama mengharapkan kematian pria itu, biar dia tahu rasa."


"Maksud Mama apa?" tanya Johan lagi. Saat Ibunya berkata seperti itu, entah kenapa ucapannya agak ambigu dan mengundang pertanyaan dari Johan.


"Mama hanya......"


Ibunya menengok ke sekeliling. Kadang ke atas lantai, kadang ke arah dapur, kadang juga ke arah kolam yang ada di sisi kanannya. Lalu setelah itu dia menarik tangan Johan, agak menjauh dari ruang keluarga.


"Mama nggak keberatan kalau kamu menikah dengan Dinda. Mama setuju," ujarnya membisik pelan.


"Mama nggak lagi ngelantur kan?" Mendengar kata-kata sang Ibu barusan, Johan seperti sedang mimpi. Dia menaiki kedua alisnya, jujur ini terasa seperti mimpi di siang bolong.


Maksud Mama apa? Apa dia merencanakan sesuatu. Atau Mama mencoba memancing ku dengan rencananya, mungkinkah Mama—


"Mama benar-benar serius kali ini," sambar Nyonya Diana tergesa-gesa. "Mama akan merestui hubungan putra Mama dan Dinda."


"Mama lagi nggak bercanda kan dengan Johan?" Johan kembali memastikan. Dia melihat raut wajah sang Ibu, memang tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tapi rasanya aneh saja kalau tiba-tiba berkata seperti itu.


Kenapa aku merasa aneh ya. Mama seperti ini, rasanya agak sedikit berbeda dari sebelumnya.


Johan memperhatikan wajah sang Ibu. lagi dan lagi. Terlihat wajahnya dengan yakin berkata serius. Namun—


"Kok tumben Mama setuju pada Johan? Mama lagi nggak sakit atau—"


"Ish, Mama nggak sakit atau ngigau dan semacamnya!" tampik Nyonya Diana. "Mama bicara serius. Mama mendukung kamu!"


Mendadak kata-kata setuju keluar dari mulut sang Ibu, Johan merasa agak bimbang lagi. Pasalnya sang Ibu yang selalu menghalang-halangi, kini berubah agak aneh.


"Mama tiba-tiba seperti ini, membuat Johan bingung harus menanggapinya bagaimana." Walau sang Ibu sudah mengakui bahwa dia setuju, tapi Johan perlu menelaahnya dengan benar. Dia tidak mau langsung percaya begitu saja pada sang Ibu.


"Gini ya, Mama kasih tahu," Nyonya Diana melanjutkan bicaranya. Sebelum itu, dia menengok lagi sekelilingnya. Hingga dia merasa benar-benar aman untuk berkata. "Jadi, Mama pikir. Kamu dan Dinda memang cocok. Mama nggak setuju kalau kamu di jodohkan dengan anaknya grup Wong itu. Mama nggak rela. Jadi, Mama pikir kalau kamu dengan Dinda jauh lebih baik. Dia cantik dan berpendidikan, walau dari keluarga sederhana. Mama bisa mempertimbangkan dia sekarang."


"Tapi Mama dulu nggak suka sama Dinda?" Johan menyela. Dia mengingatkan kembali sang Ibu mengenai kejadian beberapa tahun belakangan. "Tapi kenapa sekarang Mama berubah menjadi seseorang yang menyukai dia. Johan benar-benar ragu pada Mama kali ini."


"Itu karena Mama terpaksa mengikuti kemauan Papa kamu yang keras kepala itu," Nyonya Diana menjelaskan. "Lagi pula, sekarang bisnis keluarga Tama grup juga ada di puncak saat ini. Dulu Mama tidak setuju kalau kamu menikah dengan Dinda karena bisnis keluarga kita masih ada di ujung tanduk. Tapi sekarang, setelah keluarga Heri berakhir. Nggak ada yang perlu di khawatirkan lagi. Kamu menikah dengan Dinda pun, Mama setuju-setuju saja. Yang penting kamu bahagia, Mama rela menurunkan sedikit ego Mama."


"Jadi, Mama!" Johan membelalak matanya. Kekagetannya ini membawanya paham situasi ini. "Sikap Mama ke Vanya,"


"Itu palsu," sambut Nyonya Diana dengan ekspresi melicik. "Kamu pikir Mama benar-benar suka dengan kehadirannya di rumah kita. Apalagi selalu bertingkah sok hebat, Mama nggak suka."


Sadar bahwa Ibunya selama ini ada di pihaknya, Johan menyeringai bahagia. "Inilah yang aku harapkan."

__ADS_1


"Lupakanlah dulu kebahagiaan kamu saat ini," Nyonya Diana menyela. Dia tahu kalau putranya sangat bahagia lantaran sang putra mengharapkan semua ini. "Yang harus kamu lakukan adalah. Kamu harus membujuk Papa. Ingat! Selama Papa mu tidak membuka restunya, selama itu pula dia akan menjadi penghalang niat kamu menikahi gadis itu."


Tidak perlu sang Ibu mengingatkan dirinya. Johan tahu kalau si tua Ayahnya selalu bertolak belakang dengan apa yang dia inginkan. "Kalau masalah ini Mama jangan khawatir. Johan bisa mengatasinya."


"Tapi jangan melakukan hal-hal gila lagi. Mama sudah membantu kamu selama ini, yang harus kamu lakukan hanya meyakinkan Papa saja. Tidak boleh yang lain," kembali Nyonya Diana mengingatkan.


****


Sudah menjadi pengangguran dua bulan pertama ini, Dinda hanya bisa berkutat di rumah saja. Dia masih enggan mencari pekerjaan lain, karena masih belum bisa menjernihkan pikirannya yang kacau.


Dinda merebahkan badannya di kasur. Bahkan sudah pukul sepuluh pagi dia belum mandi. Hanya memainkan gadget-nya, kadang kala main game di personal computer, kadang juga guling-guling tidak menentu.


Di tengah dia memainkan laptop-nya, Dinda tidak sengaja melihat photo-photo dirinya dengan Steve.


"Poto di Korea,"


Dinda ingat, photo itu saat Dinda dan Steve sedang membeli bandana merah. Lalu ada juga photo lainnya, yaitu saat dia ada di kapal pesiar di sungai Huangpu, Shanghai. Masih banyak lagi photo yang makin dia scroll, ternyata makin banyak.


"Selama ini aku sudah mengkoleksi ratusan gambar." Dinda tidak menyangka, ternyata, sekian lama sering mengumpulkan gambar-gambar itu. Kini jumlahnya memenuhi galeri laptopnya.


Dinda sesekali mengenang, di mana dia pernah mengambil gambar Steve saat bekerja secara diam-diam. Oh, dia juga ingat di mana saat di Shanghai, pria itu memintanya memandikan dia.


Kala mengingat kejadian itu, Dinda tertawa kecil. "Walau kamu saat ini nggak ada kabar. Aku nggak pernah sekalipun melupakan kamu. Selama tiga bulan ini aku mencoba melupakan kamu, tapi tetap saja. Kamu pria egois yang selamanya menjadi bagian dari hidup ku."


Benar, selama tiga bulan ini Dinda berusaha tersenyum di tengah kesedihan dan kerinduan yang tertahankan. Semenjak kepergian Steve, belum ada satupun panggilan darinya yang masuk ke ponsel Dinda.


Padahal handphone itu selalu dalam mode online bahkan tak pernah Dinda tinggalkan. Hanya karena menunggu panggilan dari Steve, Dinda rela seperti ini.


"Benar kata Miko. Seharusnya, dua bulan yang lalu aku pergi ke Jerman atau ke Shanghai mencari kamu. Tapi sayang, aku justru menolak saran Miko. Walau aku berniat untuk mencari kamu meskipun pada akhirnya aku menyerah, tetap saja, aku menyesal dengan cepat berhenti menunggu kamu."


Dinda memandangi sekali lagi poto-Poto imut Steve yang ada di galeri ponselnya. Dinda mendekapnya di dada, sesekali dia menciumnya. Saat ini Dinda sudah kuat dan tegar. Apapun kabar Steve, dia tetap menantinya. Setiap saat Dinda menghubungi keluarganya, di saat itu juga semua panggilan yang dia lakukan tak ada hasil.


"Minggu lalu aku ke rumah nenek. Dan hasilnya, nenek juga nggak ada di rumahnya. Mungkin kali ini Johan benar. Bisa jadi kamu sudah sembuh, lalu menikah dengan Peni tanpa sepengetahuan ku. Apapun yang kamu rencanakan di belakang ku. Aku percaya, tuhan akan memberikan kebahagiaan yang paling baik buat kamu dan aku. Dan ini saatnya aku harus ikhlas jika suatu saat kita bertemu, kamu tidak lagi bersama ku."


Johan Minggu lalu pernah bertemu dengannya di cafe dekat danau rekreasi. Di sana Johan mengadukan semua argumentasinya mengenai Steve. Dinda tahu kalau Johan berusaha memprovokasinya, tapi itu tidak akan berhasil. Dinda hanya percaya atas apa yang dia lihat, bukan atas dasar argumentasi tak beralasan Johan ini.


Walau begitu, Dinda tidak menutup kemungkinan kalau apa yang di katakan Johan itu benar. Mungkin, selama tiga bulan ini, pria itu sudah melupakannya. Semua bisa terjadi, siapa yang tahu nasib.


"Dinda." Dari balik pintu kamarnya, terdengar suara sang Ibu memanggil.


Dinda ingat, tadi Ibunya mengajak dia pergi super market. Sudah seminggu tidak berbelanja, kali ini Dinda ingin menemani Ibunya. Dia ingin melepaskan kepenatan selama dua bulan tak melakukan apa-apa.


"Iya Bu. Sebentar. Dinda masih ganti baju," balas Dinda dari bilik kamarnya.


"Uh, anak ini. Pasti main game lagi main game lagi." Sambil mengomel, Ibu Yuri merapikan syal yang dia gunakan di kepalanya sebagai pengganti penutup kepala.


Menunggu Dinda keluar dari kamarnya dan berangkat. Ketika Dinda sudah siap, Ibunya agak terkesima. "Kok rapi banget? Kita kan cuma ke supermarket."


"Dinda ada urusan sebentar Bu di luar. Jadi Dinda berpakaian seperti ini," katanya memberitahu.


"Ya sudah deh. Ayo kita pergi." Ibu Yuri tidak bertanya detail kemana putrinya hendak pergi. Dia yakin, apa yang di lakukan Dinda pasti berhubungan dengan sesuatu yang baik-baik saja.


****


"Ko. Mikir apa sih?" tegur Dendy pada Miko yang sejak tadi duduk di kelas. Padahal bel istirahat sekolah sudah di mulai, tidak seperti biasanya Miko seperti itu.


"Nggak apa-apa," balas Miko.


"Yakin?"


Miko mengangguk. "Cuma ada sedikit masalah."

__ADS_1


Dendy, remaja yang pernah berkelahi dengan Johan ini tertarik saat mendengar teman karibnya itu membahas sesuatu yang serius.


"Apa itu Ko. Bilang, siapa tahu aku bisa bantu kasih solusi," katanya ingin tahu.


"Masalah kecil sih. Aku juga nggak yakin kalau kamu bisa membantu."


"Haiyah. Bro," ucap Dendy seraya merangkul temannya itu. "Kamu dan aku sudah berteman sejak SMP. Hal apa sih yang nggak pernah aku bantu Carikan solusi buat kamu? Kalau aku bisa bantu, kenapa enggak. Ayo, bilang. Apa itu masalahnya?"


Miko menatap Dendy nanar. Walau Miko tidak ingin berbagi cerita, namun—


"Kakak kamu masih jadi dokter kan di Jerman."


"Iya," Dendy mengangguk cepat. "Kenapa memangnya?"


"Itu dia masalahnya!" ujar Miko yang blak-blakan.


"Tunggu, tunggu. Kok tumben bahas kakak ku segala. Ada hal apa sih? Sepertinya serius banget deh."


Walau Miko tidak yakin mengenai hal ini, tapi dia ingin mencobanya—demi Kak Dinda.


"Ini sesuatu yang mungkin orang lain nggak boleh tahu." Miko melihat sekeliling kelasnya, sesaat kemudian dia menarik telinga Dendy, lalu berkata pelan di daun telinganya itu.


Miko membisik, mungkin dia tidak mau ada teman sekelasnya yang lain tahu mengenai perbincangan mereka.


Meskipun jam istirahat, tapi kelas masih tetap ramai. Wajar pikir Miko kalau dia membisik.


"Hah! Seriusan?" usai Miko membisik, Dendy tersentak kaget. "Masa sih selama tiga bulan nggak ada kabar?"


"Sssttt..... Jangan terlalu berisik. Nanti yang lain tahu."


"Ups, sorry."


Dendy perlahan agak memahami cerita Miko. Selama tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar kalau di tunggu. Seharusnya, selama tiga bulan itu juga biasanya orang awam tahu kalau penyembuhan perlahan akan membaik dalam jangka waktu seperti ini. Terlebih rumah sakit di Jerman terbilang bagus fasilitasnya, kemungkinan akan cepat penyembuhan kalau seperti ini.


"Aku coba menghubungi kakak ku nanti. Kalau menghubunginya di saat seperti ini, justru panggilan akan di alihkan. Dia juga sedang sibuk di jam-jam seperti ini. Apalagi dia jaga malam, sekarang Jerman malam hari di saat ini."


"Oke. Jika ada kabar dari kakak kamu, secepatnya kamu beri tahu aku."


Meminta bantuan kakak Dendy yang bekerja di rumah sakit Jerman, pikir Miko ada baiknya. Menyelidiki Steve, siapa tahu dengan bantuan dari saudara Dendy itu bisa memudahkannya mengetahui keadaan Steve.


"Tapi Ko. Selama tiga bulan itu, dia benar-benar nggak ngabarin kak Dinda?" tanya Dendy lagi. "Apa itu nggak termasuk sesuatu yang aneh kan?"


"Misalnya?"


"Ya bisa jadi kalau dia nggak ada kabar—mungkin dia mau memutuskan hubungannya dengan kak Dinda. Apalagi, alasan pengobatan, selama tiga bulan ini rasanya aneh saja," kata Rendy berargumentasi.


"Entahlah." Meskipun terbilang masuk akal apa yang di katakan oleh Dendy, Miko terlihat putus asa. Dia memikirkan nasib Kakaknya. Bagaimana wanita itu bisa menjalankan kehidupannya dengan normal kalau dia sendiri harus patah hati seperti ini.


"Lalu? Kamu dan kak Dinda sudah berusaha mencarinya. Misalnya ke rumahnya atau ke rumah kerabatnya gitu?"


Miko menggeleng. "Sejak saat di pergi, nggak ada kabar sedikitpun. Seakan celah kehidupan pribadinya sulit di dapatkan."


"Ckckck.... Tega sekali dia."


"Dia jahat," timpal Miko.


"Ya, sejenis gitulah ya!"


BERSAMBUNG


^^

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA NOVEL INI


__ADS_2