UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 144


__ADS_3

Napas suami ku sama seperti parfum. Mereka sama-sama menyegarkan pikiran ku.


—DINDA—


_____________________________________________


Miko baru saja pulang kerumah. Dari depan pintu gerbang yang tingginya sebatas dada, dia melihat ada mobil hitam terparkir di garasi.


Tidak. Mereka tidak memiliki mobil. Dulu Miko pernah akan di berikan mobil oleh Steve. Tapi di tolak Dinda. Alasannya, Miko masih belum cukup umur mengendarai mobil.


Miko berjalan pelan, sambil mengintip siapa empunya mobil. Hanya saja, bedanya dari yang biasa Miko ketahui. Dia hapal beberapa mobil milik iparnya. Bisa jadi ganti mobil.


Saat di depan pintu, kebiasan untuk berucap itu malah keluar dari mulutnya sehingga membuat orang di dalam rumah menengok ke sumber suara.


“Miko pulang Bu,” katanya menyapa seisi rumah.


Whut. Di sana matanya melihat kakaknya dan iparnya duduk minum teh. Sangat santai.


“Kak Dinda sudah jarang main kerumah. Sana salaman sama kakak mu dulu,” balas Ibu Yuri menyuruh.


Miko menatap Dinda jengah, memanyunkan bibir dan dahinya di kerutkan.


Peduli apa, kakaknya terlihat pucat. Miko ternganga, dia masih perhatian pada kakaknya itu.


“Kakak sehat kan?” tanya Miko sembarang.


“Iya,” angguk Dinda. “Kenapa memangnya?”


“Wajah kakak pucat pasi. Suwer.”


Dinda memegang wajahnya dengan kedua tangannya. Dingin. Mungkin maksudnya karena semalaman ini.


“Benarkah?” tanya Dinda memastikan.


Miko mengangguk. “Sumpah. Aku nggak bohong.”


Dinda melirik Steve. Dia meminta bantuannya agar memberikan jawaban. Dengan cepat, suaminya langsung memberikan jawaban asal.


“Oh. Itu, sebenarnya kamu akan dapat keponakan.”


Seketika dua orang yang perhatian pada Dinda mendadak terpaku bak manekin.


Steve dan Dinda memang baru saja datang. Sesaat sebelum Miko masuk. Jadi Ibu Yuri belum memperhatikan putrinya dari tadi.


Ibu Yuri. Demi tuhan. Dia kaget saat mendengar Dinda sudah mendapatkan isi.


“Bagaimana bisa. Belum seminggu.”


Dinda memelototi Steve, menyikut dadanya. Suaminya tidak peka. Seharusnya dia tidak menjawab seperti itu. Sementara Miko ikut bersuara. Dia tidak percaya kalau ternyata..... Jangan di jelaskan. Miko paham, Itu nakal.


“Kak Dinda dan kak Steve....”


****


“Kamu kenapa bilang seperti itu tadi ke Ibu.”


Dinda kesal. Steve bukan membantunya berbohong, malah dia menambahkan sedikit drama yang membuat runyam keadaan.


“Maaf sayang. Aku tidak tahu tadi harus berkata apa tadi,” katanya mengiba.


Dia berkata, seolah semua tadi hanya lelucon yang mudah di jelaskan dengan akal logika.


Sesekali Steve melirik Dinda yang terlihat mengisut kesal. Tapi fokusnya tetap pada jalan mobil yang dia lalui.


Di depan sana ada lampu merah, tapi masih agak jauh. Apalagi jalan masih agak macet, sungguh. Steve ngeri saat Dinda beringsut sebal padanya.,


“Ya sudah deh. Untung Ibu percaya kalau aku tadi cuma kelelahan. Kamu sih, ceroboh bilang punya anak.”


Pikiran Dinda masih terpaku di tempat Ibunya. Kejadian tadi membuat Dinda hampir mati kutu. Lagi pula, tadi Steve langsung mengubah jawabannya, sebelum dia orang tadi menginterupsi mereka lebih dalam lagi.


“Kamu tidak mungkin melakukan itu kan Dinda. Katakan. Siapa laki-laki yang menjadi ayah dari anak itu.”


Oh, sungguh. Ucapan Ibunya tadi mungkin agak kecewa padanya. Ibunya berpikir kalau Dinda sudah di apa-apa kan oleh Johan selama menghilang beberapa waktu yang lalu. Ide nakal pria gila itu membawa Dinda ke Ethiopia, takut kalau meninggalkan jejak di tubuh putrinya. Ih, ngeri. Dinda tidak bisa membayangkan, betapa terpukulnya sang Ibu jika benar-benar itu terjadi.


Hamil di luar nikah. Untung deh, itu hanya rumor kecil yang belum beredar luas. Jika sampai menjadi gosip besar, akan di taruh di mana muka keluarga. Hiks.


“Untung tadi ada cara membuat Ibu yakin. Kalau tidak, mungkin aku akan di coret dari daftar kartu keluarga,” kata Dinda pada Steve.


“Itu nggak akan terjadi. Kan ada suami kamu. Semuanya bakal beres. Lagi pula, tadi juga aku bilang kalau itu hanya prank. Lihat kan ekspresi wajah Ibu dan Miko gimana tadi.”


“Tapi nggak lucu. Ibu sampai mengira kalau aku di apa-apa kan kak Johan.”


“Oke deh, maaf. Aku mengaku salah.”

__ADS_1


Delik kesal itu susah membuat Dinda melupakan kejadian tadi. Dia mencoba menghilangkan ingatan sebelumnya. Tapi tetap saja, pikiran Dinda masih terhenti di rumah Ibunya.


“Tenang saja sayang. Selama ada suami kamu. Itu tidak akan terjadi apapun. Sumpah. Aku janji. Aku suami kamu yang paling bisa di andalkan.”


Iya, suami edan. “Kamu tahu nggak. Rasa takut tadi membuat aku nggak bisa bernafas. Ih, pokoknya aku sebal.”


“Ya maaf.” Mungkin hanya itu yang bisa Steve katakan. Selebihnya, hanya merayu yang dia bisa. Tidak dada keahlian khusus yang dj miliki Steve. “Aku janji deh. Lain kali nggak bakal buat cerita aneh-aneh lagi.”


Semua sudah berlalu. Dinda perlahan melupakannya. Di ikuti rasa nyerinya juga mulai agak mereda sedari tadi.


“Gimana sebelum pulang kita beli makanan dulu. Di depan sana kita mampir ke transmarket.” Steve menunjukkan gedung yang jaraknya tidak dari lampu merah. Dan Dinda terlihat mengangguk.


“Oke.”


****


“Apakah aku bisa membantu istri ku memasak? Sepertinya istri ku terlihat butuh bantuan.”


Steve datang ke dapur, seperti tingkah sebelum menikah. Kebiasaan memeluk istrinya dari belakang kini menjadi rutinitas. Dinda tidak menyangkal tingkah suaminya. Dia egois, ingin menguasai seluruh tubuh Dinda.


Walau mengganggu kegiatan memasaknya, bahkan membatasi tangannya untuk bergerak leluasa, Dinda tetap pada reaksi yang sama. Wajah normal. Berekspresi datar.


“Kamu nanti mengacau. Aku nggak mau kamu merusak cita rasa masakan yang aku buat.”


Steve menanggalkan dagunya di pundak Dinda, sambil matanya melihat tangan yang sedang mengoseng wajan.


“Aku tahu kalau aku tidak bisa masak dan hanya bisa makan seperti slogan Miko dan Niko. Tapi, kali ini aku sudah bukan pria yang mendramatisir kala itu. Aku ini sekarang seorang suami tahu. Seharusnya kamu membiarkan aku membantu kamu.”


Saat dia menyinggung masalah di mana dia sok acuh pada masakan Dinda. Mendadak, ingatan itu membawa Dinda terpatri ke posisi itu. Dan, Dinda kembali mengusut kisah lama yang menjengkelkan kalau di ingat-ingat.


“Iya. Saat itu kamu kejam. Nggak mau melakukan apapun kalau ada aku. Semuanya harus aku yang melakukannya. Terus pura-pura nggak suka pedas, tapi semua masakan yang aku buat habis.”


“Kalau sekarang?” sambat Steve lebih dahulu.


Dinda membalikkan badannya, dia ingin melihat wajah yang tak berdosa memerintah seenaknya itu di masa lalu.


“Tidak berubah. Suka mengganggu orang lain.”


“Biarin gangguin orang lain. Lagi pula ganggu istri sendiri. Memangnya masalah.”


Ih, setiap ucapan yang Dinda lontarkan, entah kenapa Steve selalu memiliki dalih. Dia pandai membantah setiap ucapan Dinda, itu rasanya Dinda kesal-kesal manja.


Dinda tidak lagi ingin berkata pada Steve. Bukan marah, tapi dia masih fokus pada masakannya.


Sebenarnya tadi sore mereka sudah makan pesan via daring. Jadi Steve pikir kalau saat itu dia sudah kenyang, sehingga Dinda tidak perlu memasak untuknya malam nanti.


Itulah kenapa Dinda sibuk memasak di dapur, karena suaminya bilang rindu pada masakan buatan istrinya. Dinda kikuk, tidak membantah. Justru bergerak cepat menuju ke dapur.


“Masak yang enak ya sayang. Aku jamin, aku akan beri rating bintang lima untuk masakan kamu nanti. Seperti di hotel-hotel bintang lima itu.”


“Demi kamu aku rela masak malam-malam begini.”


Dinda mencibir Steve, di ikuti lirikan sekilas. Suaminya itu memasang ekspresi gemas dan puas. Istri penyabar, di sayang Tuhan.


“Itu harus,” jawab Steve cepat.


Steve memang suami sialan. Tidak tahu tempat, dia tetap memeluk istrinya. Memasak sambil bermesraan, membuat Dinda canggung harus berbuat apa.


Apalagi tangan nakal Steve selalu merogoh puding kenyal Dinda. Itu tidak di lepaskan sejak tadi. Dinda memintanya agar tidak menggangu, tapi dia mau. Bahkan melakukan lebih luas lagi.


Selalu bilang puding kenyal, puding kenyal. Nyesal bagi Dinda kala malam itu mengatakan kalau puding kenyalnya sudah menjadi milik Steve. Alhasil, dia tidak mau melepaskannya lagi.


“Puding ini membuat aku nyaman. Aku baru tahu kalau perempuan punya benda berharga semacam ini.”


“Cih.” Dinda mendengus, kalau bukan suami sendiri, Dinda pasti sudah memukul kepalanya. Namun tak ubah Dinda tidak bisa menolak tangan-tangan itu.


“Sayang,” rengek Steve. Dinda hanya mendeham kecil. Kali ini bukan masakan yang dia pegang, tapi piring yang sedang di cuci. “Aku baca di internet tadi. Katanya memegang puding istri, merupakan terapi kesehatan loh.”


"Lalu?"


Oh ambigu. Dinda langsung mengunci arah pembicaraannya.


“Maksud ku. Kalau suami mu ini setiap saat ingin menyentuhnya. Kamu nggak akan marah kan?”


Dinda tahu arah ucapan itu. Steve sengaja berdalih, dengan mengatasnamakan membaca artikel di internet. Alih-alih, ingin memiliki seutuhnya dua benda menonjol itu.


“Mulai sekarang kamu harus aku batasi. Sejak tadi tangan kamu tidak mau lepas dari sini. Kamu tahu, karena tangan kamu, aku sulit kesana kemari.”


“Tapi aku inikan suami kamu sayang.”


“Pokoknya sekarang aku batasi. Kalau sudah selesai memegangnya, besok-besok harus minta izin.”


Jleb. Sial bagi Steve. Bahkan memegang jelly itu saja harus minta izin. Istri macam apa yang harus membatasi hak suaminya. Durhakun.

__ADS_1


“Kamu memang nggak punya hati. Suami sendiri di biarin menderita.” Steve merajuk, lalu menepikan kepalanya di bahu Dinda.


Sementara Dinda terkekeh. Dia hanya membual saja tadi.


“Terserah.”


Steve yang memeluk Dinda, ikut kesana kemari kala tubuh istrinya ingin meraih apa yang dia ingin ambil.


Kadang Steve membantunya. Oh, tubuh pendeknya tidak sampai tadi saat mau meraih kecap di lemari. Dan tahu saja, lemari dua pintu itu ada di atas kepala Dinda, memang tinggi tempatnya. Mungkin hanya jarinya saja yang menyentuh, tidak sepenuhnya semua tangan bisa mendapatkan barang-barang di sana.


“Untung punya suami tinggi. Jadi senang kan kalau di bantu mengambilnya.”


Dinda meraih kecap dari tangan Steve, menuangkannya dalam masakan. Steve menyaksikannya, tapi Dinda melirik suaminya yang sedang memperhatikannya dengan khidmat ini.


“Apa mungkin sikap Papa ke Mama dulu seperti ini. Jadi nurun ke anaknya.”


Eh. Mendadak Steve ingat masa kecilnya saat Dinda menyinggung kisah kedua orang tuanya. Dan itu benar, saat kecil memang Steve pernah melihat Papa dan Mamanya sering berpelukan seperti ini di dapur.


Apalagi sang Ayah. Setiap pulang kerja kadang lebih mencium sang Ibu dahulu, barulah dia melirik anak-anaknya. Bisa jadi sikap nakal pada istri sendiri di dapat Steve dari Ayahnya.


“Kenapa diam?” tanya Dinda.


Suaminya termangu. Ya, dia sedang bernostalgia pada masa kecilnya yang kerap melihat romantis dan kasih sayang dari sang Ayah.


“Nggak apa-apa. Cuma lagi mikir, kok bisa nebak dengan benar. Apakah istri ku memiliki kekuatan super.”


Dinda menggeleng. Sepenuhnya argumentasi suaminya itu salah. “Aku cuma asal bicara kok. Nggak berniat buat nebak beneran.”


Steve men-decak, kemudian dia dia mencium pipi Dinda lembut. “Entah kenapa. Semakin hari istri ku makin cantik. Tidak rela jika wajah ini di abaikan sedetik saja.”


“Kamu menggombal?”


Steve menggeleng. “Sungguh. Istri ku adalah wanita yang paling sempurna.”


****


“Aku pikir benar-benar tadi akan dapat keponakan secepat ini. Ternyata itu hanya prank. Kak Steve memang pria paling absurd.”


“Serius kak. Tadi kak Steve bilang cuma prank. Terus kata Ibu apa?”


Niko tadi belum pulang, karena dia langsung menuju ke tempat kerja paruh waktunya. Jadi, dia ketinggalan berita heboh ini.


Niko, Miko dan Ibunya tengah duduk di depan televisi. Sambil menemani Ibu mereka menonton drama, kedua anak itu asik berbincang seraya memangsa cemilan. Kadang juga sibuk memainkan gawai mereka masing-masing.


“Ya. Ibu dan kakak kaget lah. Masa, baru sehari jadi pengantin baru, langsung punya anak gitu. Kak Steve memang sengaja mau buat Ibu senang di awal, terus jantungan di akhir.”


Niko terkekeh. Dia tidak bisa menahan gelak tawa saat membayang ekspresi wajah keduanya. Pasti lucu kalau melihat secara langsung.


“Niko paham. Niko paham,” katanya yang terus mencoba menahan tawa.


Ibu Yuri menggeleng. Lelucon tadi siang masih saja di bahas kedua anak itu.


“Terus. Terus. Kak Dinda bilang apa. Kak Dinda nggak bilang kalau itu bakal jadi keponakan yang akan tumbuh—kan.”


Miko menggeleng. “Kak Dinda bilang dia kelelahan. Bukan seperti yang di ucapkan kak Steve tadi. Tapi kak Steve memang pasangan yang absurd. Masa polos banget. Baru saja jadi suami, udah ngebet pingin punya anak. Kan aneh.”


“Nggak aneh sih kak,” sambat Niko. Dia tidak membenarkan ucapan kakaknya, Miko. Tapi pikiran Niko memang di ajak mengingat ke masa di mana dia baru saja mengenal Steve.


“Maksudnya?”


Wajah Miko saat itu di baluti penasaran. Adiknya sudah mengundang perhatian untuk membahas sesuatu yang lebih luas lagi.


“Seingat Niko sih........ Kak Steve itu memang suka anak-anak.”


Walau tidak yakin, tapi Niko ingat saat itu Steve pernah memberikan anak kecil sebuah mainan di pinggir jalan. Oh, dia ingat, di sana juga ada Dinda.


“Anak kecilnya gimana? Nangis pas kak Steve datang.”


“Ya. Anak kecil itu memang nangis. Setelah kak Steve datang menghibur, dia berhenti merengek.”


Memang yang di katakan Niko benar. Steve memang tampangnya saja yang garang. Dia sebenarnya penyayang.


Apalagi menjadi budak cinta akut kakaknya si Dinda. Dan itu membuat Miko ingin terus tertawa kalau mengingat tingkah Steve.


“Kalian berdua. Ngegosipin suaminya kak Dinda. Sudah seperti Ibu-ibu saja,“ gerutu Ibu Yuri.


Ibu Yuri agak risih sih saat kedua putranya berkata tanpa dirinya. Tapi dia tertarik juga mendengar kata-kata lucu dari kedua putranya itu. Meski harus jaga imej.


“Seru saja Bu kalau bahas kak Steve. Apalagi muka garangnya seperti harimau. Suwer Bu, muka kak Steve cocok buat nakut-nakutin kecoa di dapur.”


"Niko..... Jangan meledek orang lain begitu."


Niko tersenyum malu. Di ikuti tawa renyah dari kakaknya. Dan Miko menambahkan kata-kata mutiaranya untuk Steve.

__ADS_1


“Pria bucin itu memang pantas di ledek Bu!”


BERSAMBUNG.


__ADS_2