
"Jadi kakak memaafkan kami!" Ucap Miko sederhana.
"Ya mau bagaimana lagi? Toh sebagian kontrak sudah berjalan. Kakak nggak mau ya, karena kontrak ini kakak akan kena batunya." Timpal Dinda sedikit menyindir.
Steve peka pada ucapan Dinda. Ia sedikit memasukannya dalam hati walau itu adalah faktanya.
"Jadi maksudnya kamu sedang menyindir ku begitu?"
Dinda melirik kedua adiknya. Ia memberikan peringatan pada Steve melalui kode mata bahwa ada anak kecil dan ia harus bersikap ramah pada bocah saat bicara urusan dewasa.
Dinda selalu menganggap adik-adiknya sebagai bocah kecil yang menggemaskan.
Dinda berusaha bersikap tenang di hadapan kedua adiknya.
"Kalian kakak maafkan dan kalian bisa pergi meninggalkan kami lebih dulu."
Miko dan Niko patuh. Mereka membiarkan dua orang itu sendiri di ruang belajar perpustakaan umum mereka. "Terima kasih kak!"
Keduanya menjauh, dan Dinda mencoba memanjangkan leher demi memastikan kedua adiknya telah menghilang di lorong toko.
"Jadi pak Steve merasa atas ucapan ku itu?"
Steve sedikit dongkol, dan raut wajahnya mulai serius. "Ya, aku merasa atas ucapan itu."
Dinda terkekeh mendengar pengakuan Steve yang gamblang. "Pppfffffttttt....... Aha-ha-ha-ha....." Dia tertawa lebar dan puas saat melihat Steve bicara serius.
"Jangan bilang pak Steve datang kesini karena menyangkut kontrak tempo hari itu. Benar bukan!" Ucap Dinda menggoda sambil tertawa lepas.
Steve memicingkan matanya menyaksikan wanita ini tertawa puas.
Dinda terus terpingkal-pingkal karena berhasil menebak dengan benar apa yang Steve katakan. Sesekali ia memegang perutnya karena tidak bisa menahan gelak tawa yang pecah begitu saja merusak suasana keduanya.
Steve jengkel melihat wanita tengik itu mentertawakan kebenaran. Kebenaran atas apa yang Steve inginkan. Steve menggeram menggigit giginya hingga ngilu. Ia menatap wajah Dinda dengan ekspresi wajahnya yang dingin. "Potong gaji atau temani aku makan di luar."
Dinda kaget, di saat dirinya sedang tertawa bahagia malah di berikan ucapan ketus. "Apa dia sedang mengancam ku?" Tanya Dinda dalam hati.
Dinda bertanya penasaran sebab dia merasa tidak melakukan sebuah hal yang menyinggung dirinya. "Maksud bapak aku sudah melakukan sebuah kesalahan kah?"
"Ya. Kamu melanggar sebuah kesalahan yang berat. Mentertawakan bos mu adalah perbuatan tercela." Steve bersikap sok membenarkan diri.
Lalu ia melanjutkan bicaranya dengan bahasa santai sok berkuasa. "Masih ingatkan pada salah satu pokok pernjanjian yang tertera dalam kertas itu, bahwa aku tidak pernah bersalah."
Dinda paham dan ia mulai menyadarinya. Menyadari jika dalam salah satu paragraf di atas kertas perjanjian itu ada sebuah tulisan yang di maksud oleh Steve. Ia sedikit panik. "Astaga aku hampir lupa jika kertas itu ada tulisan yang tidak sempat aku baca sepenuhnya. Akh..... Aku terlalu bodoh untuk memahami situasi ini."
Steve melihat Dinda sudah masuk dalam skema cerita. Senyum licik mengembang di wajahnya, Steve merasa memenangkan undiannya kali ini. "Bagaimana? Sudahkah memahami apa itu kesalahan mu." Bisik Steve menggoda di telinga Dinda.
"Anu..... Iya... Aku... "
"Kamu terlalu lama berpikir. Aku sudah mulai lapar." Steve tak sabaran, ia langsung menarik tangan Dinda dengan paksa.
Mereka meninggalkan ruang baca.
Langkah kakinya memburu dengan cepat. Steve membawa Dinda keluar dari toko bukunya.
"Pak Steve. Bapak mau ngapain." Tanya Dinda polos.
Steve menghentikan jalannya yang memburu, ia menatap wajah Dinda dan menyaksikan lugunya wajah Dinda saat itu. "Jangan banyak tanya. Aku sangat lapar saat ini."
"Maksud bapak." Dinda belum paham, namun ia sudah berpikir bahwa Steve akan membawanya ke restoran. Pikirnya ia akan menemani pria itu makan pagi ini.
Steve tahu apa yang ada di pikiran Dinda saat itu. "Iya, itu.... Itu yang sedang kamu pikirkan. Kamu akan menemani ku makan."
"Tapi Pak.."
__ADS_1
"Membantah ucapan seorang pria terhormat seperti ku, kamu akan terkena kutukan tidak akan menikah dengan pria mana pun."
Dinda mendengus nafasnya, raut wajahnya seperti orang bodoh seakan tak percaya pada ucapan steve. Mulutnya tidak terkontrol untuk bicara. "Sejak kapan ada kutukan semacam itu?"
"Sejak kapan?" Steve mengulangi ucapan Dinda.
"Tentu saja sejak kamu menjadi kekasih ku." Tambah Steve dengan bicara gamblang. Steve ahli dalam menggoda.
"Sejak kapan aku menjadi kekasih Bapak." Hardik Dinda bicara fakta yang menusuk relung kalbu Steve.
"Aku lupa jika dia belum menerima ku. Akh sial...... Aku harus mengganti topik pembicaraan dia pasti sedang panas dingin sekarang mendengar ucapan ku tadi." Gumam Steve merasa malu dalam hati.
"Lupakan saja.... Lebih baik kita mencari makan, aku sudah sangat lapar. Atau kamu yang akan menjadi makanan ku pagi ini." Lirih Steve pada dinda.
Mata Dinda terbelalak entah mana, sesekali ia memicingkan pupilnya yang bergetar. Dinda tidak paham maksud ucapan Steve.
Dinda terpaku, ia tak menjawab apapun lagi selain menuruti Steve. Kemana pun ia akan melangkah kan kakinya ia ikut. Kebetulan saat itu, keduanya berdiri tepat di meja kasir.
Mereka hampir lupa jika ada orang lain di toko itu. Niko, entah dari mana asalnya, mungkin ia dari kamar mandi tiba-tiba datang menghampiri mereka. Tidak, lebih tepatnya menghampiri meja kasir sebab dialah yang sedang menggantikan posisi Rina yang biasanya menjaga toko.
"Kak Dinda! Kakak mau kemana?" Tegur Niko yang tak sengaja melihat mereka hendak keluar.
"AHM.... EHM..... Kakak dan Pak Steve.... Sebenarnya......"
"Kami ingin berkencan." Sambar Steve memotong pembicaraan. Santai, seakan dia ahli dalam bicara di situasi yang begitu tak kondusif. Tenang, mungkin kata ini yang cocok untuk Steve yang hebat berbicara dalam berbagai kondisi.
"Pak Steve... Apa yang bapak ucapkan." Dinda merasa malu dan sedikit menuntut penjelasan dalam kebingungan yang ia rasakan.
Niko terperanjat kaget, tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Tetapi inilah steve bicara semaunya saja. "Kencan?" Niko mengulangi ucapan steve. Mungkin Niko berpikir salah dengar sehingga ia menyebut kata 'kencan' sangat lantang.
Steve mengangguk 'iya'. Wajahnya kali ini tersenyum manis, lalu mengedipkan matanya mengkode Niko.
"Jadi maksudnya Kak Steve dan kak Dinda..... Kalian......"
"Iya... Sebentar lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga kalian." Timpal Steve bicara penuh percaya diri.
"Aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan." Balas Steve makin menjadi.
Dinda sebal, tetapi ia tak bisa berkilah apapun selain membela diri. "Niko jangan dengarkan ucapan Pak Steve. Dia asal bicara saja. Maklumlah, Pak Steve selama ini tidak pernah di dekati wanita manapun."
"Jomblo. Cukup katakan begitu saja dari pada mengatakan tidak pernah di dekati wanita manapun, karena kesannya seperti tak laku." Niko merevisi ucapan kakaknya.
Dinda tersenyum masam bagai buah lemon. Ia tak percaya jika adiknya jauh lebih cerdas. "Akh.... Iya.... Itu maksud kakak."
Steve menaikan satu alisnya, bibirnya tersungging melicik bak aktor antagonis.
Dan ia kembali mengkode Niko dengan bahasa yang mudah di pahami oleh remaja itu. Niko peka dan terlatih dalam memahami bahasa planet semacam yang di lakukan oleh Steve.
Niko mengacung jempol, "Semoga berhasil kak," ucap Niko bicara dalam bahasa isyarat.
Steve menyukai dukungan Niko. Adik Dinda nampaknya sejalur dengan pemikirannya dan lampu hijau menanti bagi Steve.
Dinda melihat kedipan mata yang di arahkan oleh Steve pada adiknya tadi. Ia mengikuti kedipan mata Steve, lalu menengok wajah Niko. "Apa maksud dari kedipan Steve tadi." Itu yang menjadi pertanyaan Dinda.
"Kenapa kalian saling memainkan bahasa isyarat?" Tanya Dinda pada keduanya.
Niko bersikap rasional dan ekspresi wajahnya biasa saja. "Tidak ada." Balas Niko singkat.
Dinda melirik wajah Steve demi melihat kelicikan apa lagi yang hendak ia perbuat pada dirinya dan juga adiknya.
"Apa? Kenapa menatapku begitu? Kamu ingin belajar bahasa isyarat juga? Atau ada suatu pertanyaan untuk ku?" Tanya Steve narsis.
"Tidak.... Aku tidak akan melakukannya. Aku hanya bingung saja pada Pak Steve. Tapi...... lupakan saja." Tukas Dinda tak ingin bicara banyak.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, adik manis. Aku akan memberikan kamu empat buah sepatu premium karena sudah meminjamkan kakak mu untuk ku. Jika kita bertemu lagi, aku akan membawa mu liburan ke Eropa." Steve menawarkan diri.
Niko mengangguk setuju.
Niko tak berharap banyak pada ucapan Steve, tetapi mendukung mereka mungkin itu yang bisa di lakukan oleh Niko.
Niko melihat keduanya meninggalkan toko. Di balik pintu kaca toko, keduanya sudah tak kelihatan lagi rupanya.
Steve membawa Dinda menuju ke sebuah restoran terbuka. Layaknya restoran yang ada di kota Barcelona. Lebih mirip bar terbuka tetapi panoramanya indah karena terletak di pinggir pantai Ancol, dekat dengan gedung-gedung PIK. Bukan kencan, tetapi lebih menemani orang makan. Itu yang Dinda rasakan.
Ia tak tahu kenapa dirinya setuju saja saat pria itu menarik lengannya. Berbeda dengan saat Johan yang melakukannya.
Mungkin karena perjanjian tempo hari itu yang membuat Dinda patuh. Tetapi tetap saja saat melihat wajah Steve, Dinda merasa sesuatu yang berbeda.
Ia tak bisa mendeskripsikan semua tentang Steve. Dia berbeda dengan pria umumnya. Misterius, mungkin satu kata ini yang bisa mendeskripsikan seorang Steve.
Kata misterius bagi Dinda banyak arti. Dia bisa baik, kadang jahat dan kadang buruk, terkadang juga bersikap dingin tetapi kadang juga hangat. Tidak menentu, tapi itulah Steve selalu berubah-ubah emosinya setiap saat.
Nyaman saat berada di dekat Steve, tetapi terkadang ambigu itulah yang di rasakan Dinda saat berada di dekat pria galak ini.
Dinda selalu berpikir bahwa Steve menyukainya seperti yang pernah ia ucapkan beberapa waktu yang lalu. Tetapi dinda tidak mau mawas diri. Sebab jika hal itu tidak terbukti, mungkin dia akan menjadi pihak yang terlalu berharap. Dinda tidak mudah menghadapi situasi yang akan membuatnya kehilangan nantinya.
Dia tidak mengatakan cintanya pada Steve, tetapi Steve sudah berkali-kali mengatakan ingin memilikinya. Arti memiliki itu sebenarnya banyak menurut Dinda tetapi ia tak bisa begitu saja percaya pada ketulusan atau kepalsuan seseorang.
Steve berbeda dengan Johan, sebab meskipun Steve selalu bertindak semaunya tetapi ia tak pernah memaksa Dinda untuk melakukan apa yang tidak ia inginkan.
Entah mengapa Dinda ingin memikirkan pria yang kini duduk di depannya itu. Dinda mulai melamun memikirkan Steve. Banyak sekali yang membuat Dinda ingin tahu tentang Steve, mendefinisikan dirinya.
Dinda pernah memikirkan dan membandingkan Steve bagai bunga mawar. Harum dan cantik, tetapi berduri. Mungkin definisi ini cocok untuk Steve yang terlihat begitu mempesona namun penuh kewaspadaan. Ia tak mudah bicara banyak hal, tetapi Dinda cukup mengerti bahwa sikap dinginnya tak mau sok akrab dengan siapa pun.
Dan pada akhirnya Dinda memikirkan Steve yang ada di hadapannya.
"Masakannya tidak enak?" Tanya Steve menengahi lamunan Dinda yang sedari tadi hanya memperhatikan makanan saja.
"Atau makanan disini bukan selera yang sesuai untuk kamu makan?" Sambung Steve.
"Oh..... Bukan begitu.... Aku.... seperti agak tertegun melihat makanan ini sangat lezat." Dinda beralibi sempurna.
Steve dari tadi sudah memotong steak miliknya, tetapi steak Dinda masih utuh.
Steve tanpa pikir panjang menukarkan steak yang baru saja ia potong dengan milik Dinda.
"Pak Steve. Bapak tidak perlu melakukannya." Ucap Dinda merasa tidak enak hati.
Steve tak menghiraukan Dinda, baginya hal semacam itu lazim di lakukan oleh seorang pria.
"Makanlah. Aku tidak mau kamu mengumpat ku karena tidak bersikap romantis pada makan kita pagi ini." Ucap Steve bicara tidak dingin dan tidak juga hangat. Datar, itu yang mewakili ekspresi Steve saat itu.
"Dia tidak romantis. Tetapi dia sangat pengertian walau terkesan sedikit galak dan bossy." Gumam Dinda mulai memperhatikan Steve.
"Jangan terus memperhatikan aku. Jika tidak, nanti malam kamu akan memimpikan wajah tampan ku. Aku tidak mau tanggung jawab jika ini terjadi." Ucap Steve tahu jika Dinda sedang memperhatikan dirinya, meski matanya berfokus pada steak dinda yang sedang ia potong.
Ia baru sadar, bahwa Steve punya keahlian menebak pikiran orang lain. Dan ia juga baru sadar jika selama ini Steve adalah pria yang sempurna untuk ukuran pria seumuran dengannya. Wajahnya berorientasi sangat tampan khas pria Asia. Kulitnya putih bersih, alisnya, hidungnya, bibirnya yang merah serta rambut hitam legamnya Dinda perhatikan dengan teliti. Ia membandingkan dengan kedua adiknya, tetapi tetap saja ia berpikir setampan apapun Steve, pastinya dua adik kembar itu bisa bersaing dalam hal ini. Dinda memberi rating 99/100 untuk ketiganya.
Dinda tanpa sadar, tersenyum manis saat melihat Steve yang fokus pada makanannya. Dia bahkan imut saat sedang fokus, itulah yang membuat Dinda secara tak langsung tersenyum melihat Steve.
"Kenapa tersenyum? Apa ada yang salah dengan penampilan ku?" Tanya Steve yang sedang asik makan. Ia menghentikan makannya sejenak karena penasaran apa yang membuat wanita ini tertawa.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan hal lain." Kilah Dinda dengan senyum manis.
"Yakin!"
"Tentu saja!" seru Dinda mengangguk sembari melempar senyum manis.
__ADS_1
Dan Steve percaya begitu saja pada ucapan Dinda. Dia lalu meminta Dinda melanjutkan kembali makan mereka.
BERSAMBUNG