UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 151


__ADS_3

“Untuk apa peduli pada kritikan orang lain jika tidak bisa membuat mu semangat. Pikirkan hal-hal positif, tuhan berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun. Sama halnya seperti kamu. Berkarya sendiri, tanpa menunggu pujian dari orang lain.”


_____________________________________________


Pikiran Dinda terpaku pada kejadian saat Steve membuat kejutan mewah di restoran mahal di Perancis.


Dan itu membuat Dinda merasa senang walau di balut rasa tidak suka atas hadiah romantisnya.


Saat itu Dinda sedang mengandung, dan kandungannya masih beberapa Minggu. Kejutan atas kehamilannya itu di balas dengan kejutan romantis oleh Steve. Namun hadiahnya sangat mahal, itulah kenapa Dinda tidak suka.


“Sayang. Aku harap malam ini kamu tidak mengulangi lagi kejadian di Paris. Aku tidak mau kamu melakukannya lagi untuk ku.”


Steve tengah merapikan jas hitamnya, sementara Dinda masih duduk di meja rias sambil memasang anting-anting di telinganya.


“Kamu tenang saja. Aku tidak akan mengulangi sesuatu yang tidak istri ku suka.”


“Kamu sudah janji tadi. Harus di tepati.”


Steve mengangguk patuh. “Kamu yakin pada ku. Suami tampan mu ini tidak akan membuat kejutan aneh-aneh lagi.”


Kalau di ingat-ingat, Dinda rasanya bersalah karena menolak hadiah mahal dari Steve saat di Paris kala itu. Tapi bukanlah tipenya harus menerima sesuatu yang bernilai mahal.


Dinda menatap bayangan tubuhnya dari pantulan cermin. Gaun putih berenda bunga-bunga cantik berwarna merah ini makin menambah keanggunannya.


Sedangkan suaminya terlihat hilir mudik di belakangnya, entah apa yang di cari. Tapi Dinda merasakan hal itu dari pantulan cermin di depannya.


“Cari apa sih. Kok sepertinya pusing sendiri.”


Dinda penasaran. Apalagi suaminya mencari sesuatu sampai mengacak-acak tempat tidur. Berantakan.


“Aku cari jam Swiss hadiah dari kamu di acara makan malam kita waktu itu. Kamu lihat nggak?”


“Nggak,” balas Dinda menggeleng.


Dinda membantunya menelisik. Dinda memutar bola matanya, mencari kesana kemari.


“Kamu mungkin lupa meninggalkannya. Di kamar mandi? Biasanya kamu menaruhnya di sana.”


Memang seingat Dinda, jam itu anti air. Kadang Steve tidak melepaskannya saat mandi, dan itu menjadi kewajaran bagi Dinda kalau Steve sering lupa menepikannya.


“Sepertinya nggak deh. Aku tadi meninggalkannya di atas kasur tadi.”


Dinda men-decak. Tadi dia malas berdiri apalagi untuk jalan keluar malam bersama suaminya. Tapi ini terpaksa. Demi membantu sang suami yang heboh sendiri. Dia harus berolahraga kecil, menggerakkan badannya.


“Nih kan. Aku bilang juga apa. Kamu pasti lupa meninggalkannya dimana,” kata Dinda menginterupsi suaminya dengan jam yang baru saja dia temukan. Dinda menunjukan, kalau sebenarnya Steve tidak jauh-jauh meninggalkan jam tangan itu.


“Temu dimana?”


Steve meraih jam kesayangan pemberian istrinya ini, lalu di sematkan di tangannya. Amat sayang kalau itu hilang. Bukan karena bagus atau harganya yang murah, tapi ini spesial. Pemberian istrinya kala liburan di Paris, Perancis kala itu.


“Tuh, di bawah bantal,” tunjuk Dinda mengarah ke objek yang baru saja dia sebut. Sudah terjadi, tempat tidur sudah di acak-acak suaminya ini.


“Ckckck. Aku kira hilang beneran.”


“Kamu ceroboh,” timpal Dinda. Dan Steve hanya tersinggung malu.


“Kita berangkat sekarang?” tanya Steve mengalihkan pembicaraan.


Dinda mengangguk. Sambil mengangkat gaun yang dia kenakan, Dinda berjalan. Di ikuti suaminya yang juga menuju ke luar kamar.


****


“Ini kejutan yang mau kamu tunjukan pada ku?”


Dinda memandangi wajah suaminya. Dia dengan sengaja menyiapkan kejutan makan malam romantis untuk Dinda.


Steve mengangguk ramah dengan senyum sumringah. Apalagi banyak makanan sudah mampir di meja makan mereka. Jumlahnya banyak, sampai bingung bagi Dinda mau mencicipi yang mana dahulu.


"


“Sejak kamu mengandung sampai delapan bulan sekarang. Aku belum pernah membawa kamu makan lagi di luar. Dan rasanya nggak adil kalau aku hanya mencicipi terus masakan istri ku.”


Dinda mendengus. “Pantas saja pakai jas Serapi ini.”


“Itu karena aku mau kamu tidak stres sebab di rumah terus.”


Suasana restoran agak gelap, hanya di temani lilin saja. Dan ada lampu remang-remang, itu juga tidak terlalu terang.


“Maaf ya kalau aku sudah membuat kamu cemas karena kejadian beberapa saat yang lalu.”

__ADS_1


Steve meraih satu tangan Dinda. Dan dia mengelus punggung tangannya lembut. “Kamu jangan bahas masalah itu lagi. Ini makan malam romantis kita. Ayo kita makan saja, lupakan semua kejadian yang sudah berlalu.”


Dinda mengangguk tersenyum ramah. Suaminya ini sangat pengertian. Namun, kejadian saat itu ketika dia menangis akan kematian pasca melahirkan, membuat Dinda malu pernah mengatakannya.


Aku tidak pernah menyesal menikah dengan suami ku ini. Dia selalu pengertian. Tidak pernah yang tidak memperhatikan aku. Tapi aku, dengan bodohnya malah berkata sesumbar mengenai kematian.


Ah, merasa bersalahnya aku jika mengingat kejadian itu. Dasar wanita bodoh.


Steve mengiris stik daging miliknya hingga menjadi beberapa bagian, lalu memberikannya pada Dinda.


“Kamu makan ini. Aku sudah memotongnya.”


Dan ini memang sifat Steve. Dia tidak pernah yang absen setiap kali memotong stik untuk istrinya. Tanpa sadar, sikap romantisnya itu keluar dengan sendirinya. Dinda cukup memperhatikan tingkah suaminya ini.


“Demi bayi kita. Demi kamu. Aku ingin makan malam romantis ini selalu di kenang. Dan demi merayakan usia kandungan istri ku yang hampir memasuki usia sembilan bulan.”


Dinda tersenyum di sela mulutnya sedang mengunyah. “Kamu suami yang bertanggung jawab dan perhatian. Aku senang jika bayi kecil ku nanti memiliki ayah yang tidak hanya tampan. Tapi juga perhatian dan hangat.”


“Selamanya Ayah tidak akan melupakan Iqbal dan Bundanya,” kata Steve menyahut berkata pada perut Dinda.


Dinda terlihat bahagia. Sedangkan orang-orang yang juga sedang makan di dekat mereka berdua. Hanya terpaku melihat kelakuan calon Ayah muda ini.


“Maaf ya sayang jika suami mu hanya memberikan dinner privat tidak terlalu mewah seperti ini. Aku sangat mempertimbangkan seperti apa selera makan istri ku. Aku takut, kamu akan menolaknya jika aku melakukanya dengan mewah.”


“Tidak. Ini sudah lebih dari cukup untuk ku. Aku senang menerimanya.”


Memangnya Dinda berharap lebih? Tidak! Seperti ini saja Dinda sudah merasa senang. Dinda ingat, setiap kali Steve lapar, dia memintanya makan di luar. Namun suaminya itu enggan melakukannya.


Jadi selama ini, belum pernah lagi Steve memakan makanan cepat saji. Dia hanya memakan makanan yang Dinda buat. Alasannya sih sederhana, Steve mencintai apa saja yang Dinda buat. Dan itu, Dinda membuatnya dengan penuh cinta, walau tengah malam harus membangunkan istrinya, Steve tidak peduli. Hihi.


Steve hanya cengengesan kala ingatannya mundur ke kisah konyolnya selama ini. Tingkah manja dan menyusahkan Dinda, membuat Steve sadar. Betapa beruntungnya dia memiliki istri seperti Dinda. Sementara Dinda keheranan melihat suaminya yang terkekeh tanpa sebab.


“Kamu kenapa. Kok senyum-senyum sendiri?”


****


“Sudah aku bilang. Aku tidak akan pulang ke Shanghai dalam waktu dekat ini. Kenapa kamu selalu memaksa!”


Stevie sangat amat marah besar kala suara dalam telepon itu berkata entah apa.


Namun, yang pastinya kekesalan Stevie membuatnya melampiaskan seluruh amarahnya pada televisi di depannya.


“Vie. Aku hanya ingin kamu melihat ku saja sebagai pria yang mencintai kamu. Aku hanya mau kamu mengerti kalau aku pria yang sangat mengharapkan cinta kamu. Tolonglah Vie, hargai perasaan ku.”


Dari balik benda pipih Stevie, pria bersuara lembut itu terdengar memohon. Namun Stevie tak ubahnya keras pada panggilan suara ini.


“Kamu dengar sekali lagi. Aku tidak akan melakukannya. Aku katakan sekali lagi. Aku saat ini masih fokus pada karir ku. Aku tidak punya waktu untuk membahas cinta. Jangan harap kita akan menikah, kecuali aku khilaf!”


Sesaat setelah dia berkata, Stevie lalu memutuskan panggilan telepon dari pria bersuara lembut ini. Lalu melempar gawainya sembarang di atas sofa. Hingga gawainya memantul, kemudian terjatuh ke lantai. Stevie tidak mengambilnya, justru dia makin membiarkan gawainya di situ. Tak ubah posisinya. Itu iPhone mbak, kalau kamu kasih ke aku, dengan senang hati aku terima.


“Ganggu orang saja. Semoga besok dia di azab,” celotehnya sebal. Di akhir kalimatnya dia agak mengutuk suara si penelpon.


****


Usai mengajak Dinda makan di restoran sebagai makan malam romantis. Steve membawa Dinda ke taman, tepat di mana malam saat dia mengatakan cintanya pada Dinda malam itu.


Karena Dinda mengenakan gaun khusus wanita hamil tanpa lengan, Steve menutup bahu Dinda yang terbuka dengan jas hitamnya. Dia menduduki Dinda di bangku taman, sambil melihat bintang-bintang di langit.


“Sayang. Malam ini Ayah dan Bunda membawa kamu jalan-jalan. Kamu pasti senang kan di ajak keluar.”


Steve mengelus lembut perut istrinya, kadang menciumnya, kadang pula menguping pergerakan bayi yang ada di dalam sana. Selalu. Steve tidak ingin tertinggal info mengenai keadaan bayi di dalam sana. Mungkin, jika bisa mengontrolnya, Steve akan mengawasi kandungan Dinda hingga dua puluh empat jam. Namun sayang, kegiatannya banyak, jadi tak cukup untuk mengamati perut buncit itu.


“Aku penasaran. Bagaimana nanti kalau Iqbal lahir. Apakah dia akan setampan Ayahnya. Ataukah dia akan mirip Ibunya yang rapuh ini,” kata Dinda berangan-angan.


Steve memandangi wajah Dinda. Senyum bahagia itu tidak akan hilang hanya karena penasaran saja membayangi wajah anak yang sudah pasti laki-laki ini.


“Jika dia laki-laki, maka dia akan setampan Ayahnya. Tapi jika perempuan. Aku yakin, dia akan secantik wajah Ibunya.”


Entahlah. Dinda sendiri bingung, bagaimana rupa putranya nanti. Dia sangat menantikan bayi mungilnya cepat-cepat keluar.


Dinda menyandarkan kepalanya di bahu Steve, dia mencoba mengenang saat-saat di mana mereka sebelumnya tidak terikat pada cinta apapun.


“Kamu ingat saat di mana aku pernah membantu mu ke hotel. Dulu aku sangat takut dan gugup setiap kali melihat suami ku ini. Tapi sekarang, suami ku sudah meninggalkan jejak.”


Steve mengelus lembut rambut Dinda, lalu tangannya turun ke wajah. “Maafkan aku jika selama itu menyusahkan kamu.”


Bukan masalah bagi Dinda. Hanya saja kenangan tentang pria yang arogan itu kini sudah berubah menjadi sesuatu yang berharga. Pria ini benar-benar berubah, tidak arogan lagi demi dirinya.


“Sayang,” rengek Dinda. Pandangannya tidak pada Steve, tapi pandangan Steve terpaku untuk istrinya ini.

__ADS_1


“Ada apa?”


“Aku sangat bahagia sekarang.”


“Cih,” Steve mendengus seraya tersenyum tipis. "Kamu mengakuinya?"


Dinda mengangguk. “Aku bahagia karena keluarga kita akan lengkap nanti.”


“Semua itu karena ada bayi kecil ini nanti.”


Steve mengelus lagi dan lagi perut besar Dinda. Gemas rasanya melihat perut istrinya yang kian hari makin kencang.


“Aku benar-benar bahagia sekarang. Istri ku sudah memberikan aku kebahagiaan yang tak terkira dengan menghadirkan bayi kecil ku nanti. Aku tidak sabar menunggu kelahiran Anak ku ini.”


“Kamu terlalu cepat ingin memilikinya. Sampai-sampai lupa pada ku,” singgung Dinda.


Ah, Steve tahu. Dinda sedang mengode. Steve peka kali ini, di raihnya wajah Dinda, lalu mencium bibirnya. Mana mungkin Steve akan mengacak bagian lain dari istrinya selain bibir. Atau, bisa-bisa saat menikmati malamnya, Dinda akan kontraksi. Heleh, Steve tidak bisa membayangkan.


Lalu ada berita, 'Seorang wanita hamil tiba-tiba kontraksi ketika tengah di gauli suaminya. Dan keadaanya sangat memperihatinkan.' Huh, Steve ngeri kalau itu menjadi berita nantinya. Huek, dia sudah merinding.


“Bibir istri ku manis,” lirih Steve. “Seperti cery.”


Dinda tersipu, padahal setiap hati mencicipinya. Namun masih saja pria ini ingin meraup bibirnya. “Suami ku selalu menggoda.”


Steve terkekeh, seharusnya Dinda bangga memiliki suami seperti dirinya.


“Mengenai kepindahan kita ke Shanghai. Kita seharusnya memberitahu Ibu sekarang. Aku takut tidak ada waktu memberitahu Ibu.”


Oh, Steve hampir lupa kalau selama ini mereka belum mengatakan apapun. Ya, hampir setahun belakangan ini Dinda dan Steve tidak pernah lagi membahas mengenai kepindahan mereka ke Shanghai.


“Apa sebaiknya kita kerumah Ibu sekarang. Dan kita katakan kalau kita akan pindah ke Shanghai setelah kamu melahirkan.”


Memang selama ini Steve belum ingin pindah kesana. Karena kehamilan Dinda di awal akhir tahun, membuat rencana kepindahan itu batal. Pada akhirnya mereka terpaksa membatalkan rencana ini.


“Iya. Sebaiknya kita kerumah Ibu sekarang. Ibu harus tahu kalau kita akan pindah.”


****


“Mobil kak Steve,” tegur Dendy.


Mereka berada di depan gerbang rumah, dan mobil itu terparkir di garasi kecil rumah. Miko mengangguk, Dendy ternyata kenal pada mobil Steve.


“Ayo Den masuk,” ajak Miko.


Dendy memang niatnya malam ini ingin menginap di rumah Miko. Sebelumnya mereka baru saja pulang dari latihan basket di arena luar sekolah.


Miko dan Dendy baru saja pulang. Selarut ini, keduanya memang sedang memiliki jadwal masing-masing. Tadi, sebelum main basket bersama, Miko baru selesai menjalani sesi pemotretan.


Miko saat ini di jadikan sebagai model pakaian untuk distro dan butik. Karena memang porsi badannya tinggi, cocok di jadikan sebagai model. Jadi wajar kalau Miko mulai menggeluti profesinya akibat polesan dari hasil uji coba di kantor Steve.


Ehm. Ngomong-ngomong, Miko saat ini menjadi model pakaian pengantin. Dan pamflet wajahnya sudah tersebar di seluruh mall. Kalau kalian belum melihatnya, mungkin kalian jarang ke mall. Hihi.


“Kak Dinda, kak Steve. Apa kabar?” sapa Miko. Dia mengambil kedua tangan orang itu, laku menciumnya di ikuti oleh Dendy yang senada dengan Miko.


“Baik saja,” balas Steve. “Kamu sendiri. Bagaimana dengan pekerjaannya?” kali ini Steve yang balik bertanya.


Miko duduk di dekat Ibunya, dan asik saat Ibunya menyediakan teh secawan. Apalagi ada banyak cemilan di atas meja, dan mulut itu tak sabaran menyantapnya.


“Lancar saja sih kak. Cuma nggak bisa handle pekerjaan. Karena sekali pemotretan itu mengambil banyak gambar.”


Miko memang santai, dia memang belum memikirkan masa depannya sama sekali.


“Ngomong-ngomong, kenapa kak Dinda dan kak Steve datang ke sini malam-malam. Nggak seperti biasanya.”


“Ehm.. itu sebenarnya. Kami jngin mengatakan sesuatu,” balas Steve.


“Penting nggak?” Miko beranjak. Dia benar-benar ingin tahu apa itu yang ingin di katakan oleh Steve.


“Nggak terlalu penting kok,” balas Dinda menyahut. “Kak Dinda dan kak Steve akan pindah ke Shanghai kalau sudah melahirkan. Itulah kenapa kami datang ke sini."


“Terus Ibu?” tunjuk Miko.


Ibu Yuri pasrah. Dia hanya bisa membuka tangan terbuka. Mereka yang menjalani bahtera rumah tangga. Ibu Yuri bisa apa.


“Ibu saat ini bukan wali kak Dinda lagi. Dan nak Steve pasti tahu yang terbaik saat ini.”


Miko ber-oh kecil sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.


“Baiklah. Keputusan final!”

__ADS_1


Ku kira aku akan merindukan kak Dinda suatu saat nanti.


__ADS_2