UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 167


__ADS_3

DUA BULAN KEMUDIAN


Semua kembali seperti di awal. Baik-baik saja. Hanya saja, ada yang berubah.


Vanya dan Zico tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan mereka. Senang rasanya, akhirnya perubahan membawa dampak baik.


Di salah satu butik ternama di Jakarta, Zico membawa Vanya fitting baju pengantin. Sekitar satu bulan lagi pernikahan mereka akan di langsungkan. Jalan cinta mereka tidak semudah yang mereka bayangkan.


Nyatanya, kadang Vanya kesal pada Zico karena tidak memperhatikannya. Namun itu tidak berlangsung lama, karena perlahan Zico mulai peka. Kesadarannya membuat Zico pelan-pelan jadi bisa cinta.


“Tidak salah. Kamu memang benar-benar cantik,” lirih Zico menggoda. Dari belakang, dia memeluk tubuh ramping Vanya yang di baluti baju pengantin indah bersutra putih.


“Terima kasih atas pujiannya.”


Di depan kaca butik yang ada di ruang khusus untuk mencoba pakaian pengantin, mereka saling intim.


“Van,” rengek Zico. Gadis itu menoleh, kening Vanya menyentuh hidung Zico. “Kamu makin hari mempesona di mata ku,” kata Zico mengakui.


Vanya tersenyum. “Itu karena aku menemui pria sebaik kamu.”


“Aku jujur. Kamu benar-benar cantik mengenakan pakaian pengantin ini.”


Vanya membalikan badannya, demi menatap wajah yang memujinya setinggi langit ini. Setelan jas hitam khas pengantin yang di kenakan oleh Zico, membuatnya juga nampak tampan dan sedap di pandang.


“Kamu juga tampan,” balas Vanya memuji.


Zico makin mempererat keintiman mereka. Dia menarik pinggang Vanya, nyaris berpelukan. Zico menempelkan kepalanya dengan kepala Vanya, hingga napas pria ini bisa di rasakan oleh Vanya.


“Bagaimana kalau setelah menikah, kita honey moon ke seluruh asia.”


“Co.....”


“Van.... Itu hari yang baik buat kita.”


“Sebenarnya, aku.....”


“Ingin menolak?” tebak Zico.


Vanya mengangguk. “Bagaimana kalau uang honeymoon-nya kita tabung saja. Buat tabungan beli rumah dan keperluan lainnya.”


“Apakah kamu sedang memberikan aku saran?”


Vanya menggeleng. “Aku tidak berharap kita melakukan honeymoon mewah. Aku hanya ingin, suami ku tidak menghambur-hamburkan uang.”


Zico tersenyum, dan Vanya merasakan senyuman itu. “Jika kamu ingin seperti itu, apa boleh buat.”


“Kamu setuju?”


Zico mengangguk. “Jika keputusan kamu ingin seperti itu. Bagaimana kalau kita langsung buat anak sekarang.”


Gila. Vanya terkejut, mereka belum resmi menikah. Bagaimana bisa membuat anak lebih dahulu, aneh kan rasanya. Sebulan lagi, rasanya tidak lama pernikahan itu akan tiba.


“Co. Kita belum menikah. Bagaimana bisa kita buat anak dahulu.”


“Aku sudah tidak sabaran Van,” kata Zico mendesah di daun telinga Vanya. Bibir itu sudah mulai berulah, menggigit gemas pemilik telinga ini.


“Co. Ini di butik. Orang-orang akan melihat kita.”


“Apa kamu setuju kita membuat anak?”


“Nggak! Mana mungkin aku akan bilang begitu.”


“Baru saja, tadi kamu mengakuinya.” Desah Zico pelan. Dan Vanya merasa geli, gairahnya sudah memuncak.


“Aku tidak bermaksud be..... Hemph...”


Zico mencium bibirnya lembut. Tapi tidak lama, Zico hanya ingin menghentikan dalih Vanya, agar dia tidak berkata apapun lagi.


“Bagaimana? Apakah bisa kita membuatnya sekarang.”

__ADS_1


“Co...”


“Kita ke hotel.”


Sial. Gairah Zico tak terbendung. Padahal sebulan lagi, tapi pria ini malah ngebet. Zico menggendong Vanya, keluar menuju ke mobilnya. Baju pengantin yang mereka pakai memang sudah di bayar, jadi tidak perlu di takutkan lagi kalau mereka akan di jagal oleh karyawan butik.


Bahkan sesampainya di hotel, Zico makin tak terbendung. Dia hampir saja merusak baju pengantin itu, jika Vanya tadi tidak mengingatkannya. Ya, kalian tahu, pria yang sudah bergairah pasti tak sabaran. Bisa-bisa, Zico merobek baju pengantin yang Vanya kenakan— jika tidak segera di tahan.


Seluruh tubuh Vanya, Zico perlakukan seperti ratu. Di kecupnya, sampai Vanya ikut bergelora menggairah. Menggeliat geli di sekujur tubuh.


“Kita masih ada satu bulan lagi agar bisa bersama. Tidak bisakah kamu menahannya sedikit saja. Aku tidak mau seperti ini Co.”


Kembali, Vanya mengingatkan. Namun apalah daya, Zico makin memburu. Napasnya sudah tak bisa lagi menahan gairah. Suhu tubuhnya sudah panas dingin, rasanya darahnya ingin segera mendapatkan sesuatu yang bisa memuaskannya.


“Mau itu sebulan atau setahun, saat ini kita sudah hampir jadi suami istri. Biarkan aku memberikan tanda dahulu di dalam tubuh mu.”


“Co. Aku mohon, bersabarlah sebentar lagi. Sebulan saja, bukan waktu yang lama.”


Ngomong saja terus, Zico tidak peduli.


Ah, desahan Zico makin menjadi. Vanya benar-benar tidak bisa mengontrol pria ini. Kedua tangan Vanya saja tidak bisa berkutik, Zico menggenggam erat, melalui tangan kekarnya.


“Maaf Van. Aku kali ini benar-benar tidak bisa menahan diri.”


Oke Vanya pasrah. Lagi pula, Zico sudah gila. Padahal sebelumnya, dia berjanji akan menyentuhnya jika sudah menikah. Sialnya, ucapan itu di langgar. Dan mau tidak mau, Vanya harus siap menerima kalau dia akan memiliki anak nantinya.


°°°°°°°°°°°°


Mobil yang saat itu di bawa Miko pulang dari bandara, oleh Steve di berikan pada Miko. Mobil itu sangat mahal, Miko tahu harganya, sebanding dengan harga dirinya. Mahal, sungguh mahal. Karena begitu mahalnya hadiah dari Steve ini, Miko bagai mimpi di siang bolong menerimanya.


Dan, kabar baiknya. Miko sudah bisa kemana-mana pergi menggunakan mobil ini. Karena sebulan yang lalu dia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dia saat itu, dia resmi memiliki simnya sendiri. Jadi Miko tidak terlalu khawatir kalau di tilang polisi. Karena dia sudah memiliki lisensinya.


“Bu. Miko keluar sebentar ya. Mau main sama Selena,” kata Miko pamitan pada Ibunya.


Di dapur, sang Ibu sedang sibuk-sibuknya. Sementara Niko belum bangun, karena semalam dia pulang larut sebab kejar les.


“Jangan ngebut-ngebutan. Ibu bakal nggak izinin lagi kalau sampai Ibu tahu kamu kebut-kebutan.”


“Iya Bu. Miko bakal dengerin Kata Ibu. Kalau begitu, Miko pergi ya.”


Seperti biasanya, Miko mencium dulu tangan sang Ibu. Setelah itu dia baru pergi.


“Anak-anak ku sudah besar semua. Dan tidak terasa, Miko sekarang sudah memiliki kekasih.”


Ibu Yuri sangat was-was mengenai Miko. Sebab dia tahu, tinggal di Jakarta, kalau tidak pintar-pintar mencari teman. Bisa saja akan terjerumus pada pergaulan yang salah. Bisa jadi—Miko menikah muda. No, Ibu Yuri tidak mau anak lelakinya menikah dini. Ngeri.


“Aku harap, Miko tidak melakukan hal-hal di luar batas wajarnya.”


Ibu Yuri kembali melanjutkan kesibukannya tadi. Pikiran mengenai Miko, berangsur buyar.


Sedangkan Miko, anak itu tiap hari selalu ceria. Entah itu karena Selena, atau karena hal lain. Yang pasti, dia selalu tersenyum ramah.


Handphone yang Miko gantung di dashboard mobil, layarnya menyala. Satu pesan masuk dari Selena.


[“Aku sudah di tempat pemotretan. Kamu tidak perlu menjemput ku. Kita bertemu di sana saja.”]


Pesan dari Vanya di baca seksama, bagus sih menurut Miko. Dia juga sebenarnya malas mau masuk ke komplek perumahan mewah Selena. Karena ada banyak waria di sana.


Eit, sebenarnya itu terjadi ketika malam. Kalau siang seperti ini, mana ada bencong yang bakal mangkal. Namun tetap, Miko masih trauma. Saat itu dia mengantar Selena pulang tengah malam, ketika keluar komplek, dia malah di cegat dua wanita cantik—yang ternyata adalah bencong full make up.


Sayangnya, wajah cantik para waria uang mencegatnya itu, sangat cocok buat menakut-nakuti tikus di sawah.


Untung tidak tertipu, jika tidak, bisa saja Miko tergoda. Dan bisa-bisa mereka bercumbu. Ih, ngeri kalau Miko mengingat kembali masa bertemu para waria itu.


Dan inilah Miko, sejak usianya makin dewasa, dia mulai berpikiran mesum. Selalu otaknya di penuhi ingin berbuat yang aneh-aneh. Entah sejak kapan itu terjadi, Miko tidak tahu pasti.


“Miko. Hei.” Selena memanggilnya, sambil melambaikan tangan.


Setibanya di tempat pemotretan, sambutan ramah dari Selena membuat Miko hanya fokus padanya.

__ADS_1


“Sayang. Maaf ya aku tadi membatalkan jemputan dari kamu.”


“Nggak masalah,” balas Miko santai. “Bisa kita lanjutkan pekerjaan ini?”


“Tentu saja.”


Semua orang sudah siap. Crew, fotographer dan semuanya terlihat sudah siap. MUA memoles sedikit wajah Miko agar makin menawan, barulah setelah itu mereka melakukan pemotretan.


Baju pengantin itu lagi. Dan memang ini pekerjaan Miko. Jadi model pakaian pengantin terkenal. Kali ini model baru yang dia kenakan.


°°°°°


Patah hati tidak selamanya membuat kita terpuruk. Sama seperti Niko, dia sudah bisa kembali normal. Dia tidak lagi memikirkan perasaan dan cinta. Saat ini fokusnya sudah tertuju ke pekerjaan dan pelajaran. Kurang dari beberapa bulan lagi, Zico akan merayakan kelulusannya. Perguruan tinggi di depan mata, dia harus berpikir melangkah kedepan.


“Bu. Niko berangkat,” teriak Niko dari luar. Di depan gerbang, Dendy sudah stand by dengan motor besarnya. Dendy pindah haluan, sejak Miko memiliki Selena. Dendy sudah terbiasa bersama Niko.


Bukan karena menghindari temannya itu, tetapi dia ingin fokus juga seperti Niko. Dia ingin masuk perguruan tinggi yang sama seperti yang Niko tuju.


“Ayo berangkat. Nanti tempat lesnya mulai duluan. Kalau telat nggak enak sama yang lain.”


Dendy menyerahkan motornya pada Niko, agar dia yang membawanya. Sang Ibu dari dalam sudah menyahut, jadi Niko langsung berangkat.


Tiba di parkiran tempat les privat. Seusai membuka helmnya, mata Niko langsung di sambut oleh wanita yang kemarin dia tolak.


Tania. Gadis itu tersenyum ramah. Dan Niko membalasnya. Sejak dia mengatakan akan kembali ke Indonesia, gadis itu sudah tidak lagi memikirkan masalah di kios bersama Niko waktu itu.


Niko juga sama halnya, kini dia melupakan kisah itu. Entah kemana kisah itu menghilang, Niko sudah tidak mau mengingatnya.


“Ko. Terima kasih ya,” kata Tania, berjalan sejajar dengan Niko. Dendy sudah masuk lebih dahulu, dia ada urusan lain.


“Selama kita masih bisa berteman. Kenapa harus dendam.”


Tania sadar, sebagai wanita yang menyakiti perasaan pria, adalah sebuah kesalahan terbesarnya. Tidak menyangka saja, bahwa hati dan jiwanya saat ini sudah menjadi milik Niko. Walau sudah di tolak, namun Tania mengakui kalau dia masih berusaha.


“Ko,” Tania berbalik badan. “Aku boleh tidak mengatakan sesuatu.”


“Tentang.”


“Tapi kamu berjanji nggak marah dan menjauh dari ku.”


Niko mengernyitkan dahi, matanya menyipit bingung. “Maksudnya?”


“Kamu berjanji dulu. Kamu tidak akan meninggalkan aku.”


“Memangnya harus?”


Tania mengangguk lemah. “Aku takut kamu akan menjauhi ku lagi.”


“Oke. Aku akan berjanji. Katakan, apa yang ingin kamu sampaikan.”


“Mengenai kejadian saat itu......” katanya yang agak ragu berkata.


“Di kios........ Bunga?”


Pikiran itu terpaku di kejadian itu. Niko hanya paham sampai di situ. Tidak tahu, apakah pemahamannya ini salah. Dan sayangnya, Tania membenarkan tebakan Niko.


“Bisakah aku mengulanginya perlahan.”


Niko mendengus, lelah kalau terus mengingatkan gadis ini.


“Ingin mencoba lagi?”


Gadis itu mengangguk. “Aku masih tidak bisa melupakan kamu. Itulah kenapa, aku ingin mencobanya. Dan aku tidak mau memaksa kamu—jika kamu sendiri tidak bisa.”


Niko berpikir sejenak. Dan ya. Mungkin jawaban terbesarnya adalah Tidak. Namun Niko tidak sekejam itu. Jahat sekali dia melakukannya.


“Kita lihat saja nanti.”


TBC

__ADS_1


[“Terima kasih sudah membaca novel Unintentional. Semoga kalian di berikan berkah kesehatan dimana pun kalian berada. Salam manis, Author.”]


__ADS_2