
Ucapan kebanyakan orang yang mengatakan bahwa 'jika seseorang sedang kasmaran pasti akan tenggelam dalam fantasinya.' Jatuh cinta membuat seseorang melupakan semua urusan duniawi-nya, termasuk Steve. Itu benar nyata adanya. Sejak pagi dia terlihat senyum-senyum sendiri. Pikiran Steve di penuhi oleh bayang-bayang cinta.
Bahkan yang menjadi anehnya, sedari tadi pagi ia tidak bekerja dan mengabaikan berkas-berkas yang menumpuk begitu saja di meja kerjanya. Bahkan dia hanya memainkan kursi kerjanya. Memutar-mutarkan kursi seperti anak kecil yang sedang bermain di taman kanak-kanak dan tidak melakukan apapun. Itulah yang Steve lakukan.
Ia tersenyum seperti orang gila dan terkadang suka memainkan pulpen dan menaruhnya di sela bibir dan hidung. Mulutnya di monyong-monyongkan sambil berfantasi liar. Mungkin ia memikirkan kejadian semalam. Kejadian bersama Dinda, berpelukan di atas tempat yang tinggi.
"CK... " Steve men-dercit makin menjadi dengan fantasi liar mengenai kisah asmaranya.
Tetapi bukan kehidupan namanya jika tidak ada halangan dan rintangan menghampiri seseorang yang sedang bahagia.
"Yo.... Ada apa ini. Kenapa bos galak tersenyum bahagia sepagi ini?" Zico entah sejak kapan tidak tahu sudah ada di depannya.
Zico bertanya penasaran. Sembari menuju ke meja Steve dan di tangannya memegang berkas berwarna merah.
Steve melirik Zico dengan tatapan penuh intrik. Wajahnya yang tadinya tersenyum bahagia, seketika berubah menjadi masam dan ketus.
Steve menaikan kedua alisnya, sambil tangannya menopang dagunya yang tegas. "Kenapa perusahaan ini memperkerjakan seorang karyawan yang begitu kolot. Bahkan masuk keruangan pimpinan perusahaan pun tidak menggunakan tata Krama yang benar. Apakah SOP perusahaan tidak di telaah dengan benar." Steve mulai bicara anarkis.
"Yo..... Jangan galak-galak pada ku. Begini-begini aku termasuk karyawan teladan di sini." Balas Zico memuji diri sendiri. Dia ahli dalam membanggakan diri.
Steve menyunggingkan sudut bibirnya. Dia tertawa jahat dan ekspresi wajahnya terlihat sangat licik bak aktor antagonis.
"Lalu?" Steve bertanya dan ia juga tahu jika Zico selalu bersikap sok percaya diri di hadapannya.
Zico sebenarnya malas mengganggu Steve pagi itu. Selain karena ingin mengantarkan berkas, tak ada hal lain yang ingin ia sampaikan. Tetapi mulutnya selalu saja ingin bertindak comel dan pada akhirnya mati kata. Sehingga mau tak mau dia harus keluar dari pokok pembahasan yang rancu itu.
"Sebenarnya, model yang di pakai oleh vendor kita adalah adik dinda. Apa kamu sudah tahu itu!"
Steve mengernyitkan dahinya. Matanya memicing menatap wajah Zico dengan teliti. "Aku sudah tahu itu," ucap Steve paham.
"Sial. Bahkan dia sudah tahu itu. Aku harus mulai dari mana pembicaraan ini." Zico bergumam dalam hati, ekspresi wajahnya bingung.
"Sebenarnya, ada hal lain yang ingin aku katakan. Suatu hal yang mungkin membuat diri mu kaget." Zico melanjutkan ucapannya sedikit ragu.
"Tentang apa?" Respon Steve cepat.
Steve melihat raut wajah Zico, berat nampaknya bagi zico untuk bercerita. Tetapi Steve ingin mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh mulut Zico.
"Coba katakan. Aku ingin mendengarnya." Steve penasaran.
Zico menarik nafas panjang dan sedikit membenarkan dasinya seakan sedang berantakan, lalu mengambil intro untuk bercerita.
"Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa...."
"Bahwa apa?" Steve memancing pokok pembicaraan.
Zico kemudian mengatakan apa yang seharusnya Steve ketahui. Dia membisikkan hal ini pada Steve secara perlahan. Di telinga Steve, apa yang ingin ia katakan, akhirnya ia bisikan secara Pasih tanpa kendala. Steve mendengar perkataan Zico dengan seksama.
Bicara mereka amat rahasia. Sehingga takut saja ada yang mendengarnya.
Steve terus saja mendengar apa yang Zico katakan tanpa memotong ucapan itu sedikit pun.
Sesekali Steve menanggapinya dengan wajah serius, terkadang juga menanggapinya dengan senyum licik bak vandal. Steve mengurut dagunya, sambil otaknya berimajinasi menangkap arah pembicaraan itu.
Zico menceritakan panjang lebar. Serius, wajah Zico sangat telaten dalam menjelaskan cerita yang begitu pelik ini.
"Jadi begitulah ceritanya." Jelas Zico menutup akhir pembicaraan mereka yang rahasia. Apa yang ingin ia katakan akhirnya sudah tersampaikan.
Steve mendengus nafasnya. Bibirnya menyungging tersenyum penuh kelicikan. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana dia akan menghadapi kenyataan atas ucapan Zico yang panjang lebar tadi.
"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan bersiap menghadapinya." Tukas Steve seakan menanti kedatangan berita itu.
"Tapi Steve, ingat! Mungkin saja dia jauh lebih licik dari sebelumnya. Apalagi dia sekarang sudah memiliki banyak koneksi." Zico mencoba memperingati Steve.
__ADS_1
Namun bukan Steve namanya jika takut menghadapi sesuatu yang menurut dirinya adalah hal kecil. Dia suka bicara sembarangan dan bersikap tenang dalam berbagai situasi. "Kau tak perlu khawatir. Aku mengerti kecemasan mu. Yang terpenting adalah, siapkan sebuah mobil baru untuk ku. Dan siapkan apapun yang di perlukan saat semuanya akan di laksanakan. Untuk rencana, kita akan membahasnya lain waktu."
"Jenis apa mobil yang kamu inginkan?" Zico bertanya cepat.
"Van hitam anti peluru yang pernah di publikasikan di Barcelona bulan lalu. Aku ingin memilikinya." Ucap Steve dengan ekspresi tenang.
Zico paham maksud dan tujuan Steve. Setidaknya Steve pintar dan sudah paham bisa mensiasati rencana ini. Dia tanpa pikir panjang mengangguk dan menuruti apa yang di perintahkan oleh Steve. "Apapun rencana mu, aku akan mendukungnya. Dan aku akan mengabarkan berita selanjutnya nanti." Pungkas zico.
Dan Steve melanjutkan ucapannya agar tuntas pembicaraan mereka saat itu.
"Dan satu lagi, jangan sampai orang lain tahu bahwa vandal sialan itu melarikan diri. Karena aku yakin dia saat ini sedang mencari informasi tentang diriku dan orang-orang yang berada di bawah kendali ku. Lakukan semuanya secara rahasia, jangan sampai rencana ini terendus oleh cecunguk sialan itu." Begitulah ia berucap. Steve bicara dengan aura dingin khas pembunuh.
"Aku memastikan itu tidak akan terjadi. Tetapi satu hal yang harus kamu ketahui, bahwa dia sekarang berada di atas angin saat ini." Balas Zico sembari memegang perkataan penuh keteguhan.
"Tidak perduli apapun itu, kali ini aku tidak akan membiarkan dia selamat lagi dari penjara kematiannya." Bungkam Steve seraya mengepalkan tangannya. Wajahnya serius, serius dalam menangani para bad boy yang bersiaga ingin meruntuhkan dirinya.
Ditengah pembicaraan penting mereka, Dinda tiba-tiba saja masuk dengan beberapa berkas di dekapan dadanya.
Steve menyipitkan matanya pada Zico. Pria itu paham betul pada kode keras bosnya itu. Tanpa di pinta Zico meminta undur diri. "Sebaiknya aku permisi sekarang. Aku ingin mengurus beberapa dokumen penting terkait Mega proyek yang sedang berlangsung di Bali. Lain kali kita bahas masalah ini."
Zico memainkan perannya di depan Dinda. Seolah dia bertindak sebagai manajer yang handal.
Zico pergi di saat Dinda menghampiri keduanya. Steve mengibaskan tangannya dengan sikap angkuh, sikap seperti biasanya seakan seperti sedang mengusir ala berandalan dalam tokoh mafia.
"Pak Zico, selamat pagi." Sapa Dinda berbasa-basi saat keduanya berpapasan di tengah ruangan menuju ke pintu luar kantor. Dinda sedikit menunduk hormat.
Sebelum Zico benar-benar pergi dari ruangan Steve, ia menyempatkan diri untuk melempar senyumnya pada Dinda. Seakan senyumnya itu mewakili ucapan 'selamat pagi' untuk Dinda.
Zico menghilang di balik pintu kaca bergagang besi berwarna perak itu.
Dan kini, di dalam ruangan Steve yang tersisa hanya mereka berdua saja. Namun Steve sedikit teringat pada ucapan Zico tadi kala melihat Dinda yang berdiri di depannya. "Mungkin mereka juga mengincar Dinda. Sebaiknya kamu berhati-hati sekarang." Ucapan itu setidaknya membuat Steve memikirkannya sebagai antisipasi.
Dia tahu, seperti kebanyakan dalam film drama aksyen, para mafia pasti akan menyandera orang-orang terdekat dari musuh bebuyutan mereka. Steve makin memikirkan hal ini jika benar terjadi, maka Dinda akan terlibat di dalamnya. Permainan yang menarik pikirnya dengan bangga.
"Aku ingin menyampaikan laporan keuangan beberapa bulan yang lalu, seperti yang Bapak pinta." Ujar Dinda bicara sedikit segan. Segan pada ekspresi wajah Steve yang serius. Dinda lalu menyodorkan berkas-berkas yang ia dekap-kan tadi di dadanya walau sedikit tidak berani baginya saat itu melihat Steve bicara serius.
Steve mengambil berkas itu dari tangan Dinda lalu ia mempelajarinya. Matanya memicing saat melihat tulisan di dalamnya. Namun itu tidak lama, ia kembali menutup berkas bersampul hitam itu.
"Bagaimana Pak? Apakah sesuai dengan arus kas masuk perusahaan? Atau harus di teliti lagi laporan laba bersih bulan lalu?" Tanya Dinda menyela. Ia takut jika laporan yang ia buat ternyata salah.
Ia tak sanggup menghadapinya sebab ia merasa sudah mengerjakan semua itu dengan teliti. Namun siapa tahu, seperti sebelumnya Steve selalu menyalahkan apa yang ia anggap sudah benar. Dia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti tempo hari itu.
Namun kali ini dugaannya sedikit salah. Steve mengabaikan bicara Dinda. Dia menenggelamkan kepalanya pada kursi kerjanya yang empuk. Seraya tangannya yang lembut mengurut keningnya, seakan dia sedang pusing dan memejamkan matanya. Bulu matanya amat panjang dan lentik. Dinda melihatnya dan sedikit terpesona pada rupa bulu mata itu, seolah ingin menyaingi bulu mata palsu yang pernah ia kenakan.
Entah mengapa Dinda malah ingin mempedulikannya. "Pak Steve! Apa Bapak baik-baik saja?" Tanya Dinda sedikit memberikan perhatian.
Namun Steve masih mengabaikannya. Dia tidak bergeming tidak seperti biasanya. Biasanya dia semangat tetapi kini ia terlihat lesu.
Melihat hal itu, setidaknya Dinda tergerak untuk memahami apa yang terjadi. Ia mendekati Steve perlahan. Lalu tangannya tanpa tahu menyentuh kening Steve untuk mengecek apakah tubuhnya panas sedang sakit atau tidak.
Namun Steve, matanya yang terpejam sejenak merefleksikan ekspresi kagetnya. Tangan kekarnya langsung menyambar tangan Dinda yang menempel pada keningnya.
Lalu menarik pinggang Dinda sehingga Dinda jatuh dalam pelukan Steve yang santai di atas kursinya itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan." Bisik Steve dengan nada lembut.
Dinda gugup, karena pria itu bertindak secara tiba-tiba. "Aku .... Aku sedang memeriksa Bapak, apakah bapak sakit atau tidak."
"Mengapa kamu peduli pada ku?" Tanya Steve pura-pura polos. Padahal ia mengharapkan ini akan terjadi.
"Karena aku tidak mau bapak sakit." Balas Dinda bicara keceplosan.
Dinda sadar bahwa dia mengucapkan sesuatu yang aneh dari mulutnya. Sehingga Dinda cepat-cepat merevisi ucapannya. "Tidak.... maksudnya... Bapak pasti sehat."
__ADS_1
"Yakin begitu. Atau kamu mencoba berusaha menggoda tubuh ku yang seksi ini." Lirih Steve kembali menggoda narsis.
"Tentu saja Pak. Aku jamin tidak akan melakukan apapun kepada tubuh Bapak." Kilah Dinda.
Mendengar ucapan Dinda, Steve semakin erat membenamkan Dinda dalam pelukannya. Suara Dinda dalam berbicara tepat mengenai daun telinganya. Alhasil, Steve merasa seperti tergoda oleh ucapan terselubung Dinda.
"Kalau begitu, layani aku dan puaskan aku dengan kemampuan itu." Goda Steve membisik di telinga Dinda.
Steve bersikap narsisme seakan Dinda seperti wanita penghibur di hadapannya saat itu.
"Pak Steve. Apa yang bapak katakan!" Ucap Dinda bernada tinggi.
"Aku bukan wanita murahan seperti yang bapak pikirkan." Lanjut Dinda meneriaki Steve.
"Aku tidak mengatakan bahwa kamu wanita murahan. Aku hanya minta di layani dengan puas. Puas dalam arti banyak hal. Salah satunya memijat kepala ku dan membuatkan aku kopi sudah termasuk dalam melayani dengan puas bukan?" Ucap Steve membisik di daun telinga Dinda.
"Sial, mengapa aku malah berpikir negatif di saat-saat seperti ini." Batin Dinda mengumpat.
Lalu ia bersikap sok natural dengan gaya bahasa seakan dia seperti sedang salah bicara.
"Pak Steve. Bapak selalu saja membuat aku berpikir negatif atas ucapan bapak yang menggantung itu. Aku minta maaf jika berpikir sensitif." Pungkas Dinda merasa malu. Malu berpikir aneh.
Ia mencoba mendorong dan melepaskan pelukannya pada Steve, namun Steve tidak membiarkan hal itu terjadi.
"Jangan bilang bahwa aku pria mesum lagi. Atau seumur hidup ini, aku akan mengutuk mu menjadi janda bumi tak bersuami."
"Aku tidak mengatakan itu. Dan bapak jangan asal menebak saja." Sahut Dinda menolak ucapan Steve.
Keduanya masih dalam pelukan hangat, Steve menikmati pelukan itu. Wajahnya tertawa mengembang dan tenggelam dalam perasaan yang amat kuat di hatinya.
"Mohon pak lepaskan aku. Aku tidak mau nanti ada yang melihat dan menggosipi aku nanti." Pinta Dinda.
Namun Steve tidak menghiraukannya, justru dengan bicara yang enteng ia bersikap sesukanya. "Aku sudah mengatakan bahwa kamu adalah wanita ku, kenapa harus takut di gosipkan?"
"Tetapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah wanita Bapak. Aku mohon Bapak jangan bersikap memonopoli seperti ini." Balas Dinda membantah tak terima.
Dalam pelukannya itu, Steve sedari tadi terus saja membisikan kata-kata yang menggombal di telinga Dinda sehingga ucapan itu membuatnya bergidik geli.
"Aku tidak peduli kamu mau bilang apa. Tetapi aku hanya ingin meminta mu tetap seperti ini. Peluk aku dan jangan melepaskannya sebelum aku yang meminta melepaskan pelukan ini."
"Tapi Pak......" Dinda kembali berusaha membantah, namun Steve terus mencecarnya dengan hebat. "Menolak ku? Kamu tidak akan bisa melakukannya." Pungkas Steve percaya diri.
"Pak Steve terus saja meminta ku memeluknya sejak semalam seperti ini. Apakah benar pak Steve sungguhan menyukai ku." Dinda bertanya pada dirinya sendiri.
Dalam pelukan Steve, Dinda tidak bisa bergerak leluasa sebab Steve sangat perkasa bagi dirinya yang bertubuh mini. Tetapi, sama seperti semalam, Dinda merasakan bahwa jantung Steve berpacu lebih cepat. Denyut jantungnya terasa berdegup di telinga Dinda.
"Apa pak Steve gugup. Sepertinya iya. Dia memang gugup."
Dinda tidak percaya bahwa pria yang terlihat kasar ini ternyata bisa gugup.
Dalam pelukan itu, Steve juga sangat menikmati peluang ini. Bau harum rambut Dinda membuatnya nyaman dan rileks. Dia tidak mau melepaskan Dinda dari pelukannya jika bisa. Bahkan dia berharap setiap hari bisa melakukannya. Steve mengelus rambut panjang Dinda yang harum menggairahkan ini. Sensasi luar biasa Steve rasakan saat memeluk Dinda dengan erat.
Steve memainkan rambut Dinda yang lembut. Perlahan dari rambut, belaian yang ia lakukan kini menurun ke dagu Dinda.
Ia mendongak wajah Dinda agar menatap wajahnya. "Mengenai kejadian semalam, apakah kamu sudah memiliki jawabannya?" Steve mengingatkan Dinda apa yang ia ucapakan tadi malam.
Dinda hampir lupa bahwa Steve menyatakan cinta padanya. Dan dia ingat bahwa hari ini adalah tenggat waktu yang harus ia putuskan. "Tapi Pak, aku belum memikirkan itu," ucap Dinda seraya ingin lepas dari pelukan Steve.
Namun Steve kembali bersusah payah menariknya kembali agar tidak lepas dari pelukan miliknya. "Ssttttt.... Jangan di pikirkan. Aku tidak memaksakan kamu untuk menentukan apa yang hati mu inginkan. Cukup peluk aku seperti ini, dan aku sudah merasa nyaman."
Mau tak mau Dinda harus menerima permintaannya, atau dia tidak tahu apa yang akan pria narsisme ini lakukan nantinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1