
Dinda sedari tadi sudah menunggu Steve untuk naik keluar dari kolam. Dia menunggu, sedikitpun pria itu tidak berhenti keluar dari kolam air.
Steve patut di juluki Aquaman sesungguhnya. Dia sudah berjam-jam ada di dalam air, tidak takut dingin sedikitpun.
Bosan menunggu Steve yang tidak kunjung keluar dari air, akhirnya Steve menampakan diri setelah sekian lama menantikannya. Lega rasanya bagi Dinda saat melihat dia keluar dari acara renangnya.
Dinda menghampiri Steve yang sedang mengambil handuk di kursi pinggir kolam.
Steve mengeringkan tubuhnya, sementara Dinda berdiri di sebelahnya.
"Astaga," Dinda tersentak kaget, saat Steve membalikan badannya. "Pakai dulu baju kamu, aku tidak biasa melihatnya," Dinda menutup wajahnya menggunakan tas.
Steve tidak mengenakan baju, hanya mengenakan celana renang selutut. Dinda telah melihat bagian detail tubuh Steve yang indah. Dia malu melihatnya, walau sebenarnya Dinda berselera melihat kotak-kotak berbentuk indah itu.
Steve mendeham, dia memberi tahu bahwa dirinya sudah menggunakan handuk menutupi bagian bawahnya.
Itu lumayan, dari pada tidak menutupi bagian bawahnya sama sekali. Gumam Dinda.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Steve. Dia berkata sambil mengecek handphonenya. Dia masih bersikap cuek pada Dinda.
Dinda menggigit bibir bagian bawahnya, dia tidak berani berbicara. Wajah Steve seperti sebelumnya, sangat galak. "Ehm... Itu, aku," Dinda gagap, dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata.
Steve melihatnya, sama seperti Steve yang pernah ia temui sebelumnya, kali ini Dinda seperti melihat Steve sama seperti saat pertama kali jumpa dengannya di hotel.
"Jangan buang-buang waktu ku, aku sibuk," ucap Steve ketus. "Kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya pergi sekarang, aku tidak ingin di ganggu."
"Sebegitunya kamu marah hanya karena masalah Johan," Dinda menatap sayu. "Aku sudah mengatakannya, bahwa aku bukan sengaja melakukannya," jelas Dinda.
Steve menaikan alisnya, dia melihat wajah Dinda agak apatis. "Lalu."
"Kenapa kamu tidak percaya pada kata-kata ku. Aku berkata benar, aku lupa kalau menghubungi kamu. Karena aku sangat khawatir pada kak Johan. Itu saja, tidak ada perasaan apapun antara aku dengan dia," Dinda berusaha menjelaskan. Tidak peduli apakah Steve akan percaya atau tidak, dia hanya ingin mengakui apa yang terjadi sebenarnya.
Steve mendengus. "Bahkan kamu memanggilnya kak Johan," ucap Steve sensitif.
"Sudah sejak lama aku memanggilnya begitu," sahut Dinda. "Sejak pertama kali bertemu dengan Johan kecil di pantai waktu itu, yang ternyata aku salah mengira," Dinda mengingatkan.
Steve menyungging tersenyum, dia menundukkan kepalanya, wajahnya yang basah amat dekat di wajah Dinda.
"Katakan, kalau aku ada di posisi Johan, apa kamu akan memperlakukan aku seperti itu," Steve menuntut, dia ingin mendapatkan jawaban yang puas.
"Jelas aku akan memperlakukan kamu sama seperti dia, aku tidak pernah membeda-bedakan siapa pun," ucap Dinda tegas. "Aku akan memperlakukan kamu spesial, jika itu perlu."
"Menarik," Steve menjentikkan jarinya. "Kalau begitu, cium aku sekali. Maka aku akan melupakan kejadian ini," wajah Steve terlihat senyum sumringah.
Dinda bengong, dia berulang kali mengedipkan matanya melihat wajah Steve yang tersenyum. "Apa kamu tidak marah lagi," Dinda memastikan.
"Cium aku, maka aku akan melupakan kejadian tadi," Steve mengulangi ucapannya. "Atau aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini," Steve bersikeras.
Dinda menggeleng. "Nggak mau," bantah Dinda. "Kenapa memaafkan aku harus di ganti dengan sebuah ciuman."
Steve men-decak, Dinda masih saja tidak bisa memahaminya. "Cium aku, maka aku akan memaafkan kejadian tadi," Steve mengulanginya.
"Aku nggak mau," Dinda merajuk.
Steve menggertak giginya, dia mendekati wajahnya lagi tepat di wajah Dinda. "Aku katakan sekali lagi, cium wajah ku, atau aku akan benar-benar marah," Steve memaksa.
Wajah basah Steve dan rambutnya yang masih terurai menjatuhkan air, membuat Dinda berdebar. Dia memegang kerah bajunya, dadanya membusung berdegup.
"Ayo cium aku, atau aku akan benar-benar marah," Steve memaksa kembali, pria ini mengulangi ucapannya berkali-kali.
Dinda terpaku, dia masih dalam situasi bingung. Steve bisa melupakan kejadian ini begitu saja.
Karena Dinda tidak bergeming, Steve kesal. Dia langsung menggendong Dinda, membawanya masuk kedalam rumahnya.
"Steve apa yang kamu lakukan," Dinda memberontak. "Ada paman Lu dan bibi Yan, mereka akan melihat tingkah kamu ini."
Steve tidak peduli, dia hanya mengikuti kehendaknya. Dia menggendong Dinda, membawanya masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan Dinda di atas kasurnya.
Steve menaiki tubuh Dinda, wajahnya menatap wajah Dinda yang ada di bawahnya.
"Kamu jangan pernah lakukan lagi kesalahan ini," Steve memperingatinya. "Jangan biarkan siapapun lelaki bermalam di rumah kamu, selain aku."
"Tapi, bagaimana dengan...."
"Tidak ada bantahan," Steve menyela. "Atau aku tidak akan pernah bisa memaafkan kejadian ini."
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Niko dan Miko," Dinda mengkhawatirkan adik-adiknya.
"Mereka pengecualian," timpal Steve menegaskan ucapannya.
Steve mencengkram tangan Dinda sangat kuat. Tangannya sangat kekar, Dinda tidak bisa bergerak leluasa.
Perlahan kepala Steve merendah. Dia mencium Dinda. Bibirnya ranum, dan Steve makin bergairah.
"Biarkan aku memberikan kamu tanda yang jelas, bahwa kamu adalah milik ku," bisik Steve usai mencium Dinda. Dia tertidur di tubuh Dinda.
Bagai kasur, Steve merebahkan tubuhnya di atas tubuh Dinda sambil bicara membisik. "Aku mencintai mu, jauh lebih dari apapun," ungkap Steve.
"Tapi aku sesak," Dinda menyeringai. "Kamu membuat aku sulit bernafas."
Steve kembali melihat wajah Dinda, dia menaikkan sedikit tubuhnya. "Apa kamu tahu, aku tidak suka kalau ada pria lain yang dekat-dekat dengan kamu," Steve berkata, tangannya membelai rambut Dinda.
"Aku mengerti," jawab Dinda paham. "Aku tidak akan mengulangi lagi semua ini."
"Bagus, aku lega mendengarnya," Steve bergidik puas. Dia lalu merebahkan diri di sebelah Dinda.
Mereka berdua tidur di atas kasur yang sama. Steve menarik tangan Dinda, lalu menempelkan di perutnya yang keras.
"Apa ini sungguhan perut," kata Dinda memastikan.
"Kenapa? Kamu menyukainya?"
Dinda memiringkan tubuhnya, dia melihat sekilas tubuh Steve yang ada di sebelahnya. "Kamu punya tubuh yang indah," Dinda memuji. "Aku suka mengelus-elus perut keras seperti ini."
Steve mendekatkan tubuhnya pada Dinda. Mereka menempel se-erat mungkin dalam satu dekapan. Steve memeluknya hangat.
"Tubuh ini kedepannya akan punya kamu sendiri, aku tidak akan memberikan atau membaginya pada siapa pun," Steve berjanji. "Walau banyak perempuan yang lebih cantik datang menggoda, aku tetap akan menyukai kamu."
"Hei. apa itu artinya aku jelek selama ini," Dinda menolak keras argumentasi Steve. Dinda mendengus, dia tidak menyukainya, di sebut jelek.
"Kamu tidak jelek di mata orang lain, tapi kamu jelek di mata ku," Steve makin memeluk Dinda erat. Dia mencium harumnya rambut Dinda. "Kamu keramas berapa hari sekali?" tanya Steve.
"Sehari dua kali," jawab Dinda. "Kenapa?"
"Aku menyukainya," bisik Steve. "Kamu wangi, aku menyukai rambut kamu. Semua detail tubuh kamu, bahkan aku juga menyukai hidung kamu," Steve mengakuinya. "Kamu cantik."
"Kenapa kamu yang begitu sempurna menyukai aku yang tidak apa-apanya," Dinda membandingkan. "Bahkan di banding artis itu, aku tidak ada tandingannya," Dinda merendahkan dirinya.
"Aku tidak pernah menyukai orang cantik hanya karena fisik. Aku menyukai kamu sejak dahulu, bahkan bagaimana penampilan kamu, aku akan menyukainya," Steve ber-kriteria.
Dinda mengelus dada Steve, dia mendongak wajahnya, lalu kembali menyentuh pipi Steve yang mulus dan bening. "Kamu ingat," Dinda menyinggung. "Saat pertama kali kita bertemu, kamu marah pada ku karena aku menyentuh tubuh kamu. Kenapa sekarang aku di perbolehkan melakukan ini," Dinda ingin tahu alasannya.
Steve menyilang-kan kakinya di kaki Dinda. Tangannya menopang kepala, dia memiringkan tubuh. "Itu, aku melakukannya, karena aku ingin mendapatkan perhatian kamu," Steve mengungkapkan kebenaran. "Memangnya kamu pikir aku sungguh-sungguh melakukannya."
"Jadi selama ini semua itu karena membohongi ku," Dinda menggerutu.
Steve tertawa terbahak-bahak, melihat kelucuan Dinda, Steve tak bisa menyembunyikan kebohongan.
"Gadis jelek ku selain tampangnya jelek, ternyata gadis ku juga bodoh," ledek Steve sambil menyentil hidung Dinda. Dia makin tertawa terbahak-bahak, Steve makin menikmati hiburan kecil ini.
"Jadi selama ini label ku adalah gadis jelek," tuntut Dinda. Dia memalingkan wajah, tidak mau menatap Steve yang mengejeknya tanpa perasaan.
"Hei, hei," Steve memutar wajah Dinda menghadap ke wajahnya. "Kamu adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui, aku tidak pernah memuji wanita cantik mana pun kecuali kamu," Steve menghibur Dinda yang merajuk.
"Sudahlah," seringai Dinda. "Aku harus pergi sekarang, aku ada acara dengan teman-teman ku," Dinda bangun dari rebahan santainya. Sembari melihat jam, dia ingin pergi.
Steve menarik lengan Dinda, menidurkan Dinda di atas lengannya. "Mau kemana? Baru saja kita berbaikan, kenapa sekarang mau pergi," Steve tidak mengizinkan Dinda pergi tanpa dirinya.
Dinda mengembuskan napasnya. "Aku ada acara reunian dengan teman-teman SMA ku hari ini, mereka sudah menunggu sekarang," jelas Dinda. "Aku pergi sekarang, nanti aku terlambat," Dinda ingin pergi.
Steve ikut berdiri saat Dinda akan meninggalkan kamarnya. "Apakah aku sudah di lupakan?" Steve menyinggung.
"Hanya acara reunian, tidak perlu khawatirkan aku," Dinda meyakinkan Steve. "Aku pergi sekarang ya," Dinda beranjak. "Mereka sudah menunggu."
Tapi di depan pintu suara denting handphone Dinda berbunyi. Seseorang menelponnya, Dinda mengangkat panggilan itu segera.
Iya, benar, apa, harus? memangnya acara apa yang harus seperti itu. Oke, aku akan membawanya. Dinda menutup telepon, wajahnya terlihat gusar dan bingung.
Steve menguping, dia berdiri di belakang Dinda, mendengar percakapan di dalam telepon.
"Gimana, masih tidak mau membawa ku kesana," bisik Steve yang diam-diam mendengar ucapan mereka.
__ADS_1
Dinda bergidik ngeri, horor rasanya Steve sudah ada di belakangnya. "Okelah," jawab Dinda. "Kamu boleh ikut," Dinda menyetujuinya. "Walau terpaksa," kata Dinda sayu. Dia tidak bisa menolak keinginan Steve.
"Memang kita berjodoh," timpal Steve. "Aku yakin semua teman mu akan terpesona melihat ketampanan Boss grup wong," Steve berkata jumawa.
"Nggak usah terlalu sombong Tuan pemarah," ledek Dinda. "Kamu jelek, nggak akan ada yang suka sama kamu apalagi memujinya. Buang-buang waktu."
Steve menyeringai tertawa puas. "Karena aku jelek, makanya gadis bodoh ku semakin terpesona lada kejelekan ku," bisik Steve menggoda.
Dinda memanyunkan bibirnya, dia berseberangan dengan apa yang Steve katakan. "Ya, ya, ya. Air laut asin sendiri."
"Sudahlah, jangan buang-buang waktu Tuan mu yang berharga ini wahai pelayan ku," Steve membual. "Layani Tuan mu dengan sempurna, maka aku akan bahagia."
Steve menjentikkan jarinya. Dia memegang kedua bahu Dinda dari belakang, lalu menggiringnya kembali masuk kedalam kamarnya.
"Carikan aku pakaian yang bagus, Nyonya ku," perintah Steve narsis. "Aku harus terlihat tampan haru ini, aku ingin menggoda teman-teman mu," Steve kembali menyombongkan diri.
Dinda mengepal tangannya, dia kesal pada Steve yang mengatur. "Kenapa harus aku, kamu sendiri kan bisa," Dinda menolak, sepenuhnya dia tidak mau menuruti perintah Steve.
"Oke, kalau tidak mau, aku bisa mencari sendiri pakaian ku," Steve tidak memaksa. Steve ingin menunjukan bahwa dia bisa membuat Dinda mengalah.
Steve membuka lemari besar, dimana di dalamnya terdapat ruangan yang mirip ruangan tersembunyi. Tapi isi didalamnya adalah pakaian Steve semua.
Dinda menggeleng, dia tidak berkomentar apapun mengenai baju-baju mahal Steve yang menggantung di dashboard lemari besar.
Steve membongkar lemari bajunya, Steve sengaja mengacak-acak pakaiannya, agar Dinda tertarik memperhatikan dirinya. Dinda yang benci berantakan tidak suka gaya Steve yang asal-asalan. Rupanya rencana Steve berhasil dalam membuat Dinda menuruti kemauannya.
"Oke, oke," Dinda mengalah. "Aku akan Carikan baju yang bagus untuk kamu. Kamu hanya akan mengacak-acak nya saja nanti," omel Dinda.
"Yes," Steve mengepal tinju. Dia bersemangat. Dinda masuk kedalam ruangan wardrobe Steve, dia juga mengikuti wanita itu masuk kedalam.
Dinda memilihnya, begitu banyak baju Steve sampai membuat kepala Dinda pusing memilihnya.
"Karena hari ini libur, sebaiknya pakai baju kasual saja," saran Dinda. Dia mengambil Hoodie abu-abu polos, celana hitam panjang, sepatu sporty dan kaus dalaman Hoodie berwarna putih cerah tanpa tambahan warna lain.
Dinda mencocokan dulu setelan yang ia ambil, lalu menempelnya di tubuh Steve. Dinda mengambil gaya dari berbagai sudut. "Cocok," ucap Dinda senada dengan seleranya.
Steve memakai apa yang Dinda berikan. Dinda sengaja memilih pakaian kasual, agar bisa menyamakan style yang ia pakai saat itu.
"Tapi, rasanya ada yang kurang," Dinda berpikir. Dia mencari apa yang kurang untuk di kenakan oleh Steve.
Dinda meniti sekeliling ruangan, melihat apa lagi yang bagus untuk Steve pakai.
"Topi sepertinya cocok."
Steve mengangkat bahunya, dia ikut alur gaya busana Dinda. "Tapi setelah aku pikir-pikir, aku kurang cocok menggunakan topi," kata Steve bersebrangan.
"Iya juga ya," balas Dinda. Dia menggigit bibirnya, tangannya mengetuk-ngetuk dagu sambil memikirkan apa yang cocok.
Dinda menjentikkan jarinya, setelah dia melihat meja kaca transparan berlaci besar di penuhi jam. "Astaga," Dinda takjub. "Kamu sepertinya cocok memakai jam dari Swiss ini," saran Dinda.
Kebiasaan Steve, dia suka mengerat di punggung Dinda. "Pilihkan aku satu," pinta Steve.
Dinda men-decak. "Selalu saja begitu," Dinda sudah terbiasa pada Steve yang menempel setiap saat.
"Sebagai Nyonya keluarga wong, seharusnya kamu harus paham."
Steve suka sekali jika bicara membisik di telinga, Dinda harus berulang kali menahan rasa geli ini.
"Ku mohon jangan bicara di telinga ku, aku sudah merinding mendengar suara kamu yang mengiang di telinga ku," Dinda protes. Steve memang patut di kritik.
Tapi itulah Steve. Dia tidak akan mengindahkan tiap perkataan Dinda. Dia hanya suka melakukan segala sesuatu apa yang di inginkan-nya.
"Ayolah. Pilihkan satu jam yang bagus untuk ku."
Karena keasikan bicara pada Steve, Dinda hampir melupakan permintaan Steve tadi.
Sesuai keinginan Dinda, dia memilih satu jam tangan yang paling bagus dan menarik perhatiannya.
Dan jadilah saat itu, Steve yang tampan menyerupai idol kelas atas. Steve tidak menyangka, gaya busana untuk pria pun, Dinda bisa melakukannya.
Dinda menyulap Steve menjadi seorang pria yang bahkan dirinya sendiri hampir tidak mengenalinya. Di depan kaca besar, Steve berkaca narsis.
"Jika aku menjadi artis terkenal, mungkin aku akan mengumumkan pada publik bahwa kamulah istri ku," di depan kaca Steve bicara sembarangan.
Dinda hanya mengiyakan saja apa yang Steve katakan, atau Dinda akan ikut narsis.
__ADS_1
BERSAMBUNG