
“Vano. Sudah siap belum. Ayo Ayah antar ke sekolah!” teriak Steve dari bawah.
“Iya Yah. Sebentar lagi Vano turun!” balas Vano berteriak dari atas.
Di dekat anak tangga, Steve sedang mengancingkan kerah lengan kemeja putihnya. Dinda datang, membawakan jas hitam suaminya, lalu tangan Dinda langsung memasangkan dasi suaminya ini.
“Vano masih siap-siap, sebentar lagi dia akan turun,” ujar Dinda memberitahu.
“Anak itu, semalam dia masih main game lagi kah. Pasti itu penyebabnya dia bangun terlambat.”
Dinda menggeleng. “Semalam, setelah kita bicara pada Vano, anak itu langsung tidur. Aku yakin, dia tidak akan mengulangi perbuatannya. Atau dia akan di marah Ayahnya yang galak.”
“Anak-anak makin besar, mereka makin nakal. Membuat aku pusing selalu mengomeli mereka.”
Steve mengakui. Dinda tahu, sudah berkali-kali suaminya ini mengomel pada Vano dan Iqbal. Untung si kecil masih polos, bisa-bisa dia ikut di marah Ayahnya.
“Sudah-sudah. Masih pagi Ayah sudah marah sama anak-anak. Nanti kepercayaan diri mereka turun kalau Ayah terus-menerus memarahi mereka.”
Dinda menengahi, hanya itu yang dia bisa. Jadilah kenapa, anak-anak dekat pada Bundanya dari pada Steve. Dia menakutkan, Vano sudah membuktikannya.
Hanya dengan sekali bicara, Vano sudah takut pada raut wajah Ayahnya yang galak.
Dinda sudah selesai merapikan pakaian suaminya. Vano turun dari kamarnya dilantai dua. Anak itu terlihat tampan dengan seragam SMA-nya yang baru.
Kedua anak Steve, mereka sama-sama tampan apapun yang dikenakan. Steve tentu bangga memiliki kedua anak seperti mereka, apalagi penurut.
“Ayo Yah, Vano sudah siap!”
“Dasinya belum di pakai,” tegur Dinda pada Vano.
Vano melirik seragamnya. “Iya juga,” gumamnya pelan.
“Pakai dulu dasinya sebelum berangkat. Hari ini upacara, kalau nggak pakai seragam lengkap, nanti Vano di hukum.”
Vano men-decak sebal. “Memangnya harus ya Bunda?” tanyanya polos.
Pada dasarnya Vano tidak tahu apapun tentang sekolah di Indonesia. Namun, Vano mengakui—kalau seragam yang dia pakai sangat bagus.
Berbeda dengan pakaian sekolah yang dia kenakan saat di Shanghai. Walau sama-sama simpel, namun seragam SMA Indonesia ini agak cocok dengan Vano.
“Ya sudah. Nanti pakainya di atas mobil saja. Sudah siang, nanti nggak keburu Vano tiba di sekolah,” Steve menengahi.
Dinda mengambil tangan Steve, menciumnya. Vano demikian, dia mencium tangan Dinda sebelum berangkat. Si kecil, Indah Alyssa berjalan tertatih-tatih mendekati Dinda dan Steve.
Steve tersenyum sumringah, lalu mengusap pelan rambut si kecil.
“Ayah berangkat ya nak. Baik-baik dirumah ya, jangan rewel. Kasihan Bunda nanti.”
Steve berlalu setelah berkata pada putrinya. Si kecil memasang wajah masam, dia tidak mau di tinggal Ayahnya.
__ADS_1
Inilah Steve, dia selalu memanjakan anak-anak. Jadi, anak-anak kalau masih kecil, memang tidak bisa menjauh darinya.
“Bunda. Vano berangkat.”
Vano mengekori Ayahnya keluar. Dinda mengangguk. Sedangkan si kecil, jalannya tertatih-tatih menuju ke pelukan Dinda sambil menangis.
“Ayah ...,” rengek si kecil menangis, sembari menunjuk kearah pintu luar. Dinda menggendong Alyssa, mencoba menenangkannya.
“Alyssa jangan nangis ya sayang. Nanti kita ke kantor Ayah. Alyssa mandi dulu.”
****
Joe datang ke kelab malam disalah satu sudut kota Jakarta. Ini pertama kalinya, Joe memasuki tempat seperti ini.
Tetapi, Joe, dia pernah juga memasuki kelab malam di Amerika. Itu saat ulang tahunnya yang kesembilan belas. Sekarang, sudah satu tahun berlalu.
Joe canggung, dia mungkin lupa bagaimana caranya meminum minuman keras.
Joe duduk di dekat bartender. Salah jika mengatakan Joe pria nakal. Joe tidak seperti itu, dia hanya meminum alkohol karena sedang pusing. Jika tidak, Joe pasti menolak datang ke tempat ini
Joe memesan satu minuman keras yang agak murah. Dana di dompet Joe hampir habis, dia pusing memikirkan bagaimana besok dia akan hidup.
“Orang baru ya Bang?” tanya bartender.
Joe mendengus di ikuti gelengan kepala. “Satu gelas lagi,” ucap Joe meminta.
Joe tak menjawab pertanyaan tadi, Joe malas menjawab privasinya.
Pahit, memang. Rasanya sepahit hidup Joe.
“Ini sudah gelas ke dua puluh lebih bang. Kok Abang masih kuat saja meminumnya?”
Bartender keheranan, Joe sejak datang dua jam yang lalu tidak menikmati irama dugem di kelab malam ini. Yang lainnya asik seperti orang kesetanan, menari kesana kemari, layaknya orang gila tanpa beban hidup. Sedangkan Joe, dia malah santai di dekat meja bartender.
“Satu gelas lagi,” pinta Joe kembali.
Bartender lagi-lagi menuangkan segelas alkohol. Kali ini beda merek, Joe menenggaknya sekali tegukan. Mengulangi kembali seperti yang sebelumnya.
“Bang. Ngomong-ngomong, kok Abang nggak mabuk sih. Dari tadi, Abang minum alkohol berbagai jenis sudah Abang cicip. Tapi, Abang nggak mabuk. Abang baik-baik saja kan?”
Pria itu terlalu khawatir pada Joe, sedangkan Joe malah teringat pada masa lalunya.
Masa lalu, kenapa Joe tidak akan mabuk jika minum banyak alkohol. Karena daya imun Joe kuat, menurun dari Steve yang jarang sakit. Jadi, Joe hanya mengalami demam setelah meneggak banyak alkohol.
“Aku mau alkohol yang itu.”
Kini, kembali Joe mulai jeli. Dia melihat ada alkohol bertutup emas, Joe ingin yang itu.
Bartender kembali menuangkannya untuk Joe. Seberapa mahalnya, Joe tidak peduli lagi.
__ADS_1
Joe kembali menenggak minuman itu, sekali lagi, Joe merasa lega melepas kepenatan didalam kepalanya.
Saat Joe sedang menikmati semua minumannya, seorang gadis wanita datang mendekati Joe. Nampaknya, dia dipaksa oleh teman-temannya.
Dengan malu-malu gadis itu duduk di sebelah Joe. Joe meliriknya dingin, namun tak lama, Joe tak suka memperhatikan orang lain.
“Hai. Boleh kenalan nggak?” ucap gadis itu.
Joe cuek, dia masih asik menenggak minumannya.
“Nama ku Laura. Aku dari tadi memperhatikan kamu. Jadi, aku tertarik untuk berkenalan dengan kamu.”
Gadis itu mengulurkan tangannya, Joe tak meresponnya, justru Joe mengabaikannya.
Joe menarik napas dalam. Mengembusnya agak panjang.
“Berapa total semuanya?” tanya Joe pada bartender.
“Satu juta delapan ratus,” balas bartender.
Joe mengeluarkan dompetnya, tepat sekali. Uang recehnya lumayan memenuhi dompet. Joe membayar cash, karena kartu ATM Joe tidak berlaku.
Bukan karena ATM Internasional-nya tidak valid, tapi sudah di blokir sang Ayah.
Satu gelas terakhir dari alkohol yang Joe pesan, Joe tenggak memaksa. Setelah di minum sampai habis, Joe meletakkannya di atas meja agak kasar. Tidak lama, Joe kemudian pergi meninggalkan meja bartender.
Joe tidak merespon gadis yang mengajaknya berkenalan tadi. Sedangkan gadis yang berpakaian tidak terlalu seksi itu, tersenyum manis melihat bayangan punggung pria tinggi semampai itu.
“Abang tahu siapa nama cowok tadi?” tanya wanita ini pada bartender.
Pria itu menggeleng. “Dia terlalu dingin. Nggak pantas buat kamu dekati.”
“Aku hanya perlu namanya saja bang, sekalian alamatnya. Aku yakin, dia pasti membutuhkan aku suatu saat.”
“Ckck ..., Abang saja tidak tahu siapa namanya. Dia dari tadi tidak menjawab pertanyaan Abang.”
Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya, mengelap gelas hingga mengkilap. Wanita ini melirihnya, sebal baginya tak dapat info tentang Joe.
Suara musik menggema, ada dua teman wanita ini datang menghampiri meja bartender.
“Bagus tuh. Cowok seganteng itu, tipe Laura banget,” ucap salah seorang teman gadis bernama Laura ini.
Laura tersipu. “Apaan sih. Kenal sama dia saja belum. Main cap-capan.”
Sampai sini, bagaimana perasaan kalian setelah membaca bab ini? Apakah kalian penasaran.
Ini adalah novel tentang Joe, dan novel ini adalah sub chapter ke delapan dalam kisah Joe. Dan, bisa di bilang ini adalah sekuel cerita UNINTENTIONAL, bisa juga bukan.
Karena, naskah Joe sendiri aku tulis sudah cukup lama. Naskah ini tidak atau belum aku revisi, jadi masih bisa di bilang naskah mentah.
__ADS_1
Komen yang banyak dong, mau lihat bagaimana euforia kalian ingin membaca kisah Joe.
Tembus seribu komentar, auto aku up 10 chapter di novel baru. Haha.