
Minggu pagi adalah hari yang paling menyenangkan bagi semua orang. Karena hari itu adalah hari berlibur di akhir pekan walau terkesan kurang panjang.
Termasuk Dinda yang menikmatinya. Lepas dari pekerjaan kantor yang mendesak dan menikmati waktu bersantai. Orang bilang bahwa keluarga adalah tempat terindah dalam berbagi kebahagiaan dan Dinda sudah menikmatinya dengan adik-adik yang manis nan ramah.
Kebahagian itu sederhana, cukup melihat orang-orang yang tercinta tersenyum bahagia sama seperti mendapatkan nikmat sehat tiada taranya sebab sulit mendapatkan hal semacam ini. Quality time sangat di perlukan dalam mengembangkan hubungan antar keluarga sehingga momentum ini tak boleh terlewatkan.
Suara kicauan burung serta matahari pagi yang menyeruak menyilaukan mata masuk melalui sela-sela jendela. Hari itu pukul delapan pagi. Dinda dan kedua adiknya berencana mengunjungi toko buku milik ayahnya. Toko yang di beri nama 'DERMAWAN BOOK STORE & LIBRARY' ini merupakan peninggalan ayah Dinda. Semasa hidup ayahnya toko ini di peruntukan sebagai dedikasi dalam memajukan minat baca masyarakat. Toko ini tak hanya menjual semua tentang buku tetapi juga berfokus mendidik anak jalanan, terlantar dan anak kurang mampu untuk di ajarkan belajar membaca sejenis les privat namun gratis.
Niko sudah rapi, termasuk kakaknya Dinda. Hanya Miko yang belum selesai sebab dirinya masih tertahan di kamar mandi. Niko tak sabaran menunggu kakaknya yang ia nilai terlalu lambat dalam segala hal.
Bahkan Miko sempat keluar kamar mandi dengan mulut yang masih berbusa. Ya, Miko sedang menyikat giginya. Dan sepertinya ia sedang mencari sabun mandi atau shampoo dan sejenisnya.
"Kak Miko, sudah selesai belum mandinya?" Teriak Niko yang sudah menunggu di meja makan.
Miko ahli dalam mandi berlama-lama. Entah sebersih apa ia mandi tetap saja sangat lamban seperti siput.
Miko tak mendengar ucapannya karena ia asik mandi sambil bernyanyi.
Niko dan Dinda duduk bersama di meja makan sembari menunggu Miko yang sedari tadi di kamar mandi tak keluar-keluar. Niko memandang wajah kakaknya yang duduk di depannya. Dinda paham maksud Niko, maksud agar meminta Miko mempercepat mandinya karena pikir Niko matahari mulai meninggi dalam arti sudah semakin siang.
Dinda yang di pandang oleh Niko, sedikit terkekeh seraya mengangkat kedua bahunya tanda bahwa ia tak tahu apapun alias malas menegur Miko.
Melihat respon kakaknya Dinda, Niko bergidik lemas. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya dengan ekspresi lelah. Lelah baginya menunggu Miko yang lelet bagai jaringan yang sedang mengalami gangguan.
Niko mengetuk-ngetuk meja makan dengan jari telunjuknya sementara tangan kirinya menopang dagu. Ia mengetuk meja tanda bosan menunggu.
Kriettt....
Pintu kamar mandi yang terletak di dekat dapur terbuka perlahan di ikuti dengan tubuh Miko yang basah keluar dari kamar mandi.
Miko dengan handuk yang menutupi bagian bawahnya keluar dari sarangnya sedangkan Niko hanya menyaksikan tingkah sang kakak.
Ia menaikkan sedikit alisnya dengan wajah jutek menjengkelkan.
Memang lama, tapi inilah Miko. Pria yang di anggap Niko sebagai manusia terlambat di dunia. Niko ahli bersabar menghadapi manusia semacam ini.
Sejak pagi ketiganya sudah meninggalkan apartemen dan menuju ke toko buku yang mereka anggap sudah lama tak di kunjungi.
Meskipun jarang kesana, namun ada Rina, sepupu Dinda yang membantu menjaga toko buku beserta perpustakan dan tempat belajar ini.
Tempatnya luas dan nyaman. Semua buku terpajang rapi dan ada yang masih tersegel oleh pelastik.
__ADS_1
Kipas angin di atap perpustakaan mengaung bergema. Meja kasir yang besar dan dengan deretan buku ternama di segel oleh plastik, terpampang rapi di rak-rak khusus.
Toko sudah mulai ramai di pagi hari ini. Banyak pelanggan yang datang di akhir pekan sebab hanya di waktu ini mereka memiliki waktu luang.
Niko dan Miko sibuk melayani pelanggan, sementara Rina hari ini tidak masuk alias cuti di karenakan sedang berkencan dengan pria yang katanya banyak uang.
Dinda memakluminya karena Rina bekerja seminggu penuh kecuali di hari Minggu.
Sehingga hari ini Dinda di bantu kedua adiknya menjaga toko buku yang modernitas ini dengan bangunan bergaya klasik dan berdiri di apit oleh dua gedung pencakar langit.
Di hari Minggu ini pula, Steve yang ada di rumahnya dengan pakaian rapi nan segar terlihat mondar-mandir di ruang tamu.
Steve menggigit jarinya seakan ini hal terbiasa baginya.
Dia terlihat gusar dengan wajah tak sabar memikirkan sesuatu. Ia mendongak dagunya keatas, tangannya mengelus dagu seakan sedang mengelus jenggotnya ala bangsawan di era dinasti ming dan wajahnya terlihat serius memikirkan sesuatu.
Stevie dengan gelas mug besar tak sengaja melintas dan melihat tingkah adiknya.
Dia penasaran pada tingkah itu, sehingga dia menghampiri Steve atas dasar ingin tahu.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Stevie seakan mewakili sapaan pagi.
Steve tak menggubris ucapan itu dan ia hanya meliriknya saja. Perhatiannya sedang teralihkan di tempat lain sehingga mengabaikannya adalah hal yang ia anggap tepat.
Mungkin Steve sedang tak ingin di ganggu oleh siapa pun, sebab dari tadi ia menatap korden putih penutup jendela dan berdiri disana, mungkin pikir Stevie sudah puluhan menit atau lebih itu dia berdiri di tempat remang-remang cahaya ini.
Ia memahami kondisi Steve yang tertekan pada pekerjaan sehingga ia beraksi bertanya sambil merebahkan tubuhnya dengan nyaman di sofa empuk di hadapannya.
"Hari ini adalah hari Minggu. Apakah di kantor ada pekerjaan yang begitu mendesak sampai-sampai muka mu terlihat gusar tak karuan begitu." Stevie memulai bicara dengan nada santai.
"Aku sedang tidak memikirkan pekerjaan kantor." Balas Steve bicara singkat.
Stevie bergidik heran sebab tak biasanya steve bicara dengan nada gusar.
"Lalu? Jika bukan masalah kantor, apa yang kamu pikirkan sampai-sampai dari tadi mondar-mandir berjalan di tempat. Biasanya kamu hari ini pergi ke pusat kebugaran atau mengerjakan tugas kantor. Kenapa? Apa sekarang sudah mulai merasa bosan dengan zona nyaman mu selama ini.... Merasa tertekan kah? Atau sudah muak pada kehidupan yang penuh tuntutan ini." Stevie memancing sedikit pembicaraan yang krusial.
Steve sedikit menggeram menggigit giginya hingga berbunyi ngilu.
Ucapan kakaknya nampak seperti memancing dirinya untuk bicara banyak.
"Kakak tidak tahu apapun tentang diri ku. Jadi jangan sok menggurui ku dengan pembicaraan tak bermakna ini."
__ADS_1
"Tak bermakna? Kenapa? Apa kamu sekarang ingin bilang kalau aku kakak mu ini tidak berguna begitu?" Stevie merespon cepat.
"Huh...... Omong kosong macam apa ini. Kita berdua di besarkan dalam lingkungan yang sama dan aku sudah cukup memahami karakter mu sedari kecil. Apa masalahnya jika aku bertanya tentang apa yang terjadi hari ini? Apakah itu melanggar privasi seorang anak pengusaha grup wong begitu?" Lanjut stevie menambahkan ucapannya.
Steve tak menjawab ucapan kakaknya itu. Karena ia tahu pasti ucapan itu akan mengarahkan kisah haru nan pilu. Bosan baginya mendengarkan ucapan rancu itu. Ingin ia menjawab ucapan sendu itu dengan kalimat, "Jika ingin curhat, curhat saja ke psikiater atau kunjungi salah satu stasiun televisi yang memuat program agamis karena aku bukan pria yang di jadikan sebagai sandaran untuk mencurahkan isi hati. Inilah mengapa aku membenci wanita. Mereka selalu lemah dalam setiap tindakan." Ingin Steve bicara demikian, namun ia tak sanggup karena sekeras-kerasnya watak yang ia miliki, menyakiti wanita bukanlah tipenya.
Hal ini memaksa Steve bertindak diam dari pada menghadapi seorang wanita.
"Lupakan saja. Aku rasa kita sedang dalam fase emosional pagi ini." Tukas Steve mengakhiri kisah ambigu ini.
Tetapi Stevie, kakaknya terlihat sedikit menyeka air mata sendu di pupil matanya.
"Aha-ha-ha-ha..... Iya maafkan kakak karena terlalu terhanyut dalam perasaan. Sepertinya kakak perlu refreshing hari ini," ucap Stevie pura-pura bergurau.
Steve menarik nafas panjang dan menyembunyikan emosionalnya dengan wajah dingin dan tanpa ekspresi.
"Maafkan aku jika aku berulah pagi ini."
"Kamu tidak bersalah. Kakak yang terlalu berlebihan. Nampaknya kakak semalam kurang tidur, sehingga pagi ini kakak terlihat sedikit mengganggu waktu mu. Kakak yang seharusnya minta maaf."
Lagi-lagi Steve merasa sedikit bersalah kala mendengar ucapan wanita yang ia hormati dan seakan keadaan memaksanya untuk mengakuinya. ia mengurut keningnya, mungkin Steve merasa sedikit peluh di otak.
"Aku mau kekantor dulu sepertinya. Banyak pekerjaan yang harus aku urus hari ini." Ucap Steve beralibi mengalihkan pokok pembicaraan.
Stevie paham maksudnya namun ia tak berani menyela seucap kata pun.
Steve berlalu meninggalkan kakaknya sendiri di ruang tamu itu.
"Aku akan pulang larut malam ini. Jadi kakak tidak perlu mengkhawatirkan aku." Pesan Steve sebelum dirinya menghilang dari pandangan kakaknya.
Stevie bergidik sedih saat mengingat kejadian tadi. Menurutnya tak seharusnya dia menggangu Steve yang terlihat seperti sedang tertekan. Ia merasa seperti perusak suasana hati adiknya. Stevie merasa bersalah sedikit pada kejadian ini.
Sementara Steve, dengan mobil mewah hitamnya mengendari kuda besi itu melaju di jalan raya bebas hambatan. Ia tak tahu kemana ingin menuju, pikirannya sedang kacau balau. Terutama kisah ambigu tadi. Sebenarnya ia sedang tak memikirkan pekerjaan kantor atau memikirkan keluar dari zona nyaman seperti yang di pikirkan kakaknya.
Tetapi ia sedang memikirkan Dinda. Ia membutuhkan wajah itu di sisinya, berhubung kakaknya menyela fokusnya tadi, sehingga membuat Steve sedikit emosi mendadak.
Atap mobil mewah Steve ia buka hingga mobil yang ia kendarai terbuka lebar. Semilir angin mengibaskan rambutnya hingga semrawut berantakan. Di bawah terik matahari pagi Steve mengenakan kaca mata hitam.
Sepanjang perjalanan yang ia tempuh entah kemana tujuannya, kini terlintas dalam pikirannya wajah Dinda yang sempat ia pikir tadi.
"Ya... Dinda. Aku harus menemuinya sekarang!" Steve semangat pada hal ini. Sehingga di tengah jalan yang senggang ia memutar balikan kemudi mobilnya dan langsung menuju ke arah apartemen Dinda.
__ADS_1
BERSAMBUNG.