
Setelah mengantarkan Dinda sampai di rumahnya, kini Steve juga sudah tiba di dalam kediamannya yang sepi.
Steve melintasi ruang keluarga sebelum menaiki tangga rumahnya. Di lantai dua kamar Steve berada.
Tapi, di balik sofa besar ruang keluarga, Stevie yang beberapa hari pulang ke Shanghai, kini sudah menjejakkan kakinya di Jakarta.
"Steve," Stevie memanggil adiknya. Dari balik sofa, wanita berambut sebahu ini terlihat sangat intrik.
Steve yang hendak ke kamarnya, menghampiri sumber suara.
"Ada apa kak?" tanya Steve sambil merebahkan badannya di atas sofa. "Sejak kapan tiba di Jakarta."
Dia duduk santai, menghadap arah sang kakak yang duduk menyilang-kan kaki. Layaknya wanita berkuasa, Stevie sangat berkharisma.
"Baru pulang," Stevie berbasa-basi. Stevie tidak menggubris pertanyaan Steve tadi.
Steve menganggukkan Kepalanya, dia terlihat kelelahan. Steve menenggelamkan kepalanya di sofa sembari menatap langit-langit rumah.
"Kakak baru saja dapat ini dari mama," Stevie memulai inti bicaranya. Dia melemparkan sebuah undangan berwarna merah di atas meja. "Baca dengan baik-baik," suruhnya.
Steve yang semula memijat kepalanya karena penat, mengambil undangan cantik berwarna merah itu. Steve bersikap natural, dia menebak itu undangan pernikahan dari sanak saudaranya.
"Jangan terkejut melihat isinya," kata Stevie penuh misteri. "Memang agak berat, tapi kamu harus menerima kenyataan bahwa itulah pilihan Mama."
Steve meninggikan alisnya, dia menatap wajah kakaknya curiga. "Memangnya ada apa dengan undangan ini?" Steve penasaran. "Siapa yang akan menikah?" Steve menebak. "Kakak?"
Undangan cantik yang dibungkus sedemikian rupa dan di ukir dengan pita hijau.
"Baca saja," perintah Stevie. "Kakak hanya menyampaikan apa yang mama inginkan," Stevie menarik nafas panjang, seakan ada masalah keluarga yang sulit di selesaikan.
Sekali lagi Steve melirik wajah kakaknya dengan tatapan curiga, sambil tangannya membuka undangan. Dia penasaran ada apa dengan undangan merah itu.
Usai membuka undangan itu, betapa terkejutnya Steve. Bagian depan sampul undangan tertera namanya di cetak dengan huruf hitam tebal.
"Apa-apaan ini," Steve memekik emosional. Dia membanting undangan itu di atas meja. "Nggak usah ngatur-ngatur hidup Steve lah, Steve bukan anak kecil lagi yang harus di suruh ini dan itu!" tegas Steve.
"Tenangkan dulu diri, nggak usah marah-marah," Stevie menyantai-kan gaya bahasanya. "Semua bisa di selesaikan dengan baik-baik, mama mungkin hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
"Bagaimana mau menenangkan diri," Steve masih emosional. "Mama makin hari semakin keterlaluan, permintaannya aneh-aneh," Steve mengadu, ia menumpahkan seluruh amarahnya.
"Itu mama lakukan karena dia ingin segera kamu menikah dengan Peni," sahut Stevie.
"Menikah!" Steve melahai tertawa masam. "Menikah dengan seseorang yang tidak pernah di cintai, apakah itu dasar dari suatu pernikahan?"
Stevie menopang kepalanya di tangan. Sikunya berpijak di sofa, dia melirik Steve yang merasa perlu di kasihani. "Kakak sudah menjelaskan, tidak perlu sampai ada pernikahan seperti ini, tapi Mama memaksa," jelas Stevie. "Kakak tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya bisa mendukung apa keputusan kamu."
"Kalau Mama terus memaksa aku menikah dengan Peni, kenapa tidak sekalian saja Mama yang menikah dengan perempuan itu, dengan begitu Mama akan tenang," gerutu Steve.
Dia jengkel karena hidupnya harus di atur apalagi menyangkut masalah pernikahan. Steve tidak mau mengambil keputusan yang bukan atas kemauannya.
Stevie mencoba mendewasakan Steve, dia ingin memberikan solusi terbaiknya pada Steve. "Kakak hanya bisa memberikan kamu saran, katakan sejujurnya bahwa kamu tidak ingin menikah dengan Peni, lalu bawa calon pengantin mu sendiri. Hanya itu yang bisa kakak bantu, selebihnya kakak hanya akan mendukung kamu."
"Ini mengenai hati, Kak!" Steve mengadu. "Aku tidak mau berkompromi mengenai masalah pernikahan ini. Aku tegaskan, bahwa aku menolak pernikahan ini dan juga aku tidak mau menikahi Peni, dengan atau tanpa persetujuan Mama dan Papa, aku tidak peduli."
Penegasan Steve mungkin adalah keputusan mutlak bagi dirinya, tapi tidak dengan kedua orang tuanya yang ada di Shanghai. Steve perlu persetujuan kedua orang tuanya itu untuk bisa melupakan pernikahan ini.
Steve ingin pergi meninggalkan Stevie, dia masih kesal dengan berita yang di bawakan oleh kakaknya.
"Teman masa kecil memang selalu meninggalkan kenangan," singgung Stevie. "Entah ketika dewasa, mereka pasti akan berakhir dalam dunia yang sengsara. Sudah menjadi rahasia umum jika teman masa kecil akan di jodohkan dengan alasan politik walau kendati demikian sebenarnya pernikahan kamu dan Peni yang direncanakan oleh tetua bukan pernikahan politik.
Hanya saja akan ada pihak-pihak yang merasa di rugikan."
Stevie berkata, sambil menyilang tangan di dada. Sementara Steve menjadi pendengar yang baik, kakinya tertahan untuk pergi setelah kakaknya menyinggung kisah masa kecilnya bersama Peni.
"Apa maksud kakak?" tanya Steve. Dia kembali mengambil tempat duduk. Steve duduk dengan wajah tak tenang dan gusar.
"Kamu pasti paham, kalau Papa dan Mama sengaja melakukan ini," jelas Stevie. "Mereka sengaja menjodohkan kamu dengan Peni, kecuali kamu sendiri yang datang dan menjelaskan semua ini pada mereka," Stevie menyarankan.
__ADS_1
Steve makin berang dengan berita ini. Amarahnya makin membeludak, Steve tak bisa menahan emosinya yang menggebu.
Argh! Steve mengerang marah memuncak, dia melempar vas bunga yang ada di atas meja ke lantai hingga pecah berantakan. "Kenapa Papa dan Mama melakukan segala kehendak yang mereka inginkan! Mereka seperti tidak ada keinginan lain. Selalu menuntut ku ini dan itu," tandas Steve.
Steve mengepal tangannya sekeras mungkin hingga kulit tangannya menjadi agak pucat karena kekurangan darah. Dia memukul meja kaca hingga pecah berantakan. Darah segar mengucur deras di tangannya.
"Steve," teriak Stevie. "Apa yang kamu lakukan!" Stevie bersikap cemas. Dia mendekati Steve, mengambil tangannya yang berdarah.
Stevie mengkhawatirkan adiknya itu. "Kamu kenapa bertindak bodoh seperti ini sih," gerutu Stevie. "Karena kebanyakan MSG, kamu jadi nggak bisa berpikiran jernih," Stevie mengumpatnya di depan mata.
Steve menolak uluran tangan Stevie yang mencemaskan dirinya. Steve menepis tangan kakaknya itu. "Nggak usah pedulikan aku," bentak Steve. "Aku bisa mengurus diri ku sendiri."
Steve menampik kakaknya, dia ingin berlalu dengan tangan yang sudah berlumuran darah.
Namun Stevie tidak terima jika niat baiknya di abaikan. Seolah Steve tidak menganggap keberadaannya, wanita garang itu murka.
Stevie menarik kerah Hoodie Steve sampai leher Steve tertunduk merendah. "Kamu berani menolak uluran tangan ku," ancam Stevie. "Berani menolak bantuan ku, maka aku pastikan kamu menikahi wanita masa lalu mu itu," tambah Stevie mengancam.
Steve menelan ludah takutnya. Dia melihat wajah kakaknya yang bar-bar nan emosional itu. Steve mendeham memperbaiki keadaan.
"Apa maksud kakak," Steve bertingkah lugu.
Stevie tersenyum masam, sambil menaikkan alisnya. "Aku akan mendukung Papa dan Mama menikahkan kamu dengan gadis masa lalu kamu itu, jika menolak berkah dari kakak secantik diri ku," dia berkata narsis di tengah emosi adiknya.
"Kakak bicara apa sih," Steve menggertak.
"Sudah jelas aku bicara mengenai Peni," jawab Stevie. "Nggak usah banyak bacod bahas Peni, lihat darah sudah berkucuran begitu, nggak kasihan sama nyamuk di luaran sana yang lunta-lantung mencari darah. Sedangkan kamu menyia-nyiakan darah, dasar anak Wong tolol."
"Kenapa kakak membawa nama grup wong?" Steve meninggikan nada suaranya. "Nggak ada kaitannya antara luka di tangan ku dengan keluarga Wong!" tegas Steve.
Stevie terbahak-bahak melihat keluguan Steve. "Sudahlah, semua keturunan wong memang bodoh, kecuali aku," Stevie berkata sarkas.
"Jadi kakak mengatakan bahwa aku bodoh!" Steve kontra pada pemikiran kakaknya.
Stevie menjentikkan jarinya, dia setuju pada ucapan Steve. "Nah, kamu sendiri yang mengakuinya," kata Stevie menengadah.
"Sudahlah, jangan bahas pernikahan dan kebodohan cucu wong," Stevie beralih bicara. Dia membanting tubuh adiknya di sofa. "Kita bersihkan dulu luka kamu dari darah, kasian nyamuk Aedes aegypti di luar sana nggak dapat jatah. Sedangkan di rumah sebesar istana ini, penghuninya menghambur-hamburkan darah. Kasihan sekali para makhluk itu," Stevie mengiba.
"Kalau boleh jujur, Kaka lebih suka menolong nyamuk-nyamuk yang sedang kelaparan di luar sana," Stevie berkata jujur. "Kasihan melihat ibu-ibu para nyamuk itu mencari darah demi menghidupi anak-anaknya yang berupa jentik nyamuk. Kakak iba sekali pada mereka," Stevie mengenang.
Steve mendengus, bicara kakaknya mulai aneh. "Aku sudah kehilangan darah ku hingga empat kantong jika kakak terus mengomel nggak jelas," tegur Steve.
"Oh iya, kakak hampir lupa kalau kamu punya nyawa," Stevie menepuk dahinya. Dia suka berkata tak karuan.
Selain dia ganas, kakak juga bodoh, gumam Steve. Tidak tahu bagaimana kakak ipar nanti akan menghadapi istri seperti kak Stevie, mungkin kakak ipar akan menjadi pembantu atau semacamnya. Aku harus berhati-hati mulai sekarang padanya, Steve mengumpat. Stevie jauh lebih berbahaya dari ular berbisa.
Paman Lu tak sengaja melintas, Stevie melihatnya, inilah kesempatan bagus. "Paman Lu," Stevie memanggilnya. "Tolong bawakan obat merah kemari, keadaan genting," Stevie berkata terlalu berlebihan.
Paman lu melihat bahwa tangan Steve berlumuran darah. "Tuan muda kenapa Nona?" tanya Paman Lu.
"Lupakan dulu rasa penasaran Paman, ambilkan dulu obat merah, ini lebih gawat dari pada membahas pernikahan artis A dan V itu," jawab Stevie.
"Baiklah Nona, aku akan membawanya," Paman Lu melupakan sejenak pertanyaannya yang penuh tanda tanya. Dia segera mengambilkan kotak obat.
Paman Lu terbilang cekatan dalam bekerja, performanya dalam bertindak tidak bisa di ragukan lagi.
Stevie membasuh luka Steve dengan alkohol. Steve termasuk kuat, bahkan alkohol yang terkenal dengan perih pada luka, bisa dia tahan tanpa ekspresi.
Hati Stevie memberikan tepuk tangan pada adiknya yang gagah bagai Thor Ragnarok.
Aku harus berhati-hati pada Steve, dia jauh lebih kuat dari dugaan ku, gumam Stevie. Steve sangat murka saat dia marah, Stevie mulai ngeri melihat adiknya ngamuk.
"Beruntung kaca yang kamu pukul langsung pecah berantakan," Stevie berkata sambil meniup-niup luka Steve yang di kiranya perih. "Atau kalau kaca itu tidak pecah, mungkin lukanya akan dalam atau mungkin bisa menjadi luka serius hingga menembus urat. Setidaknya hanya luka gores luar saja," Stevie memberi tahu. Dia ahli dalam bicara sambil berkerja.
Stevie memasang perban di tangan Steve. Sembari membalut tangan Steve dengan kain kasa, Stevie bertanya. "Bagaimana hubungan kalian.
"Hubungan?" Steve mengulanginya. "Hubungan siapa?" Steve pura-pura tidak paham.
__ADS_1
"Hubungan kamu dengan Dinda yang aku maksud," hardik Stevie.
"Tidak ada yang spesial," Steve mengelabuinya.
Stevie yang fokus menambal luka Steve, menatapnya dengan tatapan tajam penuh intrik. "Aku tinggalkan seminggu lebih, belum juga ada perubahan?" tuntut Stevie. "Pria macam apa kamu ini? menaklukan hati wanita bumi saja tidak bisa!" Stevie menggerutu sebal.
"Kenapa kakak malah marah pada ku," Steve ingin tahu alasannya. "Yang mendekati Dinda adalah aku, kenapa kakak yang harus repot jadi Mak comblang!" Steve merajuk.
Stevie geram, dia mengepal tangannya, dan wajahnya kontras dengan tingkah bar-barnya. Stevie menarik kerah Hoodie Steve lalu dia bicara tepat di depan wajah adiknya.
"Kamu itu sebagai cowok leletnya minta ampun tahu gak?" keluh Stevie. "Aku sudah sengaja pergi ke Shanghai agar memberikan kalian berdua kebebasan, tapi nyatanya masih belum ada hasil. Wah!" Stevie takjub, namun merendahkan Steve.
Steve kembali menelan ludah pahitnya. Dia tidak bergeming, wanita itu terus mencecarnya.
Stevie makin mencengkram erat kerah bajunya, dia sangat brutal sebagai seorang wanita. "Keluarkan handphone kamu," pinta Stevie sambil menjulurkan tangannya.
"Buat apa?" tanya Steve ingin tahu.
"Keluarkan saja," Stevie memaksa. "Nggak perlu bertanya kenapa dan buat apa!"
Steve terpaksa mengeluarkan handphone dari saku celananya, lalu menyerahkan begitu saja pada Stevie. Wajah Steve menahan kesalnya pada sang kakak yang bertingkah semena-mena menindas-nya.
"Kamu ganti lagi password handphone ini," Stevie kembali berulah. "Terakhir kali kodenya tanggal lahir Mama, kenapa sekarang berubah. Apa yang kamu sembunyikan dari handphone ini sampai-sampai mengubahnya segala."
"Itu.... Sebenarnya, aku hanya bosan pada password yang lama," Steve berdalih. "Lagi pula, apa yang kakak cari di handphone ku sih," Steve makin sewot. "Nggak ada apapun di dalamnya."
"Katakan saja berapa kodenya," dia bertanya bar-bar. "Nggak usah cerewet deh seperti emak-emak depan komplek."
"Dua satu dua satu," jawab Steve cepat. "Jangan mengacau di handphone ku," Steve memohon.
Stevie men-decak, dia melirik Steve dengan lirikan sinis. "Nggak usah memelas iba, aku nggak tertarik sama orang yang cengeng," Stevie berkata apatis.
"Oke," layar handphone Steve terbuka, Stevie menggulirkan layar handphone Steve.
Sedangkan Steve memanjangkan lehernya, mencuri-curi kesempatan melihat apa yang di lakukan Stevie pada handphonenya.
"Nomor Dinda ada?" tanya Stevie lagi.
"Buat apa sih kak," Steve kembali ingin tahu. Sama seperti kakaknya, Steve mencecar.
Stevie berang. "Ish... Kamu ini banyak tanya banget sih, cerewet pula," dia menggerutu.
Steve hanya bisa menggeleng, tingkah Stevie jauh lebih galak dari dirinya. Steve kurang ahli menghadapi kakaknya.
Layar handphone Steve di julur-kan menjauh dari wajah Stevie, wanita itu meniru gaya foto Selfi.
Stevie menarik Steve agar mendekatinya dan bisa masuk dalam layar telepon secara bersamaan. Dari layar telepon Steve, kakaknya melakukan panggilan video dengan Dinda.
Steve menyadari bahwa kakaknya menghubungi Dinda. Dengan cepat Steve mengambil alih handphonenya.
"Kakak mau ngapain menghubungi Dinda," Steve sewot.
"Ya, untuk menyelesaikan misi," jawab Stevie singkat.
"Untuk?"
"Ya, biar kalian bisa pacaran," jelas Stevie yang mulai geram. "Kakak akan menembaknya untuk kamu. Kakak tahu kalau kamu masih phobia pada wanita, jadi kakak mewakilinya untuk kamu," kata Stevie berinsiatif.
"Nggak perlu kak," sentak Steve. "Kami sudah pacaran jauh sebelum kakak kembali," Steve berkata sembarangan.
"Apa? Pacaran?" Stevie tersentak kaget. "Sejak kapan? Kenapa nggak menghubungi kakak kalau kalian sudah pacaran?" Stevie antusias menyambut kabar bahagia dari Steve.
"Ya, pokoknya aku dan Dinda sudah pacaran," ungkap Steve. "Kakak nggak perlu tahu detailnya kapan, yang pastinya, aku sudah pacaran," pungkas Steve lalu meninggalkan kakaknya.
Mendengar Steve berkata seperti itu, Stevie selaku Mak comblang manjadi kegirangan.
"Besok kakak akan ke kantor," teriak Stevie pada adiknya yang sudah di atas tangga.
__ADS_1
"Terserah," Steve menyingkat kata.
BERSAMBUNG