UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 170


__ADS_3

#ENDING SEASON



JERMAN, 5.44 PM.


Setelah pernikahan Stevie berlalu setengah tahun yang lalu. Tidak ada lagi drama aneh itu terjadi. Steve dan keluarga besarnya sudah kembali ke semula. Tidak ada lagi perdebatan dan semacamnya. Yang ada hanya kebahagiaan setiap hari yang menghiasi rumah besar di Shanghai. Apalagi ada si kecil, Michele Wong dan Nyonya Diah terlihat sangat bahagia menikmati hari-hari tua mereka.


Bermain dengan cucu, rasanya membuat Tuan dan Nyonya itu makin bahagia. Si kecil juga senang, dia sangat bahagia di kelilingi orang-orang yang gemas padanya.


Dan kali ini Steve mengajak Dinda liburan ke Eropa. Tepatnya di negara kelulusan kuliahnya, Jerman.


Liburan kali ini menjadi liburan pertama Steve bersama putra dan istrinya. Sama seperti saat dia tiba di negara ini untuk pertama kalinya. Musim dingin turun, mulai menutupi permukaan bumi. Ada sedikit salju yang mengguyur, namun itu tidak cukup membuat tanah di Jerman tertutup oleh kontraksi alam itu.


Mereka menggunakan mantel bulu tebal, agar tidak merasa kedinginan akibat musim yang dinginnya hampir sama seperti musim salju. Tapi sayangnya, si kecil di perlakukan tidak adil oleh ayahnya.


Mantel bulu yang menutup wajahnya, kini membuatnya nampak seperti kelinci. Menggemaskan bagi Steve, tapi tidak bagi sang Ibu balita. Dia miris setiap kali melihat putranya di perlakukan semena-mena. Si kecil selalu di gendong Ayahnya, karena si Ayah tidak mau anaknya menjauh darinya.


Lupakan masalah miris, Steve saat ini membawa keluarga kecilnya makan malam di restoran mewah. Di pelataran jalan kota Berlin, sunset matahari sore amat cantik menghiasi langit kota.


“Ini makan malam romantis kita di Jerman. Bersama buah hati, aku ingin kamu mengenang kisah ini.”


“Aku akan selalu mengenangnya,” kata Dinda membalas.


Senang rasanya bisa liburan lagi. Apalagi si kecil, di manapun dia berada, selalu saja di terlihat bahagia.


Kalian tentu tahu, entah berapa kali Steve di perlakukan tidak enak oleh anaknya ini. Seperti terkena pipisnya, kadang wajah Steve di tendang saat tertidur. Atau, saat Steve ingin menciumnya, si kecil menampar wajah Steve. Bahkan yang lebih parah, ketika Steve dan si kecil berebutan puding lembut Dinda.


Dinda selalu menggeleng lelah, melihat kelakuan sang Ayah yang selalu membuat anaknya menangis karena memperebutkan dirinya.


Lebih-lebih, si kecil selalu menangis saat Bundanya di peluk oleh Steve. Seakan si kecil tak rela kalau Dinda di miliki oleh Steve seorang.


Seberapa kerasnya si kecil pengganggu ini memisahkan dirinya dari Dinda. Tetap saja, sang Ayah balita tidak mau melepaskan putranya. Papa akut.


Dinda dan Steve makan setelah hidangan sampai, sementara si kecil duduk di sisi keduanya. Dia asik meminum susunya. Sejak dia besar, tidak mau lagi anak itu menyusu pada Dinda. Dan itu satu keuntungan bagi Steve. Puding kenyalnya telah kembali. Walau si kecil sangat iri melihat Steve mengambil puding miliknya.


“Setelah kita makan. Kita akan mengunjungi Ceko. Kamu mau?”


“Serius?”


Steve mengangguk. “Kapan aku berbohong.”


“Masalahnya, sekarang sudah malam. Memangnya keburu ke Praha?”


“Kita naik mobil.”


“Iqbal ikut?”


“Masa di tinggal!”


Oh, Dinda lupa. Pria ini tidak bisa jauh dari putranya. Jelas dia akan ikut. Maaf, Dinda sering keliru.


“Oke deh. Kita akan kesana.”


Dan begitulah seterusnya. Steve sangat memanfaatkan waktu senggangnya untuk di habiskan bersama keluarga kecilnya. Liburan ke seluruh dunia. Asik bukan.


Bagi Steve, anak dan istrinya adalah prioritas. Walau dia sibuk kerja namun untuk urusan keluarga kecilnya ini, dia tidak bisa mengabaikannya walau sedetik.

__ADS_1


Dan, paling absurd. Mungkin jaman sekarang, sulit menemui suami yang setiap hari minta di antarkan makan ke kantor oleh istrinya. Hanya Steve yang mau melakukannya. Tidak malu ataupun peduli pada orang lain, Steve tetap melakukannya.


Mungkinkah ada jaman sekarang seorang suami meminta istrinya membawa bekal makan. Jangankan membawa bekal makan, di antarkan makan pun para suami di luaran sana sudah merasa malu. Seolah istri sendiri adalah wanita asing, sementara rumput tetangga lebih memikat.


Namun tidak berlaku pada Steve. Baginya, Dinda berserta apa yang ada di istrinya adalah keindahan. Termasuk makanan yang dia buat. Mana berani Steve menolaknya.


Ide-ide konyolnya ini, nyatanya sukses di ikuti banyak karyawannya. Baik pria atau wanita, saat ini banyak yang membawa bekal ke kantor. Steve tidak melarang, justru dia terbuka. Mereka boleh makan di kantor, asal makan tepat di jam istirahat.


Dinda dan Steve memiliki jadwal keesokan harinya. Mereka ingin mengunjungi Niko yang saat ini sudah kuliah di universitas ternama di Amerika.


Kalian tahu, selesai liburan di Eropa, kini mereka beralih ke Amerika.


Niko tidak pernah berpikiran sedikit pun untuk bisa masuk kuliah di tempat ini. Di negara Adi daya. Namun nyatanya, dia berhasil lulus masuk perguruan tinggi ini jalur prestasi—di ikuti oleh Dendy dan Tania yang juga masuk sepuluh besar peserta dengan nilai tertinggi.


Jadi, ketiganya masuk di universitas yang sama. Universitas Harvard. Universitas yang sering termuat dalam berita, majalah, dan juga novel-novel terkenal. Di mana pemeran prianya adalah lulusan universitas ini.


Harvard. Kalian tidak salah baca. Akhirnya apa yang Dinda inginkan tercapai. Adiknya kuliah di universitas yang sering dia baca di novel.


Eit, jangan lupakan Miko. Saat ini, dia juga sudah lulus SMA. Dan, dia ikut Niko berserta Dendy pindah ke Amerika. Di sana, dia kuliah di Boston university.


Walau dia tidak terlalu pintar, setidaknya dia juga berhasil masuk universitas top. Alasannya masuk ke sini, karena dia tidak mau berpisah dengan sahabatnya Dendy, juga adiknya Niko. Kan jarak kampus keduanya lumayan dekat.


Sang Ibu, tentu dia ikut. Ketika dua anaknya akan bertolak ke Amerika, dengan siapa Ibu Yuri akan tinggal kalau bukan kedua putranya.


Niko dan Miko tinggal di satu atap, namun ketika berangkat kuliah mereka akan berpisah. Saat ini Miko mencoba kerja part time menjadi model pakaian dalam layaknya Victoria secret. Ya, model pakaian dalam.


Sementara Niko, biaya kuliahnya di topang dari kerja paruh waktu. Dia bekerja di kafe dengan gaya restoran di pinggir jalan kota Boston.


Meninggalkan kisah mereka. Kali ini Zico juga begitu. Mereka liburan di Amerika, setelah melakukan honeymoon. Vanya saat ini mengandung anak pertama mereka.


Akhir pekan, Niko bekerja di tempat biasa. Di sana, Dendy, Tania dan Miko duduk santai. Karena kafe ini sebenarnya milik orang Indonesia asal Jakarta, jadi biasanya WNI yang ada di Amerika sering nongkrong di sini.


“Kak dinda.” Kedua anak kembar itu beranjak, memeluk kakaknya yang datang.


Anak kuliahan itu terlihat makin menawan. Apalagi Miko, sudah terlihat aura playboy nya. Dinda yakin, anak itu pasti sering gonta-ganti pacar. Jika lebih dalam lagi menelisik, mungkin sudah puluhan wanita yang tidur bersama remaja berusia delapan belas tahun ini. Atau bisa jadi, Miko diam-diam sudah punya anak dari salah satu wanita yang dia kencani. Hehehe, anak itu misterius.


“Kalian. Kalau kak Dinda nggak datang ke sini. Mana mungkin kalian akan menemui kakak ke Shanghai.” Dinda menggerutu sebal. Kedua adiknya ini semakin dewasa semakin melupakannya.


Kedua anak itu cengengesan. Malu rasanya kalau sudah di omeli oleh kakaknya yang bawel.


“Maaf kak. Niko sibuk.”


“Miko juga,” sahut Miko.


“Sibuk ngobral pakaian dalam!” dari belakang, Dendy ikut berkata.


Sialnya bagi Miko, anak itu membuka aibnya. Tania terkekeh ketika Miko di ledek.


“Kakak tahu kok kalau kamu kerja jadi model pakaian dalam. Kamu terlihat seksi dengan gundukan aneh itu,” kata Dinda dengan gaya bicara meledek. Yang membuat Miko ngeri kalau membahas bentuk tubuhnya yang seksi di hadapan semua orang ini.


“Walau jadi model pakaian dalam. Tetapi wajah kamu tidak terpampang kan!” seru Steve ikut bersua. Bapak yang menggendong anak ini ikut menghardik.


“Tolong kak Steve. Jangan di bahas. Aku tidak mau mengingat pekerjaan absurd ku itu.”


Sumpah, demi apapun. Miko enggan membahasnya.


“Oke. Oke. Kita lupakan masalah pakaian dalam ini.” Steve berhenti, sudah cukup meledek Miko. Anak itu sudah merona.

__ADS_1


Ketika sedang berbincang, telepon dari saku jaket Miko berdering. Yang terlihat adalah Selena. Pastilah gadis itu sudah rindu pada Miko. Terlebih ini adalah akhir pekan—yang mana biasanya mereka akan menghabiskannya sebagai kencan mingguan.


“Maaf. Sepertinya aku harus pergi. Kekasih ku sudah menunggu.”


Oh, hampir lupa. Selena juga terbang ke Amerika. Dia kuliah di Maryland, tidak jauh dari pusat Ibukota—Washington DC.


Miko telah beranjak, namun tadi dia sempat mencium si kecil yang kini perlahan sudah besar.


“Anak itu. Semakin dewasa, dia semakin sombong sekarang,” hardik Dinda.


“Biarkan saja. Namanya juga anak muda. Dia ingin bebas, mencari jati dirinya,” Steve menyinggung.


“Sudahlah. Dari pada kak Dinda dan kak Steve memikirkan bank Miko yang krusial. Mending Kak Dinda dan kak Steve makan dulu. Pasti kalian lapar, apalagi menempuh perjalanan jauh.”


Untung ada Niko yang perhatian. Jika tidak, bisa kesepian Dinda.


Mereka duduk beramai-ramai. Kebetulan, pasutri absurd lainnya, Vanya dan Zico datang ke kafe tempat Steve dan Dinda berada.


Kedatangan mereka di sambut hangat. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu. Dan rasanya pria yang baru menikah itu, nampak berbeda.


“Maaf aku terlambat datang. Tadi istri ku diare di tengah jalan,” kata Zico. Dia menarik kursi, mempersilahkan sang istri duduk.


“Tidak masalah,” balas Steve.


Pada akhirnya, orang-orang ini berkumpul bahagia. Mereka membahas banyak hal. Anak-anak lajang seperti Niko, Dendy dan Tania, hanya menjadi pendengar kisah suami istri itu.


Fucek.


°°°°°°°°°


Saat ini, di Shanghai. Stevie sudah bisa menerima keberadaan suaminya. Stevie ternyata butuh waktu saja untuk memahami Jackson, atau tidak mana mungkin hatinya akan terbuka untuk pria ini. Sungguh, Stevie baru menyadari kalau Jackson adalah pria terbaik yang pernah di milikinya.


Semalam, Stevie sudah ikhlas memberikan kesuciannya untuk Jackson. Kata Jackson sih, tinggal menunggu hasil.


Dan Stevie setiap saat menunggu kedatangannya untuk hamil. Pria itu sudah memberikan tanda di tubuhnya. Yang berarti akan berakhir menjadi seorang bayi dalam perutnya. Sama seperti yang di alami oleh Dinda dulu.


“Jack. Aku ingin di peluk,” kata Stevie mengerat di tubuh suaminya. Dia mengganggu, terutama suaminya yang sedang menonton.


Jackson membalasnya dengan pelukan. “Kamu pasti butuh kehangatan.”


Stevie mengangguk. “Ternyata kamu kalau aku perhatikan, tampan juga.”


“Kamu memuji ku?”


Steve mengangguk lagi. “Menyesal bagi ku tidak memperhatikan kamu sejak awal.”


Jackson menyeringai tertawa, semula berpelukan. Kini berubah menjadi sesuatu yang liar.


“Hei. Apa yang kamu lakukan,” berontak Stevie meminta di turunkan.


Jackson menggendongnya, membawa Stevie menuju ke kamar. “Kita tambah benih lagi di rahim mu. Biar kita cepat dapat seorang anak.”


“Gila. Kemarin malam sudah.”


“Tetapi aku ingin malam ini.”


“Ah. Aku belum siap. Cepat turunkan aku.” Stevie menggeliat, meminta di turunkan. Jackson tidak peduli, baginya malam ini harus terpuaskan.

__ADS_1


“Aku akan membuat kamu mendesah malam ini.”


__ADS_2