
Johan membawa Dinda ke sebuah hotel. Tidak memungkinkan baginya membawa Dinda ke rumahnya, apalagi kalau sang Ayah tahu mengenai hal ini. Bisa-bisa Ayahnya akan menatapnya dengan nanar.
Bisa jadi, pria tua itu akan bertindak di luar dugaan. Johan akan sebal kalau berurusan dengan ayahnya sendiri.
Sebenarnya, Johan bisa saja membawa Dinda pulang ke rumahnya, namun Dinda masih terlihat agak sedikit traumatis dan kelelahan. Membawa ke hotel, Johan berharap dengan keintiman ini dia bisa meyakinkan Dinda agar kembali kedalam pelukannya.
"Kamu tidur saja dulu di sini. Aku yang akan membayar biaya penginapan kamu." Johan membaringkan tubuh Dinda, juga menyelimutinya dengan selimut tebal. Melayani Dinda dengan sepenuh hati. "Untuk saat ini, sebaiknya kamu jangan pulang dulu. Pasti Ibu kamu akan cemas kalau tahu kamu tadi sempat berurusan dengan si penjahat Tony Kim."
Dinda mengangguk, dia mengerti maksud Johan. "Terima kasih kak Johan. Karena sudah membantu ku sampai saat ini, juga sudah merahasiakan kejadian ini dari Ibu."
"Aku tidak mau melakukan kesalahan apapun. Demi kamu, aku berani melakukannya, asal kamu baik-baik saja," ucap Johan yang menunjukkan sisi baiknya pada Dinda.
Dinda memberinya senyum manis. Sementara Johan duduk di sofa, menunggu Dinda yang hampir terlelap.
Sudah aku katakan. Hanya aku yang boleh membuat kamu bahagia. Dan hanya aku saja pria yang boleh bersama kamu.
Naif rasanya kalau pria China tak tahu diri itu berani merebut wanita ku. Dia lupa kalau aku bisa saja menyingkirkannya dengan mudah.
Johan duduk di sofa yang tepat ada di hadapan Dinda. Saat Dinda terpejam karena kelelahan, Johan terus memandanginya tanpa melepaskan pandangan itu.
"Wajah kamu memang membuat siapa saja akan jatuh cinta. Tapi aku janji, tidak ada seorang pria pun yang boleh memiliki kamu selain aku." Johan bergumam pelan.
Ambisi itu kian membuat Johan makin mendekati puncak keberhasilan. "Dulu aku begitu lemah untuk tidak memperjuangkan cinta kita. Tapi saat ini, maafkan aku kalau harus membuat kamu sedikit merasa kalau aku licik. Itu semua karena cinta kita. Karena cinta ini yang membuat aku gila. Aku pastikan kamu tidak bisa menikahi pria manapun selain aku."
Semakin memikirkan Dinda, semakin dalam pula perasaan Johan padanya. Jujur, Johan mengakui kalau tak ada wanita manapun yang mampu memikat hatinya selain Dinda.
Secantik apapun wanita yang mendekatinya, tetap saja. Dinda lah juara di hatinya.
Johan membelai lembutnya rambut Dinda, kadang kala di ciumnya harum rambut hitam terurai itu. terkadang pula tangan nakal Johan menyentuh lembutnya bibir Dinda.
Inilah yang paling aku sukai dari kamu Dinda. Wajah indah dan perhatian kamu. Sesekali aku mau kamu memperhatikan aku, seperti kamu memperhatikan pria itu. Hanya itu yang aku inginkan. Tapi kamu... justru kamu tidak pernah melihat ku seperti itu di mata mu.
Bagi kamu, aku hanya seorang yang datang dari masa lalu. Dan pria itu adalah masa depan kamu. Aku kesal setiap kali kamu harus menginterupsi ku.
Tapi hari ini, aku tidak akan membuat kesalahan seperti yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena masa badai itu sudah berakhir.
Semua yang ada di tubuh Dinda, bagi Johan adalah sebuah keindahan. Meskipun Johan tahu inilah kesempatan besar baginya untuk berbuat sesuka hati. Namun, Johan benci kalau harus melukai gadis kesayangannya.
Sebisa mungkin Johan menahan nafsunya agar tak membuat kekacauan yang berujung pada sebuah penyakitan.
"Aku akui kalau si pria China itu memang memiliki pesona tersendiri. Tapi, kamu harus tahu kalau aku yang pertama menjadi kekasih mu. Kamu harus ingat itu. Apanya yang bisa di andalkan dari si China tak berguna itu. Hanya bisa menyusahkan saja."
Johan berkata di hadapan Dinda, dia tidak takut kalau dinda terbangun. Karena tadi, sebenarnya Johan sudah memberikan Dinda obat bius dan obat penenang. Dimana Dinda akan tertidur pulas untuk beberapa saat, walau Johan tak bisa menjamin seberapa lama obat penenang itu bereaksi.
*****
Miko dan Niko kini berada di tengah jalan yang entah kemana akan mereka tuju. Mencari kakaknya bukanlah sesuatu yang bisa di temukan begitu saja.
Tak ada petunjuk apapun yang kedua anak itu temukan.
"Kemana kita harus mencari mereka kak?" tanya Niko. "Nomor kak Dinda sedari tadi tak bisa di hubungi."
"Kakak juga bingung. Entah kemana kak Dinda pergi. Nomor kak Zico juga saat ini sulit di hubungi."
Niko dan Miko berdiri di pinggir jalan, ada banyak orang yang hilir mudik. Di temani Dendy, keduanya kebingungan mencari dimana kakaknya itu.
"Untuk saat ini, aku mungkin hanya bisa menemani kalian Niko, Miko. Kalau untuk saran, aku juga bingung mau menyarankan seperti apa," kata Dendy yang tak tahu harus berbuat apa.
"Nggak apa-apa Den. Kamu sudah menemani kami sampai sini pun, kami sudah sangat berterima kasih," balas Miko lebih dahulu.
Miko berusaha bersikap tenang walau kakaknya ikut terlibat dalam keadaan ini.
"Kita cari saja dulu kemanapun kakak kamu berada saat ini. Ada baiknya kalau kita mencari petunjuknya. Itu mungkin bisa membantu." Kembali, Dendy dengan ucapannya memberikan saran.
__ADS_1
"Tapi kemana kita mencari kak Dinda, Den. Aku bingung harus seperti apa," keluh Niko.
Miko diam, bukan berarti dia tak memikirkan akal apapun. Namun dia sedang berusaha. Sementara, hari sudah agak sore. Tapi Miko ingat, kalau tadi pemilik toko bunga bilang kalau Dinda pergi bersama Vanya. Dan....
"Niko, kamu tahu dimana rumah kak Vanya?" tanya Miko tiba-tiba.
"Iya," angguk Niko. "Kenapa memangnya?" tanya Niko ingin tahu.
"Sepertinya, kita bisa kesana dulu. Kita cari kak Dinda di sana," ucap Miko terburu-buru ingin segera kesana.
"Kamu yakin kalau kak Dinda ada di sana?" Dendy menyela.
"Aku yakin Den. Kita belum kesana, sebaiknya kita coba dulu. Siapa tahu kak Dinda memang benar-benar ada di sana," tandas Miko.
Tanpa pikir panjang, Miko beranjak ke tempat kediaman Vanya. Harapannya satu, semoga disana kakaknya ada. Hanya itu harapan Miko. Hanya demi kakaknya, Miko rela pergi kesana kemari.
Melihat Miko lebih dahulu, Niko mengernyitkan alisnya, mengisyaratkan pada Dendy kalau mereka harus ikut Miko.
Kak Miko memang tak dapat di prediksi.
****
Tiga buah helikopter yang merapat di rooftop tepat di atas Tony Kim, perlahan menyandarkan badannya di helipad. Ada bendera merah putih di bagian badan ketiga helikopter itu, dan semua orang tahu kalau ada tanda bendera negara, itu pasti kendaraan milik negara.
Benar saja, saat baling-baling helikopter mulai berhenti, beberapa orang keluar dari helikopter. Lengkap dengan senjata Laras panjang dan rompi anti peluru.
"Itu satuan anti *******!" teriak salah seorang anak buah Tony Kim yang menyadari dan mengenali beberapa personel itu.
"Apa kau bilang!" pekik Tony Kim pada anak buahnya yang berkata itu adalah satuan anti ******* tadi. "Siapa yang sudah melaporkan keberadaan kita pada mereka?" sentaknya seraya menarik kerah baju bawahannya itu. "Katakan siapa?"
"A—aku tidak tahu bos. Aku saja tidak tahu cara menelpon dan memainkan gawai. Bagaimana bisa aku menghubungi mereka!" seru anak buahnya yang takut bercampur panik.
"Sial. Siapa yang berani melakukan ini?" ke-berang-an Tony Kim menjadi-jadi. Di tatapnya seluruh anak buahnya, namun tak ada satupun yang mengaku. "Siapa yang sudah melakukan semua ini!"
"Aku yang menghubungi mereka."
"Bukankah tadi sudah aku katakan, kalau kita akan berakhir bersama-sama kalau kau mencoba menyakiti aku dan Papa ku." Pada akhirnya, harapan Vanya terkabul. Akhirnya ada bantuan yang datang, walau belum mati, setidaknya Vanya bisa bernafas sedikit agak lega.
"Sial!"
Tidak pernah di bayangkan oleh Tony Kim sebelumnya, kalau tim anti ******* itu akan datang padanya. Tony kim tahu, mereka adalah musuhnya yang selalu ingin menangkap dirinya.
Aku kira dia tadi hanya menggertak ku saja. Tidak menyangka kalau pada akhirnya dia benar-benar menghubungi petugas sialan ini. Benar-benar berengsek.
Tony Kim adalah penjahat kelas internasional, sulit bagi polisi manapun menangkapnya. Namun, hari ini dia tidak bisa memprediksikan bahwa akan muncul para bandit-bandit negara itu.
"Cuih. Persetan dengan iblis." Walau Tony Kim sudah terdesak, namun tak sekalipun nyalinya menciut.
"Kami dari tim satgas anti terorisme. Menyuarakan agar Tony Kim dan anak buahnya menyerahkan diri. Angkat tangan kalian ke udara, dan letakan semua senjata kalian di lantai!"
Melalui bantuan pengeras suara, terdengar suara perintah itu menginginkan Tony kim menyerah.
Kala ucapan itu mendengung di telinga, para bawahan Tony Kim memandangi wajah teman-teman satu dan yang lainnya.
"Apa yang harus kita lakukan. Mereka memiliki peralatan tempur yang lengkap. Jumlah mereka juga banyak, bagaimana ini?" salah seorang meminta pendapat pada teman yang lainnya. Takut, sudah pasti membelenggu diri anak buah Tony Kim yang payah itu.
Yang lain hanya termangu, memandangi wajah teman mereka yang paling kuat. Berharap akan ada yang melindungi mereka. Dan....
"Kita menyerah saja," sahut salah seorang yang badannya besar. "Kita tidak mungkin mati sia-sia seperti ini."
Mungkin itu adalah keputusan yang terbaik bagi mereka. Menyerah tanpa syarat atau memberontak berakhir pada kematian.
Seketika, saat diskusi itu mencapai puncak, para vandal penakut itu meninggalkan senjata mereka di lantai. Mengangkat kedua tangan masing-masing ke udara, tanda menyerah.
__ADS_1
Jumlah para petugas negara itu banyak, apalagi rompi anti peluru itu tidak mudah di sosor oleh tajamnya anak peluru. Sedangkan para bandit berperut besar itu tak memiliki alat pelindung diri, kecuali mereka mati jika melawan.
"Cih!" Tony Kim mendengus. Saat melirik para anak buahnya itu, terlihat tak ada satupun diantara mereka yang mau berjuang di bawah perintahnya. "Sekumpulan orang-orang bodoh ini. Aku pikir kesetiaan mereka tak bisa di ragukan lagi. Nyatanya, mereka sama saja. Tak berguna."
Terlihat dari jarak beberapa meter, para petugas berompi lengkap melindungi diri ini turun satu persatu dari helikopter masing-masing.
Dari salah satu helikopter, Zico turun dengan tenang. Dia yang membawa para petugas detasemen khusus ini menjemput Tony Kim.
"Cih, bocah cecunguk ini rupanya ingin terlibat juga." Tony Kim memicingkan matanya yang kecil nan sipit itu. Kala melihat Zico, hal yang tak pernah ia bayangkan ternyata terjadi.
Jumlah orang-orang yang menyergap dia dan anak buahnya memang banyak. Belasan. Hanya saja, pantang bagi Tony Kim harus mundur tanpa meminta darah dari salah satu orang-orang itu.
"Hei, Tony Kim. Ini saatnya menyerah. Jangan berpikir kau akan lolos dari kejaran para polisi saat ini. Karena di mana-mana kau sudah terkepung," teriak Zico dengan lantang.
Tony Kim menyungging. "Bahkan malaikat maut pun bisa aku bunuh dengan tangan ku jika aku mau. Dia bocah kecil beraninya mengancam ku!"
Walau Zico sudah menyuarakan perintah agar Tony Kim menyerah, namun dia tidak semudah yang mereka bayangkan. Inilah kenapa Tony Kim sulit di tangkap, karena ide melarikan dirinya begitu banyak.
Tony Kim melirik ke belakang, di mana ada tempat untuknya meloncat. "Jika tidak mati, mungkin hanya patah kaki saja. Sekali seumur hidup ku, penjara adalah neraka yang tak aku sukai." Terlintas dalam pikiran Tony Kim ingin melompat ke bawah dari atas gedung.
Dia tak punya pilihan lain, selain melakukan hal ini. "Sebelum mereka menangkap ku, sebaiknya aku melompat sekarang," ucapnya bertekad. Tony Kim berlari secepat kilat, dia mencoba menjadi seperti seorang parkour, melompat ke bawah.
Namun, belum sampai dia meloncat. Di bawah ternyata sudah di tunggu oleh banyaknya personel anti-teror. Bahkan sudah di pasang jaring pelindung.
"Cih. Ternyata mereka sudah memasang antisipasi. Benar-benar sial!" umpat Tony Kim. Niatnya harus gagal untuk melompat ke bawah. Walau tinggi, dia lebih berharap mati ketimbang harus berakhir di penjara yang dingin.
"Mencoba melompat rupanya!" seru Zico. Inilah Zico, dia suka memancing kemarahan orang lain. "Kau pikir bisa lolos dari kami kali ini. Jangan mimpi kau Tony Kim."
Bocah edan ini seharusnya aku habisi juga saat ada di Jerman. Tapi bodohnya aku, malah kali ini dia menjadi bumerang. Bocah gembleng tak tahu di untung ini membuat aku jengkel.
"Menyerah di hadapan kalian, mimpi saja!" teriak Tony Kim. Walau banyak polisi yang sudah siap membidiknya, namun Tony Kim masih punya satu opsi. Yaitu— Vanya.
"Sial!" Zico lupa kalau di saat-saat seperti ini, menyandera adalah pilihan terakhir bagi Tony Kim. Tidak terpikirkan oleh seorang Zico kalau Vanya akhirnya menjadi tameng Tony Kim saat ini.
"Jangan mendekat. Atau gadis ini akan mati!" seru Tony Kim mengancam. Dia menyandera Vanya, menodongkan senjata ke kepala gadis itu.
Para polisi yang mendekat perlahan itu, berhenti bergerak lantaran tak mau mengambil resiko.
"Aku katakan sekali lagi. Jika ada yang berani mendekat, maka aku pastikan nyawa gadis ini akan melayang!" teriak Tony Kim mengancam untuk kedua kalinya.
Melihat Vanya di jadikan sandera, Tuan Heri diam-diam ingin menyangkal todongan pistol itu dari kepala putrinya. Tapi Tony Kim lebih dahulu mengetahui niatnya, sehingga....
DOR!!
Tony Kim melepaskan sebuah tembakan, dan tepat mengenai paha Tuan Heri.
"Papa!" Vanya bergelik.
"Argh!!" suara erangan Tuan Heri memuncak kala darah membasahi lantai.
"Sudah aku katakan. Kalau kalian berani mendekat. Maka aku pastikan peluru ku akan menyangsang tubuh-tubuh tak bersalah ini," ujar Tony Kim mengingatkan kembali.
Kepala komando anti teror mengangkat tangannya setengah tiang siku. Dia mengisyaratkan kepada semua personel yang tergabung agar tidak bertindak lebih dahulu. "Jangan dulu ada yang mendekat, biarkan dia bertindak menuruti keinginannya."
Kala semua detasemen khusus itu tunduk pada perintahnya, dari helikopter tepat di belakang Zico. Mereka yang ada di hadapan Tony Kim, mendadak membuka jalan untuk sang pria.
Mungkin satu hal yang tak pernah di harapkan oleh Tony Kim, yaitu mimpi buruk. Dan mimpi buruk itu kini hadir membayangi matanya yang membelalak terkejut.
"Kau!"
Tony Kim tak habis pikir, kalau ternyata hari ini penuh kejutan. Ternyata, satu diantara tiga helikopter itu berisi seorang musuh yang hampir dia lenyapkan malam itu.
"Apa kau terkejut," ucap pria yang sebelumnya tak pernah di duga oleh Tony Kim. Dialah STEVE.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa like-nya yah. Semoga nggak bosan menunggu update terbaru novel ini.