
UNINTENTIONAL adalah rencana Tuhan yang paling beda. Namun hasilnya sama, pasti berakhir indah.
_____________________________________________
_____________________________________________
Setelah mendengar berita kematian kak Johan. Jujur, aku merasa bersalah. Semua ini di sebabkan oleh diri ku. Aku adalah penyebab dari semua kekacauan besar ini. Aku adalah wanita yang egois, yang tidak menghargai perasaan kak Johan.
Tapi aku tidak bisa memaksakan cinta ku lagi untuknya. Seberapa kerasnya aku berusaha ketika dia terus mendekati ku. Aku sendiri tidak bisa menyangkal—bahwa hati dan cinta ku sudah milik orang lain.
Aku ingin menyalahkan takdir. Seandainya aku tidak di lahir-kan, atau bertemu dengan kak Johan. Mungkin, semua kejadian besar ini tidak terjadi. Dimana kejadian ini harus membuat orang lain pergi untuk selama-lamanya.
Aku selalu merasa bersalah setiap kali mengingat kejadian itu. Kadang kala aku meratapi nasib ku. Aku menangis di tengah gelapnya malam di ranjang rumah sakit.
Ketika aku melihat pria ku terlelap. Aku dengan perasaan haru yang terus aku tahan, akhirnya bisa aku lepaskan.
Walau tak bersuara, tapi air mata ku terus membanjiri pipi.
Seandainya kak Johan, aku, atau kisah ini tidak lahir. Kemungkinan takdir tidak mengubah kisahnya menjadi amat menyedihkan seperti ini. Namun, siapa sangka. Kehendak Tuhan tak bisa di tebak.
Ketika tiga hari berlalu, aku akhirnya tahu bahwa kak Johan sudah di bawa pulang ke Indonesia. Dia sudah di makamkan di pemakaman keluarga, di komplek pemakaman kota Karawang.
Berita yang lebih mengejutkan lagi, belum sampai jasad kak Johan tiba di Indonesia, Tuan Tama makin terpuruk. Kondisi kesehatannya makin menurun seiring kehilangan putra kesayangannya. Sesaat berlalu mendengar kabar kematian putra semata wayangnya, pria itu mengembuskan nafas terakhirnya juga.
Kematian Tuan Tama diakibatkan komplikasi hebat. Gagal jantung yang seharusnya cepat di tangani, justru membuat pria itu tak bisa lagi melihat jasad terakhir sang putra.
Selang beberapa jam setelah Johan tiba di jakarta, Tuan Tama menyusul putranya itu. Pada akhirnya mereka di makamkan bersama. Dimakamkan di pemakaman keluarga, yang seluruh biayanya di tanggung oleh Steve. Dan dari berita yang aku dengar, Mama Johan saat ini juga terkena stroke. Kondisinya ikut terpuruk, bahkan saat berada di pusara suami dan anaknya itu, dia terlihat menggunakan kursi roda. Penyakit jantung koroner yang selama ini dia sembunyikan, pada akhirnya terkuak seiring perginya dua orang yang paling dia cintai.
Dari berita yang aku dengar juga, Nyonya Diana saat ini tinggal di panti jompo. Tidak ada sanak saudara yang akan merawatnya. Dia terlihat selalu murung, tidak mau makan dan minum. Kecuali, dia ingin di suapi oleh putranya atau di temani sang suami.
Aku tahu, Nyonya Diana pasti stress berat lantaran di tinggal pergi oleh orang-orang yang paling dia sayangi. Aku pernah ada di posisi itu.
Dimana ketika aku hampir kehilangan pria yang paling aku cintai seumur hidup ku. Semua itu sudah aku lalui, sama halnya seperti yang di alami oleh Nyonya Diana.
Sesekali ketika aku menangis, Steve mendapati ku sudah berlinang air mata. Dia tahu kalau aku sedang menyalahkan diri sendiri. Tapi, dia tidak membiarkan itu terjadi. Dia memberikan bahunya untukku. Sehingga aku bisa menangis sepuasnya di pelukan pria ku ini.
Ketika tangisan itu makin tak bisa aku tahan, Steve dengan senyum sumringahnya membiarkan aku menumpahkan segala emosi ku.
Kadang kala dia menghiburku dengan leluconnya. Dan dia juga pernah berkata, "Kalau semua ini kehendak takdir. Kamu tidak perlu menyalahkan diri sendiri seperti ini. Aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti diri kamu."
Aku sadar, kata-kata itu ada benarnya. Siapa yang bisa menyalahi takdir. Siapa yang mau menerima kejadian ini. Semua orang berharap akan baik-baik saja dalam kehidupannya.
Bahkan, Steve meminta ku untuk mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu. Tidak ada kehidupan yang sempurna dalam hidup ini.
Semua pasti pernah mengalami cobaan baik itu berat atau ringan. Semua di uji oleh tuhan. Karena sejatinya kita adalah entitas yang berwujud.
****
"Laut mati tidak jauh dari sini. Mau berenang di sana?" ucap Steve menyela. Mereka tengah berada di Petra, kota wisata di Jordan.
"Tapi aku takut. Kamu tahu kan, kalau aku nggak bisa berenang." Wajah itu terlihat agak tegang, mungkin merinding saat Steve mengajaknya ke tempat itu. Dari namanya saja sudah membuat Dinda ngeri, apalagi pergi kesana. Laut mati. Ah, ide konyol jika harus kesana, pikir Dinda.
"Tenang saja. Aku ada di dekat kamu. Lagi pula, di sana kita nggak akan mungkin tenggelam. Di sana kadar garamnya tinggi, jadi tubuh kita akan mengambang."
"Yakin?"
Steve mengangguk. "Kalau kamu nggak mau berenang bersama ku. Kamu bisa menunggu ku di pinggir laut saja," ujar Steve meminta.
Dinda mengalah. Oke, dia akan mengikuti kemana pria itu pergi.
Mengelilingi beberapa negara di Afrika—membuat Dinda takut-takut senang. Ya, bagaimana tidak.
Di tempat ini, Dinda tahu. Dia pernah membaca berita di situs online mengenai binatang buas yang biasa hilir mudik di permukiman warga. Walau sudah ada taman nasional, namun tetap saja. Dinda terpikirkan, bagaimana kalau hewan-hewan buas itu lepas dari habitatnya. Oh, sungguh, Dinda sudah bergidik ngeri.
"Kamu yakin berenang nggak pakai baju?" Dinda menegur. Mereka sudah ada di pinggir laut mati.
Steve telanjang dada. Sementara ada banyak pengunjung di tempat ini. Mereka berteduh di bawah payung pantai bercorak penuh warna.
Ketika melihat Steve membuka bajunya—siap berenang menceburkan diri ke air. Rasa-rasanya Dinda tidak rela melepaskannya. Prianya itu ceroboh, dia paling mencolok di sana.
Diantara semua turis asing, hanya tubuh Steve yang terlihat seksi menggoda. Suwer, tadi beberapa wanita yang hanya mengenakan pakaian minim menatap haus pria Dinda ini.
Banyaknya pengunjung wanita yang hilir mudik di pinggir laut, Dinda sudah takut. Ya, bisa saja Steve akan kepincut pada penampilan tanpa aurat mereka itu.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku jamin, tidak akan ada yang berani mengambil bagian ini dari kamu," lirih Steve menggoda.
Wajah Steve tersenyum puas, sambil tangannya itu mengisyaratkan perutnya yang keras. Dinda terlalu takut jika perut Steve yang sudah di klaimnya itu di sentuh atau di lirik orang lain.
"Tapi Steve. Aku takut kalau mata kamu bakal jelalatan saat mereka menatap lapar bagian itu," singgung Dinda.
Ah, Steve juga tahu kalau Dinda sangat cemas padanya. Oke, Steve tidak akan mendengarkan keluhan Dinda. Dia tetap pada kemauannya. Berenang hanya menggunakan pakaian minim selutut, sementara perut keras itu sengaja di pajang-nya.
"Jika kamu takut banyak wanita di sana menggoda ku. Maka, kamu harus ikut aku berenang. Biarkan orang-orang tahu kalau aku sudah memiliki calon istriku sendiri," katanya sambil menyentik hidung Dinda. Lirihan menggoda itu, membuat Dinda harus berpikir keras.
"Aku tidak bisa berenang. Bagaimana bisa aku ikut kamu."
"CK," Steve menggeleng. "Tadi sudah aku katakan kalau di laut mati kamu tidak akan tenggelam. Suwer, kamu bisa berendam sambil membaca buku. Kamu akan mengambang di sana, sumpah." Sambil berkata meyakinkan Dinda, pria nakal ini menggodanya melalui kedipan mata.
Dinda menggigit bibir bagian bawahnya. Sumpah, Dinda tidak yakin kalau Steve mampu menahan diri untuk tidak tergoda oleh wanita-wanita tanpa adab itu.
"Kamu takut sekali rupanya kalau tempat favorit kamu diambil orang lain. Apakah benar yang aku duga?" Steve menebaknya. Sambil sepasang mata itu tak bisa lepas dari wajah jengah Dinda.
Dinda memanyunkan bibirnya. "Padahal sudah tahu. Masih saja di tanyakan."
Steve mendengus, kepalanya ikut menggeleng kala kepolosan Dinda tak bisa di bantah. "Kalau begitu, bantu aku mengoleskan Sun block," katanya memerintah.
Badan kekar itu terisi penuh guratan bekas luka. Dinda yang melihatnya, ah, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak khawatir padanya.
"Kamu kenapa harus seperti ini," ucap Dinda di sela-sela mengoleskan Sun block di punggung Steve. "Bekas luka ini. Kamu pasti menderita selama ini menahan semuanya sendiri."
"Kamu tidak perlu memikirkan tentang luka ini," balas Steve. Dia memutar-mutarkan badannya, lalu menatap Dinda. "Bekas luka ini sudah lama ada. Kamu tidak perlu mencemaskan-nya. Sekarang kita baik-baik saja." Gemas rasanya bagi Steve saat Dinda mengkhawatirkannya. Sehingga tangan putihnya itu mencubit bibir Dinda pelan.
Sun block yang tadi di oles di punggung, kini berputar haluan menurun ke bagian paling di sukai Dinda itu. Perut.
Rasanya bagian berbentuk kotak mengeras itu amat kenyal kalau di sentuh. Gel putih yang licin itu juga sesekali menambah semangat Dinda meraba dada bidang Steve.
Ehm. Dinda berimajinasi—kalau dia sedang mengubek-ubek puding. Alasan kenapa Dinda suka bagian perut dan dada kekar Steve, sebenarnya hanya tertuju pada satu hal. Yakni, Dinda selalu teringat pada puding buatan Ibunya. Rasanya seperti itu jika Dinda terus menempelkan tangannya di dada Steve.
"Ehm. Cari kesempatan nih," lirih Steve menggoda. Dia berdeham. Steve yang tengah duduk di depan Dinda—di tatapnya agak sinis.
"Aku nggak se-mesum itu."
"Tapi kamu suka kan kalau bagian itu terus yang di pegang."
"Terpaksa."
"Kamu yang meminta." Dinda mengangkat kedua bahunya. Tidak peduli Steve menudingnya seperti apa. Dinda tidak mau mengakuinya.
"Kalau begitu cium aku," kata Steve mengganti haluan. "Sudah lama kan nggak memberikan bekas di pipi ku."
"Nggak."
"Kenapa?" Steve mengerutkan keningnya. Di lihat wajah itu baik-baik saja. Tapi kenapa menolak. "Kamu mencoba membantah permintaan calon suami mu."
Sumpah, demi apa. Dinda tidak sanggup meladeni Steve yang kian saat makin narsis padanya.
Keheningan Dinda, membuat Steve bertindak cepat. Di tariknya pinggul Dinda hingga menempel di paha Steve. Lalu di duduknya Dinda di paha yang sedang menopang di kursi kayu cokelat ini. "Aku merindukan saat-saat itu. Dimana aku ingin terus di dekat kamu."
Ah, bisikan gombal. Tinggal katakan saja kalau Steve mau jatahnya. Tidak perlu mengisyaratkan Dinda melalui mulut manisnya itu.
Tapi asyik juga bagi Dinda saat mencubit pelan hidung Steve. Batang hidung itu Lancip nan indah. Sungguh, mahakarya tuhan satu ini tidak ada jualnya di manapun.
Tidak tahu bagaimana cara Tuan Wong dan Nyonya Diah membuat bibit unggul seperti ini. Jika ada jualnya di toko reseller, di jamin. Dinda akan memborong semuanya untuk stok di rumah.
"Aku hampir lupa bagaimana caranya mencium kamu." Dinda membalas bisikkan itu pelan. Bulu kuduk Steve rasanya merinding saat Dinda paham bagaimana membuatnya tegang.
Steve mendengus, di ikuti tawa kecil di sudut bibirnya. "Perlu aku ajarkan lagi?"
Dinda menggeleng. Tapi tak ubahnya Dinda mau di ajarkan jika Steve tidak keberatan.
Ketika mereka sedang bincang berbincang, ada seorang wanita berambut keriting menyela mereka. Lumayan cantik, rupanya nampak seperti wanita Eropa kebanyakan. Dengan pakaian sedikit terbuka, menampilkan siluet yang lebih indah dari milik Dinda. "Veo que eres muy guapo. Estoy interesado en ti ¿Puedo tener tu número de móvil con tu foto?" ucap wanita ini sambil menggoda Steve. Dia mengerat di bahu Steve. Tinggi keduanya hampir sama, tapi Dinda benci pada wanita itu. Dia berlagak sok mencantikkan diri.
(Aku lihat kamu sangat tampan. Aku tertarik pada mu. Bisakah aku meminta nomor ponsel mu berserta Poto mu.)
Dih. Orang gila dari mana itu. Datang-datang langsung main peluk calon suami orang sembarangan.
Steve membalasnya dengan gelengan kepala dan kedua bahunya terangkat. Steve membiarkan wanita itu mengambil foto dirinya.
"¿Me das tu número, cariño?" katanya lagi. Usai mengambil foto bersama Steve, wanita itu lalu menyodorkan handphonenya agar Steve menuliskan nomor handphonenya di ponsel wanita ini.
__ADS_1
(Bisakah aku memiliki nomor mu, sayang.)
"Lo siento Ya tengo una esposa," balas Steve memberitahu. Dia menunjuk Dinda, bahwa dia adalah wanitanya.
(Maaf. Aku sudah memiliki istri.)
Kala Steve menunjuk Dinda sebagai istrinya. Wanita berambut pirang keriting ini menatapnya sinis. "Oh Perdón por molestar tu tiempo. Gracias por la foto."
Sesaat setelah dia berkata, wanita itu lalu meninggalkan keduanya yang berteduh di bawah payung pantai. Muka wanita itu berubah masam, Steve ternyata mematahkan hati yang tengah berbunga sesaat itu.
(Oh. Maaf sudah mengganggu waktu kalian. Terima kasih atas satu buah gambarnya.)
"No Hay problema."
Steve menengadahkan tangannya. Melambaikan tangan itu pada wanita yang baru saja menghampiri mereka.
(Tidak masalah.)
"Puas menggoda wanita lain di hadapan ku!" sambar Dinda cepat.
Ketika wajah itu sedang sumringah karena di goda wanita Spanyol tadi. Mendadak kengerian itu muncul seiring tatapan nanar di berikan oleh Dinda.
Steve mengernyitkan dahinya, sudut wajah itu terlihat santai saat Dinda berkata sebal padanya. Sesaat kemudian, dia menyungging tersenyum puas.
"Apakah kamu cemburu padanya?"
Tidak perlu di ragukan lagi. Raut wajah itu sudah mengatakannya.
Dinda membelakangi Steve, melipat tangannya di dada. Oh, Dinda merajuk pada pria ini.
"Aku paling suka saat kamu marah seperti ini. Entah kenapa, aku ingin terus melakukannya."
Steve memang paling tahu bagaimana caranya membuat Dinda merasa bersalah. Walau Steve yang lebih dahulu memulai perkara, tapi rasanya Dinda yang terus bersalah saat dia menempelkan dagunya di pundak Dinda.
"Jangan marah lagi pada ku. Aku tidak akan membiarkan kamu sebal pada ku." Lirih Steve di telinga Dinda.
Ya, ya. Setidaknya itu berhasil membujuk Dinda. "Oke. Aku tidak marah. Aku akan terus mengikuti kamu kemana pun kamu mau," katanya setelah memutar tumitnya. Menatap Steve dalam jarak satu centi. Oh, jujur, rasanya jantung itu makin berdebar.
"Kalau begitu, mari kita berenang bersama. Aku akan membuat kamu menikmati sensasi berenang di laut mati."
Tanpa memberitahu Dinda, Steve langsung menggendongnya. Pria ini bergerak cepat memboyong Dinda. Berlari ke pinggir laut mati, lalu menceburkannya di sana.
Perih, kadang mata itu menangis Lantaran kadar garam masuk matanya. Tapi, Dinda menahannya. Sebab, ternyata benar-benar asik berenang di air yang membuat tubuh mengambang.
"Apa kamu suka sekarang?"
Dinda mengangguk. "Jauh lebih senang."
****
Tubuh Zico yang baru saja pulang dari Ethiopia seorang diri, membuatnya membanting kasar tubuh itu.
Rasanya semua tulang Zico patah sebab lebih dari setengah hari dia duduk di pesawat. Sungguh, Steve sangat kejam padanya. Dia membiarkan Zico pulang seorang diri.
Sementara Steve, dia asik liburan bersama Dinda di seluruh kota besar di Afrika. Menyebalkan sih bagi Zico, tapi dia tidak bisa membantahnya. Atau dia akan menjadi nyamuk di antara Steve dan Dinda.
Nasib, jomblo. Sabar bank Zico, besok ketemu jodoh kok. Kali aja ada salah satu pembaca yang suka sama bank Zico. Kan Mayan. Kalau kata mulut manis para pramuniaga, "Beli satu, gratis setoko." Bisa jadi bank Zico nggak hanya dapat satu pacar di mari. Bisa jadi sepuluh pacar. Ehe.
"Kapan mereka berencana pulang?" tanya Stevie. Dia menyodorkan secangkir teh hangat pada Zico.
"Dua hari lagi mereka pulang. Mereka sekarang lagi liburan di Petra. Besok masih tur ke Mesir."
Zico memang tidak pulang langsung kerumahnya. Tapi dia pulang ke rumah Steve.
"Lalu, bagaimana keadaan Dinda. Apakah dia baik-baik saja?" tanya nenek yang ikut duduk menemani Zico.
Dia baru saja tiba, tapi sudah di cecar dengan pertanyaan mengenai kedua orang itu. Suwer, Zico rasanya ingin mengupil, bertingkah acuh tak acuh saat kedua mulut itu menginterogasinya.
"Dinda baik-baik saja nek. Tidak perlu memikirkannya. Dia saat ini sudah jauh lebih baik dari kemarin."
Memang paling nikmat kalau berbincang di temani teh hangat. Rasanya semua lelah selama menempuh perjalan ini membuat Zico lepas.
"Kebiasaan si Hassan. Kalau sudah bertemu gadis itu bukannya kembali. Malah asik liburan. Anak nakal," gerutu sang nenek.
"Nenek seperti tidak tahu saja seperti apa si Udin tukang kerupuk itu," sahut Stevie. "Dia kalau sudah bertemu surganya. Tidak akan anak itu ingat dunianya."
__ADS_1
Besok bank Steve di sunat. Ehe😁 malu.
****