UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 122


__ADS_3

PENERIMAAN


Setelah sebulan menghilangkan jejaknya dari kasus penembakan pada Steve beberapa waktu yang lalu. Kini, Tony Kim yang sempat pergi ke Taiwan, beberapa Minggu terakhir memilih kembali ke Indonesia.


Sebenarnya dia bukan kabur, hanya...... Mungkin sejenis liburan semata. Di dalam hidup Tony Kim, dia tidak pernah takut pada siapapun. Hidup penuh ambisius dan dendam, Malaikat maut sekalipun bisa dia halau jika mampu. Takut baginya hanya sebuah momok yang hanya akan membuat nyalinya menciut.


"Kami dengar selama sebulan menghilang, dia selamat dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit di Jerman," kata salah seorang anak buah Tony Kim.


Anak buahnya yang sering mengakses informasi, melaporkan bahwa Steve masih selamat. Pria Korea yang memiliki codet di wajah itu masih seperti sebelumnya, tak ada yang berubah. Tetap bengis.


Dia duduk dengan menaikkan kedua kakinya di atas meja, menghisap rokok penuh kenikmatan hingga asap itu mengebul, memenuhi ruangan.


"Aku pikir dia sudah mati. Ternyata dia masih hidup." Tony Kim berkata santai.


"Dia masih selamat. Dan saat ini, dia di kabarkan lumpuh total karena sengatan listrik kala itu. Juga mengalami cacat gagal ginjal yang di sebabkan sepuluh peluru yang bersarang," sahut yang lainnya.


Mendengar laporan anak buahnya, Tony Kim melahai tertawa terbahak-bahak. "Hahaha...... Bocah itu memiliki banyak nyawa rupanya."


Pada awalnya, Tony Kim sangat berharap kalau Steve akan mati akibat tembakan itu. Tapi nyatanya, dia selamat walau harus cacat. Sangat di sayangkan, padahal Tony Kim ingin mendengar kabar kematiannya.


"Tujuan ku datang kemari karena ingin mengunjungi pemakamannya. Tapi sangat di sayangkan kalau dia masih hidup."


Meskipun Steve masih hidup, setidaknya Tony Kim merasa agak lega. Sebab dia berakhir cacat walau tidak mati.


"Seharusnya saat itu, aku tembak saja kepalanya. Sayang, kejadian itu sudah berlalu."


Ketika Tony Kim sedang mengenang penderitaan yang Steve alami saat ini, beberapa anak buahnya yang entah dari mana asal mereka. Masuk ke ruangan Tony Kim, terlihat mereka agak tergesa-gesa.


"Pria itu datang ke sini bos. Katanya ingin menagih janji," ucap anak buahnya terburu-buru.


Tony Kim tahu, yang di maksud anak buahnya adalah rekan sesama kejahatannya. Pria yang sudah membantunya melancarkan ambisinya ini. "Dia sejak awal sangat tergesa-gesa. Seakan bekerjasama dengan Tuan K adalah hal yang tak bisa di percaya," Tony Kim sedikit mengomel.


Tapi kakinya melangkah keluar, menjemput rekan bisnisnya itu.


"Di sana dia bos," ucap anak buah menunjuk ke ruangan di mana pria itu menunggu.


Saat Tony Kim masuk, pria yang di maksud menunggunya, terlihat berdiri. Seolah dia tidak punya banyak waktu. "Aku harap kesepakatan kita tidak kau lupakan begitu saja. Aku benci harus datang terus ke tempat gembel ini," ucapnya tanpa basa-basi pada Tony Kim.


"Ckckck. Anda masih tetap tidak mempercayai Tony Kim rupanya." Walau rekan bisnisnya itu tidak sabaran, namun Tony Kim tetap menyantai-kan diri. Memang hidupnya seperti ini. Selamanya tidak akan berubah, Tony Kim yang tenang dalam segala hal.


"Aku harap anda tidak lagi membuang-buang waktu ku. Sudah cukup aku menunggu. Dan sudah sebulan ini, kalian belum juga bertindak. Ingat, jika bukan karena aku, bisnis haram kalian pasti akan terciduk. Jadi aku harap secepatnya kalian bertindak!" seru pria itu. Mungkin bosan baginya karena Tony Kim terus membual janji.


Sebenarnya, pria ini sudah tidak sabar lagi ingin masalahnya dan Tony Kim cepat selesai. Dia sudah pusing harus berurusan dengan pria ini.


"Santai dulu, Tuan. Mari kita minum dulu, anggap saja hari ini kita baru saja mencapai kesepakatan."


Walau kesan pria itu terburu-buru ingin menyelesaikan misinya, Tony Kim punya cara tersendiri menyelesaikannya. Itulah kenapa Tony Kim suka sesuatu yang santai.


"Santai kepala mu!" sentak pria itu berang. "Kamu pikir waktu ku datang kesini hanya untuk bersantai-santai. Menemani kalian menikmati hidup tanpa tujuan."


Saat pria ini marah, beberapa anak buah Tony Kim ingin bertindak menghabisi nyawanya. Tapi, Tony Kim menahan melalui isyarat tangannya. "Baiklah. Karena aku pria yang sangat menepati janji ku. Maka aku akan bertindak dalam waktu dekat."


"Sesuai perjanjian, uang kalian akan aku bawa saat kalian berhasil membawakannya untuk ku," sahut pria ini menimpalinya dengan cepat.


Tony Kim menaikkan alisnya, pria itu paham saja apa yang yang dia inginkan.


"Kalian dengar," ucap Tony Kim pada anak buahnya yang berdiri di belakangnya. "Tuan ini meminta kita bertindak secepatnya. Jadi, dalam dua hari kalian harus melakukan apa yang harus kalian lakukan. Kalian mengerti!"


Anak buah Tony Kim mengangguk, jauh sebelum dia membual, mereka sudah paham.


"Baiklah. Pertemuan kita sampai sini. Kita akan bertemu lagi setelah kalian berhasil membawanya untuk ku," ujar pria ini. Lalu setelah itu, dia meninggalkan markas Tony Kim.


Ada begitu banyak penjahat di dunia ini. Tapi hanya ada Tony Kim yang bisa membuat kekacauan di tiga negara. Pria yang memiliki klub misterius di Asia ini, setidaknya menjadi seorang yang bertangan besi saat ini.

__ADS_1


Bekerja sama dalam hal culik menculik, jual menjual manusia adalah bagian dari bisnis Tony Kim yang dia dapati dari sang ayah. Tak heran, banyak orang-orang yang meminta bekerja sama dengannya. Sebab selain bisa beralibi atas kasus penculikan, nama kliennya juga terjamin tidak bocor. Hal ini yang membuat kenapa Tony Kim bisa di percaya dalam hal menculik.


Transaksi yang menguntungkan!!


****


Bagi dokter muda Anita, mungkin mimpi buruk yang pernah dia alami adalah saat memiliki mertua yang kejam.


Kejam dalam arti bukan pada tindakannya, tapi pada ucapannya yang menyakitkan. Walau sudah menjadi bagian dari kelurga Heri, juga sebagai menantu. Namun tetap status dan keberadaannya tidak di akui apalagi di sebut oleh keluarga ini.


Seakan kehadirannya dalam kehidupan putra Tuan Heri, Arka adalah sebuah ancaman kemelorotan status sosial. Meski status sosial mereka sudah tidak ada lagi, tetap saja bagi dokter muda Anita, mertuanya amat menakutkan.


Setiap ucapan dan penghinaan yang di lontarkan dari mulut Nyonya Dwi benar-benar sangat tajam bak pisau. Itulah kenapa dr. Anita sedikit segan pada wanita itu.


Saat tiba di kantor polisi, dr. Anita di minta oleh Vanya menunggu di luar sebentar. Vanya perlu waktu untuk membujuk sang Ibu.


Saat Vanya datang menjenguk, Nyonya Dwi amat kegirangan. Kali ini, sang putra yang amat dia rindukan, Arka, juga datang menjenguknya.


"Arka!!" teriak Nyonya Dwi dari lorong sel. Dia mempercepat langkahnya, mendatangi sang putra, lalu memeluknya dengan haru. "Ini benar-benar Arka putra Mama kan?" katanya memastikan. Sambil menangis, wanita itu memeriksa seluruh bagian tubuh sang anak, takut saja ada yang berubah. "Mama nggak salah lihat kan?"


"Nggak kok Ma. Ini beneran Arka Ma," balas sang putra yang juga tak bisa menahan tangisnya. Dipeluknya sang Ibu se-erat mungkin. Dia ingin melepaskan kerinduannya ada sang Ibu.


Meskipun Arka sempat kecewa pada sang Ibu, lantaran mengeluarkan ucapan pedas kala di hari pernikahannya. Di mana saat itu, Ibunya secara terang-terangan menolak kehadiran sang istri apalagi mengakui pernikahan ini. Tetap saja bagi Arka, dia tak mampu membenci sosok sang Ibu yang terkenal judes.


Jujur, sakit hati Arka tak bisa di tawar lagi kala dia di coreng dari daftar anak oleh kedua orang tuanya. Namun, rasa sakit hati itu berubah, kala sang istri yang terus menerus berlapang dada menasehatinya. Walau bagaimana pun, mereka kedua orang tuanya.


Berkat sang Anita pula, Arka akhirnya mau datang ke Jakarta menemui orang tuanya. Jika tidak, sekalipun mereka bangkrut, Arka tidak ingin bertemu mereka lagi. Enggan bagi Arka mengingat kedua orang tuanya itu.


"Mama bagaimana kabarnya? Mama sehat-sehat saja kan?" tanya Arka agak perhatian.


"Hiks.... Mama baik-baik saja Nak. Mama senang, akhirnya kamu mau menemui Mama," ungkapnya kegirangan di tengah air mata yang mengalir.


"Arka juga Ma. Arka senang akhirnya bisa bertemu Mama lagi. Dan Mama masih menerima Arka memeluk Mama."


Jelas, orang tua mana yang tidak geram kalau anak yang sudah di besarkan dengan mati-matian, kini ketika dewasa berubah menjadi pembangkang. Apalagi menikah dengan wanita yang bukan pilihan mereka.


Namanya juga orang tua, walau mereka marah bahkan menyumpahi hingga ke dasar neraka. Batin mereka merasa bersalah kalau harus berkata menyakitkan seperti itu. Pepatah mengatakan, lain di bibir lain di hati, memang pas menggambarkan keadaan seorang Ibu yang tengah kecewa.


Nyonya Dwi, dalam kemarahannya saat itu di sebabkan karena hampir gila ulah Arka. Tapi, itu kejadian beberapa tahun yang lalu. Kini, Nyonya Dwi sadar, tak ada yang bisa membuatnya bahagia kelak di masa tua, selain sang putra. Lagi pula, pernikahan putranya dengan wanita itu sudah berlalu, tak ada lagi yang perlu di bahas. Dan,...... Mungkin saja, Nyonya Dwi sudah melupakan kejadian itu.


"Terima kasih Ma. Terima kasih sudah mau menerima Arka lagi." Arka menundukkan kepalanya di depan sang Ibu, dia masih bersikap sopan.


"Justru Mama yang harus berterima kasih kepada kamu, Nak," kata Nyonya Dwi. "Mama pikir, kamu akan melupakan Mama. Apalagi saat itu Mama tidak mau mengakui kamu lagi. Jujur, Mama menyesal mengucapkannya."


"Mama nggak salah," Arka menghentikan. Saat Ibunya berkata seperti itu, justru Arka makin merasa terbebani. "Arka yang salah. Arka yang nggak patuh sama Mama dan Papa."


Nyonya Dwi menatap putranya lagi, ini benar-benar bagai mimpi saat bertemu dengan sang putra.


"Mama duduk dulu, Ma. Mama pasti berat dan bosan selama tinggal di sini." Arka memapah sang Ibu, agar duduk dahulu.


Sesaat setelah duduk, Vanya memulai aksinya.


"Mama," Vanya menyela. Dia menunjukkan seorang bocah menggemaskan di gendongannya.


"Dia siapa?" tanya Nyonya Dwi. Saat melihat bocah itu, Nyonya Dwi tersenyum agak senang. Tapi dia juga bingung, siapa anak yang tampan nan menggemaskan yang ada dalam gendongan sang putrinya itu.


"Dia Nero Ma. Putra Arka," jawab Arka memberitahu.


"Ini........ Ini.... Ini, putra kamu?"


Perasaan Nyonya Dwi bercampur aduk saat Arka memberitahu putranya itu. Putra yang menggemaskan, juga tampan ini, membuat Nyonya Dwi agak canggung.


"Iya Ma, ini Nero. Anak kak Arka dan Mbak Anita," sahut Vanya membenarkan.

__ADS_1


"Jadi, Mama sudah punya cucu?" katanya yang tak bisa mengungkapkan kebahagiaan lantaran dapat kejutan.


"Iya Ma. Kebetulan, baru Vanya saja yang tahu kalau kami sudah punya anak," ujar Arka kembali menjelaskan.


Melihat bocah kecil yang menggemaskan itu, seketika mengubah mood Nyonya Dwi. Dia sangat senang melihat Nero, sungguh imut.


"Boleh Mama menggendongnya?" pinta Nyonya Dwi.


Vanya menatap Arka, dan kakaknya itu mengangguk. Sesaat kemudian, Vanya menyerahkan bocah yang tenang itu kepada Nyonya Dwi.


"Ya ampun. Arka, lihat. Hidungnya, bibirnya, matanya. Mirip kamu. Ya ampun, cucu nenek. Kamu menggemaskan sekali."


Nyonya Dwi menimang cucunya itu, dengan perasaan yang tenang. Kadang dia mengelus lembut batang hidung sang cucu yang mancung. Kadang juga mencubit lembut bibirnya yang merah, terkadang pula, Nyonya Dwi menciumnya tanpa henti.


"Nero, kamu wangi sekali sayang. Cucu nenek sudah mandi belum," ucapnya yang terus berbahagia bermain dengan Nero.


Saat Nyonya Dwi asyik menggendong cucunya, Vanya menggangu sebentar. "Ada yang ingin bertemu dengan Mama," ujar Vanya.


"Siapa?"


Vanya melirik ke luar ruang besuk, sedetik kemudian, dari balik dinding itu, keluar Anita yang agak ragu-ragu.


"Mbak Anita mau bertemu dengan Mama."


Melihat kedatangan Anita, dengan segera Nyonya Dwi memberikan Nero pada Arka. "Mama nggak bisa bertemu dengan dia."


"Mama... Mama... Mama," Vanya mengehentikan sang Ibu yang hendak meninggalkan ruangan besuk. "Mbak Anita dan kak Arka sudah jauh-jauh dari Surabaya, datang kesini hanya untuk menjenguk Mama. Mama masa tega membiarkan Mbak Anita terus merasa bersalah karena mengambil kak Arka dari keluarga kita?"


"Tapi Mama bukan Ibu yang baik. Mama malu pada mereka yang sudah pernah Mama hina kala itu," ucap Nyonya Dwi mengenang. Oh, kejadian saat dia menghina menantunya itu, sungguh terus kembali ke dalam ingatannya saat ini. Seiring mendekatnya Anita. Seakan ingatan lama itu menyadarkannya, bahwa Nyonya Dwi adalah sosok wanita yang buruk.


"Ma," Arka berkata. "Arka tahu kalau Mama nggak bisa menerima keberadaan Anita. Tapi dia istri Arka Ma. Dia Ibu dari cucu Mama, Nero. Walau Mama nggak bisa menerima keberadaan Anita secara terbuka, tapi Arka mohon. Mama terima istri Arka perlahan. Mama nggak perlu memaksakan diri untuk sepenuhnya menerima keberadaan istri Arka."


"Mama nggak pantas menjadi seorang nenek, juga Ibu mertua yang baik. Mama nggak bisa melakukannya." Dengan cepat Nyonya Dwi menjawab ucapan putranya itu. Nyonya Dwi tidak sanggup melihat wajah Dr. Anita.


"Tapi Mama belum mencoba, Ma!"


"Apa yang perlu Mama coba, Ka," balas sang Ibu. "Mama terlalu jahat. Mama nggak pantas menjadi mertua yang baik."


"Mama coba dulu perlahan. Jangan cepat mengatakan kalau Mama wanita yang buruk. Mama nggak seperti itu di mata Arka dan Anita."


Kata-kata Arka, ada benarnya. Selama ini Nyonya Dwi tidak pernah menganggap keberadaan wanita itu. Saat melirik Vanya, putrinya tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.


Dan, Anita yang ada di belakang Vanya. Agak canggung saat Nyonya Dwi masih bersikap benci padanya.


"Mama harus coba dulu membuka hati Mama perlahan-lahan. Kalau Mama nggak mencoba, maka Mama akan terus seperti ini. Nggak ada berubahnya," Kata Vanya berkeinginan hal yang sama seperti Arka.


"Mama malu, Van," jawab Nyonya Dwi. "Apalagi kalau mengingat kejadian itu. Mama malu melihat wajah Anita."


"Mama nggak perlu malu," sahut Anita. "Aku nggak pernah dendam atas ucapan Mama. Justru aku harap suatu saat Mama akan menerima keberadaan ku. Itu saja Ma, nggak lebih."


Nyonya Dwi, sempat menggigit bibirnya. Setelah Anita berkata dengan kerendahan hati, tiba-tiba saja air matanya menetes. Tak lama kemudian..... "Maafkan Mama yang selama ini menghina Kamu. Maafkan Mama sebagai mertua yang kejam ini," katanya menangis sesenggukan seraya bersimpuh di kaki Anita.


Anita dengan cepat mengangkat berdiri tubuh mertuanya itu, dia tidak bisa melihat sang Ibu menangis bersimpuh di hadapannya. "Aku tahu Mama kecewa pada Arka karena menikah dengan ku. Aku mengakui kalau pernikahan kami adalah sebuah kesalahan. Tapi, aku benar-benar merasa bersalah kalau Mama tidak pernah membuka pintu restu untuk ku."


Anita memeluk mertuanya itu. Ini kali pertamanya dia memeluk wanita yang pernah mengecamnya itu, apalagi pelukan ini di ikuti sebuah tangisan haru.


"Terima kasih kalau kamu nggak dendam apalagi benci sama Mama. Mama benar-benar malu melihat kalian saat ini."


"Nggak, Mama nggak perlu seperti itu. Apa yang Mama lakukan ini benar. Mama hanya inginkan yang terbaik untuk putra Mama. Mama sudah benar sebagai seorang Ibu," tandas Anita.


Saat Anita memeluknya sambil menangis, Nero yang ada di pelukan Arka juga ikut menangis. Kemungkinan karena melihat sang Ibu menitikkan air mata, jadi bocah kecil itu merasakan ikatan batin.


Karena Nero menangis, entah kenapa tangisan itu justru berubah menjadi sebuah gelak tawa dari Nyonya Dwi. Mungkin anak itu sangat menggemaskan, jadi Nyonya Dwi tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2