
Lamanya penerbangan Jakarta-Shanghai menghabiskan waktu hingga lima jam atau empat jam lebih tiga puluh menit.
Saat itu waktu menunjukan pukul sebelas malam. Hujan melanda kota Shanghai, sangat deras bahkan pesawat yang di tumpangi oleh Dinda dan Steve hampir tergelincir di bandara.
Namun hanya insiden kecil, mereka tak mengalami apapun karena pilot mahir dalam mengatasi critical eleven.
"Sepertinya telepon sopir rumah sedang mati, mereka sulit di hubungi," di ruang tunggu bandara Steve sibuk dengan handphonenya.
"Mungkin karena hujan petir yang deras, jadi sinyal handphone terganggu," Dinda mencoba memberi tahu Steve mengenai keadaan, bisa saja begitu, dan itu yang dinda pikirkan.
"Biasanya telepon rumah selalu dalam keadaan siap, tapi sekarang sepertinya tidak tersambung," Steve menyeringai. "Apa mungkin listrik di rumah padam?" Steve hanya bisa menebak.
"Mungkin salah satu faktornya begitu," balas Dinda.
Saat Steve menempelkan handphonenya di telinga, kilat terang menggelegar. Dinda melihatnya jelas, sebab bandara di Shanghai menggunakan kaca sebagai dindingnya.
Seketika Dinda langsung memeluk Steve karena dia takut pada petir.
Dinda mengerat di tubuh Steve, bahkan menyembunyikan wajahnya di parlente tebal Steve.
Mereka berdua sekarang ada di ruang tunggu penumpang.
Jas panjang Steve berwarna hitam ini sangat tebal, selain menggunakan syal di lehernya, Steve menambahkan wind stopper sebagai perlengkapan musim dinginnya.
Steve tersenyum saat Dinda berinisiatif bersembunyi di jas panjangnya. Tanpa pikir dua kali, Steve membalas Dinda dengan pelukan hangat dan menyembunyikan Dinda di balik wind stopper-nya.
"Kamu takut," bisik Steve.
Dinda mengangguk. Dia sangat takut jika menghadapi situasi macam ini.
Steve menenangkan Dinda, dia membelai rambutnya, dan menghibur Dinda agar tidak panik menghadapi petir yang menyambar.
"Jangan takut, ada aku disini," ucap Steve berkata lembut. "Aku akan membuat kamu tidak melihat petir itu, jadi jangan takut lagi sama petir."
Dinda merasa nyaman di dekapan Steve. Dinda juga merasa hangat bahkan Dinda juga merasakan degup jantung Steve yang berdetak.
Suara kilat yang menyambar memang menakutkan, karena ada Steve di sisi Dinda, gadis itu merasa sedikit tenang.
Hujan terus mengguyur kota, udara juga mulai dingin. Shanghai hampir mulai memasuki periode musim salju. Di akhir Desember memasuki Januari adalah puncak musim salju, dan ini kali pertama bagi Steve merasakan salju pertamanya di Tiongkok.
Setelah sekian lama tidak datang ke kota ini, Steve akhirnya bisa merasakan dinginnya udara Shanghai. Udara dingin salju yang akan turun di sertai hujan dan angin kencang.
Steve mengenakan pakaian musim dingin yang lengkap. Tapi Dinda tidak, dia hanya mengenakan wind stopper jenis dari bahan sutra, bukan dari wol.
Jelas Dinda akan merasa kedinginan. Steve melepaskan syalnya, lalu mengalungkannya di leher Dinda.
"Kamu ceroboh," ucap Steve mengatakan Dinda. "Lain kali, kalau ke Shanghai di awal tahun seperti ini harus pakai baju tebal, biar nggak kedinginan seperti ini."
"Iya, terima kasih sudah memberitahu ku," balas Dinda menurut. "Lain kali aku akan mengecek cuaca negara yang akan aku kunjungi."
"Ya sudah," Steve tidak mengomeli Dinda lagi. "Karena taksi di bandara pudong tidak beroperasi di cuaca seburuk ini, sebaiknya kita mencari hotel terdekat saja, kita akan bermalam di sekitar hotel dekat bandara."
"Aku ikut saja deh. Aku tidak mengerti tentang Shanghai, jadi kamu harus menjadi pemandu ku," Dinda hanya bisa mengikuti Steve. Dinda tidak punya ide apapun, selain senada dengan gagasan Steve. "Tapi kamu janji ya, jangan meninggalkan aku di Shanghai sendirian," pinta Dinda mengiba.
"Iya, aku janji nggak akan membiarkan kamu menjauh dari ku walau sedetik sekali pun, atau kak Stevie akan menghukum ku," jawab Steve yang entah kenapa malah teringat pada wanita itu.
"Kamu pasti sangat takut pada kak Stevie selama ini," Dinda memancing Steve agar mengatakan kejujuran. "Hayo, kamu pasti selama ini terintimidasi oleh kak Stevie."
"Siapa yang takut," dalih Steve. "Aku hanya mengalah saja. Aku tidak pernah berpikir untuk takut pada wanita jelek seperti dia."
"Yakin?"
"Tentu saja," jawab Steve. "Kenapa harus takut sama perempuan, bukan tipe ku."
"Kalau gitu aku hubungin kak Stevie ya," Dinda berinisiatif.
"Buat apa?" Steve ingin tahu.
"Cuma mau bilang kalau Steve atau Udin nggak takut sama Kak Stevie!" Dinda memelet mengeluarkan lidahnya.
Steve mengambil cepat handphone Dinda, dia tidak mengizinkan Dinda menghubungi kakaknya. "Dia jam segini pasti lagi tidur. Kalau kamu menghubunginya sekarang dia akan marah, dia galak. Kamu harus tahu dia, ini sisi lain Stevie yang kamu kenal," ucap Steve menggosip kakaknya.
Dinda terkekeh. "Ya sudah, ayo kita ke hotel sekarang, aku ngantuk."
Steve mengangguk. "Lekas tiba!"
Steve memutuskan untuk menginap di hotel sekitaran bandara pudong malam ini. Dari folding gate entrance bandara pudong Steve menggenggam tangan Dinda hingga di lobby bandara.
Hujan lumayan tidak lagi deras, di depan keluar masuk bandara, terdapat jasa penyedia payung. Steve mengambilnya, kebetulan memang hanya ada satu buah payung berwarna hitam.
Mau tak mau Steve berbagi payung dengan Dinda.
"Apa nggak basah kita satu payung?" tegur Dinda.
Steve melihat payung hitam yang telah buka lebar. Dia menatap langit-langit payung. "Sepertinya cukup untuk berdua," Steve memastikan prediksinya.
"Terlalu kecil, nanti kita kebasahan."
__ADS_1
"Nggak, aku jamin itu," bantah Steve.
Tangan kanan Steve memegang payung sementara tangan kirinya menarik Dinda agar berada dalam satu payung bersamanya. "Jangan menolak, atau petir akan meruntuhkan awan-awan, siapa yang akan menjadi pelindung kamu dalam keadaan seperti ini."
"Ya sudah, aku hanya bisa pasrah!" Dinda mengalah untuk ke sekian kalinya. "Kamu menang."
Mereka ingin keluar dari bandara. Hingar bingar bisingnya kota membuat Dinda merasa seperti ada di Jakarta.
Steve memboyong Dinda berjalan melalui bahu jalan. Hujan turun agak mereda hanya menyisakan rintikan.
Kendaraan dan alat transportasi umum penyedia angkutan jasa lainnya sudah tidak menampakan diri.
Keadaan kota memang ramai, hanya saja tidak ada satupun kendaraan yang bisa di tumpangi.
Kota sebesar Shanghai memang beda dari kota di Tiongkok lainnya.
Sekonyong-konyong mereka berjalan menerobos rintikan hujan, Dinda yang memegang bahu Steve harus merasa malu.
Suara perutnya yang keroncongan bergurau mengeras. Steve kaget, dia menghentikan sejenak langkahnya. Dia memegang perutnya seakan itu adalah suara ususnya yang meminta jatah.
"Sepertinya bukan aku," Steve memastikan bahwa bukan ususnya yang bergetar.
Steve melirik Dinda. "Apa itu kamu?" tanyanya memastikan benar suara itu.
Dinda menghela nafas panjang, dari mulutnya mengeluarkan uap udara. "Dari tadi siang aku belum makan," Dinda mengakui kebenaran bahwa dia belum sempat makan. "Aku tidak tahu kalau perut ku tidak berkompromi seperti ini dalam keadaan tidak tepat."
"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu belum makan?" Steve mencemaskan-nya.
"Mana aku tahu kalau dia akan berbunyi di saat seperti ini!" Dinda menyewot mengulangi ucapannya tadi.
Steve men-decak. "Itu restoran, kita makan di sana saja," tunjuk Steve. Matanya cukup cepat menemukan tempat pengisi tenaga.
Steve ingin membawa Dinda masuk kedalam sebuah rumah makan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Wah. Sepertinya itu restoran mewah," gumam Dinda.
"Itu restoran terbaik di sekitar bandara pudong," Steve memberi tahu.
"Wou, keren," ucap Dinda memuji. "Pukul sebelas begini mereka masih buka dan juga masih banyak pengunjung. Apa ini sungguh-sungguh rumah makan. Kok rasanya seperti di film-film, restoran berhantu."
"Ini bukan restoran hantu, tapi inilah kelebihan tempat ini," Steve menginformasikan. "Mereka buka dua puluh empat jam."
Oooo, Dinda tidak bicara lagi. Dia paham.
Dari luar restoran sudah nampak jelas bahwa tempat ini cukup terkenal, terlihat dari banyaknya pengunjung asing yang datang.
Terlihat uap-uap masakan keluar dari bangunan yang berdiri di atas tanah yang tinggi.
Steve kembali membawa kopernya, tapi dia bingung. Bagaimana cara menggandeng Dinda jika tangannya hanya ada dua.
Di tangan kanannya ada payung, sementara di tangan kirinya ada koper. Steve bingung yang mana harus dia dahulukan.
"Kalau kesusahan, nggak perlu menggenggam tangan ku kok," Dinda memahami situasi. "Utamakan dulu diri masing-masing, alih-alih ber--romantis," tukas Dinda.
Ucapan dinda ada benarnya, tangan saja ada dua, kenapa harus sibuk menggenggam tangan Dinda kalau tangan sendiri masih kerepotan.
Memang pemikiran yang pintar, gumam Steve.
"Ya sudah," ucap Steve. "Kita ke restoran atas, sekalian berteduh sebentar."
Dinda mengangguk, mereka meniti puluhan anak tangga. Restoran yang di maksud Steve menanjak, seperti di atas tebing.
"Kamu mau makan apa?" tanya Steve. Mereka berdua sudah duduk di meja restoran. Steve memilih tempat duduk di dekat dinding kaca, dia ingin menikmati makan malam khas pinggir jalan.
Namun nyatanya, bahkan restoran kelas atas di dekat bandara Pudong ini sendiri lumayan jauh dari bahu jalan yang berjarak beberapa meter.
Dinda membolak-balik buku menu makanan, setelah sekian lama melirik gambar makanan di buku menu, Dinda pada akhir menutupnya lalu meletakkan buku menu itu di atas meja.
"Aku makan nasi goreng saja deh," Dinda menjawab Steve tadi.
Steve terkekeh. "Di Shanghai mana ada nasi goreng," ledek Steve. "Mereka kurang tertarik membuat menu masakan khas Indonesia maupun Melayu."
"Hanya itu yang aku pesan," Dinda merengut.
"Kenapa harus nasi goreng, ini di Shanghai, bukan Jakarta atau di Tebet. Kita nggak akan menemukan makanan khas Indonesia di sini," Steve memberi tahu.
Dinda melirik orang-orang yang sedang makan di sekitarnya, lalu Dinda berkata pelan pada Steve. "Sebenarnya aku ingin menangis," ungkap Dinda.
"Menangis? kenapa?" Steve perlu tahu alasannya.
"Aku tidak mengerti tulisan di buku menu ini," tunjuk Dinda. Jelas saja Dinda tidak bisa membacanya, sebab dalam buku menu tersebut di tulis dengan aksara Mandarin tidak di sertai gambar. Paket komplit untuk Dinda yang tidak mengerti bahasa asing. "Apa kamu mengerti apa yang di tulis dalam buku menu ini," Dinda menunjuk Steve.
Steve mendeham, dia menelan liurnya dan pura-pura merapikan jas tebalnya seakan berantakan. "Sebenarnya..." Steve menegakan badannya. "Aku juga tidak bisa membaca aksara Mandarin," ucap Steve. "Jangan beritahu orang lain masalah ini."
Dinda terkekeh hampir tertawa terbahak-bahak. "Aku pikir kamu akan mengerti bahasa Mandarin, ternyata....."
"Biarpun aku campuran, tapi aku tidak bisa bahasa Mandarin. Aku mengakuinya," kata Steve menyatakan kejujuran.
__ADS_1
"Ya, ya, sudah. Jangan di bahas lagi," Dinda menahan tawanya. "Intinya kita sama-sama bodoh dalam bahasa Mandarin," ujar Dinda tak malu mengakuinya. "Lalu, bagaimana kita akan memesan makanan, kalau di antara kita tidak ada yang bisa berbicara dalam bahasa Mandarin," inilah yang membuat Dinda bingung.
Steve menggaruk kepalanya, dia juga merasa bingung. "Iya juga ya," Steve melirik sana sini mencari ide.
Lalu mendadak Steve menjentikkan jarinya. Sepertinya Steve mendapatkan ide yang fantastis.
"Kamu dapat ide?" tanya Dinda. "Ayo, beritahu aku."
Steve mengangguk. "Tenang saja, aku yang akan mengatasi masalah di sini," katanya meyakinkan Dinda.
"Oke, aku mendukung kamu sepenuhnya," tukas Dinda bicara penuh harapan pada Steve.
Steve mengangkat tangannya, memanggil pelayan, memintanya datang ke meja makan mereka.
"Sorry, wir sind touristen aus Deutschland. Wir verstehen Mandarin nicht. Konnen sie uns helfen, die menus hier zu erklaren," Steve mengajak pelayan wanita yang melayani mereka menggunakan bahasa Jerman, berharap wanita itu bisa memahami perkataannya.
(Terjemahan: Maaf, kami adalah pelancong dari Jerman. Kami tidak mengerti bahasa Mandarin. Bisakah kamu membantu kami menjelaskan menu-menu di sini.)
"Ich verstehe Ihre sprache, sir, wir werden lhnen helfen, was sie brauchen. Denn kundenzufriedenheit ist das gluck unseres restaurants," jawab pelayan itu. Dia mahir berbahasa asing. Steve tidak menyangka bahwa ada karyawan di Tiongkok bisa berbahasa asing.
(Terjemahan: Saya mengerti bahasa anda tuan, kami akan membantu apa yang anda butuhkan. Karena kepuasan pelanggan adalah kebahagian restoran kami.)
Steve menjelaskan apa yang mereka inginkan dan karena komunikasi keduanya lancar, pelayan itu menulis semua makanan yang Steve pesan tanpa terkendala.
Pelayan itu meminta menunggu sejenak, dan dia menjelaskan beberapa hal mengenai restoran ini pada Steve.
"Kamu tadi bilang apa?" Dinda penasaran. Setelah wanita itu pergi, Dinda benar-benar ingin ikut dalam pembicaraan mereka berdua.
"Dia hanya bilang kalau tulisan dalam pamflet menu makanan ini sebenarnya sedang dalam pemuatan ulang," jawab Steve. "Karena restoran ini berada dekat dengan bandara pudong dan juga sebagai tempat makan kelas internasional, mereka memaklumi jika banyak turis asing yang makan di sini mengeluh atas menu makan yang di gunakan tidak ada opsi bahasa lain yang mudah di pahami juga tidak di sertai gambar. Mereka akan memperbaiki keluhan pelanggan ini, sementara waktu mereka menggunakan karyawan magang bahasa asing sebagai translator," jelas Steve mendetail.
"Oh, pantas saja dia mahir bahasa asing," Dinda tahu alasannya. "Jadi, kalian bicara panjang lebar hanya membahas tentang restoran ini?" lanjut Dinda bertanya ingin tahu cerita berikutnya.
"Sebenarnya, dia mengatakan sesuatu tentang kamu," Steve memberi tahu.
"Tentang aku?"
"Iya." Steve menyingkat jawaban.
"Memangnya dia bilang apa?" Dinda ingin tahu. "Tentang aku."
"Bukan masalah lain, dia hanya bilang."
"Bilang,..... Bilang apa?"
"Dia hanya bilang, kalau istri ku cantik," Steve berkata lelucon.
Dinda menanggapinya dengan wajah aneh, Dinda merasa bahwa Steve mengada-ada.
Hingga pelayan restauran yang melayani Steve tadi datang membawakan makanan yang di pesan. Di baki khusus makanan, dia dengan ramah menaruh seluruh makanan di atas meja.
"Vielen dank," ucap Steve pada karyawan yang telah membantunya itu.
(Terima kasih)
"Gern geschehen, sir," balasnya ramah. Lalu wanita itu meninggal Steve dan Dinda yang tengah siap menikmati makan malam mereka.
(Sama-sama, Tuan.)
Sikap jahil Steve makin menjadi. Tanpa memberi tahu Dinda, Steve memilih makanan laut malam itu.
Lobster besar dengan saus pedas yang di pesan Steve ini membuat Dinda bingung bagaimana cara memakannya. Hati Dinda rasanya ingin menjerit saat melihat menu makanan yang di pesan cukup aneh.
"Kamu tahu Steve," Dinda berkata. Dia menyela Steve yang tengah mengunyah. "Seandainya saja aku tahu kamu memesan lobster sebesar wajan seperti ini, sebaiknya tadi aku tidak mengajak makan atau bahkan aku akan menahan lapar dari pada harus menyantap makanan seperti ini," Dinda mengeluh. Dia mulai resah melihat meja penuh dengan makanan, terlebih lobster di hadapannya mengganggu suasana hati Dinda.
"Kenapa memangnya? kamu nggak suka lobster? Kamu alergi makanan laut? Atau kamu tidak suka semua menu makanan ini." Steve merasa bersalah. Dia seperti dalam situasi sulit jika Dinda tidak menyukai pesanannya.
"Bukan nggak suka lobster," jawab Dinda. "Tapi ini terlalu besar, aku ini seorang wanita. Orang-orang akan melihat ku jika memakan lobster sebesar monster seperti ini," jelas Dinda.
Steve merasa tidak enak hati, apalagi Dinda tidak mau makanan yang telah di pesan. Rasanya sia-sia saja apa yang Steve pesan.
"Maafkan aku, ku pikir kamu akan suka lobster sebesar wajan ini, ternyata tidak," ujar Steve mengakui kesalahannya. "Pelayan tadi bilang kalau lobster ini adalah andalan di restoran mereka, jadi aku memilihnya sebagai makan malam kita tanpa meminta persetujuan kamu. Aku yang salah, tolong maafkan aku," Steve mengiba.
"Sudah-sudah, jangan menyalahkan diri sendiri, aku mengerti apa yang kamu ingin lakukan," jawab Dinda paham. "Aku akan memakan yang lain saja, kamu tidak perlu merasa bahwa kamu salah."
Mereka tetap makan, walau Dinda harus malu karena menyantap lobster sebesar itu.
"Ngomong-ngomong, kamu sudah ahli dalam menggunakan sumpit," Steve berbasa-basi. "Terlalu banyak rahasia dari kamu yang terlalu sederhana."
"Itu karena aku tipe orang yang suka belajar pada hal-hal baru terlebih di era modern ini, aku tidak mau hal sesederhana tidak bisa di pahami. Hanya akan membuat malu diri sendiri kelak jika makan menggunakan sumpit tapi tidak tahu bagaimana cara mengaplikasikan benda sekecil ini," Dinda menjelaskan.
Steve mengangguk. "Gadis liar ku diam-diam sangat modernitas," Steve kagum.
BERSAMBUNG
Note. Penerbangan bandara internasional Jakarta-Shanghai (Pudong-Soetta) Seharusnya paling awal pukul dua belas malam.
Dan penerbangan terakhir di jam 23:59. China Airlines adalah maskapai yang menangani penerbangan internasional.
__ADS_1
Jadi author tulis penerbangan di sini pukul enam sore anggap saja begitu atau lebih tepatnya author mempercepat penerbangan. Harap jangan salah kaprah pada scene penerbangan ini yah. Dan lama penerbangan Jakarta-Shanghai memakan waktu hingga lima jam. Atau lebih tepatnya empat jam lebih tiga puluh menit.
Author mengambil sumber dari berita terpercaya. Cheer up, semoga mengerti atas ketidaksesuaian adegan dengan versi asli penerbangan. Salam manis, Author.