UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 115


__ADS_3

Seorang dokter berusia kira-kira tiga puluh tahunan lebih, keluar dari ruang tempat Steve di tangani.


Entah kabar apa yang akan di sampaikan, wajah lelahnya terlihat menyisakan keringat.


Kurang lebih selama tiga jam ada di ruang operasi, saat dokter itu keluar dari ruangan agak memberikan ruang kelegaan.


Dinda yang duduk di depan ruangan gawat darurat itu, secepat-cepatnya berdiri.


"Bagaimana keadaannya Dok?" tanya Dinda cemas.


"Pasien sukses menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang. Tapi pasien saat ini kritis, apalagi darah yang keluar cukup banyak. Butuh transfusi darah, sebagai jaga-jaga kalau darah yang dibutuhkan berkurang."


"Aku kakaknya Dok," sahut Stevie. "Anda bisa mengambil darah ku. Aku dan adik ku memiliki darah yang cocok."


Dokter itu tersenyum sumringah. "Tidak perlu terburu-buru," katanya. "Stok darah untuk pasien saat ini mencukupi. Apalagi darahnya bukan jenis darah langka. Kami akan menghubungi anda jika darah di rumah sakit kehabisan stok. Jika darah anda di perlukan, dengan cepat pelayanan rumah sakit akan mengambil inisiatif."


"Syukurlah." Stevie mengurut dada, dia sangat bersyukur. Pikirnya seperti ada di drama-drama, kehabisan darah lalu dokter mengklaim kalau darahnya langka. Bisa pusing tujuh keliling Stevie memikirkan di mana mendapatkan darah seperti itu.


"Oh, iya. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaannya? Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Stevie.


"Untuk keadaannya. Selain sepuluh butir peluru yang bersarang. Pasien juga terkena sebuah sengatan listrik yang lumayan ampuh melumpuhkan manusia. Listrik ini membuat seluruh tubuh pasien lumpuh total. Saya hanya ingin memberikan saran, sebaiknya pasien di bawa ke Jerman. Di sana fasilitasnya lengkap. Sekalian pasien bisa menyembuhkan lumpuh di badannya." Dokter memberi tahu, tak ada pilihan lain. Kecuali Steve harus di rawat di rumah sakit yang terbilang cukup memadai meskipun tidak secanggih di Jerman.


Dinda yang mendengarnya lumpuh total, bagai di hujani oleh seribu anak panah. Seakan darah sudah tidak mengalir lagi, Dinda merasa dunia berhenti berdengung saat tahu Steve lumpuh.


Dinda terduduk lemas, kemudian menitikkan air mata.


"Pasien sangat beruntung. Peluru itu menyangsang bagian perut, tidak mengenai dada. Pelakunya sengaja menyerang bagian itu. Dan bersyukur, tuhan masih memberikan kami kepercayaan agar bisa menyelamatkan nyawa pasien." Dokter kembali memberi tahu.


Jika dipikir-pikir, sebenarnya tidak masuk akal. Mana ada manusia yang bisa bertahan atas serangan peluru apalagi sebanyak sepuluh butir. Dinda yang bersama Steve sejak awal dia terluka, pun tak tahu bagaimana bisa Steve bertahan.


Seakan seperti hanya tertembak oleh satu peluru saja, Steve sangat kuat. Tidak tahu apakah Dinda harus bersyukur karena Steve masih bisa bernafas ataukah ini sebuah keberuntungan pria itu.


Yang jelas, Dinda melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Steve tertembak oleh peluru. Bahkan darah yang mengalir pun nyata, bukan reka adegan. Apapun yang membuat Steve tetap bertahan, Dinda sangat bersyukur. Setidaknya, harapannya pada Steve untuk hidup ada kemungkinan walau sebesar biji jagung.

__ADS_1


"Saya permisi dulu. Kalau ada apa pada pasien, kalian bisa memanggil dokter jaga atau perawat di sekitar," kata dokter lalu pergi.


Stevie mengangguk saja. Lalu, tanpa sadar dia melihat Dinda sudah lemas. Stevie langsung memeluk Dinda, dia memenangkan gadis itu.


"Ini semua pasti bohong-kan, kak?" ucap Dinda terisak di pundak Stevie. "Pasti dokter itu hanya bercanda."


"Sudah! Jangan menangis. Nggak ada gunanya kamu menangis. Nggak akan merubah keadaan bahwa Steve lumpuh."


"Nggak kak!" sergap Dinda. "Pasti ada cara agar Steve bisa sembuh. Pasti ada jalannya."


"Dinda." Stevie memegang wajah Dinda. Dia tahu rasanya hampir kehilangan pria yang dia cintai itu seperti apa. "Kamu nggak perlu cemas seperti ini. Aku akan memikirkan cara agar Steve sembuh. Demi kamu."


"Bagaimana kalau dia tidak pulih lagi kak? Aku takut dia akan lumpuh selamanya."


"Hei! Hei! Dengarkan aku!" Stevie berseru. "Pikirkan saja yang baik-baik. Aku yakin, Steve akan secepatnya sembuh."


Dinda tidak membantah apapun, kata-kata Stevie bisa di percaya. Yang pasti Dinda merasa hidupnya hampir tiada arti saat Steve tak sadarkan diri. Namun Tuhan masih sayang pada Dinda, sehingga tidak mengambil sesuatu yang paling Dinda cintai. Dia tidak peduli, menangis di pelukan wanita itu. Seluruh emosinya sungguh dia luapkan begitu saja.


Saat memasuki ruangan steril ini, Dinda memakai masker dan baju khusus rumah sakit, anti kuman.


Saat melihat Steve terbaring lemah tak sadarkan diri, Dinda kembali menitikkan air matanya. Tubuh berotot itu, kini di tutupi oleh banyaknya jahitan luka. Dinda ingat, dimana bagian perut pria itu menjadi favoritnya saat bergurau. Semakin dia melihat wajah Steve, maka semakin sakit rasa hatinya melihat penderita pria itu.


Perban banyak menutupi bagian depan badannya. Kulit putihnya terlihat agak pucat, darah mengalir dari infus perlahan-lahan menurun.


Ingin sekali Dinda memeluknya, namun kondisi tidak memungkinkan. Steve terlalu lemah, rasa-rasanya, tulang belulang Dinda terasa rontok melihat Steve seperti ini.


"Jika saat itu kita tidak pergi ke butik, mungkin saja kejadian ini tidak akan terulang lagi."


Di bawah bangsal tempat tidur Steve, Dinda menunduk menangis tersedu-sedu. Dari kata-kata Stevie tadi, ini kali keduanya Steve menerima serangan dari marga Kim itu.


Batin Dinda terasa di sayat, sungguh, demi apapun, jika seandainya waktu bisa di ulang. Tak akan Dinda mengindahkan kemauan Steve membuat gaun pengantin untuk pernikahan. Tapi—semua itu sia-sia. Semua sudah terjadi, penyesalan hanya akan menyisakan kesedihan di akhir.


"Kamu sudah janji akan tetap bersama ku apapun yang terjadi. Tapi kenapa kamu malah seperti ini, aku menyesal. Menyesal membiarkan kamu mengorbankan nyawa seperti ini."

__ADS_1


Tangan Dinda berpegangan di pinggir bangsal, tanpa sengaja, tangan Steve menyentuhnya. Di pikir Dinda dia sudah sadar, secepatnya dia menoleh kearah Steve. Namun nyatanya dia salah, ternyata hanya kedutan saja. Hal normal yang sering di lakukan oleh pasien non sadar total.


"Jika aku selamat, mari kita menikah setelah ini. Tapi jika aku sudah tidak ada lagi, buang semua kenang-kenangan yang pernah aku berikan pada kamu. Lupakan aku, hiduplah dengan tenang bersama pria yang kamu cintai. Berjanjilah untuk tetap bahagia."


Dinda teringat pada kata-kata ini. Kata-kata yang membuat batinnya terasa terpukul, seakan tercabik-cabik. Seharusnya Steve tidak berkata seperti itu. Seberapa kuatnya Dinda ingin melupakan kata-kata itu, tetap saja. Air matanya tak bisa melupakan hal ini sebegitunya dengan cepat.


"Kenapa? Kenapa kamu harus seperti ini. Kamu sudah berjanji akan selalu ada di samping ku, menemani ku. Mengukir masa-masa yang indah. Membangun keluarga seperti yang kamu harapkan. Semuanya ingin aku lakukan bersama kamu. Hanya kamu. Tapi kenapa—"


Tak terasa, air mata itu tak bisa berhenti menetes. Oh, peluhnya sudah tak bisa di tahan lagi.


Kehilangan seseorang yang paling di cintai adalah sebuah sakit yang tak ada obatnya. Bahkan lebih sakit dari apapun.


Tuhan memang adil, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan inilah takdirnya, bertemu Steve yang awalnya Dinda tidak menyukainya, kini berubah menjadi seorang wanita yang tidak mampu merelakan kekasihnya pergi. Cintanya pada Steve tidak bisa di ukur hanya dengan sebuah entitas saja.


Tanpa sadar, sikapnya yang selama ini cuek pada Steve, membuatnya tahu kalau masih ada seorang pria yang dengan tulus mencintainya.


Bagi Dinda, bahagia itu sederhana. Selalu ada di sisi orang yang di cintai, setiap bangun tidur ada senyum yang terlukis di atas ranjang.


Saat tidur, ada yang memeluknya dengan hangat. Saat memasak, ada yang mencicipi bagiamana rasanya masakan yang dia buat. Jujur, kriteria itu sudah ada di dalam diri Steve.


Lalu, bayangan saat pria itu berkata ingin membangun sebuah keluarga kecil. Di mana hari-hari mereka akan di di isi dengan senyum sumringah dari buah hati mereka. Sungguh, imajinasi itu membuat Dinda tersadar. Bahwa imajinasi pria itu saat ini sudah membuat harapannya pupus.


Dinda kembali menatap Steve yang terbujur lemah di atas bangsal. Dia memegang tangan Steve yang terpasang selang infus, menciumnya berulang kali di temani dengan tangisan yang tak berhenti.


"Sejak aku melihat mu, semuanya terasa berhenti. Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi, tapi saat kau datang pada ku. Aku merasa dunia ku sudah kamu curi, bahkan kamu tidak menyisakan satu kehidupan apapun untuk ku. Semuanya hilang—bagai mimpi. Kamu membuat ku bergetar, dan aku tahu bahwa inilah takdirnya. Aku mencintai kamu. Apa kamu mendengarnya? Hanya kamu. Walau kamu menutup mata, tak akan ada bosannya aku akan terus mengatakan bahwa aku sangat mencintai kamu lebih dari apapun. Cinta kamu pada ku itu bagai angin. Walau aku tidak bisa melihatnya, tapi aku bisa merasakannya. Kapanpun, di manapun kamu berada, aku akan selalu mencintai mu. Bagaimana bisa aku menjauh dari cinta mu. Bahkan melupakan wajah mu walau sedetik lamanya, aku tidak sanggup. Hati ini selalu ingin mengenal mu, kapan pun dan dimana pun."


Seberapa kerasnya Dinda berbisik di telinga Steve, pria itu tidak akan tersadar dari koma—nya.


Tetapi satu pinta Dinda dalam tangisnya. Dia berharap, Steve akan terus mengingatnya—mengingat kisah mereka yang pernah di janjikan.


Pssstttt...


Author hanya mengingatkan, jaga kesehatan yah. Semoga kalian tidak terkena dampak virus Corona. Oh iya, jaga selalu kebersihan yah. Selalu waspada 😉😉

__ADS_1


__ADS_2