
RESIGN PART 2
"Bu Dinda kenapa mbak?" tanya salah seorang rekan kerja pada Mira. Beberapa karyawan melihat adegan Mira dengan Dinda berpelukan itu, mengundang perhatian dari balik meja kerja masing-masing. Adegan hari itu, membuat beberapa karyawan yang menyaksikannya agak penasaran.
Mira yang baru saja mengambil kursi, lalu mendudukkannya itu, terlihat agak suntuk. "Huh...... Dia akan resign," jawabnya seperti tak bertenaga.
"Hah, resign?" sahut yang lain lagi sambil mendorong kursi berodanya mendekati meja Mira. Walau tengah sibuk ketik mengetik, mendengar gosipan ini, dia tertarik untuk membahasnya dan membedahnya secara seksama. "Mbak Dinda beneran mau resign?" tanyanya lagi mengulangi.
Mira mengangguk, sambil tangannya mengurut batang hidung. "Memang mendadak. Tapi dia bilang sudah memutuskannya sejak kemarin. Dan pagi ini dia datang hanya ingin menyerahkan surat pengunduran diri."
"Sayang sekali kalau dia harus resign. Apalagi dia asyik dan ramah. Mendengar kata resign ini, aku merasa dunia kerja ku juga tidak bersemangat," kata salah seorang lagi menyahut. Dia pria, umurnya tak jauh berbeda dengan Dinda. Mendengar Dinda resign, dia merasa lesu secara signifikan.
"Mungkin nggak sih, ini ada kaitannya dengan Pak Steve yang nggak ada kabar sampai saat ini." Yang lain menyahut, hingga pekerjaan saat itu berubah menjadi gosip.
Memang pada dasarnya semua orang tahu kalau Dinda ada hubungan spesial dengan Steve. Seantero kantor tidak ada yang tahu, semua sudah mengetahui desas-desus ini.
Oh, terakhir kali juga gosip Dinda akan menikah tak luput dari gosipan para karyawan kantor. Walau kebenarannya Dinda adalah kekasih Steve, tetap saja resign Dinda dikaitkan dengan tidak ada kabarnya Steve hingga saat ini.
Mira mengangkat kedua bahunya, dia tidak tahu menahu mengenai argumentasi rekan-rekannya itu. "Yang pasti, semoga Pak Steve baik-baik saja. Aku harap dia di sana bisa segera pulih kembali. Dan juga, kalau Dinda resign, mungkin akan ada sekretaris baru. Itupun akan sulit lagi kalau harus mengajarkan tentang hal-hal baru mengenai kantor ini. Sungguh, keputusan ini membuat kita jadi carut marut," kata Mira pada semua koleganya.
Suasana kantor memang terasa merdeka saat wajah garang itu tidak ada tempatnya selama sebulan terakhir ini. Lebih-lebih Stevie, wanita itu juga tidak ada kabar sedikit pun. Walau para karyawan merasa merdeka tak melihat wajah Steve, namun bayang-bayang wajahnya tak bisa di lupakan.
Dia memang garang di luar, tapi dia bos yang pengertian. Hal inilah yang membuat para karyawan merasa kehilangan bosnya. Walau ada Zico yang menangani kantor ini, namun rasanya sikap arogan bos utama mereka itu—Steve tidak bisa di lupakan.
Jujur, Zico memang bertanggung jawab, tapi dia tidak segalak Steve yang membuat para karyawan segan menatapnya. Galak-galak begitu, dia tetap di rindukan oleh karyawannya—Khususnya karyawan wanita. Mereka menganggap cuci mata ketika Steve setiap saat ada di kantor, walau curi-curi pandangan melihatnya.
"Kalau Dinda keluar, itu artinya meja sekretaris kosong lagi dong untuk beberapa saat ini," yang lain menyambar.
"Oleh karena itu Mbak Mira terlihat pusing memikirkan penggantinya," timpal yang lainnya.
Sejauh ini, Dinda yang menangani berkas-berkas penting. Sebelumnya ada yang menangani, tapi karena usianya sudah tidak lagi muda wanita itu mengundurkan diri. Untung saja ada Dinda kala itu, sehingga pengganti sekretaris tidak terlalu carut marut dalam ketergesaan.
"Ya, aku harap sih. Semoga Pak Steve bisa pulih kembali. Terus Mbak Dinda juga kembali bekerja di kantor ini. Jujur, cuma Mbak Dinda yang bisa menghadapi Pak Steve, dan dia memang bisa membuat Pak Steve tidak terlalu memarahi kita saat kita lalai mengumpulkan laporan." Karyawan yang lain menyambar penuh harap.
Meskipun mereka menyayangkan gosip pagi ini, resign Dinda sudah menjadi keputusannya. Mereka juga tidak bisa menahan Dinda agar bisa bertahan
Walau pada dasarnya, resign-nya Dinda bukan karena persaingan antar karyawan.
Tapi, resign ini, setidaknya menjadi isu hangat bagi karyawan bagian keuangan. Dinda benar-benar meninggalkan kesan yang buruk di hati terakhirnya bekerja.
"Belum usai kasus teror ular dan bom. Datang lagi masalah baru di kantor ini. Seakan masalah dan drama kantor ini nggak ada habis-habisnya dalam skrip." Karyawan lain ada yang mengeluhkan kondisi ini.
Lalu yang lain lagi terlihat lesu. Suasana kantor berubah agak ambigu lantaran peliknya drama yang mereka saksikan. Kadang kala Mira mengurut alisnya, rasanya dia ikut resign juga menghadapi kantor yang kian hari makin banyak pekerjaan ekstra.
Lebih-lebih saat deadline. Hidup para karyawan saat ini bergantung pada hasil kerja keras akhir-akhir ini. Ditambah lembur sejak sebulan belakangan ini, makin menambah pekerjaan. Semua menumpuk, dan terasa makin berat untuk di kerjakan kalau sudah begini jadinya.
****
__ADS_1
Dinda mengetuk pintu yang di tengahnya ada kaca persegi panjang. Dari luar daun pintu, Dinda melihat Zico tengah sibuk, membolak-balik map, kadang juga sesekali memijat keningnya. Dinda paham, pria itu pasti pusing tujuh keliling karena menangani berkas-berkas yang menumpuk.
Saat Dinda mengetuk pintu, terdengar Zico berkata menyuruh masuk.
"Tumben siang datangnya. Kamu lagi nggak sakit- kan?" ucap Zico lebih dahulu.
Dinda berdiri tepat di depan meja kerja Zico. Dengan sepucuk surat di tangan, Dinda menjawab Zico ala kadarnya. "Aku baik-baik saja. Hanya ada sedikit keperluan datang kesini."
"Keperluan?" Zico membesarkan matanya. Tidak biasanya Dinda ada keperluan padanya seperti ini. "Apakah keperluan itu penting sekali?"
Dinda menggeleng, tidak terlalu penting, hanya..... "Aku ingin menyerahkan surat ini, saja" ucap Dinda seraya menyodorkan surat resign-nya pada Zico.
"Apa ini?" tanya Zico.
"Surat pengunduran diri sebagai karyawan."
"Kamu resign?" saat menerima surat itu, ekspresi wajah Zico amat kaget. "Kok mendadak seperti ini?"
"Aku sudah memutuskannya sejak semalam. Jadi, pagi ini aku benar-benar ingin resign." Dinda tidak mau menjelaskan secara terperinci mengenai alasannya untuk resign. Cukup seperti ini, Dinda merasa Zico pasti paham.
Dinda saat ini dalam mode malas banyak berkata. Dinda ingin menghemat bicara, karena semakin dia banyak berkata, maka semakin berat rasanya rahang itu terbuka dan tertutup bergerak mengikuti alur bibir. Dan, harapannya, mungkin dia berharap kalau Zico tidak banyak bertanya mengenai keputusan resign ini.
Zico tidak membaca atau membuka surat dari Dinda itu. Isinya sama saja, surat pengunduran diri. Sebenarnya ini adalah formalitas diantara kantor dan karyawan yang terkait kontrak. Jadi, sekalipun tidak membacanya, Zico sudah paham.
Surat pemberian Dinda ini agak bingung bagaimana Zico harus mengekspresikannya. Jujur, Zico agak pusing harus berkata apa lagi mengenai keputusan dadakan ini. Haruskah dia mencoba menahan Dinda agar tidak resign?
"Aku sudah menyerahkan surat resign ku. Dan aku akan pergi sekarang," pungkas Dinda ingin berlalu.
"Kamu sekarang sudah mengundurkan diri. Apa yang akan aku katakan pada Steve nanti kalau dia tahu kamu nggak di kantor. Keputusan kamu ini membuat aku di lema, suwer."
Jika membahas Steve, sejak semalam Dinda sudah berusaha melupakan pria itu. Jadi— "Mengenai Steve. Aku sudah hilang kontak dengan dia. Jadi kamu nggak usah khawatir kalau kamu akan di salahkan."
"Apa nggak sebaiknya kamu bertahan saja dulu di sini sampai Steve benar-benar kembali dari pengobatannya." Zico menyarankan, dia selaku penanggung jawab perusahaan, berada dilema saat ini. Dinda tidak mendiskusikannya lebih dahulu sebelumnya bersama dirinya, jadi, tidak tahu apa yang harus dia katakan agar Dinda tidak berhenti.
"Dalam dua dan tiga hari ini, aku ingin mencari pekerjaan baru. Mungkin aku akan pergi keluar kota, mencari kedamaian. Maaf kalau aku nggak bisa menahan diri lebih lama lagi di sini. Karena aku tidak bisa lagi menarik kembali apa yang sudah aku putuskan." Dinda ingin berusaha bertahan, tapi sayangnya, itu tidak mungkin. Apa yang sudah dia perbuat, maka ini dia harus mengakhirinya dengan baik seperti yang semula dia rencanakan.
"Huh." Zico menghela nafas berat, jujur, hal ini membuatnya sulit melepaskan Dinda lebih-lebih menahannya. Apalagi kemarin Eva resign, makin berkurang karyawan. Lalu akan sulit mendapatkan karyawan dari bidang akademik dan skill yang bagus seperti mereka. "Bagaimana kalau kamu bekerja di restoran milik keluarga ku. Hitung-hitung, selain aku bisa menjaga kamu. Aku juga tidak mengkhawatirkan kamu untuk saat ini. Kamu tahukan, kalau Steve inginkan aku menjaga kamu. Dan aku ingin bertanggung jawab menjaga kekasih sahabat ku. Jika kamu nggak keberatan."
"Ehm.... Aku pikir..... Sepertinya nggak perlu," jawab Dinda cepat. "Aku bisa mencari pekerjaan ku sendiri. Juga terima kasih sudah berbaik hati menjaga ku selama ini."
"Kamu yakin nggak mau mempertimbangkan dahulu tawaran ku?" tandas Zico sedikit agak memaksa. "Kalau kamu berubah pikiran, sewaktu-waktu kamu bisa menghubungi ku."
Dinda menggeleng. Walau Zico menawarkan kebaikan padanya, tetap Dinda menolak tawaran itu. "Aku sudah memutuskan nggak akan menyusahkan kamu lagi. Jadi, aku nggak mau mempertimbangkan niat baik kamu. Terima kasih untuk waktu kamu selama ini. Dan juga, sebaiknya aku pergi sekarang. Aku nggak mau mengganggu waktu mu. Aku permisi," katanya sesaat kemudian di ikuti langkah meninggalkan ruangan Zico.
"Oh....." Zico ingin menahannya, tapi—Dinda sudah pergi, tidak lagi menoleh ke arahnya. "Semoga kamu bisa mendapatkan kebahagiaan mu secepatnya," ucap Zico.
Zico sudah berusaha agar Dinda tidak resign. Sekalipun resign, menawarkan pekerjaan—bekerja di restoran milik keluarga adalah ide yang bagus. Tapi dia tetap menolak, sungguh wanita. yang berpendirian teguh. Zico sedikit mengagumi sosok wanita itu.
__ADS_1
Setidaknya aku sudah melakukan tugas ku, menjaga kamu. Untuk urusan apakah kamu dan Steve saling berhubungan saat ini, mungkin kalian yang akan menyelesaikannya nanti.
****
Datang ke kantor dan meninggalkan kantor sudah, menyerahkan surat pengunduran diri juga sudah. Dinda kini tiba di halaman depan kantor. Dia membawa barang-barangnya yang di masukan ke dalam kardus. Di luar, dia melihat sekali lagi gedung kantor milik Steve. Bangunan kaca itu tak ada ubahnya tetap perkasa berdiri.
Hanya saja—pemiliknya yang tak kunjung datang sebulan belakangan.
Dunia itu unik. Yang awalnya tidak sengaja, kini berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga. Kalau di pikir-pikir, sebenarnya menurut Dinda keputusan resign ini agak berlebihan. Lantaran surat dari Jerman itu, dia malah terbawa suasana.
Dinda ingin memastikan dengan pasti, apakah benar surat itu dari Steve. Tapi, rasanya sia-sia saja kalau Dinda menelaah dengan teliti. Walau Dinda berpikir kalau itu bukan dari Steve, namun gaun itu cukup membuktikan kalau memang benar surat itu dari Steve.
Tapi—ah, Dinda juga sebal kalau setiap apa yang dia kerjakan terus terpikir oleh pria itu. Konsentrasinya pecah kala bekerja ada wajah Steve yang seliweran di otaknya.
Lebih-lebih kabarnya, bahkan hingga detik ini pun Steve tidak pernah menelepon dirinya atau Stevie yang akan melakukannya. Sumpah, handphone Dinda selalu on dua puluh empat jam hanya demi menunggu seseorang menghubunginya.
Namu tetap saja, kadang kala yang menelpon tengah malam bukan orang yang dia harapkan menghubunginya. Pukul dua malam kala itu, panggilan yang dia tunggu-tunggu nyatanya adalah Zico. Pria ini meminta dia menyiapkan berkas untuk keesokan harinya. Sempat Dinda berpikir kalau itu Steve yang menelpon. Huh, Dinda hampir menyerah menunggu kabar dari Steve.
Saat Dinda sedang memandangi kantor bekas tempatnya bekerja, kebetulan ada Rendy yang tidak sengaja jalan-jalan di trotoar tepat di depan kantor Steve. Dari samping, saat Dinda menoleh sekilas, Rendy amat mengenal wajah itu.
"Dinda!" katanya seraya menghampiri gadis itu. "Hei, Dinda," sapa Rendy.
"Hai, Ren," balas Dinda singkat.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rendy. "Juga....... Bawa kardus berisi....."
"Aku resign," sambar Dinda dengan cepat.
Rendy menggaruk kepala bagian belakangnya. Beberapa kali dia mengedipkan matanya. Kata resign yang baru saja di ucapkan oleh Dinda ini terasa agak aneh baginya. "Aku nggak salah dengar—kan?"
"Enggak kok. Aku memang resign."
"Ini, kamu lagi nggak ada masalahkan dengan kantor kamu?" kata Rendy memastikan kalau resign Dinda ini tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang buruk. "Atau...... Kamu resign karena sudah nggak cocok lagi dengan lingkungan kerja kamu?"
"Nggak kedua-duanya," jawab Dinda di ikuti gelengan kepala. "Aku hanya mau resign saja. Lagi pula aku ingin mencari pekerjaan baru. Dimana aku bisa mengembangkan lagi skill ku."
"Ini....... ini keputusan mutlak kamu buat resign?" tanya Rendy memastikan.
Dinda mengangguk, membenarkan bahwa dia resign secara suka rela. "Aku hanya ingin sesuatu yang baru."
"Eh, tunggu, tunggu," Rendy menyela perbincangan mereka. "Dari pada kita bahas masalah ini di sini. Apa nggak sebaiknya kita cari tempat dulu buat bicara sebentar. Mau?"
Mungkin maksud Rendy, dia ingin mengajak Dinda minum dulu di cafe. Sambil mendiskusikan percakapan ini. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan setelah lama tidak bertemu dengan Dinda.
Dinda paham maksud Rendy, jadi—Dinda mengangguk. Setuju dengan apa yang dia ucapkan—pergi ke cafe.
BERSAMBUNG
__ADS_1