UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 72


__ADS_3

"Selamat sore sayang," sapa Steve sambil mengedipkan matanya menggoda. Di depan pintu apartemen Dinda, Steve nampak segar, rapi dan wangi.


"Kamu sudah sampai?"


"Hu'um," Steve menyingkat kata.


Mereka berdua berdiri di depan pintu, dari belakang Dinda, Stevie menghampiri mereka.


"Uh, ganteng banget," tegur Stevie.


"Aku memang selalu ganteng, cuma kakak saja yang tidak pernah menyadari bahwa aku ganteng," ujar Steve narsis.


"Kamu memang selalu ganteng di mata Dinda, tapi tidak di mata ku," jawab Stevie sarkas. Dia menyikut lengan Dinda, menyinggung gadis itu bahwa pangerannya telah tiba.


"Mau berangkat sekarang?" Stevie bertanya. "Jam empat, dua jam lagi penerbangan akan berlangsung," tegurnya.


"Dari pada ketinggalan pesawat, saran yang bagus, berangkat sekarang," balas Steve.


"Perlu kakak antar?" Stevie menawarkan diri.


"Seharusnya begitu," timpal Steve.


Dinda menyeret kopernya, namun Steve mengambil alih koper sintetis Steve. "Biarkan aku yang bawa," Steve mengulurkan bantuan.


Dinda memberikan kopernya pada Steve, dia berinisiatif membawanya, Dinda tidak menolak bantuan Steve.


Di mobil, Dinda duduk di bagian belakang, sementara Steve duduk di bagian depan.


Stevie mengemudi mobilnya, dia tidak mau mobil kebanggaan miliknya di kemudikan oleh Steve.


Steve rakus, sebagai kakaknya, Stevie harus berhati-hati, atau si cantik kesayangan akan rusak.


Mereka tiba di bandara. Beruntung, jalan lumayan senggang. Steve membawa dua koper di tangannya, yaitu koper Dinda dan kopernya.


Dinda tidak ingin menyusahkan Steve, tangan Dinda merasa sangat bersalah jika tidak mengambil kopernya dari Steve.


"Biarkan aku membawa barang ku sendiri," pinta Dinda. Di parkiran bandara mereka berpamitan dengan Stevie yang mengantar mereka hingga tujuan.


"Kak, aku titip Miko dan Niko ya," pesan Dinda pada Stevie.


"Iya, tenang saja," jawab Stevie. "Kamu seperti tidak percaya saja pada Stevie yang pernah di nobatkan sebagai wanita tercantik sedunia," Stevie berkata memuji diri sendiri. "Tapi bihong."


Dinda terkekeh. "Kak Stevie memang yang terbaik," Dinda menambahkan pujian untuk wanita garang ini. "Tidak salah kalau kakak dinobatkan sebagai wanita tercantik di dunia."


"Sejak kapan wanita berkharisma nan glamour bernama Stevie ini berlaku jahat pada Dinda ku yang manis," ucap Stevie narsis. "Kamu dengar yah," Stevie memberi tahu. "Biarpun aku adalah kakak kandung Tuan pemarah, tapi aku tidak se-galak yang kamu kira. Hanya butuh sedikit polesan agar aku terlihat anggun," kata Stevie berujar seraya menyindir Steve.


"Aku bukan pemarah, tapi orang lain yang tidak bisa menahan diri untuk melihat ku," sahut Steve sewot.


"Iya kamu bukan pemarah," Stevie mengalah. "Hanya saja karena muka kamu garang seperti singa, jadi semua orang takut melihat kamu."


Steve mendengus. "Kakak selalu kontra pada ku!"


"Siapa peduli, aku memang haters mu!" ledek Stevie.


Dinda tertawa, dia menutup mulutnya dengan tangan. Dinda tidak bisa menahan senyumnya karena candaan Stevie yang terkesan sederhana tapi menggelitik.


Stevie melirik Steve yang berdiri menempel di tubuh Dinda. Dia mulai menunjukan ekspresi garangnya pada Steve.


"Tolong jaga Dinda dengan selamat sampai tujuan, jangan sampai lecet," perintah Stevie. "Jika aku mengetahuinya, maka kamu akan mendapatkan kesengsaraan seumur hidup. Mengerti!" Stevie menggertak. Dia menuntut Steve agar tidak memperlakukan Dinda dengan kasar.


"Iya, aku mengerti," jawab Steve ketus.


Namun Stevie tidak mempercayai Steve. Dari wajah Steve memancarkan aura keraguan untuk menepati janji. Stevie menganggap bahwa tidak ada pria di muka bumi ini yang mempunyai pemikiran licik, kecuali Steve.


Stevie merinding jika Steve memperlakukan Dinda kasar. Stevie memikirkan bayangan aneh nanti saat kepergian mereka.


"Dinda," Stevie memanggilnya. "Ingat, jika Steve mencium, menyentuh, memeluk atau memperlakukan kamu dengan kasar di Shanghai nanti, cepat segera hubungi aku. Laporkan setiap detik pada ku apa yang Steve perlakukan pada mu," ujar Stevie mengkhawatirkan Dinda. "Ingat, setiap detik kamu harus melaporkan apa yang Steve perlakukan pada kamu setiap detik," Stevie mengingatkan berulang-ulang.


Bagai seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya, Stevie sangat protektif.


Dinda yang mendengar ucapan Stevie merasa merinding, jauh lebih horor mendengar perintah wanita ini dari pada menyaksikan hantu sungguhan.


"Itu harus kak?" Dinda memastikan.


"Ya harus, wajib hukumnya," tandas Stevie. "Minimal kamu nggak boleh dekat-dekat dengan Steve selama nggak ada yang melindungi kamu, sebab permainan Steve kasar!"

__ADS_1


"Apaan sih kak," sahut Steve. "Ngomong saja kalau kakak iri, ingin pergi ke Shanghai juga," ekspresi wajah Steve sangar, dia kontra pada bicara Stevie.


"Kamu dengar ya," Stevie menunjuk Steve. "Aku begini-begini karena mengkhawatirkan calon adik ipar ku. Aku takut kalau dinda kamu tinggalkan di sungai Yangtze, makanya aku mencemaskan dia."


Melihat perdebatan kakak dan adik itu, Dinda mulai waspada. Mungkin saja selama ini Steve selalu menjadi korban bully kakaknya.


Dinda berulang kali berpikir bahwa Steve memang benar-benar korban kejahatan kakaknya. Dinda merasa prihatin pada Steve yang malang.


"Sudahlah," Steve menampik bicara konyol keduanya. "lihat sekarang jam berapa? Sebentar lagi pesawat akan lepas landas, sebaiknya kami pergi sekarang!" Steve mengingatkan, dia merujuk jam tangannya, waktu untuk terbang telah tiba.


"Ya, ya, sana," usir Stevie. "Jangan lupa, ajak Dinda liburan ke sungai Han, ke Hongkong atau keliling Shanghai, sekalian bulan madu," Stevie membual. "Oh iya, kalau perlu liburan ke Shanghai bund, ajak juga Dinda berkeliling menaiki kapal pesiar di Shanghai river cruize," teriak Stevie.


Keduanya hanya melambai, mereka mengabaikan kata-kata Stevie.


"Jangan dengarkan kata kakak, dia sering melucu tidak pada tempatnya," bisik Steve pada Dinda.


Dinda manggut-manggut saja, dia tidak mengerti apa yang keduanya katakan.


Steve dan Dinda sudah menjauh, mereka berdua meninggalkan Stevie sendiri di parkiran bandara.


Steve dan Dinda sudah ada di pesawat dengan ketinggian di atas sepuluh ribu kaki. Mereka kini telah lepas landas meninggalkan Jakarta untuk waktu yang lumayan lama.


Jadwal kepergian Steve bersama Dinda memakan waktu hingga satu pekan. Bukan waktu yang lama, tapi meninggalkan adik-adiknya, Miko dan Niko membuat Dinda memikirkan mereka.


Apalagi keduanya tidak bisa memasak, bagian ini yang membuat Dinda cemas pada mereka.


Namun Dinda ingat betul slogan kedua adiknya itu, yakni: BIARLAH NGGAK BISA MASAK, YANG PENTING BISA MAKAN.


Kata-kata mereka membuat Dinda terkenang.


Dinda dan Steve duduk di kursi yang bersebelahan. Steve menggenggam tangan Dinda sepanjang pesawat terbang.


Di atas pesawat Dinda termangu tak berkata apapun. Wajahnya menegang, seperti phobia ketinggian.


"Jangan tegang gitu, anggap saja sedang naik biang Lala," hibur Steve.


Dinda terlihat gemetaran, jelas Steve merasa terhibur ulahnya yang tak biasa dari gadis pada umumnya.


"Aku mengkhawatirkan Miko dan Niko," ucap Dinda. "Aku takut mereka tidak makan, mereka suka memakan sesuatu yang instan."


Dinda menatap Steve. "Kamu yakin begitu?"


"Ia, tenang saja," jawab Steve. "Adik kamu sama dengan adik ku. Aku menganggap Miko dan Niko seperti adik andung ku sendiri."


Kata-kata Steve dapat di percaya, Dinda lega mendengar Steve yang berkata menghiburnya.


"Sudah, jangan di pikirkan lagi masalah Miko dan Niko, aku jamin mereka akan baik-baik saja," pungkas Steve menghibur Dinda sekali lagi.


"Apa kamu berkata sungguhan?"


"iya," jawab Steve. "Niko dan Miko bisa aku jamin baik-baik sekarang, jangan khawatir, aku berjanji pada mu."


"Aku mempercayai kamu."


Dinda merasa nyaman, Steve memperlakukannya sangat baik. Di atas pesawat, Steve memeluk Dinda.


Tangan Dinda yang semula bergetar tak karuan, kini mulai rileks. Steve menaruh tangan Dinda di dadanya yang membusung gagah.


Dinda meraba-raba dada Steve, tangan jahilnya mulai berulah.


"Steve, bolehkah aku menyentuh perut mu," Dinda meminta izin, dia ingin menyentuhnya. "Aku suka perut kamu yang keras, indah dan enak di elus," ungkap Dinda.


Steve menyentil hidung Dinda halus, gadisnya mulai liar. "Tapi bayar dengan satu ciuman," jawab Steve meminta imbalan.


"Hah, bayar," Dinda seketika menjauh dari pelukan Steve. "Nggak perlu, aku tidak butuh itu lagi," Dinda merajuk jutek.


Steve tidak tega melihat Dinda bertingkah seperti itu, dia semakin menggemaskan jika harus merajuk. Steve menyukainya, tapi rasa tidak tega membuat Steve mengalah.


"Aku mengalah," Steve berkata menyerah. "Kamu boleh menyentuh perut ku, semua ini milik kamu," Steve memperbolehkan Dinda melakukannya. "Aku berikan gratis, hanya kamu yang boleh menyentuhnya."


Karena Dinda terlanjur ngambek, dia sudah tidak ada mood menyentuh perut Steve. Dinda mengabaikan Steve, beserta ucapannya yang memperbolehkan dia menyentuh perutnya.


Steve mendengus, Dinda memang ahli dalam membuat Steve tidak bisa menolak keinginannya.


Steve mengambil tangan Dinda, lalu memasukkannya kedalam baju Steve.

__ADS_1


"Aku nggak mau menyentuhnya, aku nggak tertarik dengan perut keras," Dinda menghardik sewot.


Steve tidak menghiraukan kata-kata Dinda yang tidak tertarik lagi menyentuhnya, justru Steve malah merangkul bahu Dinda lalu memeluknya lagi. Steve meletakkan kepala Dinda di bahunya, Steve menyukai bagian ini, mencium rambut Dinda yang halus dan harum.


Tangan Dinda ia genggaman erat, dan membiarkan Dinda mengelus perut kerasnya sepuas mungkin. Steve menuntun Dinda meraba perutnya yang indah.


"Kamu tahu," Steve berkata pelan. "Kalau kamu tidak menyentuh perut keras ku, aku tidak bisa menjamin bahwa perut ini selamanya milik kamu."


Dinda mendongak kepalanya. "Apa maksudnya," sahut Dinda. "Aku tidak mengerti."


Steve mendercit. "Kalau kamu terus tidak mau menikmati pemandangan indah seperti ini, para gadis di luar sana pasti akan berlomba-lomba ingin memiliki perut ku ini," jelas Steve. "Makanya jangan cepat-cepat menolak rejeki, apalagi menyentuh perut orang terhormat seperti ku. Kapan lagi merasakan sensasi meraba perut gratis seperti ini."


Wajah Steve terlalu percaya diri, Dinda melihatnya. Kata-kata Steve semakin hari semakin narsis, Dinda mengerut dahinya, dia bisa mati kalau terus mendebarkan pria semacam Steve.


"Kenapa kamu selalu bersikap narsis seperti ini!" Tanya Dinda. "Berbeda dengan Steve yang dulu selalu marah," Dinda mengenang.


"Hei," Steve mencubit pipi Dinda. "Itu aku lakukan karena aku mencintai kamu," Steve memprotes. "Kamu harus tahu, karena kamu, aku menjadi budak cinta, terus mata ku buta. Yang aku lihat setiap saat, bahkan saat bangun tidur itu kamu. Camkan itu."


"Jangan marah dong, aku kan cuma bertanya," Dinda terkekeh geli.


Wajah Steve seperti sebelumnya, wajah pemarah.


Dinda merasa tidak enak hati karena membuat Steve cemberut, dia ingin menyentuhnya, tapi Steve menahan tangan Dinda.


Steve memasukkan kembali tangan Dinda di dalam bajunya, dan membiarkan Dinda terus mengelus perutnya.


"Seperti ini saja, aku tidak marah pada mu," ucap Steve yang tahu perasaan Dinda.


Steve memejamkan matanya, menyandarkan kepala di kursi. Steve menikmati tangan nakal Dinda di bajunya.


Sementara Dinda menatap wajah Steve dengan khidmat. Dinda memperhatikan seluruh wajah Steve hingga detail.


"Steve," Dinda memanggilnya pelan.


"Hemm .."


"Apa kamu tidur?"


"Tidak, hanya menutup mata saja," jawab Steve.


Steve memang memejamkan matanya, tapi dia tidak tidur, hanya mengistirahatkan mata sejenak.


"Steve," panggil Dinda kembali.


"Apa," Steve menjawabnya singkat.


"Kamu mempunyai bulu mata yang sangat indah, hidung kamu juga lancip dan alis kamu tebal, juga bibir kamu manis. Kamu begitu sempurna, Steve."


Dinda memperhatikan kontur wajah Steve hingga mendetail. Dinda mengungkapkannya, mengungkap rasa suka pada semua yang Steve miliki.


Steve membuka satu matanya yang terpejam. "Jika kamu ingin mengatakan suka pada ku hanya karena memandang fisik ku saja, itu artinya kamu tidak benar-benar mencintai ku dengan tulus, tapi mencintai ku sebatas mengagumi."


"Bukan begitu maksud ku,"


"Lupakan," Steve menghentikan. "Cinta sejati tidak bisa di ukur dengan hanya menilai penampilan fisik saja, tapi juga semua yang di miliki oleh orang yang di cintai," ucap Steve berkata bijak. "Aku tidak mau kamu terbebani pacaran dengan ku hanya karena kamu memandang ku berbeda dari orang yang kamu temui, aku sama. Aku seorang pria, yang mencintai wanita tanpa memandang fisik."


"Itu artinya kamu benar-benar mencintai ku," sahut Dinda berlagak polos.


Steve men-decak. "Tsk! Kamu pikir aku selama ini hanya main-main saja!"


"Bukan seperti itu," kilah Dinda. "Aku takut kamu tidak bisa memahami ku, oleh karena itu aku sering cemburu melihat kamu jika di lirik wanita lain," jelas Dinda mengeluh.


"Sudah, sudah, lupakan," Steve menempelkan kembali kepala Dinda yang menjauh dari bahunya. "Sebaiknya tidur saja, jangan pikirkan seperti apa aku mencintai kamu, jawabannya tidak bisa di definisikan!" seru Steve.


"Baik, aku menurut," balas Dinda patuh.


Steve menidurkan Dinda di pelukannya. Dia tidak mau membuat Dinda terus tertekan jika berada di sisinya.


Dinda memejamkan matanya, aroma tubuh Steve membuat Dinda serasa di surga. Seakan dia di layani oleh pria-pria tampan dari surga, Dinda merasa begitu hangat di tubuh Steve.


"Ngomong-ngomong apakah Shanghai kota yang indah?" Dinda menyela.


"Tidak seromantis Paris, tidak juga seindah Indonesia, tapi di kota ini pusat keuangan China, hanya kota metropolitan yang padat penduduk. Tidak ada yang spesial di sini," jelas Steve.


Dinda menyimak setiap perkataan Steve. Pria itu tahu segala hal, Dinda menyukai Steve yang pintar.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2