UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 110


__ADS_3

ANCAMAN


Steve seharian mengajak Dinda menyiapkan baju pernikahan dan cincin yang sempat membuatnya kewalahan.


Malam itu hujan masih turun deras, Steve dan Dinda tertahan di dalam mall untuk beberapa jam.


Sembari menunggu hujan reda, handphone Steve berdering. Mereka sedang ada di pelataran mall. Pikir Steve siapa, ternyata hanya Stevie.


"Ada apa kak?" tanya Steve. "Tidak. Kami masih di jalan. Oke, nanti sesampai di rumah Dinda aku langsung pulang."


Steve lalu mematikan panggilan telepon dari Stevie. Hujan sudah agak reda, Steve menuntun Dinda keluar dari mall.


"Kenapa kamu begitu terburu-buru ingin mengadakan acara pernikahan seperti ini? Apakah takut Ibu berubah pikiran?" Di jalan tol dalam kota, Dinda yang duduk di sebelah Steve penasaran pada rencana pria ini.


Steve menoleh ke arah Dinda sekilas meskipun dia mengemudi, tetap fokus. "Karena aku takut kamu pergi meninggalkan aku. Jadi, mengikat kamu menjadi istri ku. Aku merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan," katanya mengakui.


Dinda terkekeh. "Apa hanya itu alasan kamu?"


Steve menggeleng. "Tidak," jawabnya. "Aku hanya tidak mau dua cecunguk itu mendekati kamu lagi. Aku hanya mau kamu menjadi milik ku seorang. Tidak boleh ada yang memiliki kamu selain aku."


"Tsk!" Dinda menggeleng melihat perilaku Steve yang aneh ini. "Bagaimana jika mereka terus mendekati ku? Apa yang akan kamu perbuat?"


"Menjatuhkannya dari gedung tinggi," sambar Steve. "Atau aku jadikan umpan buaya."


"Sekejam itu kamu melakukannya?" mulut Dinda ternganga, idenya liar biasa keren.


"Kalau nggak kejam, bukan Steve namanya?" jawab Steve polos.


Dinda terkekeh kembali, kemudian melihat batang hidungnya yang indah. "Kamu tipe pria yang suka berkata jujur. Aku menyukainya."


Steve mendengus. "Kamu baru menyadarinya," ucap Steve sedikit melirik Dinda.


"Tapi kali beda. Aku benar-benar menyukai kamu yang tidak romantis ini."


"Karena hanya aku yang bisa membuat kamu terpikat. Tidak pria lain yang mampu menyaingi ku," katanya narsis.


Dinda tak habis pikir. Kenapa dia bisa bertemu dengan pria aneh seperti Steve ini. Di awal pertemuan, pria ini menuntutnya banyak. Lalu makin mengenalnya, dia semakin menawan. Dinda merasa makin jatuh cinta melihat wajah Steve.


Mobil yang di kendarai Steve berjalan agak cepat. Tapi, di belakangnya ada beberapa mobil yang menguntit sedari mereka keluar dari parkiran mall. Steve awalnya tidak memperhatikan bahwa mereka mengikuti mobilnya. Saat pindah jalur tol, barulah Steve menyadari bahwa mereka benar-benar mengikutinya.


Steve menoleh ke belakang, memperhatikan mobil hitam yang terus menguntit kap mobilnya.


"Ada apa?" tanya Dinda. Dia penasaran kenapa wajah Steve berubah agak tegang dari sebelumnya. Dia ikut menoleh ke belakang mengikuti kepala Steve yang berpaling itu.


"Sepertinya mobil itu mengikuti kita dari tadi," balas Steve. "Apakah kamu merasakannya?"


Dinda jelas dari tadi tidak memperhatikannya. Dia hanya fokus pada perbincangan dengan Steve. "Tidak," Dinda menggeleng. "Aku tidak tahu jika mobil itu mengikuti kita dari tadi."


"Ck," Steve men-decak. "Mereka mulai bertindak," ucapnya.


"Mereka siapa?" tanya Dinda.


"Mereka yang menaruh dendam pada ku," balas Steve.


Dinda mengerutkan alisnya, kemudian menatap wajah Steve cemas. "Kamu jangan bercanda. Kamu nggak lagi ngerjain aku kan?" rengek Dinda.


Steve memandangi Dinda sekilas sambil tersenyum. "Aku tidak bercanda sekarang," jawabnya. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja," ujarnya menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tidak khawatir! Kamu sendiri saja santai begini jika sudah tahu itu musuh kamu."


Steve tidak berkata, dia tahu ini akan terjadi secepatnya. Dia mempercepat laju kendaraannya. Tapi dari belakang, mobil hitam yang mengikuti mobilnya menabrak bamper belakang hingga mobil Steve oleng.

__ADS_1


Tepat di jalan yang agak sepi, mobil Steve yang sudah sulit di kendalikan menepi perlahan. Setelah Steve berhasilkan mengendalikan stir kemudinya.


Kedua mobil yang menguntit mobilnya sejak tadi berhenti menghadang tepat di hadapan mobil Steve yang berhenti di pembatas jalan tol.


Steve memicingkan matanya saat beberapa orang keluar dari mobil di hadapannya itu. Kemudian melirik Dinda, wajahnya terlihat gusar.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah keluar dari mobil ku. Kamu harus mendengarkan apa kata ku!" Perintah Steve.


"Kamu mau kemana?" tanya Dinda.


"Pokoknya jangan keluar dari mobil. Jika terjadi apa-apa pada ku, kamu harus menghubungi polisi dan juga kak Stevie," jawab Steve.


Steve memberikan handphonenya pada Dinda, kemudian dia ingin beranjak keluar menemui beberapa pria berbadan besar di depan sorot lampu mobilnya.


"Jangan keluar," Dinda menarik jas biru Steve. "Aku nggak mau kamu keluar. Aku takut kamu terjadi apa-apa. Kamu harus tetap di sini."


Steve mengelus lembut tangan Dinda, memberikannya senyum terbaik yang pernah dia miliki. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja."


"Nggak!" Sentak Dinda. "Kamu nggak boleh keluar. Kamu harus tetap di sini." Dinda menangisi Steve yang keras kepala. Dia meringis, tidak rela jika Steve mengorbankan dirinya. "Aku mohon tetaplah di sini."


Namun Steve dengan santainya kembali tersenyum ramah. "Jangan menangis seperti ini. Aku akan senang kalau kamu tetap tersenyum. Aku tidak mau kamu menangis karena mengkhawatirkan aku." Steve menyeka air mata yang keluar dari bola mata Dinda, lalu mencium keningnya. "Kamu cantik jika tertawa."


"Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Aku mohon, kamu jangan keluar. Aku nggak mau kamu terluka," Dinda sudah menangis tersedu-sedu. Dia tidak bisa menahan diri untuk menangis.


Di hadapannya, Dinda menangisi Steve untuk kesekian kali. Tapi kali ini, tangisan yang membawa pada firasat buruk.


Walau Dinda sudah memohon, Steve tetap keras kepala. Dinda yang memintanya tidak keluar bahkan menangisinya di abaikan. Steve membelai rambut Dinda kemudian mencium keningnya lembut untuk kedua kalinya. "Jika aku selamat, mari kita menikah setelah ini. Tapi jika aku sudah tidak ada lagi, buang semua kenang-kenangan yang pernah aku berikan pada kamu. Lupakan aku, hiduplah dengan tenang bersama pria yang kamu cintai. Berjanjilah untuk tetap bahagia."


"Nggak!" teriak Dinda. Dia memeluk Steve se-erat mungkin, tidak rela Steve keluar menemui orang-orang itu. "Kamu nggak boleh berkata seperti itu. Kamu akan aman di dalam mobil ini. Kita bisa menelpon meminta bantuan. Kamu nggak boleh keluar."


Steve melepaskan tangan Dinda perlahan. Dia menatap wajah yang sudah sembap itu. "Jangan menangis. Kamu akan jelek kalau terlihat seperti ini. Tetap tersenyum, aku tidak mau calon istri ku menangis." Steve mencubit lembut pipi Dinda, lalu mengedipkan matanya.


Di saat-saat seperti ini, dia masih bisa berkata santai. Pria macam apa yang tidak takut pada kematian.


Maafkan aku Dinda. Ini adalah jalan yang harus aku hadapi. Walau aku berat melakukannya, namun ini satu-satunya pilihan. Aku seorang pria, aku tidak mau di remehkan. Aku mencintaimu, selamanya.


Jika aku selamat, mari kita buat impian kita terwujud. Menikah, mempunyai anak dan membuat keluarga kecil. Membeli rumah sederhana di pinggiran kota. Semuanya aku lakukan demi kamu. Tapi, maaf. Sekali lagi, ini bukanlah keputusan, tapi ini keharusan.


Steve menoleh kearah Dinda sebentar, pikirnya untuk yang terakhir kali, dia ingin melihat gadisnya tersenyum. Steve menggunakan mobil hitam yang pernah di beli di Barcelona, Dinda akan aman-aman saja di sana.


Mobilnya anti peluru, tidak mudah di tembus timah panas itu.


Melihat Steve yang sudah keluar menghadapi pria-pria yang mencegat mobil mereka. Dinda yang menangis bercampur panik mendapat ide menghubungi Stevie dan Zico. Meminta bantuan, secepatnya agar Steve tidak terjadi apapun.


Aku mohon tuhan, selamatkan dia. Jangan biarkan dia terluka, jangan biarkan dia menderita. Biarkan kami hidup selamat, menuju kebahagiaan.


Dinda menggigit jarinya, keadaan segenting ini membuat tubuhnya bergetar hebat. Tangisan tak bisa terbendung, Steve tak bisa di tahan. Dia sangat keras kepala.


Telepon yang terhubung ke Stevie belum di jawab. Dinda menggantinya ke panggilan pada Zico, setelah itu pada polisi. Nasibnya dan nasib Steve ada di tangan orang-orang yang baru saja dia hubungi, jika mereka terlambat. Dinda harus menerima kenyataan- bahwa dia harus kehilangan segalanya.


****


Johan baru saja menepikan mobilnya di salah satu kelab malam tempat biasa dia kongkow bersama temannya. Di dalam bar yang bercahaya redup, Johan di sambut oleh beberapa temannya yang sudah menunggu.


"Whatsup bro," salah satu temannya menyapa seraya merangkul Johan dan menjabat tangannya. "Lama nih nggak ketemu, tumben datang. Ada berita apa nih, kelihatan senyam senyum sendiri?"


"Karena hari ini aku ingin mengadakan pesta kemenangan. Malam ini aku akan membayar semua minum di sini. Kalian sepuasnya boleh minum," kata Johan menyuruh.


Wajahnya tersenyum sumringah, beberapa teman Johan merasa penasaran kenapa Johan begitu bahagia malam itu.


"Memangnya ada apa malam ini, Han?" tanya teman Johan penasaran. "Tumben mau minum-minum bareng. Kamu dapat Ilham apa nih sampai-sampai sebahagia ini."

__ADS_1


Johan yang sedang minum alkohol sambil memakan kacang ini, senang mendengar pertanyaan dari temannya itu. "Sebentar lagi aku akan menikah dengan Dinda."


"Hah? Serius?"


Johan mengangguk. "Seriusan lah. Tunggu saja undangannya. Kalian semua pasti ku undang."


"Secepat ini, Han?" sahut yang lain. "Dinda yang dari jurusan Ekonomi dan bisnis itu-kan?"


Johan kembali menggeleng. "Masa kalian lupa sih dengan Dinda," celetuk Johan.


"Aku ingat! Aku ingat!" Sahut yang lain. "Dinda, mahasiswi yang hot itu. Cewek yang di puja-puja para playboy kampus. Nggak nyangka, akhirnya Johan beneran menaklukan si gadis manis itu."


"Yoi bro," kata Johan kegirangan.


"Terus, tunganan mu. Vanya?" Singgung temannya yang lain. "Sudah break?"


"Nggak usah di bahas si wanita tidak berguna itu. Malam ini kita have fun bareng saja. Lupakan semua tentang duniawi malam ini!"


Semua teman-teman Johan yang melihat tingkahnya agak aneh. Ya maklum saja Johan berbeda dari biasanya. Dia sering galau, tapi malam ini dia sangat bahagia.


Bahkan menari-nari bersama gadis-gadis di kelab malam. Dia seperti kesetanan.


"Masa sih Johan bakal nikah sama Dinda?" teman-teman Johan mulai bergosip. "Seingat ku Ibunya sendiri tidak pernah merestui hubungannya dengan Dinda. Apa mungkin tembok kuat Nyonya Tama mulai runtuh?"


"Aku juga heran," sahut yang lainnya. "Setahu ku juga dia dan Dinda sudah lama break empat tahun yang lalu. Nggak mungkin-kan kalau cewek itu beneran mau balikan sama Johan. Apalagi Ibunya seperti nenek lampir, perempuan mana yang mau mempunyai mertua ceringis seperti itu."


Teman-teman Johan mulai berspekulasi menebak-nebak. Apalagi kalau di ingat-ingat mereka sudah berteman dengan Johan cukup lama. Mereka paham seperti apa Johan. Dia tidak semudah itu bisa menikahi Dinda jika bayang-bayang orang tua masih mengekang dirinya.


Teman-teman Johan tidak ambil pusing. Toh putra grup Tama ini sedang have fun, mumpung Johan masih dalam otak yang waras. Teman-teman Johan memanfaatkan kesempatan ini sebagai reuni minum bareng.


****


Beberapa tempat terjadi hujan lokal. Niko yang sedang kerja part time di salah satu toko bunga, hendak mengantarkan pesanan salah satu pelanggan. Namun sayang, hujan yang mengguyur membuatnya meneduh sejenak di pos kecil di dekat taman.


Tidak jauh dari toko tempatnya bekerja, Niko yang berteduh di pos kecil, menjulurkan tangannya keluar. "Masih deras," katanya. Hujan yang turun melalui atap pos kecil di taman kota ini menahannya untuk beberapa saat.


Bosan menunggu hujan reda, Niko memainkan gawainya. Membuka-buka beberapa aplikasi handphone. Kebetulan Miko menghubungi dirinya, mungkin kakaknya itu mencemaskan-nya yang belum pulang.


"Iya, halo, kak," jawab Niko pada panggilan telepon kakaknya. "Miko masih di taman. Nanti Niko pulang sebentar lagi. Nggak apa-apa, cuma menunggu teman. Oke, nanti Niko akan segera pulang kalau hujannya reda. Oke," katanya mengakhiri.


Niko sudah menduga kalau kakaknya itu akan menanyakan di mana dia sekarang. Niko menghela nafas panjang, di tatapinya layar handphonenya. Jam menunjukan pukul setengah sembilan malam, sudah waktunya dia pulang.


Apa Ibu akan marah pada ku? Niko menebak-nebak. Apalagi Ibunya selalu khawatir jika anak-anaknya pulang terlalu larut. Tadi aku beralasan hujan deras, semoga saja Ibu nggak mengkhawatirkan aku. Maaf ya Bu kalau Niko berbohong. Niko hanya ingin mengejar impian Niko, setelah itu kita akan hidup bahagia.


Sementara, di rumah. Ibu Yuri terus menatap ke arah kaca. Di pandangi-nya terus kaca itu. Dia menunggu Dinda yang belum pulang juga Niko yang tidak kembali sejak keluar tadi sore.


"Tenang saja Bu. Mungkin kak Dinda masih di jalan. Macet, kan- jam kerja, pasti semua mobil karyawan se-Jakarta akan mengaspal."


"Bagaimana Ibu nggak khawatir, kakak mu sejak tadi siang keluar. Bahkan nggak ngasih kabar ke Ibu. Adik kamu juga, katanya keluar sebentar, sampai sekarang masih belum pulang."


Miko yang sedang bermain gawai, mengerti apa yang di rasakan sang Ibu. "Miko baru saja menelpon Niko. Ibu sendiri tadi mendengar kalau Niko masih di taman. Lagi pula hujan di luar sangat deras Bu, nggak mungkin-kan kalau kita menerobos. Yang ada Ibu nanti masuk angin kalau kehujanan."


"Ibu nggak bisa tenang kalau kakak dan adik mu belum kembali." Raut wajah sang Ibu membuktikan bahwa dia sangat serius mengkhawatirkan anak-anaknya itu. "Ibu telepon kakak mu Dinda dari tadi nggak terhubung. Ibu takut terjadi apa-apa pada Kakak mu."


"Sudahlah Bu," Miko menengahi kecemasan Ibu Yuri. "Mungkin sebentar lagi mereka akan sampai. Ibu nggak usah panik begitu, percaya saja. Kak Dinda dan Niko akan baik-baik saja."


Mau tak mau apa kata Miko ada benarnya juga. Ibu Yuri terlalu berlebihan, berpikiran yang baik-baik saja mungkin akan membuatnya tenang.


Miko menggeleng saat melihat Ibunya yang masih was was itu.


****

__ADS_1


BERSAMBUNG


Kalau membosankan, tinggal klik unfav saja. Lebih baik seperti itu dari pada menghujat authornya.


__ADS_2