
Hujan sedang mengguyur jakarta, malam itu kebetulan waktu menunjukan pukul enam. Belum terhitung larut malam, tapi setidaknya hampir masuk waktu malam.
Dinda tadi siang berjanji akan menemani Steve pergi ke acara pernikahan Alianor, sepupunya yang tinggal di Jerman itu.
Dinda sudah terlanjur mengiyakan permintaan Steve. Dia sudah tidak bisa membatalkan perjanjian ini.
Sesuai permintaan Steve yang ingin dia tampil cantik, Dinda mengenakan dress berwarna peace, senada dengan warna kulitnya yang putih natural.
Gaun itu adalah pemberian Steve pada Dinda beberapa waktu lalu.
Dering telepon terus saja berbunyi di atas meja rias Dinda.
Telepon dari Steve, yang membuat Dinda jengkel karena tidak fokus pada kegiatannya.
Dinda mengangkat teleponnya. "Halo," sapa Dinda dahulu. Iya, aku sudah selesai. Apa? Sudah di depan, baiklah, oke, aku akan kesana.
Dari depan pintu apartemen Dinda terdengar suara bel berbunyi keras berulangkali. Dia sudah sampai, pikir Dinda itu Steve. Dia mengabaikannya, Dinda hanya fokus pada bibirnya yang hendak ia warnai.
"Niko, tolong buka pintu, ada tamu tuh," Dari dalam kamarnya, Dinda berteriak pada Niko yang ia lihat sedang duduk santai.
"Iya," jawab Niko. "Aku akan buka pintunya."
Niko menjadi yang pertama membuka pintu, karena dia sedang ada di ruang keluarga, Niko sedang nonton film.
Samar-samar saat dia membuka pintu terlihat seorang pria berdiri membelakangi daun pintu. Tubuhnya tinggi, mengenakan setelan jas berwarna biru Dongker dengan wangi yang semerbak menyejukkan.
"Pak Steve," tegur Niko. "Ngapain Pak Steve berdiri di depan pintu?" Niko bertanya, dia tidak tahu apapun.
"Panggil saja kak Steve," Steve meminta.
"Kak Steve," Niko meniru. "Lumayan bagus, dari pada memanggil Pak!"
Niko sedikit terpana, dia tersenyum, lalu bertanya. "Ngomong-ngomong, kak Steve kemari ada apa? Mencari kak Dinda?" Niko menebak.
Steve mengangguk. "Iya. Apa Dinda sudah siap?" tanya Steve ingin tahu.
"Masuk saja kak, kebetulan kak Dinda sedang merias wajahnya," kata Niko.
Steve menyetujuinya, dia masuk kedalam. Niko menggiring Steve dari belakang sambil menutup pintu.
Niko membawa Steve duduk lebih dahulu di sofa sembari menemaninya nonton TV.
"Kamu suka nonton drama?" tanya Steve. Dari layar televisi jelas bahwa Niko sedang menyaksikan drama.
"Nggak," Niko mengelak. "Mana mungkin aku nonton drama seperti itu.
Ini pasti kerjaan kak Miko, pikir Niko. Tadi sebelum dia membuka pintu, Miko duduk di sebelahnya, jelas pasti itu perbuatan Miko. Setelah mengganti channel televisi, Miko menghilang. Miko pasti sengaja melakukan hal ini, apalagi dia pasti tahu kalau Steve akan datang.
Niko berang, dia ingin membalasnya nanti.
Dari pintu kamar, Dinda keluar dengan tampilan cantik. Steve yang duduk tepat di depan pintu kamar Dinda langsung terpana.
"Aku sudah siap," ajak Dinda. "Mau berangkat sekarang, atau?"
"Sekarang saja Kak," sahut Niko. "Kalau besok, acaranya pasti sudah selesai."
"Benar apa yang di bilang Miko," sambar Steve senada. "Aku setuju padanya."
"Niko Kak," Niko membisik. "Bukan Miko," Dia memperbaiki kesalahpahaman ini.
"Oh iya, Niko," Steve menirukan panggilannya.
"Ayo kita berangkat sekarang, nanti terlambat," ujar Dinda mengingatkan Steve.
Steve mengangguk, dia lebih dahulu berjalan di depan. Dinda mengekor dari belakang.
Mereka pergi meninggalkan Niko sendiri. Tapi, belum hilang langkah kaki Dinda, Niko menyelanya.
"Kak Dinda," panggil Niko. "Jangan lupa kalau pulang bawa makanan enak yah, sekalian di bungkus," celetuk Niko.
Dinda menggeleng, permintaan Niko agak absurd. Dinda mengabaikannya, mereka melanjutkan perjalanan.
Karena jalan tol dalam kota yang sedikit sepi, butuh waktu singkat untuk sampai di hotel tempat sepupu Steve melangsungkan acara.
Bagian depan hotel terpasang bunga yang menjuntai sebagai pintu penyambutan para tamu di lengkapi karpet merah.
Semua orang yang hadir di lihat oleh Dinda berpasangan. Mereka tidak malu menggandeng tangan pasangan masing-masing.
Semua wanita tampak cantik dengan pakaian yang masing-masing cocok di badan.
Usai keluar dari mobil steve, Dinda hanya termangu tak bicara. Hingga di depan hotel, matanya melirik sekeliling.
__ADS_1
Steve menarik nafas panjang, diam-diam Steve memperhatikan Dinda. "Jangan pikirkan tentang orang lain, anggap saja mereka hanya tumbuhan yang sedang berlalu lalang," bisik Steve.
Steve memberikan tangannya pada Dinda. Agar seperti para tamu undangan lainnya, Steve ingin Dinda menggandengnya.
"Pegang tangan ku," pinta Steve. "Kita akan masuk kedalam," ajaknya.
Dinda mengangguk, dia menerima uluran tangan Steve. Dia menggandeng tangan Steve masuk kedalam hotel.
Di dalam hotel, Alianor menyambutnya dengan riang sembari memeluk Steve. Mereka melepaskan temu kangen karena sudah lama tak berjumpa.
"Hei Steve," sapa Alianor. "Bagaimana kabar mu. Akhir-akhir ini kamu sulit di hubungi," Alianor berbasa-basi.
"Kakak terlalu sungkan pada ku," jawab Steve merendah.
"Dia siapa," Alianor menunjuk Dinda.
"Dia calon istri ku," balas Steve membisik.
"Hah? Yakin? Secepat ini kamu akan menyusul," kata Alianor tak percaya.
Steve menaikan alisnya, dia berkata narsis. "Tidak akan lama lagi, kami pasti akan seperti kalian," Steve mengedipkan matanya, menggoda Alianor.
"Oou," Alianor takjub. "Tak ku sangka, Steve yang phobia wanita, kini sudah ada seorang wanita. Bahkan diam-diam sudah berpacaran," Alianor menyinggung, dia bicara asal.
"Ah, iya.." Dinda tersenyum malu sambil menyelipkan rambutnya di telinga.
Mendengar percakapan Steve dan Alianor membuat Dinda tersipu.
Alianor masih dengan ekspresi yang sama, dia mengulurkan tangannya pada Dinda. "Aku Alianor, sepupu Steve," katanya yang hampir lupa cara berkenalan dengan Dinda. "Dan ini istri ku, Qory," Alianor menunjuk istrinya.
"Hai, aku Qory," kata Qory, dia menyodorkan tangannya pada Dinda.
"Aku Dinda," Dinda membalas jabatan tangan Qory.
Dinda juga ingin membalas jabatan tangan Alianor, tapi Steve menepisnya lebih dahulu mewakilinya. "Namanya Dinda, dia calon istri Steve!" Jelas Steve.
Alianor mendeham, sedikit menggelengkan kepala sebab tingkah Steve masih seperti dahulu. Steve yang tidak suka barang-barangnya di sentuh oleh orang lain.
"Oke... Dinda, nama yang cantik," puji Alianor.
"Tapi sayang dia sudah menjadi istri orang lain," Steve menyahut.
Dinda hanya tersenyum malu, tidak tahu kenapa Dinda tidak bisa membantah ucapan Steve.
"Ehm.... Omong-omong, sebentar lagi acara akan dimulai. Bisakah kamu menyanyikan satu buah lagu yang spesial untuk ku dan Qory?" Pinta Alianor pada Steve. "Itupun jika kamu tidak keberatan!" Imbuh Alianor.
"Ehm.." Steve berpikir sejenak. Antara bisa atau tidak, Steve tidak tahu harus menjawabnya apa.
"Ayolah," Alianor memaksa. "Satu buah lagu saja, sebagai bentuk hadiah pernikahan kami."
"Aku bisa menyanyikan satu buah lagu untuk kalian," Dinda menyahut lebih dahulu. "Lagu ini spesial aku nyanyikan untuk kalian," Dinda menwarkan diri. "Jika kak Alianor dan kak Qory tidak keberatan."
"Memangnya kamu bisa bernyanyi," Steve membisik. Dia takut jika Dinda tidak bisa bernyanyi, nanti akan mempermalukan dirinya sendiri.
"Iya, aku bisa bernyanyi," balas Dinda meyakinkan.
"Kamu yakin mau bernyanyi untuk ku dan Ali?" tanya Qory memastikan.
"Iya. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk kalian," Dinda mengangguk. "Anggap saja ini sebagai kejutan di hari pernikahan kalian," Dinda berkata manis seraya meyakinkan kedua suami istri itu.
Ali dan Qory saling lempar pandangan. Kemudian mereka saling mengangguk menyetujui permintaan Dinda.
"Jika tidak merepotkan Nyonya Steve, kami merasa tersanjung dengan lagu yang akan kamu nyanyikan," kata Qory bicara merendah.
Dinda yakin, dia ingin bernyanyi. Dia naik ke atas panggung, mencoba menyanyikan sebuah lagu yang ia suka.
"Lakukan yang terbaik, anggap saja kamu sedang bernyanyi untuk ku," bisik Steve pada Dinda. Dia mendukung gadisnya, sebelum dia naik ke atas panggung.
Dinda menatap Steve, dia tersenyum. Bahkan di situasi seperti ini, Steve masih saja mendukungnya. Dia bukan tipe pria romantis, tapi setiap tindakan Steve pada dinda, selalu di anggap oleh Dinda sebagai sesuatu yang romantis.
Dinda menarik nafas dalam-dalam, dia sangat gugup untuk bernyanyi. Karena Dinda sudah yakin pada keputusannya, Dinda tetap akan bernyanyi.
Dinda menuju ke piano, dia mencoba mendentingkan tuts piano. Steve yang ada di bawah panggung sangat terkejut.
Dia seolah tak percaya dan yakin jika Dinda bisa bermain piano. "Sejak kapan dia bisa bermain piano," Steve berkata ragu.
Namun Steve yakin jika Dinda bisa sekalipun dia tidak pandai memainkan sebuah nada-nada dari tuts piano itu.
Kali ini Steve harus terbungkam, sebab Dinda sebenarnya pernah bermain piano sejak kecil.
Dinda menekan nada piano pertama sambil berusaha mengingatkan nada-nada piano masa kecilnya.
__ADS_1
*Aku mencoba untuk menggapai mu, aku tidak bisa bersembunyi.
Seberapa kuatnya rasanya ketika kita menyelam.
Aku meng-arungi lautan pikiran ku.
Luka-luka ku akan sembuh dengan garam.
Kesadaran ku akan pulih.
Kapan pun kau dan aku, kita menyelam.
Namun pada akhirnya aku tenggelam.
Kau menenggelamkan aku ke dasar.
Semua rasa malu.
Ketika kau memanggil nama ku.
Aku merasakan sakit.
Saat kau datang.
Lirik terjemahan we can kiss forever*.
Semua orang bersorak pada Dinda. Termasuk Steve yang terus menggeleng kepala sambil menepuk-nepuk tangannya sekeras mungkin.
Semua orang terpukau pada Dinda yang mahir bermain piano. Serta suaranya yang lembut membuat para tamu undangan seperti sedang menyaksikan selebriti sedang manggung.
"Bagaimana kamu bisa memainkan piano dengan fasih begitu?" Steve penasaran. Dia ingin tahu dan menuntut penjelasan Dinda. "Aku belum pernah tahu kamu bisa melakukannya."
"Dulu aku pernah masuk klub musik, dan piano adalah salah satu favorit ku," jawab Dinda. "Aku sudah bermain piano sejak kecil, ayah yang mengajarkan aku," Dinda memberitahu masa kecilnya yang indah.
"Kamu begitu banyak rahasia," bisik Steve memuji. "Tidak salah jika aku menyukai mu," dia menggoda, Steve ahli dalam merayu.
Dinda tersenyum, dia menyukai pujian Steve. "Hanya bermain piano, bukan sesuatu yang aneh," jawab Dinda merendah.
Steve takjub pada Dinda yang ternyata memiliki bakat bermain musik. Dia tidak meragukan lagi wanita yang ia cintai. Steve seperti telah menemukan dunianya bersama dengan Dinda.
Percakapan kedua Steve dan Dinda di dekat panggung di sela oleh Alianor dan Qory. Mereka menghampiri keduanya.
"Wah...." Qory memberikan tepuk tangan pada Dinda. "Kamu berbakat sekali dalam seni. Memang sempurna sekali kamu sebagai seorang wanita," puji Qory.
Dinda tersenyum, dia menyukai kata-kata Qory. "Terima kasih atas ucapannya, aku merasa tersanjung."
"Bukan kata pujian semata, tapi memang kamu wanita yang sempurna di samping sisi cantik mu. Pantas saja wanita Asia selalu menjadi primadona," Qory menambahkan kata-kata manisnya. "Kalian berbudaya," tukasnya kembali memuji.
"Oh, dari pada berdiri seperti ini, lebih baik kalian makan dulu. Steve sepertinya melupakan diri untuk menjamu calon istrinya," Alianor mengingatkan, sambil mengeluarkan celetukannya.
Benar juga, pikir Steve dia hampir lupa bahwa Dinda pasti lapar di tengah acara seperti ini.
"Ayo kita cari makan," ajak Steve. "Kamu mau makan cake atau makan yang lainnya, biar aku ambilkan," Steve berinisiatif.
"Aku tidak begitu lapar, jus saja sepertinya cukup," balas Dinda sederhana.
"Hanya itu?" Steve memastikan.
Dinda mengangguk, dia tidak butuh yang lain.
"Oke, kamu tunggu di sini. Aku akan mengambilkan jus untuk kamu," kata Steve sopan.
Steve mengambilkan Dinda jus, tepat di dekat meja jus terdapat kue cake, Steve menjadi terpikat.
Karena kue yang terpampang di meja makan itu nampak cantik, terlebih rasanya pasti enak, Steve dengan tangan jahilnya mengambilkan satu piring kecil untuk Dinda.
"Kue ini rasanya sangat manis, kamu pasti suka," tawar Steve. "Aku menemukannya di meja makan," dia memberitahu.
"Tapi aku tidak begitu menyukai kue yang terlalu manis," Dinda mengelak.
"Kamu cicip saja dulu," paksa Steve. Dia menyuapi Dinda kue yang diatasnya terdapat toping buah ceri.
"Aku benar-benar harus jaga gula darah, kue ini terlalu manis," Dinda kembali membantah. Dia menolak suapan Steve.
Steve masih memaksa, dia ingin menyuapi Dinda. "Cicipi satu sendok saja, maka aku akan senang."
Paksaan Steve memang selalu tidak bisa di tolak. Dua kali Dinda berkilah, dua kali juga Dinda di paksa-nya.
"Oke, aku cicip, tapi kamu juga harus memakan-nya juga," tawar Dinda.
Steve mengangguk, dia setuju untuk memakan satu piring kue bersama. Steve menyuapi Dinda sedikit romantis. Dia tidak mau mengotori wajah kekasihnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG