UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 66


__ADS_3

Mengingat Dinda menyembunyikan Johan di rumahnya, Steve sejujurnya marah.


Dan di sisi lain, Steve tidak bisa melihat Dinda menangis walau dia sudah menjelaskan kebenaran ini.


Steve mengujinya, walau sejujurnya Steve tahu bahwa semalam dia melihat Johan datang ke apartemen Dinda.


Saat Steve ingin masuk ke dalam mobilnya, pria bernama Johan ini tiba-tiba keluar dari beberapa mobil yang meralat terparkir tak jauh dari mobil Steve'.


Tubuhnya sempoyongan, basah kuyup. Dia tertatih-tatih dalam berjalan. Johan terlihat sangat menyedihkan malam itu.


Kejadian semalam semuanya telah Steve saksikan, hanya saja dia tidak tahu bahwa semua akan terjadi seperti ini. Dia menyesalinya tadi, mengapa dia bersikap berlebihan.


Bukankah seharusnya dia percaya pada Dinda, tapi kenapa malah menyalahkan Dinda secara sepihak. Steve menggerutu, dia memukul-mukul kemudi stirnya berulang kali, dia melampiaskan kekesalannya.


"Sial!" Teriak Steve kesal. Dia masih terpikirkan pada kejadian tadi. "Benar-benar sial!" Steve kembali memekik kesal mendalam.


"Kenapa aku malah marah pada Dinda, padahal aku sendiri telah melihat kejadian sebenarnya," kata Steve menyalahkan diri sendiri.


Dia ingin menenangkan diri, Steve mengemudi mobilnya menuju kerumah. Dia ingin membebaskan semua pikirannya dari kekacauan ini.


Sementara Dinda yang nangis tersedu-sedu di apartemen, memikirkan juga kejadian tadi. Semuanya sudah terjadi, tidak bisa lagi di kembalikan ke semula. Seandainya waktu bisa di putar kembali, Dinda lebih baik tidak menolong Johan sama sekali dari pada harus membuat Steve marah.


Dinda bingung harus mengadu pada siapa. Tidak ada yang bisa memahami situasi sulit yang sedang Dinda hadapi.


Dari semua teman wanitanya, hanya Rina tempatnya mengadu berbagai keluh kesah. Saat ini Rina sedang cuti, jadi Dinda bingung harus mencurahkan isi hatinya pada siapa.


"Biasanya Rina akan ada selalu di sini, dia pasti akan menenangkan aku," Dinda mengomel. "Tapi sekarang, dia malah entah kemana."


Ucapan Steve yang mengatakan dia sebagai ******* tidak di masukan kedalam hati, hanya saja Dinda merasa bersalah saat tidak mengabari Steve bahwa Johan ada di rumahnya.


Nasi sudah menjadi bubur, tidak ada yang perlu di sesali. Dinda ingin menceritakan semua keluhannya pagi ini. Tapi pada siapa dia harus mengadu.


Namun entah kenapa, bayang-bayang Eva muncul dalam benak Dinda. Nama wanita itu terngiang dalam ingatan Dinda.


Dinda tidak tahu kenapa, bisa wajah Eva terlintas di otaknya. Teringat jelas bahwa Eva bisa membantu Dinda setiap Dinda sedang dalam situasi sulit. Dia selalu ada setiap Dinda butuh bantuan. Mungkin bukan masalah kalau Dinda menceritakan kisah ini pada Eva, Dinda ingin melakukannya.


"Iya, Eva," Dinda menjentikkan jarinya, dia semangat seperti memenangkan lotre.


Dinda menelpon Eva segera mungkin. Dinda mengajaknya bertemu di kafe dekat perpustakaannya, hanya dia yang bisa menjadi tempat mengadu saat ini.


Dalam teleponnya, Eva menuruti kemauan Dinda untuk bertemu di kafe. Eva berkata bahwa dia sedang senggang, jadi bisa bertemu dengan Dinda.


Sesuai dengan perjanjian mereka, Eva kini tengah menunggu di kafe. Eva melambaikan tangan saat Dinda telah tiba pintu kafe.


"Dinda, disini," teriak Eva.


Dinda menuju ke meja Eva, dia menarik kursi lalu duduk di dekatnya. "Kamu lebih cepat, dari yang aku bayangkan," ucap Dinda berbasa-basi. "Maaf ya Va, aku terlambat," ungkap Dinda merasa bersalah.


"Nggak masalah Din, toh aku juga baru sampai," kelakar Eva.


Di atas meja, Eva sudah memesan jus buah dua gelas. Dia berinisiatif membeli, terakhir kali pun Dinda yang membayarkan makan Eva di restoran Jepang. Hanya minuman, bukan sesuatu yang besar untuk di bayar.


"Ayo, bilang. Mau curhat masalah apa ini," Eva memulai pokok pembicaraan. "Kamu lagi terkena masalah apa? Coba ceritakan pada ku," pinta Eva.


"Aku mau curhat sedikit sih," balas Dinda. Dia mulai duduk santai sambil menaruh tasnya di atas meja. "Ini masalah sepele, nggak begitu penting."


"Iya, coba katakan apa masalahnya," Eva ingin tahu. "Masalah yang nggak penting itu, aku ingin tahu," Eva memaksa.


Dinda mengangguk, dia mulai berbicara. "Jadi begini, teman SMA ku baru saja bertengkar kecil dengan pacarnya. Karena ada kesalahan pahaman akhirnya pacarnya si teman ku itu pergi meninggalkan dia dalam keadaan marah. Kira-kira menurut kamu, harus bagaimana agar pacarnya tidak marah atau bagaimana agar mereka berbaikan," Dinda meminta solusi.


"Tunggu! Tunggu!" Eva mengangkat tangannya. Dia menghentikan sejenak bicara Dinda sebab Eva teringat sesuatu. "Teman SMA?" Eva curiga.


"Iya, teman SMA," jawab Dinda.

__ADS_1


"Teman SMA yang mana? Setahu ku teman SMA kamu hanya aku, Intan, Dwi, Indah, Tya, Jessy dan Jolane," Eva mengingat. "Jadi teman SMA kamu yang mana?"


Hanya itu yang Eva ingat, selebihnya dia berusaha mengingat lagi mungkin saja dia melupakan salah satu diantara teman-temannya.


"Bukan teman sekolah dari SMA kita, tapi dari sekolah lain," elak Dinda. "Dia tuh lagi bertengkar dengan pacarnya. Makanya aku tanya sama kamu, karena kamu ahlinya dalam berpacaran."


"Hei, memangnya aku master," celoteh Eva. "Sampai di sebut ahli segala."


"Seenggaknya kan kamu ahli dalam memikat pria," Dinda membual.


"Udahlah, jangan bahas para mantan ku yang nggak jelas itu," tepis Eva. "Kita bahas masalah teman kamu dulu," Eva berbaik hati dalam membahas pria.


"Jadi, kesimpulannya adalah setelah mendengarkan cerita kamu, aku bisa tahu," Eva mendetail. "Bahwa sebenarnya semua orang yang sedang dalam hubungan, jika bertengkar itu adalah suatu hal yang wajar. Aku saja dengan mas Dani selalu bertengkar, setiap saat," pungkasnya membandingkan.


"Jadi, kalau salah paham dalam suatu hubungan adalah sesuatu yang wajar gitu?" Dinda memastikan.


Eva mengangguk. "Yes, itu wajar," dia membenarkan kata-katanya.


"Terus, apa solusi terbaik agar mereka bisa baikan, sebab aku kasihan pada sahabat ku, dia sangat sedih saat ini," Dinda meminta solusi sambil mencurahkan semua apa yang ingin ia tanyakan.


"Solusinya adalah dari dua pihak saling mengalah," kata Eva. "Dengan begitu maka pertengkaran kecil ini bisa kembali membaik."


"Mengalah ya," Dinda menopang dagunya, mendongak wajah memikirkan kebenaran tentang kata mengalah ini.


"Kamu yakin jika itu solusinya," Dinda merengek. "Pihak cewek harus ngalah gitu sama si cowok?"


"Iyes," eva kembali mengangguk. "Bertengkar itu adalah hal wajar, sekali lagi aku katakan. Pertengkaran bisa selesai jika kedua pihak saling mengalah dan tidak memojokan pasangannya satu sama lainnya. Terlebih dalam rumah tangga, kalau suami istri bertengkar jika tidak menemukan solusi terbaik, ya jelas kedua pihak akan rugi. Inilah kenapa pasangan suami istri di Indonesia paling banyak bercerai di bawah umur tiga puluhan, ya itu tadi, karena mereka nggak mau mengalah," jelas Eva. Dia sedikit ahli dalam kisah romansa.


"Gini yah Din," Eva melanjutkan ucapannya. "Pasangan yang selalu bertengkar itu biasanya rasio tingkat kecintaannya melebihi mereka yang jarang bertengkar," detail Eva. "Jadi, bertengkar juga harus menemukan titik terang solusi penyelesaian, kalau tidak begitu, ya jelas teman kamu akan kehilangan pacarnya karena salah paham melulu."


Dinda mengerutkan keningnya, dia menelaah kata-kata Eva.


"Pokoknya, solusi terbaiknya adalah, mengalah. Jangan sampai karena ego masing-masing membuat suatu hubungan yang telah di bina menjadi retak begitu saja," saran Eva. "Ingat, membangun kemistri romantis itu nggak segampang membuat adonan kue putu. Kudu nyari yang pas, yang bisa memahami karakteristik pasangan masing-masing dan juga menjaga emosi. Itu adalah kriterianya," oceh Eva. Dia sangat semangat dalam mengaduk emosi.


Dinda tertegun, pikirnya benar apa yang di katakan Eva. Tidak ada salahnya jika sekali lagi dirinya meminta maaf pada Steve.


"Nggak apa-apa," jawab Dinda tersadar.


"Yakin?" Eva memastikan. "Atau jangan-jangan ini kisah cinta kamu sendiri, hayo ngaku, siapa pacar kamu," Eva menebak, dia menggoda Dinda agar mengatakan kejujuran.


"Apaan sih Va," Dinda mengelak. "Bukan aku kok, tapi teman ku," Dinda merona. Dia sedikit malu jika harus mengatakan bahwa itu adalah kisahnya.


"Ngaku sih, nggak apa-apa kok. Aku nggak bakalan bocor, aku pakai pelapis anti bocor nih," Eva memelas, dia berjanji, bahwa dia dapat di percaya.


"Nggak apa-apa, bukan siapa-siapa kok," Dinda kembali tak mau mengakuinya. Tapi wajahnya terlihat memerah.


"Ngaku aja sih, Pak Steve ya pacar kamu," Eva menebak. "Atau mas Rendy!"


Dinda yang tengah menyeruput jus buah langsung terbatuk kaget. Eva membuatnya hampir tersedak es.


"Jangan ngaco deh," Dinda tidak ada ubahnya menutupi hubungan mereka. "Aku nggak mungkin pacaran sama bos super galak. Mukanya aja sombong, seperti melihat apa gitu, menyebalkan."


"Kok aku rada curiga yah, sama kamu Din," ujar Eva mencecar. Eva menyipitkan matanya, melihat wajah Dinda dengan seksama. Dia berusaha membaca isi pikiran Dinda, seakan dia ahli dalam membaca pikiran.


"Curiga gimana," Dinda penasaran. "Sudahlah Va, kamu sudah seperti peramal, suka menebak saja," tukas Dinda mengakhiri bicara dewasa ini.


"Aku masih curiga kalau kamu dan Pak steve ada hubungan gitu?"


"Kebiasaan, kamu Va, suka buat gosip," Dinda menggerutu ketus. "Sudahlah, nggak usah di bahas lagi. Terima kasih untuk curhatnya pagi ini, sampai jumpa di kantor yah," Dinda beranjak, dia meninggalkan Eva sendirian di kafe.


Eva mengedipkan bulu matanya berulangkali. Dia berpikir Dinda agak aneh. Dinda terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Tapi Eva tidak tahu, apa itu yang di rahasiakan oleh Dinda.

__ADS_1


Di perjalan pulang, Dinda menyusuri lantai trotoar bercatkan kuning terang. Dia jalan sambil menundukan kepalanya sekaligus memikirkan kata-kata Eva tadi.


Sebagian besar apa yang Eva katakan ada benarnya. Mengalah, sebaiknya aku mengalah, minta maaf pada Steve dengan begitu dia nggak akan lagi marah pada ku. Dinda bergumam di sepanjang jalan.


Dinda berpikiran untuk kerumah Steve. Dia ingin meminta maaf, dan harus menyelesaikan masalah ini hingga tuntas.


Kesalah pahaman ini harus di akhiri secepatnya, Dinda tidak mau jika kesalahan ini menjadi makin runyam dan kacau.


Mungkin Tuhan memberkati langkah Dinda, dia di permudahkan dalam mengambil keputusan. Karena Dinda di takdirkan menuju rumah Steve, tanpa sengaja Dinda sudah dekat dengan busway.


Keputusannya bulat, Dinda harus ke rumah Steve, meminta maaf atas kesalahannya dan dengan begitu Dinda merasa akan tenang. Dia tidak perlu merasa bersalah lagi.


"Naik busway sebentar, pasti sampai di rumah Steve," pikir Dinda tak ada salahnya dia kembali menjelaskan apa yang terjadi tadi. "Ya, seharusnya begitu, kerumah Steve lalu meminta maaf dan menjelaskan kesalahan yang aku buat."


Akhirnya Dinda memutuskan pergi kerumah Steve, urusan pria itu masih marah padanya atau tidak, Dinda tidak ingin menebaknya. Dinda yakin, Steve kali ini pasti akan mendengarkannya. Dia pergi kerumah Steve, bahkan jika Steve tidak mau bicara padanya, Dinda tidak peduli.


Hingga tiba di rumah Steve, Dinda di sambut oleh paman Lu. Pria sepuh itu yang membukakan pintu untuk Dinda.


"Selamat siang paman lu," sapa Dinda ramah. Di depan pintu, Dinda tersenyum pada si tua.


Paman Lu juga menjawab dengan senyum hangat. "Nona Dinda, ada apa datang kemari," paman Lu berbasa-basi.


"Aku mencari Steve," jawab Dinda. "Steve nya ada?"


Tangan paman lu sedang memegang gagang pintu, sementara kepalanya menengok kedalam rumah. "Tuan Steve sedang berenang," Paman Lu memberitahu. "Sejak dia pulang tadi pagi, dia langsung berenang sampai sekarang tanpa henti."


"Dari pagi sampai sekarang?"


Paman Lu mengangguk. "Bahkan pelayan mengatakan bahwa dia sudah berenang bolak balik sebanyak ratusan kali tanpa henti."


Tanpa henti? gumam Dinda.


"Bolehkah aku masuk menengoknya, aku ingin bicara padanya," Dinda memohon. Dia sangat berharap bisa bertemu dengan Steve.


Wajah Paman Lu mengerut, dia berpikir sebentar. Paman Lu kembali menengok kedalam rumah wajahnya sedikit ragu untuk membiarkan Dinda masuk.


Namun Paman Lu membiarkan Dinda masuk siapa tahu Dinda bisa membantu.


Lalu Paman Lu berkata, "Baiklah Nona, anda bisa melihat Tuan muda," paman lu mengizinkan. "Tolong bujuk tuan muda agar tidak terlalu keras dalam berenang, aku takut dia cedera," paman Lu memohon.


"Aku akan membujuknya," Dinda mengangguk. "Paman tidak perlu khawatir, aku pasti akan membujuk Steve agar berhenti berenang," Dinda berjanji.


"Aku percayakan pada mu, Nona," kata paman lu penuh harapan.


Paman Lu menggiring Dinda ke kolam renang, Dinda mengikutinya. Sesampainya di kolam renang, dia ingin meninggalkan Dinda sendiri bersama Steve.


Dia tidak mau mengganggu mereka para muda mudi.


Untuk terakhir kalinya, Paman lu mengingatkan Dinda kembali.


"Nona, ingat. Bujuk tuan Steve agar tidak melakukan ini lagi, ini tidak biasanya terjadi," paman lu membisik, dia mengingatkan kembali, takut Dinda tidak menjalankan amanahnya.


"Memangnya ada dengan Steve jika dia berenang selama ini," Dinda ingin tahu, sepertinya ini kali pertama bagi Dinda tahu kebiasaan Steve.


Paman Lu memberi tahu. "Jika Tuan muda berenang dalam waktu yang lama, biasanya dia sedang dalam suatu masalah. Ini sudah terjadi sejak kecil, namun sejak beberapa tahun terakhir kejadian ini sudah tidak terlihat lagi," wajah paman ku terlihat mengerut khawatir. Dia sangat memperhatikan Steve, tuannya.


"Tapi hari ini kejadian ini kembali," lanjut paman Lu berkata. "Sejak masuk kedalam rumah, dia tidak berbicara pada ku maupun menyuruh. Biasanya dia selalu menyusahkan, tapi hari ini dia berbeda."


"Apakah itu sejenis trauma," Dinda penasaran.


"Sepertinya begitu," jawab Paman Lu. "Aku percayakan pada Nona agar membantunya keluar dari kolam, mungkin dia akan mendengarkan perkataan Nona," paman lu meminta.


"Aku akan lakukan," balas Dinda. "Aku janji."

__ADS_1


Paman Lu mengangguk, lalu dia meninggalkan Dinda sendiri. Paman Lu membiarkan Dinda membujuk Steve yang sedang dalam situasi emosional. Dinda mempercayakan hal ini pada Dinda.


BERSAMBUNG


__ADS_2