
Ting... Nung..... Ting..... Nung....
Lonceng elektrik di apartemen Dinda berbunyi berulang kali. Steve berdiri di depan pintu apartemen Dinda, kacamata hitamnya masih menyangkut di batang hidungnya.
Ia melirik sekeliling lorong apartemen Dinda tetapi kosong yang ia dapati.
"Mengapa tidak ada yang merespon suara bel listrik ini?" Steve sedikit heran.
"Apa mungkin rusak?" Tebaknya demikian.
Steve menurunkan sedikit kaca mata hitam yang tersangkut di matanya hingga ke pangkal hidung.
Matanya menyipit tajam menatap bel listrik berwarna putih polos itu.
Ia ingin memastikannya apakah bel itu rusak atau tidak. Steve mengulangi kembali tindakannya. Ia menekan kembali bel listrik apartemen Dinda dan berharap empunya merespon panggilan bel listrik itu.
Ting..... Nung.... Ting..... Nung.
Steve mengulanginya, namun masih sama? Tak ada respon dan Steve mulai menengok sekeliling lorong apartemen berharap ada yang bisa membantu dirinya.
"Ah... Bahkan tak ada satupun penghuni yang keluar dari tempat ini." Steve mulai merasa kesal.
"Mungkinkah dia sedang rekreasi liburan ke kebun binatang?" Steve menebak kembali.
Sekali lagi Steve mengulangi tindakannya menekan bel listrik apartemen Dinda hingga berulang kali tanpa jeda.
Dinding apartemen terbuat dari semen dan tertutup rapat oleh batu bata, seandainya jika dinding itu terbuat dari kaca mungkin mata Steve yang jeli akan mengintipnya dari luar. Steve biasa melakukan hal ini untuk memastikan ada tidaknya penghuni rumah.
Pintu apartemen Dinda tidak di buka, tetapi pintu apartemen yang ada di sebelah apartemen Dinda yang terbuka.
Cletek....
Suara gagang pintu berbunyi di ikuti gagangnya berputar. Seseorang sedang keluar dari tempatnya.
Steve melihatnya. Seorang wanita berbadan besar keluar dari balik pintu. Wanita berpakaian rapi, dengan tubuh di penuhi barang mahal. Mirip wanita Eropa, tetapi lebih identik dengan wajah khas wanita Jawa modern. Sejenis ibu Kartini pikirnya.
"Mencari Dinda?" Tanya wanita paruh baya ini secara singkat. Wanita ini terlihat awet muda, penampilannya modernitas tetapi sedikit di padu dengan gaya tahun delapan puluhan.
Ia menenteng tas di tangannya, sementara di lehernya tergantung kalung mutiara berwarna putih indah. Di depan pintu itu seraya bertanya dirinya sibuk memasang anting-anting yang senada dengan kalungnya. Kolektor mutiara, Steve berargumen sepihak.
Nampaknya ia mendengar berisiknya bel listrik apartemen Dinda yang ia tekan tadi tanpa jeda, sehingga memaksa dirinya keluar dari sarangnya terlebih dia adalah tetangga sebelah dinda..
Steve bersikap rasional dan sedikit mengatakan, "iya" dari mulutnya. Wajahnya datar, namun terlihat hangat, tak menampakan wajah introver sehari-harinya.
"Oh.... Begitu rupanya." Tukasnya singkat. Dari balik tubuhnya yang besar keluar seorang pria eropa dengan dagu di penuhi kumis tebal. Tinggi dengan perawakan rambut beruban putih, matanya biru mengenakan pakaian kasual.
"Ada apa honey?" Pria itu bertanya menyela seraya menutup pintu apartemen mereka. Ia bicara khas negaranya.
Dari logat dan gaya bicaranya, Steve bisa tahu bahwa pria itu adalah pria Jerman.
Steve menaikkan satu alisnya karena heran melihat dua orang itu.
"Oh tidak apa-apa sayang. Hanya pria asing yang mencari Dinda." Jelasnya singkat dan ramah.
Steve melihat tingkah dua orang itu terkesan romantis tetapi sedikit aneh di matanya.
__ADS_1
Wanita tua itu mengenakan pakaian serba pink dengan rambut di cepol bersanggul. Steve sedikit berpikir bahwa wanita itu ingin mengikuti sebuah parade atau Halloween, tetapi kurang menakutkan jika ia mengenakan pakaian merah muda itu.
Nampaknya mereka ingin pergi ke suatu tempat tapi tak tahu kemana? Yang pasti bukan pergi ke pesta Halloween, sebab bulan ini masih berada di zona Oktober tetapi masih tertahan di awal Agustus. Steve tak peduli pada tingkah mereka.
"Mari kita berangkat." Itulah ucapan suaminya yang terdengar terakhir di telinga Steve.
Pria itu berlagak sok romantis di usianya yang tak lagiagu muda bak pasangan suami istri yang kebetulan baru menikah. Pria itu menggandeng tangan istrinya dengan hangat, bagai bangsawan eropa abad pertengahan.
Pria non Indonesia itu memberikan lengannya pada sang istri. Wajah wanita tua itu nampak jelas terlihat sangat ke-indonesiaan. Steve bisa paham bahwa dia adalah wanita keturunan asli Indonesia.
Steve terpaku melihat tingkah keduanya. Aneh, tetapi Steve takjub sebab mereka pasangan yang serasi bahkan di usia yang sudah lanjut.
"Sebentar sayang, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada pria tampan itu," ucap wanita itu seraya menoleh ke arah Steve.
Steve bisa mendengar ucapannya yang mengambang terbawa alunan angin.
"Nak..... Jika kau ingin tahu dimana Dinda sekarang berada? Sebaiknya kamu pergi ke toko buku di seberang jalan sana. Hari Minggu seperti ini biasanya dia bekerja di toko buku tepat di seberang jalan apartemen ini," ucap wanita tua itu dengan ramah.
"Toko buku?" Steve mengulanginya.
Wanita itu mengangguk tanda mengiyakan ucapan Steve. Berat baginya untuk mengangguk sebab kepalanya besar berisi gulungan rambut yang menggumpal bulat kontras dengan tubuhnya yang lebar.
Steve berpikir sejenak menebak di mana toko buku yang di maksud oleh wanita ini.
Matanya bergidik melirik ke sana kemari seakan meminta otaknya menebak paksa.
Wanita tua itu sebelum pergi melihat Steve yang ia pikir nampak bingung atas ucapan dirinya tadi.
"Maksud ku, Dinda pemilik apartemen ini, jika Minggu seperti ini menjaga dan mengajar di toko buku tepat di seberang apartemen ini. Kamu bisa menemukan toko di seberang jalan di apit oleh dua gedung apartemen. Toko itu letaknya tidak jauh dari sini." Tukasnya bicara menjelaskan sedikit mendetail.
"Perlu aku menjadi tour guide mu?" Dia menawarkan diri.
Steve paham pada ucapan itu. Dan dia sedikit mengucapkan terima kasih atas informasi yang di berikan wanita itu.
"Terima kasih atas bantuan anda nyonya. Kalau begitu aku permisi dahulu." Ucap Steve dengan wajah datar nan ramah mendahului mereka. Tak tahan baginya jika berlama-lama bersosialisasi dengan orang lain.
Steve bukanlah tipe sosiopat, namun ia lebih suka bicara sekenanya. Jika hal yang di bicarakan di anggapnya tidak begitu penting maka ia akan menutup pembicaraan itu sesingkat mungkin.
Filosofi-nya adalah, "Waktu adalah uang, dan uang adalah pedang."
Ya, mungkin ini sesuai dengan karakteristik Steve yang tak suka basa-basi.
Pria dan wanita yang berdiri di lorong apartemen ikut tersenyum hangat bahkan ikut bergairah saat mendapati Steve berlari dengan semangat menemui wanitanya.
"Dasar masa muda. Penuh dengan cinta." Wanita itu menghirup nafas panjang lega bisa membantunya.
"Apakah kamu ingin bernostalgia saat melihat anak itu," suami yang berdiri di sebelahnya menggoda.
Nyonya berbaju pinky itu memukul lembut suaminya. Tak tahan di goda. "Cukup hidup tua dengan mu, aku merasa senang."
Suaminya bergidik tersenyum, lalu mereka ikut mengekori Steve meninggalkan lorong apartemen yang sepi ini.
****
Di halaman apartemen, lebih tepatnya di parkiran apartemen yang terpajang banyaknya mobil mewah bagai showroom mobil, Steve berdiri di antara beberapa mobil yang warnanya beragam. Ia bermaksud mencari toko buku yang di maksud oleh wanita tua tadi.
__ADS_1
Tampak bingung bagi Steve untuk mencarinya, namun karena tekadnya ia tak perduli apapun yang terpenting menemukan tempat itu.
Ia mengikuti arahan dari wanita tua dan masih hangat dalam otaknya ucapannya tadi. "Tepat di depan gedung apartemen, di seberang jalan disana letak toko buku itu."
Steve ingat pada ucapan wanita itu. Seolah bagai seorang detektif matanya mencoba menyusuri setiap sisi gedung yang ada di seberang jalan apartemen yang baru saja ia beli itu.
Gedung-gedung tinggi, hanya itu yang ia lihat. Dua buah menara menjulang tinggi berdiri tepat di seberang jalan. Dimana di tengahnya ada bangunan yang di apit oleh gedung itu.
Steve melihatnya, dan satu-satunya gedung kecil yang terapit oleh dua gedung. Dan di atas toko tersebut terdapat papan nama toko buku.
Steve yakin bahwa itu adalah toko yang di maksud oleh wanita tua tadi.
Steve semangat saat melihatnya.
Gedung bercat cokelat delfy dan bergaya modern. Unik dan sedikit kekinian.
Steve yang berada di sisi lain jalan, dengan antusias menghampiri toko buku yang di sebut oleh wanita tua tadi.
"Inikah toko buku yang di maksud wanita tadi?" Steve bertanya pada diri sendiri.
Seolah belum yakin, ia mendongak kepalanya menatap papan nama yang menggantung di atas pintu toko.
Papan nama yang di buat dari kayu dan di ukir dengan ukiran tangan penuh kedetailan dalam mengerjakannya. Luar biasa seniman yang mampu mengukir dengan indah papan nama itu. Maestro, pikir Steve begitu.
Dari luar toko, Steve yang mendongak kepalanya melihat papan nama toko tersebut, menurunkan pandangan ke atasnya lalu menatap wajah toko dengan seksama.
Dinding kaca yang tebal menyelimuti toko, serta tulisan-tulisan dan stickers menghiasi dinding kaca toko ini.
Di depan toko terpajang berbagai bunga indah dan tepat di dekatnya ada beberapa meja bundar seperti yang ada di kafe terbuka, lazim ia saksikan di kota new York. Kafe minimalis tetapi di buat dengan konsep milenial.
Jumlahnya tiga meja dan dua belas kursi serta berpayung lebar tertancap di tengah meja. Pelangi, itulah warna payung yang mengembang lebar tersebut.
Steve sedikit bernostalgia seakan dia mengingat kembali kisahnya saat di menjadi mahasiswa di Eropa.
Tangannya yang putih dan halus bahkan bebas bulu, mulai terulur menarik Grendel toko berwarna perak.
Yakin tak yakin saat Steve menebak toko buku ini. Tetapi hatinya berkata bahwa inilah toko tersebut.
Steve memberanikan memasukan seluruh tubuhnya kedalam toko yang interiornya sangat indah dan di dekorasi seindah mungkin.
Untuk pertama kali matanya memandang dan menyapu seisi ruangan, dan tidak memperhatikan siapa pun didalamnya kecuali semua buku yang tertata rapi di rak-rak khusus.
Hingga saat telinganya mendapatkan sapaan hangat nan ramah dari pemilik toko yang ia pikirkan memang pemiliknya.
"Selamat datang!" Ucapan itu pertama kali muncul saat dirinya masuk dalam toko tersebut.
Ramah dan lembut, itulah yang Steve rasakan.
Ia memberikan senyuman ramah saat penjaga toko itu menyapanya.
Dan tampan serta masih muda, itu yang Steve lihat.
Tetapi, Steve, sadar pada satu hal. Sadar saat ia melihat wajah penjaga toko yang ia kenali itu.
"Kau!" Pekik Steve dengan nada rendah. Kaget dan terkejut Steve merasakannya saat menyadari hal itu.
__ADS_1
Matanya terbelalak membesar saat mendapati wajah anak yang ia kenali.
BERSAMBUNG