
YANGPU BRIDGE, SHANGHAI. 8.37 PM
Byur.... Rasanya masuk kedalam air yang dingin dan gelap membuat nyawa Stevie sudah di ambang pintu surga dan neraka.
Tidak tahu ada di fase mana dia berada. Namun di tempat yang hanya terlihat cahaya putih ini, dia kehilangan arah. Rasanya dia butuh seseorang yang bisa membantunya keluar dari tempat yang membuatnya kebingungan.
Namun itu hanya bayangan semu. Nyatanya, tak akan ada yang menyelamatkannya dari kematian.
Sebelum tubuh Stevie masuk kedalam air, matanya yang sempat terpejam bahkan sudah berlinang air mata. Tadi dia sempat merasa ada yang memegang pinggangnya bahkan memeluknya. Stevie juga merasa kalau bibirnya yang ranum di kecup oleh bibir yang hangat.
Stevie tidak tahu pasti, apakah itu hanya imajinasinya saja atau bukan. Sampai dia masuk kedalam air, matanya masih enggan terbuka.
Dia tidak berani menatap masa kelamnya. Di dalam air, kulit bersihnya terasa di tusuk oleh ribuan jarum. Begitu dinginnya air, sampai-sampai membekukan jantung dan seluruh organnya.
Di tempat yang dingin ini, Stevie sedikit merasakan kehangatan dari seseorang. Ketika membuka matanya, Stevie sudah mendapatkan pria yang dia hindari mengecup lembut bibirnya.
Matanya membesar, ketika kedua mata itu saling berpandangan, bibir saling berdekatan.
“Kenapa. Kenapa dia melakukannya untuk ku.”
Jackson memeluk erat Stevie, rasanya dia tidak ingin kehilangan wanita ini. Beberapa saat setelah mencium Stevie, Jackson memeluknya lagi. Di dalam air yang dingin ini, dia terlihat bahagia ketika Stevie baik-baik saja.
°°°°°°°°°
Napas yang terengah-engah karena di tahan untuk waktu yang lama, membuat Jackson hampir mati di dalam air. Beruntung, sesaat setelah mencium Stevie, gadis itu tidak berontak. Bisa-bisa dia akan terjatuh lebih dalam lagi ke dasar sungai.
Jackson berusaha memberikan napas buatan. Gadis itu pingsan, sesaat setelah dia membuka matanya. Di pinggir sungai, Jackson amat telaten memberikan pertolongannya pada Stevie.
Sesaat kemudian, Stevie terbangun. Air yang menyembul dari mulutnya tidak terlalu banyak.
“Vie.”
Suara pertama itu agak mengganggu gendang telinga wanita ini. Namun dia sudah sadar sepenuhnya.
“Jackson!”
Pria itu mengangguk. “Iya. Ini aku.”
“Kamu....”
Jackson langsung memeluk Stevie—ketika wanita itu mengembuskan banyak pertanyaan untuknya.
“Jangan lakukan lagi hal-hal gila seperti ini kedepannya. Aku janji, setelah ini, kita tidak akan bertemu lagi. Aku akan menghilang dari hidup mu.”
Deg.... Stevie membulatkan matanya. Di pelukan pria ini, entah kenapa dia merasa tersentuh atas ucapannya yang baru saja dia katakan.
“Jackson.....”
“Iya. Itu janji ku vie.” Pria ini mengakhiri pelukannya, lalu menatap Stevie dengan intuisi yang dalam.
“Kamu yakin berkata begitu.”
Jackson mengangguk. “Aku tidak mau kamu tertekan karena ku. Oleh karena itu, aku akan mengakhiri semua ini. Aku harap, kamu bisa menemukan kebahagiaan yang benar-benar kamu impikan.”
Kata-kata itu, sungguh telah menusuk sukma Stevie. Merenggut jantungnya, meremat paru-paru. Bahkan telah meretakkan ginjalnya.
Stevie menangis, dan ini baru pertama kalinya dia menangis—tepat di hadapan pria ini.
“Hei. Vie. Jangan menangis.” Jackson berusaha menenangkannya. Dia ingin menjadi pria baik, bukan sebagai pria pemaksa. “Aku sudah memikirkannya dengan baik-baik. Kamu layak bahagia. Aku tidak akan memaksa kamu lagi untuk menikah dengan ku. Aku pria egois, kamu tidak layak bersanding dengan ku.”
“Tapi tidak dengan cara ini!”
Jackson membesarkan matanya, dia menatap wanita yang berkata menggantung ini.
“Apa maksudnya?”
Stevie mendorong tubuh Jackson hingga mengguling di tanah. Lalu Stevie ada di atas tubuhnya, kemudian Stevie, entah kerasukan setan apa. Dia langsung menghabisi bibir Jackson.
Jackson terperangah kaget. Serius? Mungkin dia akan mati mendadak kala Stevie memperlakukannya dadakan.
Stevie menggigit gemas bibir Jackson, hingga pria ini tidak berkata lagi. Justru dia menikmati setiap belaian lembut dari bibir wanita yang dia puja ini.
Dingin malam, tidak terasa bagi keduanya. Mereka saling balas membalas ciuman, yang membuat keduanya menikmati kehangatan masing-masing.
“Aku akan menikahi mu,” lirih Stevie membisik.
“Vie....”
“Aku membalas cinta mu!”
“Hah?”
“Aku membalas cinta mu!” kembali Stevie membisik. Mengulangi ucapannya tadi, dia tidak canggung.
“Kamu?”
“Aku yakin dengan ucapan ku!”
“Seriusan?” Jackson berkata sekali lagi. Dia belum yakin dengan ucapan Stevie.
Stevie yang ada di atasnya mengangguk. “Aku akan menikahi mu. Aku berkata jujur.”
“Vie.....”
“Jangan buat aku mengulangi lagi ucapan ku.”
Ini yang Jackson harapkan. Jawaban pasti dari Stevie. Tidak. Ini tidak cukup membuat Jackson bahagia. Dia berusaha menahannya. Atau tidak, kentara sekali kalau dia belum bisa melepaskan Stevie sepenuhnya tadi.
“Terima kasih....”
__ADS_1
“Aku yang seharusnya berkata seperti itu,” Stevie menginterogasinya.
“Kamu...... Hemph.....”
Stevie kembali meraup bibir Jackson. Dan pria ini hanya terdiam. Stevie sangat buas, ngeri sekali rasanya di cium oleh wanita ini.
Dari atas jembatan, dari udara, dari pinggir sungai di atas tebing. Sorot lampu menerangi mereka. Sesaat setelahnya, ada suara teriakan dari atas.
“Kami telah menemukan mereka!”
Dan jelas, pengganggu ini adalah tim kepolisian atau tim rescue yang mencari mereka. Oh, Jackson tahu. Pasti Steve yang melakukannya.
Pada akhirnya malam itu menjadi sesuatu yang berakhir tak spesial. Buruknya bagi Stevie, dia mengakui perasaannya karena tersentuh oleh ucapan melow.
°°°°°°°°°°°°
Usia Iqbal sudah memasuki satu tahun dua bulan. Si kecil sudah bisa berjalan. Tapi sayang, kalau Iqbal tidak bisa bekerliaran bebas di dalam rumahnya.
Kalian tahu, si Ayah muda—Steve. Dia sangat membatasi pergerakan sang anak. Alasannya simpel, pria ini tidak mau anaknya kenapa-kenapa. Bahkan ketika di kamar mereka di lantai atas, dia memasang pagar di antara anak tangga. Dia tidak mau si kecil terjatuh.
Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana si kecil sangat aktif. Berjalan merangkak ke bawah, dan untunglah anak ini selamat dari kecelakaan fatal. Bisa-bisa dia terjatuh menggelinding ke bawah.
“Sayang. Sudah jam delapan. Ayo cepat keluar!”
Lagi dan lagi. Dinda harus berteriak dari dalam kamarnya. Matanya lelah menunggu anak dan Bapak itu mandi berjam-jam.
Dan seperti biasanya. Dinda harus menurunkan ego. Kalau sebelumnya dia enggan masuk kamar mandi jika Steve ada di sana, kali ini dia tak bisa menahan diri untuk tidak masuk.
“Kalian kenapa mandi begitu lama sih!”
Dinda seperti tidak hapal saja. Kalau Steve yang mengajak anaknya mandi, pasti bawaanya amat lama. Dinda ingin meringis menangis, tangan putranya sudah kedinginan namun masih di paksakan mandi—walau airnya hangat.
“Kamu lihat. Tangan Iqbal sudah keriput. Kenapa kamu memperlakukan putra ku seperti ini. Hiks. Kamu membiarkan putra ku kedinginan.”
Steve terkekeh, alih-alih merasa bersalah membuat putranya dingin kegirangan dalam air, Justru dia merasa berbangga hati.
“Iqbal tidak mau beranjak dari bak kecilnya, saat aku mengajaknya keluar. Sungguh, dia bahkan memegang erat di pinggir kolam kecilnya.”
“Bohong,” tandas Dinda. “Kamu pasti beralasan kan. Biasanya begitu, kamu yang mengajaknya berlama-lama di kamar mandi.”
Steve cengengesan, kekehannya kali ini terlihat memaksa. Apalagi sang Ibu dari putranya sudah berang.
“Iya deh aku ngaku aku salah. Kita keluar sekarang.”
Terpaksalah Steve meninggalkan kamar mandi. Badan yang telanjang itu, seperti tingkah biasanya. Meminta di handuki oleh Dinda. Bayi besar dan bayi kecil itu makin manja.
Si kecil mengerang dan menjerit. Dia sepertinya tidak rela meninggalkan tempat bak kecilnya yang berisi bebek. Tidak peduli tangan mungilnya sudah keriput, Dinda membawanya keluar.
“Aku pakai baju apa hari ini?” tanya Steve pada Dinda.
Dia seliweran di depan Dinda, telanjang bulat. Dinda sudah biasa melihat suaminya telanjang, bahkan handuknya saja di lempar sembarang ke keranjang baju kotor.
“Seperti yang kamu minta semalam. Pakai batik.” Dinda menunjuk baju yang terlipat sempurna, di atas kasur.
“Aku kira kamu tidak membawa batik ke sini.”
Seingat Dinda memang seharusnya dia membawa batik itu. Batik yang di pakai Steve, sama dengan batik yang akan di pakainya dan Iqbal.
Karena mereka beli khusus untuk keluarga kecil. Kemarin juga, sekitar beberapa bulan yang lalu. Ketika menghadiri acara pernikahan Vanya dan Zico, Iqbal dan kedua orang tuanya berpakaian senada. Baju batik—adalah pilihan sempurna.
Ketika menghadiri acara-acara kekeluargaan lainnya di China, Steve, Dinda dan putranya juga yang paling menonjol—lantaran menggunakan batik.
Iqbal sudah di pakaian Dinda baju batik juga. Dan anak itu nampak girang, bahkan sudah hilir mudik di kamar. Semenjak bisa jalan, anak itu makin aktif. Mengacak-acak tempat riasan Dinda, dan Minggu lalu memecahkan foundation termahal yang pernah Dinda miliki. Untung kamar di kunci, atau anak ini akan lari-lari ke anak tangga.
Dinda membantu Steve, mengancing batiknya—yang nampak membuat suaminya makin tampan.
“Kamu sangat gagah menggunakan batik ini. Seperti aktor favorit ku.”
“Siapa?” tanya Steve.
“Aktor Tiongkok yang kemarin main drama remaja.”
“Oh si DW.” Steve menebak.
Dinda mengangguk. “Dia tampan. Tapi suami ku jauh lebih tampan.”
“Cih. Baru mengakui.”
“Iya. Habisnya kamu banyakan ngeselin ketimbang tampannya.”
Steve mendengus terkekeh geli. Jika tidak ingat hari ini adalah pernikahan Stevie, pasti dia sudah membawa Dinda ke hotel mewah. Bisa jadi membuat anak kedua.
Selesai membantu Steve mengancing baju batiknya, dia menyemprotkan parfum ke pakaian sang suami.
“Orang-orang di sini pasti akan bingung kita pakai baju apa,” kata Steve pada Dinda—Yang membuat istrinya terpaku pada kejadian saat orang-orang memperhatikan keluarga kecil ini berpakaian nampak aneh di mata orang asing.
“Seperti kejadian beberapa bulan yang lalu?”
Steve mengangguk. “Padahal datang ke pesta pernikahan menggunakan batik sangat bagus.”
“Iya sih. Tapi kan mereka tidak paham kultur Indonesia. Jadi kita maklumi saja.”
Biasanya sih, kalau mereka sudah hadir di berbagai acara keluarga. Pasti sanak saudara mereka bertanya-tanya. Baju apa yang mereka kenakan. Dengan senyum sumringah, Dinda menjawab baju batik.
Banyak yang terpukau, apalagi corak batik amat keren. Bahkan kalian tahu, karena baju mereka yang OOTD, membuat orang-orang dari kelas desainer tertarik membuat baju dari batik.
“Kamu tahu. Bahkan Nelson Mandela pun menggunakan batik sebagai pakaian resminya di acara-acara besar,” kata Steve memberitahu. “Termasuk hadir di acara resmi PBB.”
“Siapa itu Nelson Mandela?” tanya Dinda.
__ADS_1
“Presiden Afrika Selatan.”
Oh Dinda tahu orang itu. Pria kulit hitam yang mencintai batik. Dinda pernah mendengar berita itu.
Love Indonesia.
°°°°°°°°°°°°°
Benar saja. Ibu, bapak dan anak yang memakai batik itu menjadi pusat perhatian orang-orang di acara pernikahan Stevie dan Jackson. Anehnya, tatapan itu seakan membuat decak kagum.
Dinda dan Steve naik ke pelaminan tempat Stevie berada. Stevie terlihat amat cantik, dengan gaun pengantin yang menjuntai indah ini.
Mereka menikah di ballroom hotel milik keluarga Jackson. Tempat terbaik untuk mengadakan acara pernikahan.
“Kak. Selamat ya sudah menikah. Semoga kak Stevie bahagia kedepannya,” kata Dinda sumringah ikut gembira.
Stevie tersenyum. “Terima kasih atas ucapannya.”
Mereka berdua berpelukan. Setelah itu, melihat Iqbal di pelukan Ayahnya. Mulailah, sikap jahil Stevie. Dia mencubit pelan pipinya, kegemasannya pada Iqbal mungkin akan terbayar kala dia memiliki putra sendiri.
“Sekarang Tante sudah menikah. Ini pasti karena doa kamu sayang. Hiks.”
Melihat Stevie terharu, Iqbal malah menangis—membuat Steve menjauhkan putranya dari Stevie.
“Kakak pengaruh yang buruk.”
“Sial.”
Dan begitulah akhir dari kehidupan Stevie. Jadi buronan sang Ayah, akhirnya menjadi istri sahabatnya sendiri.
Usai mengucapkan selamatnya pada Jackson dan Stevie, Steve mendatang sang Ayah yang tengah berbincang dengan banyak tamu.
Di sana ada sang Ibu, juga nenek.
“Pa.”
“Hei. Nak.” Pria paruh baya itu berbalik badan, setelah itu dia memeluk Steve.
“Akhirnya keinginan Papa terwujud.”
“Itu semua karena kalian yang membantu. Jika tidak, bisa-bisa kakak mu jadi wanita tua kalau terus menghindar dari papa.”
“Papa,” Steve memperhatikan wajahnya. Wajah tua yang menghiasi rasa kebahagiaan lantaran putra dan putrinya saat ini sudah menikah.
Pria tua itu menoleh. Raut wajah itu terlihat sumringah. “Kamu tidak perlu memikirkan Papa lagi. Papa baik-baik saja sekarang.”
Sang Ayah tahu, tatapan sendu dari anaknya—dapat di pastikan kalau dia sedang memikirkan pria tua ini.
“Apakah Papa bahagia?” tanya Steve.
Tuan Wong mengangguk. “Jauh lebih bahagia dari saat ini. Apalagi sekarang Papa memiliki cucu yang tampan. Rasanya masa tua Papa makin sempurna.”
°°°°°°°°°°°°°
Steve membawa Dinda ke balkon atas, meninggalkan acara pernikahan Stevie. Si kecil di ambil oleh Kakeknya, jadi mereka memiliki waktu berdua.
Di hotel ini, para tamu di sediakan tempat istirahat masing-masing. Dan Steve menggunakan salah satunya.
“Ada apa membawa ku ke kamar?” tanya Dinda.
“Sudah lama tidak berduaan seperti ini. Bisakah aku meminta sesuatu?”
“Tentang?”
Steve mendekati Dinda, lalu menyergap-nya dengan pelukan. “Aku rindu masa berdua.”
“Di bawah sedang ramai. Pernikahan kak Stevie belum usai.”
“Bodoh. Kamu tidak memperhatikan aku.”
Dinda mengerjapkan alisnya, Steve aneh.
Terlihat, suaminya ini memijat kepalanya, sepertinya dia sedang dalam masalah berat.
“Kamu nggak apa-apa kan?”
Steve men-decak, tangan kiri Dinda dia tarik kasar, lalu menempelnya di kening Steve.
“Aku sakit hari ini. Dan kamu malah tidak menghiraukan aku!”
“Ah iya. Badan kamu panas.”
Steve duduk di pinggir ranjang, dia terlihat lesu. Sementara Dinda mencari sesuatu yang bisa di pakai untuk menurunkan panas suaminya ini.
Untung ada alat kompres, jadi Dinda mengompres Steve dengan air hangat.
“Maaf. Aku kira kamu meminta itu.”
Steve yang merebahkan badannya, merespon lesu. Matanya terpejam, namun tangannya erat memegang tangan Dinda.
“Di sini saja. Jangan kemana-mana. Aku tidak mau istri ku pergi.”
“Aku tidak kemana-mana. Aku akan tetap di sini.”
Steve menarik Dinda, lalu menidurkan di dadanya. Dinda merasakan degup jantung itu. Ini hari pertama Dinda melihat suaminya demam sejak pertama kali bertemu.
“Karena sering mandi kelamaan. Kamu jadi demam. Lain kali mandinya harus cepat, biar nggak seperti ini lagi.”
Dinda mengoceh, Steve mana peduli. Pejaman mata itu tidak menghiraukan ucapan Dinda.
__ADS_1
“Kalau aku tidak sakit seperti ini, apakah kamu mau memberikan aku sebuah layanan super.”
“Nggak,” hardik Dinda. “Mana bisa aku melakukannya. Dasar mesum.”