
Kejadian empat belas tahun yang lalu, di mana Dinda masih mengingat semua kejadian itu.
Dinda saat itu masih sangat kecil. Dia berusia sembilan tahun dan masih imut untuk di manja.
Tepat di hari pembagian nilai hasil belajarnya, Dinda pulang dengan wajah bahagia mengembang di wajahnya dan ingin segera memberikan kejutan pada ibunya.
"Ibu, Dinda dapat rangking pertama lagi Bu!" Teriak Dinda dari depan pintu.
Dia berlari menuju ibunya yang sedang memasak di dapur. Wajah Dinda kecil amat girang saat itu.
"Putri ibu memang yang paling pintar." Ibu Dinda membalas kebahagiaan Dinda kecil dengan sebuah pelukan hangat.
"Bu, seperti kata ibu. Kalau Dinda kembali jadi juara kita akan liburan kan sama ayah. Ibu nggak lupa kan sama janji ibu." Dinda kecil mengingatkan kembali ibunya pada janji yang pernah ibunya katakan.
Ibu Dinda dengan senyum berseri tidak melupakan apa yang pernah ia ucapkan. "Tentu saja sayang. Mana mungkin ibu lupa pada rencana kita." Ibu Dinda merasa sangat bahagia saat putrinya kembali berprestasi. Ia mengelus rambut putrinya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Kita akan liburan akhir pekan ini. Jagoan ayah pasti gak sabaran mau main di pantai, terus main basah-basahan." ayah menyahut percakapan keduanya sembari mengambil minum di kulkas.
"Iya yah. Dinda mau main rumah pasir dan buat istana. Terus ayah dan ibu jadi raja dan ratunya." Timpal Dinda bersikap manja pada kedua orang tuanya.
"Lalu adik Dinda jadi apa?" Ayah bertanya menggoda putri kecilnya saat itu yang sedang mengganggu ibunya memasak.
"Adik.... Mereka.... Mereka akan jadi pangeran Miko dan Niko." Celetuk Dinda bersemangat.
Jelas melihat tingkah imut Dinda kecil saat itu membuat keduanya tergelak tertawa bahagia. Mereka amat senang mendapatkan putri yang begitu ceria nan menawan.
Usia Dinda masih sembilan tahun kala itu. Kebetulan Dinda memiliki dua adik kembar yang masih berusia tiga tahun.
Sesuai janji ibunya, Dinda, ayahnya beserta kedua adik kembarnya Miko dan Niko pergi berlibur di pantai jika Dinda berhasil mendapatkan prestasi seperti sebelumnya.
Dinda adalah gadis cilik yang menyukai sesuatu yang berhubungan dengan pantai. Dia paling antusias jika ibu dan ayahnya membahas liburan ke pantai.
Dinda dan keluarganya berlibur di pantai yang memang banyak pengunjung. Saat itu Dinda lebih suka menghabiskan waktu bermain air sendiri. Sedangkan ayah dan ibunya menyaksikan dia dari jauh sembari mengurus kedua adiknya.
"Jangan main terlalu jauh dek. Main dekat-dekat sini saja." Teriak ayah Dinda memperingati Dinda.
Dinda amat riang saat itu, seolah tidak terjadi apa-apa dia menyahut ayahnya sok dewasa. "Dinda nggak apa-apa kok ayah. Dinda disini berenang bareng banyak orang."
"Anak itu. Tingkahnya makin membuat ku khawatir saja." Gerutu ayah sebal.
Ibu Dinda memahami situasi ini. Dia menepuk pundak suaminya agar tidak terlalu berpikir seperti itu. "Ayah yang sabar. Kita kan jarang main-main ke pantai. Biarlah Dinda kecil main sepuasnya selagi kita bisa memberikan apa yang dia inginkan."
Ayah Dinda tidak membantah lagi. Dia menggelengkan kepalanya karena Dinda begitu keras kepala. Bahagianya mengalahkan peringatan dari ayahnya saat itu. Bahkan ibunya saja satu jalur pada diri anaknya.
Senyum Dinda amat merekah saat bermain basahan di air yang rasanya begitu asin. Dinda berenang di sekitar bibir pantai yang tidak jauh dari ayah dan ibunya.
Hingga tanpa sadar, Dinda terbawa oleh gelombang pantai yang tidak terlalu besar. Yah walau tidak besar tapi itu cukup membuat tubuh kecil Dinda tergulung oleh gelombang itu.
Kedua orang tua Dinda tidak sadar jika Dinda menghilang apalagi suasana pantai ramai. Ibu dan ayahnya asik bermain bersama si kembar kecil sementara semua orang juga tidak melihat jika ada anak yang bermain di bibir pantai walau suasananya ramai.
Malang bagi Dinda karena dirinya harus tenggelam dalam gulungan ombak. Dia berusaha keluar dari ombak yang menyapu bibir pantai itu tetapi apalah daya bagi Dinda. Tenaganya tidak terlalu kuat untuk berenang, terlebih dia tidak mahir dalam berenang.
"Ibu.... Ayah....." Teriakannya sangat kecil sehingga siapa saja mungkin tidak akan mendengar suara bocah lugu itu.
Sementara ayah dan ibunya tidak melihat Dinda yang sudah tenggelam sebab perhatian keduanya teralihkan pada adik-adiknya yang menggemaskan.
__ADS_1
Dinda kecil saat itu masih polos. Dia belum mengerti apapun bagaimana caranya berenang walau dia menyukai pantai. Namanya juga anak-anak, mereka tidak tahu bagaimana bersikap menghadapi situasi seperti ini.
Dinda tidak bisa bernafas lagi di dalam air bahkan dirinya sudah meminum begitu banyak air laut.
Tubuh kecil itu perlahan tenggelam sementara tangannya yang melambai-lambai di permukaan air kini mulai melemah. Tidak ada suara lagi yang keluar dari mulutnya. Kini seluruh tubuhnya sudah tenggelam lenyap di telan birunya air laut.
Tetapi di saat yang bersamaan seorang anak lelaki membantunya terbebas dari maut. Entah dari mana dia datang, yang pasti anak itu pandai dalam menyelam. Dia membantu Dinda keluar dari air yang lumayan dalam.
Anak itu lalu membawanya ke pinggir pantai. Dia membaringkan Dinda di pasir putih. Sementara tempat anak itu menyelamatkan Dinda lumayan jauh dari keramaian pengunjung pantai. Karena ombak membawa Dinda jauh dari keramaian pengunjung.
Dinda sudah begitu banyak menelan air laut sehingga untuk sesaat dia tidak bernafas. Namun anak lelaki yang telah membantunya tadi tahu cara menyelamatkan seseorang yang tenggelam. Dia tidak panik menghadapi keadaan seperti ini karena denyut nadi Dinda masih berdetak.
Dia menekan bagian dada Dinda. Namun Dinda tidak sadarkan diri. Lalu anak ini berinisiatif memberikan nafas buatan untuk menyelamatkan Dinda. Berulang kali dia melakukannya Dan dia yakin jika Dinda bisa selamat. Walau dia bersusah payah, akhirnya pertolongan yang dia lakukan membuahkan hasil. Dan seketika Dinda tersadar dari pingsannya.
Uhuk.... Uhuk....
Dinda terbatuk sembari menyembulkan air keluar dari mulutnya. Anak yang membantu Dinda merasa lega jika Dinda tidak mengalami luka apapun dan sekarang sudah sadarkan diri.
Dia tersenyum ramah pada Dinda dan sesaat anak ini duduk di sebelah Dinda.
"Kamu nggak apa-apa kan?" Bocah kecil ini bertanya sedikit khawatir pada keadaan Dinda.
Dinda mengangguk. Sembari matanya melihat seksama wajah anak yang menolongnya itu. Dalam ingatan dinda dia tampan dan putih. Dinda juga ingat jika anak itu mengenakan kaus lengan pendek berwarna putih dan celana pantai berwarna hitam serta mengalungi kamera di lehernya.
Dinda melihat seluruh bagian tubuh anak yang menolongnya itu. Dia tidak ingin melupakan sejengkal pun dari wajah itu. Alisnya, bulu matanya, mata, hidung bahkan rambutnya semua Dinda ingat bagian terpenting dari wajah anak itu.
"Kak, terima kasih ya telah membantu ku." Dinda menyeringai sembari tersenyum manis.
"Iya... Asal kamu nggak apa-apa aku akan senang membantu mu." Dengan senyum ramah bocah pria ini terlihat sangat bersahabat.
"Oh iya, nama ku dinda. Nama kakak siapa?" Dinda bertanya sembari mengulurkan tangannya.
Bocah pria yang ada di hadapan Dinda sedikit ragu untuk bicara. Dinda mengulangi ucapan tadi sembari mengayunkan kembali tangannya untuk berkenalan.
"Apa kakak lupa nama kakak?" Dinda menebak. Karena dia tidak ingin mengucapkan namanya.
"Tidak. Bukan begitu." Dia bicara sedikit ragu.
Entah apa yang di pikirkan anak ini saat itu. Dinda melihat wajahnya seperti sedang bergumam dalam hati.
"Mungkin kakak melupakan nama kakak sewaktu menyelamatkan aku tadi. Apa mungkin nama kakak di ambil oleh air laut." Sekali lagi Dinda bicara sedikit polos khas anak-anak.
Bocah pria kecil ini sedikit terkekeh saat mendengar ucapan Dinda. Dia lucu dan menggemaskan sehingga anak itu tidak bisa menahan gelak tawanya saat melihat kepolosan Dinda. Kepolosan khas anak kecil.
"Kakak kenapa ketawa? Apa aku jelek sehingga kakak meledek ku." Dinda sadar jika dia sedang mentertawakan dirinya. Mata dinda berkaca-kaca saat itu kala di tertawakan oleh penyelamatnya.
"Tidak! Tidak! Bukan begitu maksud ku. Kamu itu lucu, masa nama ku di ambil oleh air laut."
"Lalu kenapa kakak tidak mau menyebutkan nama kakak. Apa kakak gak mau berteman sama dinda."
Bocah kecil yang membantu dinda itu tertegun sejenak. Dia berpikir bahwa Dinda hanya ingin tahu namanya. Dia kemudian menerima perkenalan Dinda setelan melihat keseriusan Dinda ingin mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dia meraih tangan Dinda lalu mengucapkan namanya. "Nama ku Johan..... Johan Pratama."
Dia bersikap sangat lembut. Sampai-sampai Dinda merasa seperti sudah mendapatkan teman baru. Dinda benar-benar bocah kecil yang polos saat itu.
"Wah nama kakak sangat imut. Aku menyukainya." Dinda merespon bahagia saat mendengar bocah kecil ini menyebutkan namanya.
__ADS_1
Sementara Johan kecil ini sedikit malu-malu saat menyebut namanya. Dia sesekali menggaruk tengkuk belakang kepalanya. Terkadang malu-malu menatap wajah Dinda kecil saat itu.
"Sebenarnya nama ku...."
Dinda menyela bocah kecil itu dari lamunan sejenaknya.
"Apa kakak asli orang sini? Kakak pintar sekali berenang." Dinda memuji seraya berbasa-basi.
"Aku.... Aku asli Jakarta.... Aku bukan orang sini." Sekali lagi Johan kecil membalas Dinda dengan ekspresi malu-malu.
Namun Dinda dengan polos malah menyukai sikap Johan yang menggemaskan di matanya itu. "Oh iya, kakak membawa kamera. Apa kakak menyukai fotografi?" Dinda melirik kamera yang di bawa Johan kecil.
"Oh..... Itu.... Sebenarnya... Ini milik kakak ku. Tapi jika kamu ingin di Poto menggunakan kamera ini, aku akan mengambilkan gambar untuk mu."
"Beneran kak? Kalau gitu Dinda mau." Dinda begitu sangat senang saat pria kecil itu bersikap baik padanya.
"Kalau gitu, kamu berpose yang bagus ya. Aku akan ambilkan satu Poto untuk mu." Pungkas Johan kecil sembari mengutak-atik kameranya.
Dia mengambil banyak gambar Dinda saat itu. Tanpa ragu bagai fotografer profesional dia mengambil dalam berbagai gaya.
"Ayo kita ambil gambar terakhir. Sekarang sudah siang dan aku harus kembali ke Jakarta. Aku harus pulang." Johan kecil saat itu berbicara seperti tidak banyak waktu.
Dinda menuruti ucapan Johan saat itu. Mereka mengambil gambar berdua dalam satu frame.
Di tengah kebersamaan mereka berdua terdengar suara seseorang memanggil dengan sebutan, "Steve!" entah mengapa justru Johan kecil yang kabur kala mendengar teriakan itu.
"Itu kakak dan ibu ku memanggil. Aku harus pergi sekarang."
"Baiklah kak Johan. Terima kasih sudah menolong Dinda." Senyum manis Dinda membuat anak itu bersikap semangat.
Dia ingin pergi, tetapi sebelumnya dia memutar balikan tubuhnya. Dia kembali menatap Dinda. "Suatu saat nanti kita akan bertemu. Dan kita akan menikah jika kita sudah dewasa." Ucapan Johan kecil saat itu sangat polos.
Dinda tidak mengerti apapun saat itu tentang menikah. Sehingga dia sangat senang mendengarnya karena Dinda berpikir bahwa itu sama dengan berteman.
Johan kecil memberikan jari kelingkingnya pada Dinda sebagai janji saat itu. Dinda menerima jari kelingking itu dan dengan bahagia menawan Dinda ingin kembali bertemu dengan pria itu suatu saat nanti.
"Kak Johan." Nama itu terus di ingat oleh Dinda hingga saat ini. Dia menceritakan semua kisahnya pada kedua orangtuanya apa yang telah terjadi.
Dalam hidup Dinda kecil hanya ada Johan, Johan, Johan dan Johan. Tanpa sadar dia mulai memikirkan Johan.
"Lain kali jangan main di pantai lagi ya kalau tidak ada yang mengawasi. Agar suatu saat aku bisa menemukan mu lalu menikah dengan mu. Kita akan menjadi peri yang bahagia saat itu." ucapan terakhir Johan kecil yang membuat Dinda cukup bahagia mendengarnya.
Senyum Dinda mengembang di wajah saat anak itu membalikan diri menasihatinya. "Aku berjanji, suatu saat aku akan menemui kak Johan di Jakarta." Dinda membalas Johan kecil sembari mendasarkan tangannya pada Johan kecil yang telah pergi menjauh.
Hingga di hari kelulusan Dinda di SMA, dia memutuskan untuk kuliah di Jakarta karena teringat pada Johan kecil yang mengatakan, "Aku dari Jakarta."
Dari situ Dinda mulai gigih mencari pria bernama Johan.
Dan itulah akhir dari kenangan masa kecilnya bersama Johan yang selama ini bersemayam dalam tubuh Steve.
Meskipun kejadian empat belas tahun itu telah berlalu begitu saja, namun tetap bagi Dinda pertemuan dengan Johan kecil saat itu membuat dia bahagia.
Tetapi siapa sangka, jika Johan kecil yang selama ini di anggapnya adalah malaikat penolongnya ternyata adalah pria yang saat ini ada di hadapannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1