UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 19


__ADS_3

Hujan memang belum reda. Bahkan nyali hujan turun membasahi bumi semakin deras.


Steve ingin mencoba memapah Dinda berjalan menuju ke kantor dalam pelukannya. Namun Dinda menolak karena ia beranggapan bahwa Steve sangat berlebihan sementara dirinya masih baik-baik saja. Tak ada yang perlu khawatirkan walau hanya luka kecil di telapak tangannya.


Dinda menolak untuk di papah, namun Steve memasang ekspresi cueknya seakan itu adalah hal biasa baginya di tolak.


"Sial. Ini pertama kalinya aku di tolak membantu seorang wanita ceroboh. Otak ku benar-benar sudah mulai gila. Mengapa aku sangat peduli padanya. Benar-benar bodoh," Steve mengumpat dirinya sendiri dengan nada kesal yang ia sembunyikan dengan ekspresi datar dan pura-pura cuek. Batinnya terasa ikutan malu.


"Tidak tahu apa yang akan ia katakan saat melihat wajah malu ku menghadapinya. Ingin rasanya aku melompat dari menara Eiffel sehingga tak lagi menggila saat melihat wajahnya. Benar-benar sial," ucap Steve dalam batinnya menambahkan umpatan pada dirinya sendiri dengan nada kesal mendalam.


"Kalau begitu, kamu seharusnya bisa berjalan sendiri," ucap Steve menahan malu di wajahnya namun ia berhasil menyembunyikan rasa malu itu dengan ekspresi datar khas-nya.


"Bahkan tanpa kamu bilang pun aku bisa melakukannya?" batin Dinda menggeram jengkel.


Steve jalan di depan dengan kedua tangannya ia sembunyikan di balik saku celananya. Sementara Dinda mengikutinya dari belakang.


Langkah kakinya cukup mengesankan dan cool khas pria arogan yang ada di komik-komik. Bahkan jika Steve adalah pemeran utama pria dalam komik, maka Dinda dengan senang hati akan membaca kisahnya. Pikiran picik Dinda mulai menggeliat.


Dinda melihat Steve sebagai sosok pria yang sempurna penuh kemewahan. Namun mengapa ia selalu menyusahkan dirinya. itulah yang Dinda ingin tahu. Lalu mulut Dinda mulai berani bicara walau tak seberani sebelumnya.


"Pak Steve. Terima kasih atas perhatian bapak hari ini," Dinda memulai bicara seraya menarik rompi biru Steve dari belakang yang sudah basah kuyup.


Steve tak menjawab ucapan Dinda melalui mulut manisnya, tetapi ia membalas dengan senyum kecut di wajah sambil menoleh sedikit ke arah Dinda.


"Tidak biasanya wanita ini mengatakan kata-kata yang baik. Biasanya dia pura-pura manis setiap bicara dengan ku!" Steve bertanya serius dalam hati. Batinnya sedikit bahagia untuk sesaat.


Walau pun tak sampai berjam-jam, namun ia mulai menikmati mulut manis Dinda.


Dinda melihat wajah Steve dari belakang dengan posisi wajah menengok kesamping, sehingga tulang hidungnya yang mancung dan tajam serta wajahnya yang terlihat tegas menambah aura ketakutan dalam diri Dinda.


Dinda mulai merasa tubuhnya sedikit gugup.


"Ekspresi wajahnya masih tak berubah. Padahal aku sudah mengatakannya dengan jelas. Apakah aku sudah membuatnya makin marah," batin Dinda bertanya-tanya akan hal ini.


Namun ia tak ingin memikirkan hal ini lagi karena dengan jelas Steve tak marah padanya. Mungkin saja ini sifat dasar Steve yang mulai keluar dan harus di pahami oleh Dinda.


"Tidak!!! tidak !!! tidak!!! aku rasa dia memang bengis, jadi aku harus menjaga jarak dengannya." ucap Dinda menyarankan dirinya sendiri untuk menjauh dari Steve.


Dinda melakonis tingkahnya yang selalu berburuk sangka kepada Steve. Ia tak percaya jika dirinya bisa bertemu dengan pria yang bahkan dirinya saja tak paham dalam situasi seperti apa?


Di bawah hujan yang deras, mereka lalui dengan penuh keanehan dalam diri masing-masing.


Keanehan saat keduanya saling menyerahkan ciuman tanpa ada paksaan.


Dinda merasa tak enak hati saat melihat Steve dan begitupun sebaliknya. Mereka mencuri-curi pandang sekilas namun malu-malu untuk di teruskan walau ada ketertarikan di antara keduanya.


Hujan belum juga reda hingga sampai di kantor pusat Steve. Hujan ini amat awet sehingga sampai pukul dua sore masih belum nampak tanda-tanda akan berhenti. Di depan pintu masuk kantor, semua karyawan sudah mulai bekerja. Hanya ada beberapa orang di depan pintu kantor. Orang yang bertugas menyambut dan membuka pintu untuk tetamu dan karyawan yang masuk untuk bekerja. Pintu digital di perusahaan Steve ini akan terbuka ketika pekerja akan masuk kedalam sisi kantor menggunakan identitas sebagai pembuka jalan.


Namun satu hal yang Dinda rasakan saat itu. Dinginnya cuaca Jakarta karena badai hujan, lebih dingin dari sikap Steve yang aneh. Dinda merasakan sedikit takut. Yakni rasa takut akan hawa dingin dari wajah Steve yang tak lagi hangat seperti sebelumnya. Steve yang biasanya melakukan hal-hal semaunya sendiri, kini bahkan tak melirik dirinya untuk waktu yang lama sehingga Dinda makin merasa canggung dan yakin bahwa bos galak itu sedang tak menyukai dirinya.


Tetapi, sekonyong-konyong. Tepat di depan pintu masuk kantor. Steve menghentikan langkahnya seraya matanya menyipit, wajahnya tambah gusar dan emosinya terlihat sedikit tak stabil.


Dinda memperhatikan wajah itu dengan seksama bahkan ia melihatnya dengan detail.


Wajah Steve dan mulutnya mulai tersinkronisasi untuk berbicara dengan kasar dan buas.


"Ada apa ini?" teriak Steve pada keributan di hadapannya.


Terlihat beberapa pengaman yang berjaga di depan pintu masuk sedang melerai sebuah keributan kecil.


"Tidak ada apa-apa pak. Hanya sebuah keributan tak penting. Bapak bisa masuk melalui pintu ini," sambil menunjukkan jalan pihak pengamanan menghela dua wanita yang kalang kabut mengganggu ketertiban kantor.


Namun dua wanita yang sedang melakukan keributan di perusahaan wong, membuat Steve sedikit bergairah untuk melihat keributan ini. Ini pertama kalinya ada yang berani mengganggu ketertiban grup wong.


"Itu dia wanita jalang penggoda pria kaya. Dasar wanita pelacur. Aku akan menghabisi mu karena berani berbuat kurang ajar terhadap keluarga Tama. Wanita berengsek kau!" teriak seorang wanita yang sedang di halau oleh empat orang pengaman bertubuh kekar.

__ADS_1


Sontak Steve merasa sedikit kaget karena wanita tua itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Dinda. Wanita yang berdiri di sebelahnya. Steve tak tahu ada apa gerangan, namun ia mulai menguasai kondisi dan situasi dari perkataan wanita tua itu.


Wanita tua yang memiliki dendam kesumat terhadap Dinda, Steve merasakannya.


Melihat dari ekspresi wajahnya yang penuh kebencian kala melihat Dinda. Untuk sesaat Steve ingin melihat pertunjukan kecil yang akan di perbuat oleh wanita tua itu


Wanita itu ialah nyonya Diana dan Vanya.


Saat melihat Dinda di hadapannya, wanita tua itu langsung menghampiri Dinda dengan emosi meledak. Ia tak perduli melakukan kekerasan di depan umum sekalipun di depan Steve yang ada di sebelah Dinda.


"Kau wanita jalang yang telah menghina calon menantu keluarga Tama. Kau pantas mendapatkan balasan!" lanjut nyonya Diana memekik penuh amarah. Tangan kasarnya tak bisa berdiam diri saja.


Tanpa disadari tangan itu terangkat dari tidurnya tanpa disadari dan ingin melayangkan pukulan keras ke wajah Dinda.


"Kau harus mendapatkan ganjaran karena telah menghina kami keluarga Tama!" tambah nyonya Diana memekik garang dan tak bisa menghentikan laju tangannya.


Namun Dinda menyadari hal itu, sehingga dirinya dengan cekatan menangkis pukulan itu.


"Kau selalu mengatakan aku adalah seorang wanita jalang yang menggoda pria. Tante pikir aku akan tinggal diam saat orang-orang mengatakan hal itu.


Dulu aku mengalah saat kalian menindas ku empat tahun yang lalu. Itu semua karena aku menghargai Anda sebagai ibu dari kak Johan sekaligus wanita tua yang tak berguna. Tetapi sekarang, aku tak peduli baik kau sebagai ibu kak johan atau bukan.


Karena kau sangat keterlaluan mengatakan aku sebagai wanita jalang bahkan selama ini image mu terus mengatakan itu. Aku telah melupakan Johan mu yang malang itu, tetapi kalian terus saja mengganggu ku bahkan empat tahun berikutnya.


Sungguh memuakkan jika dunia ini hanya selebar daun sirih dan harus bertemu dengan kalian," balas Dinda dengan kasar lalu membuang tangan itu dengan mentah.


Nyonya Diana menahan amarah di dada. Kali ini dia kalah telak oleh Dinda yang lebih berani dari dugaannya.


"Kau bilang apa? bahkan kau dan keluarga mu adalah penggoda pria. Dasar wanita berengsek!" teriak nyonya Diana marah. Ia tak peduli dengan sekitar meskipun banyak yang menyaksikan dirinya.


Steve dan beberapa orang di sekeliling hanya menjadi penonton drama kecil-kecilan ini.


Steve sedikit kagum pada Dinda yang berani melawan wanita tua bahkan mengatakan hal kasar pada nyonya Diana.


"Ibu. Lihatlah! begitulah dirinya menghina ku semalam. Selain dia pemuda di sampingnya jugalah yang mendorong ku dan membuang aku ke tempat sampah. Ibu pasti tahu bagaimana rasanya di perlakukan tak sopan dan hina." Vanya mencoba mengadu domba keduanya.


Ucapan itu makin memacu adrenalin nyonya Diana untuk terus melakukan kekejaman berikutnya.


Dalam benak Vanya ia ingin terus mengatakan hal-hal tak berguna sehingga calon mertuanya yang stress ini menjadi bidak catur-nya untuk menghabisi Dinda secara emosional.


"Kau wanita jalang. Sudah berani melawan ku. Sepertinya aku sudah meremehkan diri mu," nyonya Diana dengan emosi yang tak terbendung ingin melayangkan sekali lagi tamparan keras di wajah Dinda karena pengaruh manis ucapan Vanya.


Namun Steve menjadi pahlawan Dinda untuk kedua kalinya.


Ia menangkap tangan nyonya diana yang berani mencoba menyentuh kulit mulus gadis kecilnya.


Wajah garangnya sudah tak bisa di tahan.


Dengan kekuatan jantan Steve, ia membanting nyonya Diana hingga terjatuh di lantai, sama seperti yang di lakukan pada Vanya semalam.


Sungguh Steve tak bisa tinggal diam saat ada wanita lain yang menindas gadis kecilnya.


"Kau wanita tua beraninya menyentuh karyawan grup wong. Apa kau mencari perkara disini," pekik Steve dengan amarah dan sifat asli dirinya sudah nampak. Sifat monster yang orang lain di sekitarnya rasakan. Kali ini Steve tak akan mengampuni kedua iblis betina yang kasar dan bar-bar. Mereka merusak citra orang lain di hadapannya, sehingga Steve bertindak kejam.


"Pengamanan di grup wong. Apakah selemah ini sampai-sampai pengemis bisa masuk di perusahaan ini!" Steve berteriak dengan nada tinggi pada pengawal yang berdiri di depan pintu digital.


Beberapa pengawal hanya tertunduk diam, tak berani membantah Steve yang sedang marah besar.


Vanya sedikit puas karena Steve melakukan hal yang sama seperti yang ia rasakan semalam. Sehingga untuk sesaat Vanya senang melihat nyonya diana terjatuh namun ada rasa marah di dadanya.


"Kurang ajar. Bahkan wanita tua ini tak bisa menyingkirkan pria dan wanita sialan ini. Apa guna dirinya menjadi nyonya tama jika dia sendiri tak bisa mengatasi masalah ini. Benar-benar wanita tua tak berguna


Buang-buang waktu saja." Umpat Vanya geram pada nyonya Diana.


Vanya tanpa menunggu wanita itu untuk meminta berdiri, dirinya langsung menawarkan diri untuk membantu wanita tua itu untuk berdiri walau terpaksa bagi Vanya untuk melakukannya.

__ADS_1


"Ibu. Ibu tak terluka kan?" tanya Vanya sambil memapah bahu nyonya Diana dengan perhatian palsu.


"Aku tak apa-apa!" balas nyonya Diana pura-pura tegar.


"Kau pria berengsek. Beraninya kau melakukan itu pada nyonya keluarga Tama. Apa kau tak ingin di pecat di dari pekerjaan mu di kantor ini. Apa kau tahu bahwa kantor ini relasi dari grup Tama. Aku pastikan kau akan menerima ganjaran karena telah menghina ku di depan keramaian," teriak nyonya Diana dengan nada tinggi usai dirinya terbangun dari jatuhnya yang sangat sakit dirasakan.


Steve menyunggingkan bibir, lalu tersenyum manis dan sedikit licik. Ia seakan menantikan ucapan manis penuh ancaman itu. Ia butuh seseorang yang bisa di lampiaskan untuk menghilangkan rasa gusar di dadanya.


"Benarkah apa yang kau katakan nyonya tama?" tanya Steve menggeliat menghina dengan halus.


"Tentu saja. Bahkan aku akan mendepak kalian dari kantor ini sekarang juga. Kalian akan mendapatkan ganjaran akan semua ini!" pekik nyonya Diana emosi.


Lagi-lagi Steve tersenyum pahit dan sedikit puas pada ucapan itu.


"Pengaman. Buang kedua wanita pembuat rusuh ini ke tempat sampah. Pastikan mereka pulang dalam keadaan hina!" perintah Steve dengan kejam.


Dengan serta Merta semua pengawal menyeret Vanya dan nyonya Diana menuju penampungan sampah kantor yang bau.


"Kurang ajar kau pria berengsek. Sudah dua kali ini kau melakukan ini pada ku. Aku tak akan membiarkan mu selamat!" pekik Vanya dengan nada mengancam. Namun Steve yang bengis, suka pada ancaman receh Vanya.


"Pastikan mereka mendapatkan kesulitan setelah masuk kedalam grup wong." Pekik Steve dengan nada kepuasan.


Hujan yang masih mengguyur membuat pengawal terpaksa membuang kedua wanita pembuat onar ini dalam keadaan basah kuyup.


Sesuai perintah Steve, pengawal-pengawal itu membuang mereka ke tempat sampah yang kotor.


Steve puas karena telah membuat musuh gadis kecilnya menerima perbuatan mereka sesuai dengan penghinaan yang mereka lakukan.


Steve melirik Dinda dengan perhatian pura-pura cuek tak peduli. Namun dinda yang berdiri di samping Steve tiba-tiba linglung dan tubuhnya sudah tak stabil untuk berdiri dengan nyaman.


Ia memegang kepalanya dengan keras seraya memijat keningnya.


Lalu tibalah saat itu. Saat dimana Dinda tak menyadarkan diri dan pingsan. Ia lalu terjatuh pingsan tepat di hadapan Steve.


Steve yang melihat itu sangat marah karena ia melakukannya dengan tiba-tiba tanpa memberitahu dirinya jika ia hendak pingsan. Ekspresi kaget bercampur emosi di tambah cemas berlebihan membuat Steve bertingkah berlebihan.


"Dinda!" pekik Steve khawatir lalu menangkap tubuh itu sebelum jatuh kelantai.


"Sial. Badannya panas sekali," ucap Steve tak sengaja menyentuh kulit Dinda.


"Bawakan aku obat-obatan ke ruangan ku sekarang!" perintah Steve gusar.


Ia mengangkat tubuh Dinda menuju ke kantornya.


Dalam pelukannya, Dinda menggigil karena hujan yang mengguyur membuat tubuh wanita itu lemah dan akhirnya demam melanda.


Meskipun pengawal meminta mereka yang menggotong Dinda keruangannya, namun Steve menolak hal itu.


Ia tak mau ada orang lain yang menyentuhnya selain dirinya sendiri. Dialah yang berkuasa pada tubuh Dinda secara tak langsung.


Langkah kakinya sangat cepat sebab gadisnya telah menderita kedinginan.


"Bawakan pakaian wanita ke ruangan ku. Dan minta beberapa karyawan wanita datang untuk membantu ku." Perintah Steve pada pengawal yang mengikuti dirinya dari belakang.


Beberapa pengawal menuruti ucapan Steve dan beralih langkah mencari opsi atas ucapan Steve.


BERSAMBUNG


Hai terima kasih untuk pembaca setia Unintentional. jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya.


Penulis sangat berharap novel ini menjadi novel yang di favoritkan oleh kalian pembaca.


Penulis juga sangat senang karena pembaca suka dengan alurnya.


Selamat membaca.

__ADS_1


__ADS_2