
[“Aku ingin di sebut beda. Karena sama, itu sudah biasa.”]
_____________________________________________
Zico baru saja menyelesaikan banyak berkas di mejanya. Setelah melirik jam di tangannya, dia teringat pada Steve. Oh, semalam dia ingin membicarakan hal penting ini pada Steve.
“Tolong antarkan dua teh hangat ke meja Pak Steve sekarang.”
Melalui interkom kantor, Zico berkata pada Vanya. Setelah itu, dia beranjak dari ruangannya—menuju ke ruangan Steve.
Ketika di ruangan Steve, Zico membanting kasar tubuhnya di kursi empuk Steve. Tempat di mana seharusnya di duduki oleh Dinda.
“Kenapa lagi pagi muka sudah si tekuk begitu?” tanya Steve. Fokusnya masih pada pekerjaan yang ada di balik layar komputer.
“Entahlah. Aku bingung, harus bagaimana mengatakannya,” kata Zico membalas lesu.
Dia melonggarkan dasinya, menenggelamkan kepalanya di kursi empuk Steve.
Steve meninggalkan dahulu pekerjaannya. Dia duduk di depan Zico, sambil melepaskan jasnya. Ruangan memang terasa agak panas walau AC sudah mengembuskan udara sejuk.
“Kamu ingin bicara mengenai apa?"
Zico menegak badannya ke posisi semula. Menatap Steve agak serius.
“Mengenai kepergian kalian ke Shanghai!”
Steve menaikkan kedua alisnya. Rasa heran atas ucapan itu membuatnya agak berpikir keras.
“Ada apa dengan kepergian ku?” tanya Steve meminta penjelasan.
“Aku tahu memang ini permintaan yang agak sulit. Namun, bisakah kamu tidak pergi ke Shanghai. Kamu tahu, aku tidak mudah menangani perusahaan ini sendirian.”
Steve menggeleng. “Kamu kira rencana yang sudah aku buat ini main-main."
“Aku tahu Steve,” Zico membalasnya. “Hanya saja. Aku belum bisa mengemban tugas kantor seperti ini. Apalagi menjadi kepala kantor cabang. Rasanya sulit bagiku menjalankan semua ini.”
Memang agak berat menghadapi suatu masalah sendirian. Namun Steve yakin, kalau Zico bisa mengatasinya.
Steve menyandarkan punggungnya di sofa, melipat kedua tangannya di dada. Salah satu kakinya menopang di kaki yang lain.
“Selama aku pergi tiga bulan waktu itu. Bukankah kamu sudah mampu menangani perusahaan ku sendiri. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang ingin menyerah.”
“Karena saat itu ada kak Stevie yang menyokong tugas ku!”
“Lalu?”
“Aku belum siap menjalankan tugas besar ini.”
Steve tidak pernah berpikir apakah keberhasilan Zico tanpanya kala itu ada kaitannya dengan Stevie atau tidak. Yang pastinya, Steve hanya melihat dari sisi keberhasilan Zico. Bukan dari bantuan Stevie.
“Tidak peduli apakah kak Stevie yang menyokong mu atau tidak. Aku hanya tahu kala itu kamu sendiri yang mengurus semua pekerjaan ini. Kenapa harus menyerah, jika kamu sendiri sudah berpengalaman dan bisa mengatasi semua Maslaah di sini.”
“Tapi Steve......”
“Aku benci pecundang yang mengaku kalah sebelum perang di mulai.”
“Oh...”
Zico tidak menyangkal bahwa Stevie hanya membantunya sedikit. Tetapi, berkaitan dengan semua ini, Zico perlu bimbingan Steve. Walau dia bisa, namun Zico belum bisa memastikan dia mampu. Kemampuannya masih dia anggap sangat sedikit, berbeda dengan Steve yang berani terjun ke dunia bisnis sejak muda. Zico tidak memiliki keberanian besar seperti itu. Keberanian yang di penuhi oleh ambisius yang besar.
“Entahlah Steve. Aku takut jika aku tidak bisa menjadi orang kepercayaan mu. Aku akan membuat mu kecewa.”
Sudut wajah pria ini terlihat agak kecewa dan sendu. Steve yang melihatnya, tahu kalau pria bujangan ini hampir menyerah.
Namun, semua itu bukanlah jalan terakhir. Steve benci harus menyerah tanpa berjuang.
“Bisa atau tidak, aku akan menyerahkan kantor cabang ini pada mu. Kedepannya aku ingin kamu juga sukses menjadi wakil cabang di sini. Kamu sendiri tahu, aku ingin istri dan anak ku nanti tinggal lama di Shanghai. Bisa jadi putra ku akan sekolah atau kuliah di luar negeri. Aku tidak bisa terus-terusan tinggal di kota ini.”
“Haruskah aku melakukannya tanpa diri mu?”
Steve mengangguk. “Aku tahu kamu pasti bisa.”
Entah motivasi atau apa. Kata-kata Steve tidak cukup untuk membuat Zico bangkit. Mengurus semua berkas kantor di sini sangat rumit. Bahkan dulu Steve di bantu Dinda, jika tidak. Pria ini pasti keteteran juga mengatasinya. Sama halnya yang dia hadapi sekarang ini.
Ketika mereka sedang berbincang, Vanya datang dengan dua gelas teh di tangannya. Dia memberikan senyum saat kedua pria itu melirik ke arahnya.
“Ini Pak tehnya. Silahkan di minum,” kata Vanya dengan ucapan ramah.
Zico lebih dahulu mengambil tehnya, namun sebelum teh hangat itu di seruput. Baki yang Vanya pegang tak sengaja menyenggol siku Zico. Hingga teh itu tumpah di kemeja putih Zico.
“Oh. Maafkan aku Pak Zico. Aku tidak sengaja.”
Dengan cepat Vanya mengambil tisu di meja. Dia membantu membersihkan teh yang mengotori kemeja bersih Zico. Tapi sayang, karena teh itu warnanya merah, jadi kemeja putih Zico langsung menyerapnya dan mengubah bahan menjadi senada dengan warna teh—merah menguning.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku bisa membersihkannya sendiri.”
Zico menampik tangan Vanya. Dia ingin keluar menuju ke toilet, membersihkan kemeja. Namun Vanya tidak mau bersalah, dia mencegat Zico.
“Ini salah ku Pak. Biarkan aku yang membantu Pak Zico membersihkannya.” Vanya mengakui kesalahannya. Zico tidak menolak, Vanya memaksa.
Mereka pergi ke toilet bersama-sama. Tepat di depan ambang pintu. Mereka berpapasan dengan Dinda yang datang sambil menggendong Iqbal. Sedangkan tangan sebelahnya membawa bekal berisi makanan.
“Kalian kenapa?” tanya Dinda.
Keduanya sepakat menggeleng bersama.
“Hanya masalah kecil. Bukan apa-apa,” Vanya membalas lebih dahulu.
Dinda ber-oh kecil. Sedangkan Vanya langsung menuntun Zico keluar ruangan Steve menuju ke toilet yang ada di ujung koridor kantor.
Walau mereka sudah pergi, namun Dinda masih memandang heran kedua orang itu.
“Tadi Vanya tidak sengaja menumpahkan teh di kemeja Zico. Sekarang Vanya sedang berusaha membantunya membersihkan kemejanya yang kotor.”
“Oh. Aku kira kenapa?”
Steve cukup tahu mengenai pertanyaaan yang ada di benak sang istri. Dinda meninggalkan makanan untuk Steve di meja, dan suami Dinda ini langsung mengambil Iqbal, lalu menggendongnya.
“Baru tadi pagi Ayah meninggalkan kamu. Sekarang Ayah merasa rindu kalau tidak melihat kamu.”
Kebiasaan Steve. Jika anak dan istrinya sudah datang, dia pasti lebih dahulu mengambil putranya itu. Tak hanya mengambil, kadang menimang, menciumnya hingga Iqbal menangis kesal pada kelakuan Ayahnya.
“Bagaimana dengan kerja Vanya. Apakah dia bekerja giat beberapa bulan terakhir ini?”
Sebenarnya Dinda cukup memperhatikan Vanya, hanya saja belum ada waktu untuk bicara. Wanita itu agak segan setiap kali melihat Dinda.
“Dia lumayan giat. Bahkan bagus dalam bekerja. Dia cekatan.”
“Baguslah.”
Dinda agak khawatir. Takut saja kalau pekerjaan yang di lakukan Vanya tidak sesuai dengan harapan Steve. Dia akan di depak.
“Aku hari ini memasak banyak. Tadi kak Stevie menghabiskan sisanya. Dia akhir-akhir ini makan banyak. Katanya stres kalau Papa dan Mama terus menerus menelpon.”
“Jangan terlalu di pikirkan. Kak Stevie wanita yang kuat. Dia bisa mengatasi masalahnya sendiri.”
Steve duduk di depan Dinda. Sambil menggendong putranya, Dinda membantu menyuapi Steve makan. Agak manja, tapi itu sudah menjadi kebiasaan.
“Nanti sore kita kerumah Ibu ya. Sudah lama tidak ke sana.”
Steve mengangguk, anaknya terlihat senang kalau mendengar Nama nenek itu di sebut.
“Setelah pekerjaan ku selesai.”
°°°°°°
“Pak Zico. Aku benar-benar minta maaf sudah membuat kemeja Bapak rusak. Sungguh, aku tidak melakukannya karena sengaja.”
Zico mengerti keadaan Vanya. Dia pasti gugup dan merasa bersalah tadi. Di depan kaca toilet, Zico hanya diam saat Vanya memintanya membuka baju.
Vanya nekat mencuci baju Zico, sebab dia tidak membawa baju ganti. Sialnya, Zico tidak memakai baju dalam. Alhasil, dia harus bertelanjang dada.
Terpaksa, Vanya menjadi wanita satu-satunya yang beruntung melihat dada bidang dan perut keras milik Zico. Suer, Vanya tidak berharap bisa melihat panorama ini. Namun tak ada pilihan lain, hanya mereka berdua yang ada di toilet. Apalagi perut itu indah, sungguh, mata Vanya ngiler melihat bagian itu. Mendebar itu pasti, bahkan rahimnya mulai bergetar. Menggeliat, manja, ingin di siram dengan cairan hangat.
“Anu..... Pak Zico. Sebaiknya kita tunggu beberapa menit saja di sini. Sampai baju Pak Zico benar-benar kering.”
Agak konyol permintaan Vanya. Bagaimana bisa dia memerintah atasannya seperti ini. Namun Zico malah menurutinya. Di bilik toilet yang agak kecil, keduanya kikuk tak bersuara.
Zico juga PD-PD saja saat telanjang dada tak mengenakan baju. Vanya sudah merona, malu rasanya kalau terus melirik perut keras itu.
“Tidak perlu sungkan. Anggap saja kamu hanya melihat manekin.”
“Tapi Pak.......”
Belum usai Vanya berkata, Zico meraup bibir Vanya. Dia menyandarkannya di kaca toilet. Mendorong Vanya hingga terdesak, tak membiarkan wanita di dpeannya itu memberontak.
“Uhmmm.....”
Vanya tak berkutik saat pria bertubuh seksi ini menciumnya. Justru Vanya diam menahan napas dan tak bersuara. Entahlah, Vanya tidak tahu. Apakah Zico berusaha melecehkannya, atau justru........
“Aku sudah cukup lama memperhatikan mu. Selama delapan bulan ini, aku ingin mengatakannya. Bahwa aku, mencintaimu.”
“Pak Zico!”
“Aku tahu ini mendadak. Tapi aku tidak bisa menahan diri ku lagi untuk mengungkapkannya.”
Vanya tertegun. Bisikan itu membuatnya tak berdaya.
__ADS_1
Benarkah? Sejak kapan Pak Zico memendamnya. Kenapa aku tidak menyadarinya. Kenapa setelah delapan bulan, baru saat ini dia mengatakannya.
Apakah dia sedang mempermainkan aku. Ataukah dia berusaha menutupi rasa canggung ini.
“Van. Dua kata. Ya atau tidak!”
Zico kembali membisik. Namun kali ini nadanya agak serius. Vanya sudah tahu jawabannya, hanya saja pria ini terlihat seperti bukan pria yang mudah jatuh cinta.
“Apakah Pak Zico sedang membual?”
“Ucapkan saja Zico. Tidak perlu Pak.”
“Tapi......”
“Jawab saja ya atau tidak.”
Bisikan itu terus membuat Vanya merasa geli. Dan terpaksa Vanya harus mengatakan, “Ya,” tanpa keraguan.
“Vanya.....”
“Hemph.....”
Zico kembali meraup bibir Vanya. Jawaban ini yang paling di tunggu Zico. Tanpa berpikir panjang, mungkin jawaban iya dari Vanya ini membuat Zico tak bisa menahan diri dari bibir wanita secantik Vanya. Zico terus mendesak Vanya, sesaat kemudian dia mengangkat kedua paha Vanya, lalu mendudukkan bokong gadis berkulit putih di atas wastafel toilet.
Zico makin menggairah, Vanya ikut terkontaminasi. Dia membalas setiap kecupan dari bibir Zico, sedangkan tangannya di tuntun Zico meraba perut kerasnya dan dada bidangnya.
Satu tangan Zico menarik caruk leher Vanya. Dan ciuman ini cukup lama, sampai Vanya ikut menikmati intuisi cumbuan ini.
“Maaf jika tergesa-gesa.”
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Pikiran Vanya masih terpaku di satu titik. Yaitu kejadian di toilet tadi. Di ruang kerjanya, dia melamun. Bayangan Zico membuat Vanya menggila dengan terus berimajinasi di bagian berototnya.
Dadanya, perut keras itu. Sungguh, Vanya kalau bisa mati, dia ingin itu secepatnya terjadi. Anak orang, selain tampan, dia juga punya roti sobek. Berkah bagi Vanya bisa menikmati pemandangan ini.
Apakah aku dan Zico sudah resmi pacaran sekarang. Oh, kenapa aku gugup mengingat kejadian tadi.
Karena ciuman hangat dari Zico yang mendadak seperti ini, Vanya merasa canggung dan malu kala mengingatnya.
Oh tuhan. Kenapa dia sangat tampan, bahkan perutnya membuat aku hampir mati tadi. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal kalau dia menyukai ku.
Aku kira hanya aku yang menyukainya. Oh, aku benar-benar harus bagaimana sekarang kalau bertemu Zico.
“Aku mencintaimu. Sejak awal kamu bekerja di sini, aku sudah memendam perasaan ini cukup lama.”
Ucapan itu terus teringat dalam ingatannya.
Vanya tidak di lema oleh ucapan itu. Tadi dia sudah mengakui hal yang sama pada Zico. Namun perasaan mendebar dan merona itu sangat kentara. Apalagi dia termenung kegirangan di meja kerjanya. Semua teman sejawat Vanya menyadari hal ini.
“Kamu kenapa sih Van. Kok dari tadi senyum-senyum sendiri?” salah satu teman sejawatnya bertanya.
Vanya berangsur meredam ingatan tadi di toilet. Pikirannya sudah terganggu oleh orang itu.
“Bukan apa-apa. Cuma........ Lagi senang saja.”
“Jadian sama Pak Zico?”
What the fucek. “Secepat ini ketahuan.”
°°°°°°°
“Hubungan Zico dan Vanya mulai menemui titik terang. Tadi aku melihat mereka di toilet,” kata Dinda memberitahu Steve.
Steve masih berfokus pada jalan yang dia lalui. Sesekali sambil mengemudi, dia melirik putranya yang terlihat tenang melihat dirinya. Mereka sengaja pulang satu jam lebih awal dari jam pulang biasanya. Karena Dinda mengajak Steve ke rumah Ibu Yuri.
“Aku sudah merasakannya sejak awal dia masuk ke kantor ku. Pria pemalu itu akhirnya sudah mengungkapkan perasaannya pada wanita itu.”
“Tapi agak aneh sih.”
“Aneh seperti apa?”
Dinda berpikir sebentar. Seharusnya......
“Sejak awal Vanya tahu kalau Zico sudah memperhatikannya. Kenapa baru sekarang dia tahu.”
Tadi Dinda ketika hendak ke toilet, mendengar suara Zico mengungkapkan perasaannya. Dinda yang baru saja ingin masuk ke salah satu bilik, mengurungkan niatnya. Dia tidak mau mengganggu keduanya.
“Baik Vanya atau Zico. Saat ini mereka akan lebih serius menjalani hubungan ini. Aku tahu anak itu, dia pasti serius kalau sekali mencintai seorang wanita.”
“Dia pemalu. Mungkin itulah kenapa agak lama dia mengungkapkan perasaannya.”
TO BE CONTINUE
__ADS_1