UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 25


__ADS_3

Steve tiba di rumahnya. Sudah menjadi sebuah pemandangan jika rumah yang ia tempati sepi. Hanya di temani oleh paman lu dan beberapa pelayan saja sehingga tak ada yang spesial dari rumah ini. Ekspresi lesu mengembang di wajahnya yang terlihat lelah. Tubuhnya seakan kaku karena bekerja seharian.


Hari ini dia hanya menghabiskan waktu untuk melihat sesi pemotretan dan pengambilan gambar iklan di kantornya. Ya setidaknya para pekerja kantor dan tim promosi sudah melakukan yang terbaik. Mereka memilih model yang menurut dirinya sangat cocok.


Pemotretan hari ini berjalan lancar, bahkan tak ada kendala. Hanya saja Steve yang merasa lelah sebab selama proses syuting iklan ia menyaksikan dengan seksama. Iklan produk yang akan mem- branding seantero pangsa pasar dunia dengan produk teranyar mereka.


Steve merebahkan tubuh di sofa empuk dan menenggelamkan kepalanya seraya matanya menatap langit-langit rumah. Pikirannya hanya ingin rileks dan tidak ingin memikirkan apa pun yang hanya akan menguras otaknya untuk bekerja keras memikirkan hal-hal tidak berguna.


Ia memijat keningnya seakan dia merasa amat pusing dan sedang suntuk. Ia membayangkan bagaimana jika nanti dirinya memiliki seorang istri, tentu istrinya akan datang menghampiri dirinya lalu memijat kepalanya dan membantu dirinya melepaskan lesu dengan layanan yang memuaskan. Itulah yang ia idamkan, seorang istri yang berbakti padanya suatu saat nanti.


Ia tak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika memiliki seorang istri di kehidupannya yang emosional.


Sementara aroma masakan menyeruak terhirup oleh hidungnya. Aromanya yang sedap dan nikmat untuk di hirup. Bulu hidungnya seakan mau rontok kala menghirup aroma yang amat menggugah selera bahkan perutnya tersinkronisasi lapar.


Perutnya bergetar hebat seakan usus-ususnya menangis meminta jatah sebab seharian dia tak mengisi ulang perutnya.


"Aroma makanan ini sungguh lezat!" seru Steve seraya hidungnya mendengus mencari sumber aroma sedap ini.


Semula tubuhnya yang sedang ia rebahkan dengan santai tak ingin kesana kemari lagi. Ingin rasanya ia tak mau menuruti kata hatinya untuk tak tergoda oleh aroma masakan yang lezat, tetapi itu hanyalah angan-angan semata karena perutnya berkata lain. Ia ter-bangkit dari duduknya mengikuti insting dari Indra pembau-nya secara alamiah mencari lezatnya masakan yang menggoda itu. Sumbernya dari dapur, pikir Steve demikian.


"Begitu banyak makanan di atas meja. Apakah kak Stevie sedang mengacaukan dapur ku." gerutu Steve menebak seraya hidungnya tak bisa berhenti mendengus layaknya anjing pelacak. Ia penasaran siapa yang sudah memasak banyak makan seperti itu di meja. Hingga rasa penasaran itu menuntun Steve pergi menuju dapur.


Ia menuju dapur untuk memastikan siapa gerangan yang telah melakukan hal ini di dapurnya. Dia menduga bahwa ini adalah kerjaan kakaknya yang bar-bar itu. Namun yang ia dapati bukan kakaknya yang pengacau, melainkan sesosok wanita lain. Ia paham betul bahwa bayangan punggung Stevie berbeda jauh dengan yang ia lihat sekarang. Stevie mempunyai rambut hitam pendek sebahu sedangkan wanita yang ia lihat memiliki rambut tergerai panjang. Wanita tipenya sekali.


"Ternyata wanita ini yang memasak!" gumam Steve, kala melihat bayangan punggung wanita yang sibuk dengan wajan dan spatula. Dinda! Steve memastikan bahwa hanya wanitanya yang melakukan semua ini.


"Sejak kapan dia tiba di sini?" Steve bertanya-tanya. Namun rasa penasarannya tak mau kalah dengan tubuhnya yang ingin segera menghampiri wanita nakalnya.


"Apakah sesibuk ini memasak. Sampai-sampai tuan mu datang tak di sambut dengan ramah?" bisik Steve dari belakang dengan sedikit godaan. Ia mendekati tubuhnya dengan tubuh Dinda yang sedang mengaduk-aduk masakan.


Bisikan Steve yang begitu liar di daun telinganya membuat Dinda sedikit bergidik geli dan merasa seperti sedang di goda oleh setan terkutuk.


Namun bisikkan Steve tak ia hiraukan karena image pria mesum masih menempel di otak kecil Dinda yang masih lugu.


"Terserah padanya dia mau menggoda ku seperti apa? aku tidak peduli padanya!" Dinda menggerutu tak peduli. Tentu saja Dinda akan mengumpat pria ini dalam hati, jika dia mengatakan hal ini secara langsung pasti akan pecah perang dunia ketiga diantara keduanya.


"Dia sedang tak ingin berbicara dengan ku, atau dia memang sengaja tak menghiraukan aku?" Steve bertanya-tanya dalam hati karena wanitanya cuek begitu saja.


"Apakah bos mu yang mesum ini mengganggu kegiatan karyawannya? atau kamu sedang pura-pura tak ingin mendengarkan bos mesum mu ini!" bisik Steve kembali menggoda bagai setan yang menyesatkan mangsanya.


Senyum liciknya terbentuk menghiasi wajahnya yang nakal.


Dinda kembali diam tak menggubris godaan liar itu. Ia hanya fokus pada pekerjaan yang sedang ia lakoni.


Steve menarik nafas panjang dan ia belum menyerah untuk terus mengganggu anak Adam yang polos ini.


"Apakah kamu menikmati setiap bisikan ku yang lembut penuh godaan sehingga tak berani menjawab rayuan ku." Steve kembali berulah penuh kemenangan.


Dinda sejujurnya kesal pada godaan itu, tetapi hari ini dirinya sedang tak ingin ikut dalam alurnya yang penuh gairah. Godaan itu menjadi makanan sehari-hari Dinda saat mendapati pria mesum di hadapannya.


Oleh karena itu, Dinda kembali tak menggubris godaan nakal steve.


"Wanita ini!" pekik Steve sebal seraya mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia merasa kesal karena di abaikan oleh Dinda.


"Kenapa kamu tidak menggubris ku? apakah kamu sedang menghindari ku saat ini!" Steve dengan amarahnya, menarik tangan Dinda yang sedang asik memasak.


Steve sungguh kasar akan perbuatannya dan tidak memikirkan hal-hal lain di sekitarnya. Seperti api yang sedang menyala atau panasnya uap masakan tak ia pikirkan hal itu. Bagaimana jika gadisnya tertumpah oleh masakan atau terkena api, ia tak memikirkan hal itu. Ia hanya mengikuti tingkah posesif dan emosionalnya.


"Pak Steve!" seru Dinda kaget. Ia sungguh terkejut. Jantungnya seakan ingin lepas dari organnya karena terkejut bukan kepalang.


Ingin rasanya Dinda menangis terkejut karena di perlakukan kasar seperti sebelumnya namun ia menahannya karena ia tahu sifat pria pemarah ini.


"A - aku sedang memasak. Apa yang bapak lakukan pak!"

__ADS_1


Dinda tak kuasa melihat wajah pria pemarah itu seakan ia akan memakan dirinya dalam amarah.


"Katakan! apakah kamu sedang menghindari ku karena suatu hal!" Steve menuntut kebenaran dengan nada tinggi khas dirinya.


"Tidak! maksud ku, aku sedang fokus memasak jadi a - aku tidak memperhatikan Bapak." Dinda menjawab terbata-bata gugup.


Sungguh di luar dugaannya pria ini akan marah karena terabaikan.


Steve memegang tangan Dinda dengan kasar. Sakit, tetapi Dinda mencoba menahannya karena ia tak mau menunjukan hal itu.


"Sial! wanita ini selalu saja membuat ku tak berani memarahinya. Bahkan dia selalu menjawab ucapan ku dengan berani. Sungguh wanita yang tak tahu bagaimana cara memperlakukan tubuhnya dengan baik." Steve menghardik dinda dalam hati. Ia tak akan pernah berpikir bahwa Dinda akan selalu bertindak seperti itu padanya.


Posisi keduanya sangat dekat. Bahkan sekilas mirip pasangan yang sedang berpelukan mesra. Lebih tepatnya pasangan suami istri yang sedang mesra-mesraan di dapur ala pengantin baru.


Stevie yang meninggalkan Dinda sendiri untuk memasak, kembali ke dapur untuk menemaninya memasak makanan untuk adiknya yang pemarah. Namun ketika dirinya sampai di dapur, ia sedikit kaget saat mendapati Steve sedang bertindak kasar pada wanita semacam Dinda. Ia tak percaya bahwa ia akan mengasari Dinda tepat di depan matanya.


"Hei!" teriak Stevie dengan nada tinggi kala melihat tingkah si pemarah.


"Beraninya kau memperlakukan seorang wanita dengan kasar! apakah seperti ini kau menghargai seorang wanita. Dasar pria lancang!" dengan nada emosionalnya Stevie menghampiri Steve lalu menarik kerah kemejanya.


"Katakan! apa begini cara mu memperlakukan tamu ku. Di mana kesopanan mu. Apakah kamu mulai berani menentang seorang wanita!" lanjut Stevie memekik marah besar pada adiknya.


Stevie menarik kerah kemeja adiknya hingga berantakan. Karena tubuhnya yang tinggi, membuat Steve memaksakan diri menunduk karena kasarnya perlakuan Stevie pada dirinya.


Ia menelan liur takut penuh ancaman kala melihat sang kakak marah besar. Sesekali ia melirik Dinda yang sedang terpaku melihat keributan keduanya.


"Kurang ajar wanita tua ini. Pasti dia sengaja melakukannya. Dia sengaja melakukan hal ini di depan wanita ku agar ia tahu kelemahan ku. Kelemahan bahwa aku takut pada nenek tua ini." Steve mengumpat kakaknya penuh kekesalan.


"Cepat katakan! mengapa kamu melakukan kekerasan pada wanita? apa kamu lupa kalau aku juga seorang wanita?"


"Katakan!" Stevie makin brutal dan kali ini cengkraman tangannya pada baju Steve makin keras.


Apalah daya bagi Steve, ia tak bisa berkutik kala ucapan kakaknya yang kasar bahkan lebih kasar dari prilakunya saat bertindak.


"Tidak.... Aku hanya mengatakan bahwa dia cantik. Aku tidak mengancam maupun memperlakukan wanita itu dengan kasar." Steve bertingkah sok berwibawa. Ia tahu pasti Dinda akan merasa puas jika dirinya di tindas.


"Benarkah begitu!" Stevie tak percaya dan makin menarik keras kerah baju adiknya.


"Iya tentu saja. Sejak kapan aku berbohong pada kakak." Steve pura-pura berkata jujur demi mengelabui wanita yang ia anggap seperti penyihir ini.


"Baguslah. Lain kali jangan pernah melakukan hal semacam ini di depan muka ku. Jika tidak aku akan memakan bagian bawah mu. Apa kau paham!" bentak Stevie memperingati Steve seraya melepaskan cengkraman kasarnya.


"Aku paham kak. Tidak akan hal itu terjadi!" Steve menuruti ucapan kakaknya dengan terpaksa.


"Sebagai bentuk kesungguhan mu dalam menuruti ucapan ku. Maka duduklah dengan manis karena kakak dan Dinda telah menyiapkan makanan spesial mu!" seru Stevie dengan wajah liciknya.


"Tunggu! bagaimana kalian berdua bisa kenal. Dan bukankah kalian berdua....."


"Tutup mulut mu!" tegas Stevie memotong pembicaraan Steve.


"Duduk saja dengan manis dan nikmati permainan ini!" seru Stevie seakan ia telah menyiapkan sesuatu yang amat menarik untuk Steve.


Steve merasa sedikit was-was dan mulai curiga. Sebab kakaknya selalu menjadikan dirinya kelinci percobaan makanan yang ia buat. Stevie adalah wanita yang gemar memasak bahkan tak jarang ia menciptakan masakan baru dan jika masakannya selesai di buat pasti Steve orang pertama yang akan mencicipi masakan itu.


Kacau, berantakan dan kadang hambar, itulah masakan yang Steve rasakan kala memakan masakan kakaknya. Kejadian itu ketika dirinya di paksa makan saat ia berusia enam tahun dan sejak saat itu ia trauma memakan makanan dari kakaknya bahkan ia takut jika melawan kakaknya.


Masa kecilnya di bayang-bayangi oleh tingkah kejam kakaknya. Bahkan untuk sesaat ia berpikir, "Apakah aku adik kandungnya. Mengapa dia selalu menindas ku seperti anak kecil berusia enam tahun itu. Sungguh menjengkelkan jika dia terus-menerus menindas ku. Wanita berengsek!" itulah yang Steve pikirkan. Terlebih masa kecil mereka yang unik membuat Steve tak berani melawan kakaknya.


Meskipun Steve sekarang tumbuh sebagai pria yang sempurna, melawan bahkan membantah perintah kakak dan ibunya adalah hal yang tak bisa ia lakukan. Jika ia melakukannya maka ia akan menyesal seumur hidupnya.


"Ini dia makanannya," Stevie dengan makanan di nampan memberikan sebuah kejutan pada Steve.


"Apa ini kak?" tanya Steve saat melihat sebuah nampan yang di tutup dengan rapat.

__ADS_1


Ia tak bisa membayangkan kali ini makanan apa yang akan di buat oleh sang kakak apalagi berkolaborasi dengan wanitanya.


Steve menelan liur kesengsaraan dan kepahitan kala menghadapi mangkuk saji itu. Perasaan mengatakan tidak enak dan sesegera mungkin ingin beranjak dari meja makan dan pergi sejauh mungkin. Rasanya ia tak melirik nampan itu.


"Sebenarnya aku tidak ingin memakan masakan kakak. Lebih baik aku memakan masakan Dinda saja karena masakannya terjamin sehat." Steve mulai takut.


"Kamu pikir aku akan meracuni mu. Biar pun aku jahat di mata mu, mana mungkin aku akan meracuni putra satu-satunya tuan Michele wong. Kamu pikir aku mau membusuk di penjara!"


"Lalu masakan apa yang kakak masak jika bukan makanan parasit!" Steve bergidik sedikit mengurangi rasa curiganya.


"Apa kamu bilang. Parasit!" Stevie kembali naik pitam.


"Tidak. Maksud ku makanan kakak yang paling nikmat. Sampai-sampai aku tak sanggup memakan makanan kakak yang indah dan artistik ini." Steve mencari alibi.


"Benarkah? Aku pikir kamu sedang menghina makanan ku!" seru Stevie percaya pada kata-kata manis adiknya. Ia sedikit lega mendengar pujian itu, walau sebuah ucapan palsu. Matanya terbelalak dan hatinya meleleh karena di puji indah secara profesional.


"Masakan apa yang kalian buat. Dan sepertinya sangat lezat," Steve pura-pura polos dan ikut alur keduanya.


Stevie dan Dinda saling menatap wajah satu sama lainnya. Seakan ini sebuah kode dan siap memberikan kejutan untuknya.


"Lebih baik Pak Steve buka sendiri." Ucap Dinda kala matanya di berikan kode oleh Stevie.


Tak ada pilihan lain bagi Steve selain menerima usulan dari Dinda.


Ia membuka tutup presto berwarna silver dengan ekspresi sedikit ragu. Ia berpikir bahwa ada lelucon di dalamnya.


Kedua wanita itu saling pandang memandang dengan senyum menawan. Keduanya tak sabar ingin melihat bagaimana reaksinya saat membuka presto itu.


Dan........ Ya, yang di dapatkan Steve adalah sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sebuah kue ulang tahun menghiasi nampan dan sedikit memberikan kejutan untuk Steve.


"Selamat ulang tahun Steve!" seru Stevie terharu.


"Maafkan kakak dan ayah serta ibu karena jarang memperhatikan mu. Dan semoga kue ulang tahun ini bisa menghibur mu." Stevie bicara ambigu.


Namun Steve, tidak ada rasa terharu sedikit pun dari hatinya yang paling dalam. Pikirnya tak ada guna merayakan ulang tahun, karena tidak akan memberikan hasil apapun.


"Aku seperti sedang dalam suatu lingkaran drama. Akh.... Tidak! tidak! tidak lebih tepatnya aku seperti dalam sebuah novel romantis. Dimana ada adegan ulang tahun dalam suatu naskah. Sangat menjijikan jika aku harus melakukan tiup lilin, berdoa meminta harapan di kabulkan dan membuka beberapa kado pemberian kerabat. Sungguh memalukan jika wanita ku melihat semua ini.


Tetapi jika aku tidak melakukan semua ini, pasti dua wanita ini akan merasa kecewa. Sungguh sial! aku harus di buatkan pilihan yang sulit." lirih Steve dalam hati dilema oleh perlakuan ini.


Dengan serta Merta ia mengikuti alur sang kakak, jika tidak maka penyihir jahat ini akan mengutuknya.


Stevie dan Dinda terkekeh saat melihat steve yang garang menuruti perintah kakaknya.


"Untung aku hidup di dunia nyata yang tidak ada gimik-nya. Jika tidak maka hidupku benar-benar seperti dalam sebuah novel romantis yang hanya membuat pembaca idiot kala membaca kisah hidup ku yang miris. Bahkan jika di film kan kisah ku ini, mungkin adegan ulang tahun malam ini akan di bumbui sedikit drama oleh sutradara. Dalam naskah tersebut si presiden direktur akan di buatkan kue ulang tahun yang megah, dan di sisipi pesta ulang tahun mewah lalu mengundang ratusan pejabat kaya. Sungguh aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika aku benar-benar berada dalam suatu drama."


Steve berpikir sejenak saat sang kakak dan wanitanya meminta di tiupkan lilin.


Dengan wajah polosnya dan pura-pura lugu Steve mengikuti alur dua wanita itu. Hatinya kesal, tetapi apalah daya hanya ini yang bisa ia lakukan demi menghargai kerja keras keduanya.


"Sungguh aku seperti sedang dalam drama tv yang ibu tonton setiap pagi. Drama tahun sembilan puluhan. Drama yang tidak baik untuk di tonton oleh anak-anak."


Steve benar-benar harus menemui seorang psikiater agar otaknya yang jernih tidak terpengaruh oleh pikiran jahat bahkan ia ingin lari dari naskah drama yang keduanya perbuat.



BERSAMBUNG.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar serta bintang 🌟 limanya.


Jika tidak keberatan, silahkan dukung author kalau keberatan jadi silent reader saja tak masalah.


Love dosn't see.

__ADS_1


__ADS_2