
TELEPON
Di tengah cerita yang sedang di sampaikan Tuan Wong, tiba-tiba telepon berdering. Steve yang menjawab panggilan itu.
Nomor tidak di kenal. Dari layar handphone Ibunya yang tergeletak di depan meja rias itu panggilan masuk tanpa nama.
"Jika Ibu kalian ingin selamat. Kembalikan kunci gudang yang di ambil oleh Tuan Wong. Maka aku jamin, Nyonya Diah akan baik-baik saja!" Dari dalam telepon, suara yang amat berat dan parau itu memerintah.
Steve bingung, kunci apa yang di maksud oleh pria di balik suara tanpa rupa ini. "Katakan! Kunci apa yang anda maksud!"
"Katakan saja pada Tuan Wong agar menyerahkan kunci itu, tidak perlu banyak bertanya. Aku hanya ingin kunci gudang itu," katanya lalu mematikan telepon.
"Halo! Halo! Halo!" Steve menggoyangkan handphone Ibunya. Pikirnya sinyal sedang gangguan. "Halo! Katakan dengan jelas!"
"Sudahlah Steve!" Tuan Wong menghentikan. "Dia pasti hanya menginginkan kunci itu."
"Kunci apa yang dia maksud, Pa?"
"Kunci gudang penyimpanan barang-barang terlarang yang sudah lama di selundupkan oleh ayahnya," jawab Tuan wong. "Papa yang memegangnya. Gudang penyimpanan narkotika itu ada di Taiwan. Polisi Taiwan tidak tahu jika Hery Kim mempunyai gudang penyimpanan ini."
Steve mengernyitkan dahinya. Memicingkan matanya, menatap sang ayah. "Di mana kunci itu, Pa?" tanya Steve lagi. "Biarkan Steve yang mengantar kunci itu, yang terpenting Mama akan baik-baik saja."
"Nggak. Kamu nggak boleh membawa kunci itu kesana. Di sana berbahaya, Hery Kim sangat kejam," ujarnya melarang.
"Kita tidak ada pilihan lain, Pa, selain menyerahkan kunci itu."
Steve menuntut ayahnya agar menyerahkan kunci itu. Dia sangat ceroboh dan terburu-buru.
Stevie menghentikannya, dia juga tidak mau kalau Steve mengambil resiko sebesar ini. Membahayakan nyawanya sendiri. "Jangan gegabah, Steve," Stevie menengahi. "Masih ada cara lain. Jangan membahayakan diri sendiri."
"Kita harus secepatnya kak membebaskan Mama. Aku takut Mama kenapa-kenapa."
"Papa punya ide," Tuan wong menyambar. Di tatapinya kedua anaknya itu, kali ini dia memiliki ide yang menurutnya adalah sebuah keberuntungan.
****
Di gedung kosong sebelah barat kota Frankfurt. Ibu Diah di sekap dalam penjara kecil. Dia tidak di bekap maupun di ikat. Dia bebas, walau di bilik kecil.
Pria yang dulu pernah di tolong oleh Ibu Diah, kini berada di hadapannya. Hery Kim, dia masih bisa bernafas bebas setelah merencanakan kabur dari penjara selama delapan belas tahun ini.
"Lama tidak bertemu dengan Diah, wanita ini semakin cantik," ucapnya di hadapan Ibu Diah.
"Aku pikir setelah masuk dalam penjara selama delapan belas tahun ini. Tuan Hery Kim akan berbuat baik, tidak ku sangka. Tak ada ubahnya, pria yang ambisius."
"Dulu aku yang sangat terobsesi pada gadis secantik diri mu. Aku pikir setelah sekian lama tidak bertemu, aku akan melupakan wajah cantik mu. Tapi sayang, rasa cinta ku yang besar, mengalahkan ego ku sendiri."
Hery Kim duduk tepat di hadapan Ibu Diah. Wanita itu memang terlihat cantik. Tak ada ubahnya saat pertama kali dia bertemu dengan wanita yang pernah menolongnya kala itu.
"Aku dengar kalian sudah punya anak. Katanya tampan, apakah itu benar?" Hery Kim kemudian berdiri menjauh, menyalakan sepuntung rokok. Menghisapnya dalam-dalam, nikmatnya dia rasakan setelah delapan belas tahun tidak menikmati asap berbahaya ini.
"Itu bukan urusan mu!" Jawab Ibu Diah. Dia tidak Sudi berbicara dengan pria aneh ini.
"Cih! Sudah jauh-jauh aku terbang dari Taiwan ke Frankfurt. Melewati pengamanan pelabuhan demi menemui mu. Kamu sendiri malah tak mengharapkan kehadiran ku."
"Aku sudah bahagia dengan anak-anak ku juga suami ku. Sekalipun aku tidak pernah berpikir akan bertemu dengan anda," ujar Ibu Diah.
"Tapi sayang, aku tidak berniat mengejar cinta mu lagi," Hery Kim berkata. "Tujuan ku kesini hanya ingin kunci harta Karun ku."
Dia menghisap aroma rokok yang bergumul. Walau tidak ada niat menculik Ibu Diah, tapi menjadikannya sandera, bisa jadi membantu dia dengan cepat mendapatkan kembali kunci gudangnya.
"Ayah, anak itu tiba," Tony Kim, putranya menyela.
Tidak ada yang lebih baik dari mendengar kabar bahwa kunci keberuntungannya dan kekayaannya akan tiba. Di pandangi-nya sekilas wajah Ibu Diah, lalu membuang puntung rokoknya di hadapan Ibu Diah. Dia kemudian meninggalkannya dalam sel tahanan ini.
Hery Kim hanya ingin menyambut si pembawa kunci. Setelah itu, mungkin dia akan merencanakan hal lain.
Steve datang ke tempat tujuan di mana dia harus mengantar kunci. Berkat meminta bantuan Zico yang ahli dalam bidang IT, akhirnya Steve mengetahui tempat persembunyian mereka di Frankfurt.
Steve di todong oleh beberapa pria penjaga pintu masuk menggunakan senjata Laras panjang. Steve mengangkat tangannya ke udara, tanda bahwa dia datang secara baik-baik.
Dari dalam gedung tua, Hery Kim datang dengan gaya jalan yang santai. "Rupanya teman masa kecil putra ku yang datang," katanya tanpa berbasa-basi menyambut kedatangan Steve.
Jujur, bahkan Steve tidak tahu jika Tony Kim pernah menjadi bagian dalam keluarganya. Mungkin saat balita atau dia masih bayi, bisa jadi begitu. Seingat Steve dia tidak pernah mengenal yang namanya Tony Kim.
"Dimana Ibu ku. Aku harus bertemu dengannya Sekarang."
Steve tertahan oleh segerombolan anak buah Hery Kim. Dia ingin menerobos, tapi tak di izinkan.
"Serahkan dulu kunci itu, maka aku akan membebaskan Ibu mu."
Tony Kim berdiri di sebelah ayahnya. Dia melihat wajah garang Steve, teringat saat Steve kecil bermain dengan dirinya. Walau Steve tidak tahu sama sekali bahwa Tony Kim adalah putra angkat Ibunya. Sekarang dia sudah tumbuh menjadi pria dewasa.
__ADS_1
Steve menyerahkan kunci itu secara baik-baik. Karena kunci hartanya sudah kembali, Hery Kim tidak mempermasalahkan mereka bebas.
Di dorongnya badan Steve masuk kedalam gedung. Dia membiarkan Steve menemukan Ibunya sendiri.
"Mama!" Dari luar sel tahanan kecil ini, yang terlihat mirip kandang beruang. Steve memeluk Ibunya. "Mama baik-baik saja-kan?" tanyanya memastikan.
Ibu Diah mengangguk. "Mama baik-baik saja. Jangan khawatirkan Mama!" katanya penuh keharuan.
Steve menuntun Ibunya keluar, tapi belum sampai dia membawa Ibunya kembali, Hery Kim mencegat mereka. "Jangan pikir bisa bebas dari genggaman ku semudah ini."
Steve menatapnya bingsal, tangannya sudah terkepal siap mem-bogem wajah pria tua itu. "Aku sudah memberikan kuncinya pada anda. Kenapa anda mengingkari janji yang anda buat sendiri?"
Hery Kim melahai tertawa terbahak-bahak. Pikirnya dia pria bodoh yang tidak akan membalas dendam pada keluarga wong. "Selama delapan belas tahun aku di penjara di Taiwan. Semua ini karena siapa? Karena Tuan wong. Dan aku, hari ini ingin membalaskan rasa sakit dan dinginnya sel penjara melalui istri dan anaknya. Itulah kenapa saat yang datang adalah kau, aku merasa agak kecewa. Kenapa harus putranya, bukan dia."
"Jika kau sendiri ingin aku mati, maka jangan harap kalian semua juga selamat!" Steve membalas mereka dengan ancaman.
"Ha-ha-ha," Hery Kim kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ancaman Steve yang dia kira bukan tandingannya. "Hei bocah. Dengan apa kau akan melawan ku? Dengan jiwa mu yang manja itu?"
Steve memang geram karena di ejek pria baya ini. Tapi dia menahan diri untuk tidak menyerang lebih dahulu. "Aku minta sepuluh anak buah mu bertarung dengan ku. Jika aku menang, maka kau harus melepaskan aku dan Ibu ku!"
"Jika aku yang menang?"
"Kau boleh membunuh ku sepuas yang kau mau?" Jawab Steve penuh keyakinan.
Ibu Diah menarik lengan putranya itu, dia telah mengambil keputusan yang salah. "Kenapa kamu melakukan itu? Jangan membahayakan diri sendiri."
"Mama tenang saja, aku pasti baik-baik saja. Mama nggak perlu khawatir!"
Steve menoleh ke wajah Ibunya sekilas, memberikannya senyuman yang menawan.
"Tapi,"
Steve tidak mengindahkan kata-kata Ibunya. Dialah pria sejati, tidak takut jika di tantang apalagi menantang. Steve tak gentar jika harus berperang.
Hery Kim yang merasa tertantang, menyuruh dua anak buahnya lebih dahulu menghajar Steve. "Jangan biarkan dia menikmati hidupnya. Siksa sampai dia merasakan sakit yang aku alami selama ini."
"Cuih!" Steve mendesis. "Akan aku siapkan kado natal terbaik untuk kalian. Tapi, hadapi dulu aku."
Steve membrutal, tak ada satupun dari keduanya yang dia ampuni. Steve mematahkan kaki dan tangan mereka. Belum selesai bertarung, kembali beberapa pria gagah menghadapi Steve.
Inilah sensasi yang ingin Steve nikmati. Pertarungan khas pria.
Kerah-kerah baju mereka, Steve pelintir. Memukul wajah mereka hingga bonyok, bahkan meretakkan rahang-rahang mereka.
"Tsk!" Hery Kim men-decak. Di ujung bibirnya dia tersenyum pahit. Anak buahnya bisa di lumpuhkan oleh bocah yang dia remehkan tadi. "Tak akan aku biarkan kalian pulang dengan selamat hari ini."
Hery Kim menodongkan pistol tepat di punggung Steve. Steve berpikir sebelumnya bahwa dia akan menepati janjinya, namun ternyata sama saja. Dia tetap ingkar pada ucapannya.
"Ayah jangan terburu-buru menikmati permainan ini," Tony Kim menyela. "Biarkan aku yang menghabisi dia."
Dengan senang hati, Hery Kim menurunkan senjatanya. Permintaan putranya membuat pria ini tak jadi bertindak.
"Hari ini bocah seperti mu bebas dari peluru ku, tapi tidak dengan serangan orang-orang ku," katanya dengan sombong. Dia mengizinkan putranya yang mengeksekusi Steve, dia puas melihat pertempuran ini.
Maafkan aku. Walau kau sendiri pernah menyayangi aku ketika kecil. Namun itu semua tak bisa merubah rasa kebencian ku atas tindakan kalian memisahkan aku dengan ayah ku selama delapan belas tahun ini.
Seandainya waktu bisa di putar ulang, aku sangat berharap kita tidak bertemu seperti ini. Harus berakhir pada kebencian. Aku juga berharap tidak di lahir-kan dari pria penjahat ini. Namun aku tidak bisa melawan takdir, aku harus melakukannya demi ayah.
Sebelum bertarung dengan Steve, Tony Kim memandangi wajah Ibu Diah yang ketakutan Itu. Wanita yang pernah menyayanginya saat kecil. Bahkan sudah di anggap Ibu kandungnya sendiri.
"Mari kita akhiri kebencian selama ini. Entah aku yang akan mati atau kamu yang akan mati. Kita akan mengakhiri semua ini dalam pertarungan sengit." Tony Kim menantang Steve.
Di regangkan seluruh otot-ototnya. Dia memanaskan badan sebelum bertarung, apalagi Steve terbilang cukup kuat.
Steve melayani tantangan Tony Kim. Mereka mulai bertarung, Steve lebih dahulu mendaratkan kakinya di tubuh Tony Kim.
Berulang kali pria ini menyerang Steve, dia mampu menghindarnya.
Tony Kim dalam kesusahan melawan Steve. Berulang kali Steve menerjangnya, menendang, memukul bahkan memberikan Bogeman mentah pada pria itu.
BUGH! BAGH! BUGH! Suara-suara pertarungan itu sangat menggairahkan.
Melihat putranya sudah terluka oleh pukulan Steve, Hery Kim memanggil bantuan.
Hampir puluhan anak buahnya datang. Nampaknya Hery Kim masih menyimpan persediaan tenaga. Mereka menyerang Steve secara gerombolan.
"Bunuh dia. Jangan biarkan dia selamat!" Perintah Hery Kim berang.
Mendengar seruan dari bos judi ini, anak buahnya dengan senang hati melakukannya. Steve melawan, karena jumlah mereka yang banyak, Steve kewalahan. Mereka tak terbendung, jumlah mereka banyak. Pada akhirnya Steve kalah.
Gubrak! Bruk! Orang-orang itu mengeroyoki Steve. Ada yang menendang perutnya, ada juga yang memukul punggungnya bahkan ada juga yang menyabet tulang rusuknya.
__ADS_1
Hingga Steve memuntahkan darah dari mulut dan hidung. Darah segar itu mengalir deras. Tangan-tangan Steve juga terluka sisa-sisa pertarungan tadi.
Tubuh Steve mulai nampak terluka amat serius, di bagian punggungnya mengeluarkan darah akibat sabetan benda tajam.
Ibu Yuri yang melihatnya, tidak mau kehilangan putra tercintanya.
"Aku mohon! Jangan lukai anak ku!" Katanya pada Hery Kim sambil memohon. Dia bersimpuh di kaki pria itu.
Steve sudah agak terluka lumayan parah. Mulutnya mengeluarkan darah segar, Steve menahan rasa sakit di tulang rusuk saat orang-orang itu memukulnya.
"Ibu! Jangan memohon padanya!" walau Steve tak berdaya, tapi dia masih bisa bertahan walau tertatih-tatih.
Tony Kim yang juga terluka, perlahan agak pulih. Kali ini dia ingin menyerang Steve lagi. Hery Kim yang melihat sisi pemberani anaknya ini sangat senang. Bakat penjahatnya sudah tertanam di darah sang anak.
Steve terkapar, bukan berarti dia akan lengah saat pria itu akan menyerangnya menggunakan pemukul baseball.
Steve menjagal kaki Tony Kim hingga terjatuh, keduanya sama-sama saling lemah.
Tulang kering Tony Kim rasanya seperti mau retak berkeping-keping. Benda tumpul yang menghantam , membuat kakinya menjadi lemas tak berdaya. Seolah lumpuh, Tony Kim merasakan tubuhnya mati rasa.
Tepat di sebelah Steve ada pecahan kaca tebal, dengan cepat dia mengayunkan kaca itu di wajah Tony Kim hingga terluka parah.
"Argh!" Tony Kim mengerang kesakitan. Darah membasahi wajahnya.
"Kau!" Hery Kim memekik sesaat melihat anaknya terluka lagi. Dia mengacungkan lagi pistolnya ke arah Steve. Di tariknya pelatuk itu secara perlahan. "Akan ku akhiri sesegera mungkin dendam ini."
Belum usai dia berkata, ada segerombolan orang-orang mengepung gedung bekas pembangunan ini. Orang-orang dengan pakaian lengkap, berseragam hitam dan seluruh tubuh dilapisi pakaian pelindung.
"Bewegen sie sich nicht, wir Deutsche polizei haben diesen ort umstellt." Ucap salah seorang dari luar, menodongkan senjata.
(Jangan bergerak, kami kepolisian Jerman sudah mengepung tempat ini)
Semua orang yang ada di dalam khususnya yang bertarung dengan Steve tadi mengangkat tangan. Mereka menyerah, tak berani berkutik di hadapan kepolisian jerman.
Hery Kim tidak bisa bertindak kalau situasi sudah semacam ini. Jalan satu-satunya adalah mengakhiri balas dendam. Seperti kata putranya tadi, jika dia yang tidak mati, maka Steve yang harus mati.
Dia menarik pelatuk pistol ingin menembak Steve. Melihat pria tua ini ingin melakukan hal konyol, polisi Jerman yang menggunakan teropong senapan, langsung membidik bagian dada Hery Kim.
Dor! Suara tembakkan itu nyaring berbunyi mendengung. Tembakan itu membuat pria paruh baya ini berhenti untuk sesaat menatap dunia.
Seketika dia langsung terhuyung. Kecepatan pistol lebih dari angin, hingga kaliber itu lebih dahulu bersarang di badan Hery Kim.
Maafkan jika polisi Jerman kejam, semua itu asal dari dendam.
Tony Kim yang melihat kejadian ini, berteriak keras. Walau dia terluka parah, tetap di dekatinya sang ayah. Dia merangkak menggapai tangan ayahnya.
"Abeoji! Abeoji! Abeoji," katanya sambil menangis. "Aboeji harus bertahan. Ayah harus harus kuat, misi kita belum selesai."
Tony Kim menangis sejadi-jadinya melihat kematian sang ayah di depan matanya. Namun, pria itu setengah sadar. Di genggamnya tangan sang anak, darah dari tubuhnya terkontaminasi di kulit putranya itu.
"Kamu! Harus..... Membalaskan.... Dendam aboeji...." Ucapnya terbata-bata. Lalu tak lama kemudian pria itu benar-benar meregangkan nyawanya untuk yang terakhir kalinya.
"Tidak! Tidak! Aboeji pasti bisa selamat. Aboeji adalah panutan terakhir ku. Aku akan membalaskan dendam ini, aboeji tenang saja. Aku akan melakukannya untuk Aboeji. Aboeji! Aboeji." Di kiranya sang ayah masih hanya sekarat, namun dia salah. Sang ayah sudah tak bernafas lagi. Di depan matanya, Tony Kim melihat kematian ayahnya sendiri.
Zico, Stevie dan Tuan wong datang. Melihat Steve yang sudah kaku terkapar di lantai kotor, membuat mereka khawatir. Ambulan sudah siaga, beruntung Steve hanya luka luar.
Di atas tandu yang mengangkutnya. Steve menatap orang-orang itu tersenyum. Terutama Ibunya, Ayah, Stevie dan Zico yang telah memberikan pertolongan ini.
Walau terluka luar, bekas itu meninggalkan kenangan di tubuh Steve. Hari-hari sudah berlalu, kejadian di Frankfurt sudah berakhir. Dan kini kembali lagi ke dendam semula.
Namun di hari-hari berikutnya, Steve mendapat kabar dari Zico, bahwa Tony Kim usai di rawat di rumah sakit, dia langsung kabur. Tanpa sepengetahuan petugas pengamanan, pria ini melarikan diri dari kejaran polisi Jerman.
Hingga bertahun-tahun lamanya hidup dalam pengejaran polisi Jerman. Diam-diam Tony Kim yang memegang kunci penyimpan barang-barang terlarang sang ayah. Memilih kembali ke Taiwan, Tony Kim melanjutkan usaha ayahnya menjadi bos judi kasino terbesar di Asia.
Sekaligus pengedar narkotika internasional dan sindikat perdagangan manusia. Dia menampung manusia-manusia untuk di jual. Utamanya dari Bangladesh, sumatera, Vietnam dan beberapa dari teluk Siam.
Sejak saat itu, bisnisnya berkembang pesat, namun sayang, dia pada akhirnya terendus oleh pihak pengaman. Taiwan, Hongkong dan Jerman, kini menjadi musuhnya.
Di hari-hari berikutnya
"Aku dengar dia sempat menikmati dinginnya sel tahanan Frankfurt selama sepuluh hari."
Zico melemparkan sebotol soda pada Steve yang tengah duduk di sofa apartemennya di Jerman. "Dia sangat licin, sampai-sampai sulit menemukan keberadaannya."
"Katanya dia menjadi buronan polisi Jerman atas penyelundupan narkoba di pelabuhan Jerman. Apa itu benar?" sambil meneguk soda, Steve bertanya pada temannya itu.
Karena Zico tahu segala hal, pastinya dia paham.
"Yeah, nyatanya dia sekarang buronan. Kamu pasti jadi incarannya."
Steve paham, dia pasti akan datang kembali sebagai musuh abadinya. Setidaknya Steve sudah tahu kalau musuhnya itu melarikan diri dari penjara.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Kalau lama UPDATE, itu artinya author Hiatus yah. Semoga mengerti, btw. Author mau up di novel sebelah, plis beri waktu bagi author membagi ide cerita. Salam manis, Author.