
Cuaca siang itu sangat cerah, suasana kantor juga dalam mode damai. Para karyawan fokus pada tugas masing-masing.
Kemarin Steve dan Dinda mengantar Nenek, Ayah dan Ibunya di bandara di temani oleh Stevie. Stevie tidak ikut kedua orang tuanya ke Jerman, dia lebih memilih tetap di Indonesia bersama Steve dan Dinda di sini.
Semua pekerja di kantor Steve tengah giat sebab akan ada rapat presentasi mengenai peluncuran produk terbaru model sepatu sekaligus launching pertama baju kasual yang di buat dari bahan kualitas terbaik.
Stevie sudah sejak pagi datang di kantor bersama karyawan kantor lainnya. Dia meninggalkan Steve yang masih sarapan di rumah. Stevie ingin turut ambil bagian dalam perencanaan peluncuran produk terbaru ini.
Dia sangat antusias menyambut kehadiran model terbaru sepatu kebanggaan kawula muda yang ikonik.
"Hari ini ada rapat penting, Din," Eva menyela Dinda yang fokus menyusun laporan penting di mejanya. "Semua kepala bagian devisi beserta tim bagian harus hadir dalam rapat penting siang nanti. Aku baru saja menyelesaikan laporan keuangan bulan lalu dan sudah aku input. Tinggal kamu periksa dan serahkan pada Pak Steve," kata Eva sembari meninggalkan file bersampul merah di meja Dinda.
"Apa semuanya sudah lengkap?" Dinda menatap Eva yang hendak berlalu. "Nggak ada lagi-kan yang harus di revisi ulang mengenai laporan keuangan ini?"
Eva membalikan badannya, dia menjawab. "Aku rasa nggak ada lagi deh," katanya berucap dengan kepastian. "Aku sudah mengeceknya dengan teliti. Aku rasa nggak perlu lagi di revisi ulang."
"Oke deh," balas Dinda. "Aku nggak revisi lagi. Jadi aku akan langsung mengantarkannya nanti, jika dia sudah datang."
"Oke manis ku," Eva tersenyum bergaya, dia bertingkah manis di depan Dinda. "Nanti siang ku traktir makan pizza," ucap Eva berlalu meninggalkan meja kerja Dinda.
Dinda menggeleng, tingkah Eva memang patut membuatnya terhibur. Dandanan Eva sangat modis, wajar wanita itu cinta pada kecantikan.
Dinda kembali pada pekerjaannya, namun saat dia sedang memeriksa semua bagian berkas yang menumpuk, Miko datang dan berdiri di depannya.
"Kak, apa rapatnya sudah di mulai?" tanya Miko tak ada angin tak ada hujan dia mengagetkan Dinda.
"Huh, kamu mengagetkan kakak saja!" gerutu Dinda sewot. Dia menarik nafas dalam-dalam, adiknya itu hampir membuatnya jantungan. "Kalau datang harus menyapa dulu, biar kakak nggak terkejut begini."
"Maaf kak," Miko tersenyum, menggaruk kepalanya. Dia bersalah membuat sang kakak hampir jantungan. "Aku kira kakak sudah melihat kedatangan ku tadi."
"Ya sudah, Kakak paham," Dinda melupakan kejadian ini, dia beralih berkata. "Kamu kenapa datang sepagi ini. Apa ada kepentingan? Apakah kamu sudah buat temu janji di meja resepsionis?" tanyanya khawatir takut-takut Miko akan di usir oleh satpam jika ketahuan menerobos masuk tanpa izin.
"Tenang saja kak," jawab Miko santai. "Di meja resepsionis tadi, dua perempuan menyambut kedatangan ku. Mereka bilang, kak Stevie menyuruh ku menunggu di ruangan Kak Steve, tapi aku bingung dimana ruangannya?"
"Ck," Dinda mendesis. "Kamu mau ikut rapat?"
"Iya," angguk Miko. "Kak Steve menghubungi aku semalam, dia bilang sebagai brand ambassador Belagio aku wajib ikut rapat mengenai peluncuran produk terbaru ini," jelas Miko.
Dinda melisik ke kiri dan ke kanan, Steve belum hadir di kantor pagi ini.
"Berhubung Steve belum datang, kamu menunggu saja di sini," pinta Dinda pada Miko. Dia menarik kursi, lalu memberikan pada adiknya.
Miko duduk tepat di sebelah Dinda yang sedang bekerja ekstra.
"Rapatnya mulai jam satu setelah jam makan siang, jadi kamu harus menunggu dulu," ujar Dinda. Dia berkata tapi matanya fokus pada pekerjaan. "Kenapa kamu datang sepagi ini? Memangnya nggak di kasih tahu sama yang lainnya kalau rapat di mulai siang nanti?"
Miko yang bermain gawai, berhenti memainkannya. "Aku hanya di minta datang pagi oleh kak Steve," jawab Miko. "Ya, Miko hanya ikut saja apa yang di katakan oleh kak Steve dan kak Stevie."
"Jadi pagi ini kamu nggak sekolah?" Dinda memutarkan kursinya, melihat sang adik yang duduk santai di sebelahnya. "Nanti kalau kamu dapat surat panggilan karena sering absen, apa alasan kamu? Mau bilang lagi kalau ada acara keluarga?" sindirnya pada Miko. Dinda tahu, tiap kali Miko dapat surat panggilan tentu dia akan beralih ada acara keluarga, dia memberikan alasan itu, selalu pada pihak sekolah.
"Sekolah Miko kan banjir," Miko membalas. "Mana airnya selutut, keruh pula. Memangnya ada yang sekolah di kondisi seperti ini?"
"Ih, kamu ngeles terus," Dinda gemas pada jawaban Miko yang selalu memiliki jawaban atas semua cecaran Dinda. "Lantas kalau banjir, sekolah libur?"
"Kakak cerewet banget sih," gerutu Miko. "Miko sudah berkata jujur, kalau hari ini sekolah di liburkan karena banjir. Apa kakak perlu bukti kalau aku nggak bohong."
Miko menyodorkan handphonenya pada Dinda, dia meminta sang kakak menghubungi pihak sekolah. "Nih, kakak telepon saja wali kelas Miko, pasti jawabannya libur," suruh Miko pada Dinda.
"Ya sudah deh, kakak percaya," Dinda berhenti mencecar. "Kakak memang harus di buat mengalah terus kalau kamu yang menjawab. Nggak seperti Niko, dia selalu nurut," katanya membandingkan.
"Karena dia nggak mau berdebat dengan kakak yang cerewet, makanya dia lebih memilih mengalah," ungkap Miko tanpa perasaan.
>>>>>>>>
Sedangkan Niko sama seperti Miko, dia juga tidak sekolah hari ini. Dia tidak ada di rumah, dia lebih memilih kerja part time di sebuah restoran terkenal. Pemilik restoran menawarkan Niko pekerjaan sebagai pelayan pramusaji karena pikirnya restoran akan semakin ramai jika ada karyawan hot dan terlihat segar.
Saat itu Niko bertemu dengan pemilik restoran saat dia dan adik Inggrid bertengkar di cafe tidak jauh dari restoran miliknya. Karena pikir Niko tidak ada tempat yang mau memperkerjakan anak-anak seperti dia apalagi masih terbilang di bawah umur. Usianya yang masih terbilang sangat muda, berusia enam belas tahun sangat tidak memungkinkan untuk bekerja. Berhubung dia dapat tawaran menarik, pada akhirnya Niko mau mengambil pekerjaan part time ini.
"Niko, nanti antarkan bistik daging sapi ini ke meja nomor dua puluh tujuh ya," seorang karyawati yang berusia lebih tua dari Niko memberikan instruksi pada Niko.
__ADS_1
Dia tengah berada di dapur melihat para juru masak memasak dan karyawan lainnya yang sedang membersihkan daging dan sebagainya.
Niko mengangguk, dia menerima perintah tersebut. Dia terlihat manis dengan pakaian kerja hitam putih dan memakai celemek hitam.
Sejak dia bekerja di restoran ini, banyak para anak gadis khususnya anak-anak yang sebaya dengannya datang ke tempat ini sekedar melihat wajah Niko.
"Permisi, saya ingin mengantarkan makanan," kata Niko sopan. Dia menaruh semua makanan di atas meja yang di huni oleh sekumpulan pria-pria tampan. Sesuai dengan perintah wanita yang menyuruhnya tadi.
Jumlah pria itu lima orang, tapi sejak kedatangan Niko dengan baki makanan, pria-pria aneh itu terus menatapnya dengan tatapan nanar.
"Kalau kamu nggak keberatan, bisa di tambah sambalnya," tamu pria yang ada di hadapan Niko berkata sambil menyentuh tangan putih nan halus Niko.
Niko terkejut, baru kali ini dia di sentuh oleh pria. "Akan saya ambilkan untuk kakak," jawab Niko seraya menarik cepat tangannya. Dia alergi di sentuh oleh pria.
"Oh, jangan panggil aku kakak," dia menyela. "Panggil saja incess," pintanya. "Dedek emesh terlalu sungkan dengan ses," lirihnya menggoda.
Niko tersenyum memaksa, mengernyitkan keningnya, dia tidak tahu bagaimana bisa bertemu dengan pria-pria aneh seperti ini.
Niko yang mendengar ucapannya, memejamkan matanya serapat mungkin. Mimpi apa yang ia alami semalam, kenapa dia bertemu dengan orang-orang yang membuat bulu kuduknya merinding.
Mulutnya sangat menjijikan bagi Niko untuk di lihat, bahkan gaya bicaranya mirip perempuan. Menggelikan bagi Niko melihat tingkah kelima pria aneh itu.
"Iya, incess. Aku akan menambahkan sambal untuk anda," Niko menjawab, terpaksa. Dia ingin berlalu, tapi kawanan Princess berlagak seperti wanita itu menghentikannya.
"Tunggu sebentar," kata salah satunya lagi. "Kalau kamu nggak keberatan, boleh dong kakak-kakak incess ini minta Poto kamu. Atau sekalian nomor handphone biar enak kita berkenalan."
Niko menyunggingkan bibirnya tersenyum memaksa. Tapi bagi kawanan lima pria aneh itu dia terlihat manis meskipun Niko tidak berniat tertawa.
"Nanti akan aku berikan, aku ambilkan dulu sambal untuk kakak-kakak sekalian," kata Niko ingin berlalu.
"Jangan kakak-kakak," yang lain lagi menyela lagi. "Panggil incess atau ses. Biar kita terlihat akrab kita kalau bicara," katanya meminta.
"Oke, incess. Aku akan mengingatnya."
Niko menggelengkan kepalanya, dia benci melihat kawanan waria berpakaian pria itu. Mereka pekerja kantoran dengan kemeja putih dan celana hitam di badan. Mengenakan id-card di menjuntai di leher, namun tidak malu meminta Niko memanggil mereka dengan sebutan sea walau wajah mereka rupawan.
Di dapur, Miko mengadu pada wanita yang menginstruksi dirinya tadi. "Bisakah kakak manis dan cantik yang mengantarkan sambal ini," pinta Niko. "Perut ku seperti sedang diare, aku ingin ke kamar kecil sebentar."
Niko membelalakkan matanya, dia bertingkah membantah tapi menggemaskan. "Jadi aku harus melayani mereka hingga akhir?" tuntut Niko. "Apa nggak ada opsi lain?"
Wanita yang sedang mengelap piring ini berhenti pada tugasnya, lalu melihat wajah Niko yang menjulang tinggi. "Aku bisa saja membantu kamu mengantarkan sambal untuk mereka, tapi sebagai gantinya, kamu harus cuci piring itu," dia menunjukan tumpukan piring kotor yang memenuhi wastafel juga di bawah wastafel ada empat wadah besar penampung piring kotor. "Kalau kamu nggak sayang pada kuku-kuku indah mu itu dengan senang hati aku berganti tugas," celetuknya meledek.
"Aku yang akan mengantarkan, aku akan menahan mata agar tidak tergoda oleh mereka," jawab Niko dengan kata lain dia menolak untuk menyentuh piring-piring kotor itu.
Di dapur neraka, di depan juga neraka. Kenapa pekerjaan yang aku temui begitu sulit sih, gerutu Niko pelan. Aku butuh uang, tapi kenapa uang seakan menghindar dari ku, gumam Niko mengeluh.
Dia pergi membawa sambal untuk di berikan pada pelanggannya tadi. Sedangkan wanita yang menjadi teman kerjanya itu terkekeh melihat tingkah polos Niko dari balik dinding kaca yang menutupi dapur.
"Untung dia ganteng. Coba kalau jelek, mana mungkin pria-pria aneh itu mau minta di layani olehnya," ucap wanita ini pelan.
"Nggak usah di tatap terus. Nanti kamu jatuh cinta sama anak belia seperti dia," tegur juru masak yang sedang bertugas di dekat wanita ini.
"Ih, apaan sih chef, ganggu aja deh," bantahnya mengomel. "Tahu orang lagi senang juga," tambahnya menggerutu mengomeli juru masak yang mengganggu imajinasinya itu.
"Lagian, kamu. Anak kecil kok di goda," juru masak kembali berulah.
"Tapi dia kan lucu chef," jawab wanita ini. "Aku sebagai wanita hayati yang tulen, mana mungkin bisa menolak pesona cowok seperti dia. Mana ganteng, tinggi pula. Janda bumi mana yang tidak akan tergoda oleh paras rupawannya."
"Kamu ini ya, ngeles terus," juru masak menyentil pelan jidat lebar wanita itu.
"Sakit tahu chef," katanya bertingkah. "Dia itu tipe ku banget tahu, jarang-jarang loh chef di restoran ini ada dedek ganteng seperti dia," wanita ini mengadu sekaligus mengungkap rasa senangnya atas kehadiran Niko.
Juru masak yang sedang mengaduk adonan masakannya, menggeleng melihat tingkah karyawati yang telah bekerja bertahun-tahun bersamanya. "Kamu mau di sebut fedofil karena mencomot anak kecil."
"Hellou, chef," wanita ini berlagak. "Wanita mana coba yang nggak kesemsem sama cowok seganteng Niko walau dia masih berumur belasan. Bilang aja kalau chef sendiri cemburu apalagi kalah telak soal kegantengan, secara chef sendiri sudah bangkotan," ledeknya.
"Tsk," juru masak terus menggeleng melihat wanita ini. Dia tidak berkata lagi setelah di ledek tanpa perasaan oleh wanita ini. Sejujurnya apa yang di katakan-nya adalah sebuah kenyataan~~kenyataan bahwa dia iri pada Niko yang tampan.
>>>>>>>>
__ADS_1
Niko yang tadi mengantarkan sambal, tidak bisa pergi. Kelima pria yang sedang makan itu memintanya duduk di dekatnya. Mereka berjanji akan memberikan tip jika Niko menemani mereka.
Sejujurnya Niko dari lubuk hati yang terdalam, ingin mengajak mereka adu gulat. Mereka begitu menyebalkan karena meminta ini itu. Berhubung image restoran yang baik sekaligus mereka adalah pelanggan setia restoran ini, dengan berat hati Niko harus menurunkan egonya.
Jika bukan karena gajinya yang besar untuk pekerja part time, mana mungkin aku mau bekerja di sini. Buang-buang waktu ku saja menemani sekumpulan pria kemayu ini, gumam Niko pelan. Dia mengutuk kelakuan pria-pria aneh ini.
Mungkin pepatah mengatakan jodoh tak kemana ada benarnya. Pikir Niko jodoh bertemu dengan sekumpulan pria kemayu tadi sudah berakhir. Tapi kali ini datang lagi seorang wanita berambut panjang dengan pakaian seksi dan kaca mata besar.
Bibirnya berbentuk Cherry, tebal berisi dan merah merona. Dia duduk tepat di sebelah Niko.
Dari dapur wanita yang berbicara pada Niko tadi menghampirinya lalu menarik lengan Niko. "Dia itu artis yang kontoversial?" Bisiknya pelan. "Kamu harus melayani dia dengan baik. Walau dia wanita jadi-jadian, tapi dia sudah membooking tempat ini mahal-mahal," katanya menginformasikan.
"Memangnya buat apa dia membooking tempat semahal ini?" tanya Niko.
Wanita ini menoleh ke arah wanita yang baru saja mengambil tempat duduk. "Dia mau buat konten kalsirisakisasi, apalah itu," balas wanita ini. "Belibet amat ngomongnya!"
"Konten klarifikasi?" Niko membenarkan.
"Nah iya, itu," wanita ini menjentikkan jarinya. "Dia si LL, artis musuh publik yang terkenal itu. Makanya kamu yang harus melayaninya dengan baik," perintahnya. "Jangan sampai kamu tergoda, dia bukan wanita sungguhan. Rumor mengatakan kalau dia bukan wanita beneran tapi dia cowok yang sedang mencari jati dirinya," bisiknya kembali pada Niko. Terhitung sebagai gosip bagi Niko saat wanita itu berkata mengumpatnya dari belakang.
"Hubungannya sama Niko apa?" tuntut Niko.
"Keadaannya mendesak," sentak wanita ini. "Dia hanya mau di layani oleh dedek emesh seperti kamu. Pokoknya jangan membantah, ikut saja apa yang dia mau."
"Karyawan di restoran ini-kan banyak yang cowok, kenapa harus Niko?" Niko kembali membantah.
"Ck," wanita ini men-decak. "Karena kamu yang paling tampan di sini Niko," dia mengayunkan nada bicaranya. "Pokoknya jangan tanya lagi, alasannya jelas kalau kamu yang paling tampan di sini. Juga menggemaskan," dia tertawa, menggoda, lalu meninggalkan Niko.
"Selain itu, kamu yang paling wangi, bersih dan putih di sini. Yang lain terlihat buruk, bau amis, bau ikan ada juga tuh yang bau bawang ketiaknya. Makanya kita harus jaga image restoran, atau bos akan marah kalau kita melanggar SOP restoran," lanjutnya memberitahu sambil benar-benar meninggalkan anak yang polos seperti Niko ini.
Hingga di dapur wanita itu terus terkekeh melihat Niko. Dia mengerjainya, dia suka melihat tingkah menggemaskan Niko. Walau berulang kali juru masak yang bertugas di dapur memintanya jangan berulah pada Niko tetap saja wanita ini menggodanya tanpa henti.
Niko terpaku, entah tempat apa yang dia temui saat ini. Pikirnya kenapa pekerjaan yang ia ambil justru terasa seperti neraka. Makin aneh setiap pengunjung yang ia temui, mereka tidak lazim.
Niko menghela nafas panjang, dia lelah pada situasi seperti ini.
Tuhan, selamatkan aku dari bencana ini, tuntut Niko meminta keadilan.
>>>>>>>>>>
Di kantor, Miko yang duduk dengan sang kakak menunggu kedatangan Steve merasa bosan. Pria itu belum juga datang hingga pukul sembilan, padahal dia yang memintanya datang pagi.
"Kak," Miko merengek, dia mengajak Dinda bicara melepaskan kebosanan.
"Hmm," Dinda membalasnya kilat, dia masih fokus jadwal Steve yang padat.
"Kemarin Miko melihat Johan mabuk."
"Lalu?"
"Ada yang aneh saja dari dia," ucap Miko memberitahu. "Kemarin dia sempat berantem dengan teman Miko, si Dandi."
"Berkelahi maksudnya?" Dinda menoleh ke arah Miko sekilas.
"Iya," angguk Miko. "Dia seperti orang sakit jiwa. Keluar dari hotel mewah, pakaiannya urak-urakan seperti gembel. Dia nggak seperti biasanya."
"Masa sih?" Kata Dinda mendengarkan sambil bekerja. "Mungkin kamu salah lihat kali?"
"Beneran kak," jelas Miko. "Dia seperti meminum alkohol jenis amber kualitas premium. Terus badannya juga bau rokok cigaret seperti yang di jual di Amerika. Apa mungkin dia terkena masalah?"
Dinda ingat, sebelumnya Johan pernah kerumahnya. Jika Johan sudah mabuk-mabukan seperti ini, kemungkinan besar dia sedang dalam masalah.
"Sudahlah, jangan di bahas lagi," Dinda beralih berkata mengakhiri perbincangan mereka. "Kakak nggak mau mencari masalah atau berhubungan lagi dengan dia. Kita bukan siapa-siapanya dia, kenapa harus memikirkan dirinya."
"Iya juga sih," Miko setuju pada kakaknya.
Miko berpikir apa yang di katakan oleh kakaknya, Dinda ada benarnya. Dia bukan siapa-siapanya Johan, kenapa dia harus peduli pada pria gila itu.
"Gini ya, kakak kasih tahu," Dinda menatap Miko seksama. "Kakak nggak mau lagi berhubungan dengan keluarganya dia ataupun Johan. Kakak nggak mau kita terkena masalah karena dia, pokoknya kalau kamu bertemu dia entah itu di jalan atau di manapun, anggap saja tidak mengenalinya. Kamu harus ingat itu," tegas Dinda untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
"Miko paham kak," angguk Miko. "Miko akan mengingat kata-kata kakak."
BERSAMBUNG