
"Tidakkah aku terlalu wangi hari ini," Steve mengendus bajunya, dia bicara pada Dinda, karena dia yang menyemprotkan parfum di tubuhnya.
"Wanginya natural kok," jawab Dinda jujur. "Aku suka dengan aroma parfume ini," Dinda memujinya, matanya mengedip jahil pada Steve.
Steve merangkul bahu Dinda, dia menghardik kekasihnya itu. "Apapun yang aku miliki, kamu pasti akan menyukainya," Steve berkata menyombongkan diri.
Dinda menyunggingkan bibirnya. "Anda terlalu percaya diri tuan pemarah," ledek Dinda.
Kafe yang di maksud tempat reunian oleh teman-temannya dinda adalah kafe di dalam gang kecil. Tidak memungkin kan bagi Steve memarkirkan mobilnya di gang sempit seperti itu.
Dinda menyarankan agar mereka jalan kaki saja. Melewati beberapa langkah trotoar jalan lalu sampai. Bukan saran yang jelek, anggap saja kita sedang mengelilingi jalan kota new York. Dinda berkata begitu tadi di dalam mobil Steve.
Dinda sesegera mungkin melepaskan rangkulan Steve tadi, karena dari kaca kafe yang transparan beberapa temannya terlihat menoleh ke arah mereka berdua.
Mereka seperti sudah menunggu kedatangan Dinda.
"Kenapa?" tanya Steve bingung.
Dinda menunjuk ke kafe, menggunakan mulutnya sebagai kode isyarat. "Mereka melihat," ujar Dinda bicara pelan.
Steve men-julingkan matanya, tingkahnya seakan meledek. "Biarkan saja mereka melihat, itulah gunanya kamu membawa ku," Steve berkata santai, Steve beranggapan bahwa ini masalah kecil. "Aku terlalu manis untuk kamu yang terlalu pahit," Steve menggombal.
Dinda men-decak, dia menggertak giginya menahan sebal pada Steve yang terus bercanda. "Sudahlah, jangan bercanda terus. Teman-teman ku sudah menunggu di dalam," Dinda mempercepat langkah kakinya, dia lebih dahulu masuk kedalam kafe.
Hai Dinda, beberapa teman Dinda menyapa seraya melambaikan tangan. Para gadis-gadis menyambut kedatangan Dinda. Di depan pintu kafe, Steve berdiri di belakang Dinda.
Beberapa teman pria Dinda juga duduk di dekat teman wanitanya. Mereka memilih meja yang besar dengan menyatukan seluruh meja yang ada di kafe.
"Selamat datang di acara reunian ter-absurd di abad ini, silahkan Tuan dan Nyonya mengambil tempat duduk yang telah di sediakan," seorang teman pria Dinda menyambut kedatangannya dengan suara membulat.
Pria itu menarik kursi untuk Dinda dan Steve. Dia memperlakukan keduanya dengan ramah.
Dinda menyukai pelayanan teman prianya itu, pikir Dinda sudah lama tak bersua, mereka mulai ahli dalam melucu. Bahkan beberapa teman-teman pria Dinda terlihat sudah berbeda dari sebelumnya.
Kini mereka memapah anak dan menggendongnya masing-masing dalam pelukan mereka. Terlebih perubahan mereka cukup signifikan. Dinda hampir tak mengenali para teman-teman itu.
Perut mereka membuncit, bahkan ada yang berambut gondrong keriting, ada juga yang berubah total menggunakan kacamata.
Semuanya sudah asing di mata Dinda.
Beberapa teman-teman Dinda menyapanya tadi. Dinda balik membalas sapaan akrab mereka.
Hai, Dinda menjawab sapa teman-temannya dengan senyum merekah. Sambil duduk, Dinda bersikap seolah dia tamu kehormatan.
"Lama Dinda kita tidak bertemu," yang lain menyahut.
"Iya nih Din, lama banget, hampir delapan tahun," sahut yang lain.
"Iya sih, Din. Kamu makin cantik aja, mana bawa cowok ganteng lagi!" yang lain memuji.
Dinda hanya cengar-cengir. Dia menerima pujian teman-temannya, wajar saja mereka memuji, karena jarang bertemu.
"Dinda, kenalin dong dengan pacar kamu," yang lain menggoda.
Dinda kewalahan menghadapi situasi macam ini. Dia harus menjawab satu persatu pertanyaan teman-temannya.
"Nama ku Steve, panggil saja Steve," Steve membantu Dinda yang berada dalam situasi sulit ini.
Seperti Steve yang sebelumnya, dia sedikit agak cuek menghadapi teman-teman Dinda ini.
"Uhu.... Udah ganteng, gentle pula dalam berbicara," sahut teman Dinda berbadan bongsor. Dia membisik pada temannya yang lain karena salah tingkah.
"Ini pacar kamu Din, seriusan," tanya temannya yang lain lagi.
"Ah... Anu," Dinda menggaruk lehernya. Dia bingung harus menjawab apa. "Sebenarnya..." Dinda masih ragu, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Steve mengimprovisasi keadaan. "Aku kekasihnya," ungkap Steve pada semuanya.
"Tuhkan, benar dugaan ku, Dinda sudah punya tambatan hati."
"Iya, Dinda memang paling jago soal cowok ganteng mah. Dia ahli dalam menggaet yang hot."
Beberapa teman Dinda menggosip, mereka suka menebak soal Dinda.
Diantara semua teman Dinda, mungkin hanya Dinda yang masih lajang.
Teman-teman seusianya terlihat menggendong anak-anak mereka juga datang bersama suami masing-masing.
Dinda merasa tidak enak hati, mereka melontarkan pertanyaan yang sulit untuk di jawab.
__ADS_1
Kapan kawin, Kapan kawin, Kapan kawin. Mereka bertanya seperti itu sedari awal bertemu dengan Dinda.
Pertanyaan horor yang paling di takuti semua wanita lajang.
Mereka membisik dengan terpaan pertanyaan, kapan nyusul.
Mungkin maksudnya adalah kapan nyusul kawin, tapi kesannya kapan nyusul mati. Dinda bergidik ngeri, itulah yang tidak Dinda sukai jika harus bertemu dengan teman-teman lamanya.
Dinda lelah harus seperti ini. Di tambah saat bertemu, semua teman-teman SMA-nya ini terlihat berubah bentuk.
Mereka yang dulu mengidolakan bentuk tubuh ramping, kini berubah total menjadi badak.
Dinda mengurut keningnya, dia pusing melihat adegan ini. Macam berkumpul dengan ibu-ibu komplek, gumam Dinda.
Para ibu-ibu muda yang suka merumpi membahas anak dan suami mereka, karir dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan masing-masing.
Acara reuni yang di maksud sebagai acara silahturahmi kini berubah menjadi acara ghibah massal. Dinda hanya bisa bergidik ngilu, dia kurang fasih dalam urusan menggosip.
"Mau pergi sekarang," bisik Steve.
Dinda dan Steve duduk bersebelahan, sementara semua teman-teman Dinda sibuk pada bicara masing-masing. Steve melihat Dinda juga sudah bosan, sedari tadi dia tidak berkata apapun. Teman-teman Dinda juga acuh tak acuh padanya.
"Bagaimana dengan mereka," balas Dinda. "Aku merasa tidak enak hati meninggalkan acara ini," ungkap Dinda.
"Lupakan itu, kita pergi sekarang saja," Steve menarik pergelangan tangan Dinda. Dia hendak membawanya pergi menjauh dari para penggosip semacam teman-teman Dinda.
"Kemana kita akan pergi?" Dinda kembali membisik.
"Ikut saja," jawab Steve singkat. Dia membawa Dinda, menjauh dari acara reunian teman SMA-nya yang tidak jelas itu.
"Dinda, mau kemana?" tanya teman-teman Dinda.
"Kami ada urusan mendadak," teriak Dinda. "Kalian lanjutkan saja acara ini," pintanya.
Di luar kafe, cuaca siang lumayan cerah dan terik. Steve menggandeng tangan Dinda, dia membawanya ke suatu tempat yang sudah di rencanakan.
"Kenapa jalan kaki?" tanya Dinda. "Kenapa tidak membawa mobil?"
"Karena tempatnya dekat," jawab Steve. Dia menunjuk sebuah mall yang berjarak tidak jauh dari kafe sebelumnya.
"Ngapain kita kesana," Dinda paham, pasti Steve ingin merencanakan sesuatu di sana. "Jangan bilang mau belanja lagi?" Dinda mencoba menebak.
"Lihat lampu itu," Steve menunjuk rambu lalu lintas.
"Iya, aku melihatnya," jawab Dinda. "Ada apa memangnya?" Dinda ingin tahu, dan dia mencoba menebak kembali. "Jangan bilang kamu mau menggombal."
Steve terkekeh. "Kamu pikir aku ahli romantis," ucap Steve. Steve merunduk, menyamakan kepalanya dengan kepala Dinda. "Aku hanya menunjuk lampu itu sedang merah. Kita harus menyebrang sekarang, bukan ingin menggombal," ungkap Steve berkata jujur.
Dinda merasa jengkel karena Steve membual. Dinda merajuk sambil memanyunkan bibirnya. Gestur wajah yang sebal mendera. "Unromance."
"Sudahlah," Steve menghentikan tingkah konyolnya. "Ayo kita kesana, aku ingin mengajak kamu nonton film hari ini," Steve menggandeng tangan Dinda kembali, dia menuntun Dinda menyebrang di jalan yang tengah macet.
Saat itu mereka sedang ada di seberang mall dekat dengan lampu merah. Orang-orang berlalu lalang, dan Steve berniat mengajaknya nonton ke bioskop ala-ala pacaran anak muda jaman sekarang.
Di depan mall, Dinda kembali bertanya. "Yakin mau menonton film," Dinda memastikan.
"Yakin," Steve mengangguk. "Kenapa? Nggak mau nonton?"
"Bukan nggak mau, tapi ada yang kurang dari kamu," Dinda berpikir. Dia melirik seluruh tubuh Steve dari atas hingga bawah. "Coba putar badan," perintah Dinda.
Steve menurutinya, dia memutarkan badannya. "Ehm..." Dinda menggigit jarinya. "Sepertinya penampilan kamu hari ini mencolok," Dinda sudah paham ada yang kurang dari Steve.
"Oh, aku ingat," sentak Dinda. "Aku membawa kacamata di dalam tas ku," ucap Dinda seraya mengeluarkan kaca mata hitam dari tasnya.
"Untuk apa ini," Steve penasaran.
"Udah diam saja. Sekarang nunduk, aku ingin memasangnya," perintah Dinda.
Steve memutar bola matanya, ke kanan dan kiri. Pikirnya ada apa Dinda melakukan hal ini. Tapi Steve ikut alur Dinda, dia merendahkan kepalanya hingga sebatas hidung Dinda.
Dinda memasangkan kacamata di hidung Steve. "Kalau begini, orang-orang nggak akan melirik kamu nanti."
Steve bertanya, dia heran pada tingkah Dinda siang itu. "Ada apa kamu melakukan seperti ini, tumben."
Dinda melirik sekitar. Lalu dia menjinjing, membisik di telinga Steve. "Sebenarnya hari ini kamu ganteng banget," bisik Dinda memuji. "Aku takut kamu nanti jadi pusat perhatian, aku nggak rela."
Mendengar kata-kata Dinda, Steve justru terbahak-bahak. "Kamu pikir orang-orang akan tertarik melihat wajah ku," Steve mencubit pipi Dinda lembut. Lalu dia melihat wajah Dinda dari dekat. "Kamu dengar ya, kalau pun ada yang melirik wajah tampan ku, aku tidak akan membiarkannya," Steve berkata kegirangan.
Dinda menggeleng, bisa-bisanya Steve berkata seperti itu di tengah dia sedang bicara serius.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan bahas ini lagi," ujar Steve mengakhiri titik ambigu. "Kita nonton saja dulu, nanti kita bahas masalah lain."
Steve merangkul Dinda, bahkan tubuh Dinda hampir tenggelam dalam ketiak Steve.
Dinda mengkhawatirkan Steve, dia terlihat sangat tampan hari itu berbeda saat dia menggunakan setelan jas.
Kali ini tampilan Steve menggunakan pakaian kasual membuat Dinda takut orang-orang akan meliriknya. Dinda membandingkan antara aura Steve saat menggunakan jas dan pakaian kasual, keduanya terlihat berbeda mencolok.
Saat menggunakan setelan jas, Steve memancarkan aura dingin dan galak. Namun saat menggunakan pakaian kasual, justru Steve terlihat hangat dan humble. Inilah yang Dinda cemaskan.
Dinda takut Steve akan tergoda oleh wanita lain yang lebih cantik dari dirinya.
Di lantai dua mall, Steve dan Dinda baru saja melewati eskalator. Dari depan mall sampai di lantai dua mall ini Steve terus memegang tangan Dinda.
Benar dugaan Dinda, apa yang ia cemaskan terjadi. Pengunjung mall yang melintas melirik Steve bahkan tidak melepaskan pandangan mereka.
"Steve," Dinda memanggilnya. "Nonton di bioskop ini sepertinya sudah terlalu biasa deh," keluh Dinda.
"Biasa gimana?" Steve penasaran. "Kamu nggak mau nonton, atau kamu punya tempat nonton lain?"
"Bukan begitu," Dinda menyeringai. "Aku takut seperti di dalam komik, novel dan di film-film, setiap pacaran pasti ke mall. Nonton, berbelanja dan sebagainya. Aku nggak mau seperti meniru adegan di film," Dinda menjelaskan keluhannya.
Steve mendercit, dia menggigit giginya. "Kenapa harus memikirkan hal-hal seperti itu," Steve berkata santai. "Kita tidak meniru adegan di TV, komik, novel atau apalah itu. Ini tempat umum, lagi pula aku juga belum pernah menonton di mall. Nggak masalahkan kalau sesekali kita nonton bareng," Steve memberitahu.
Steve meyakinkan Dinda agar tidak bersikap implusif.
"Tapi, Steve,"
"Nggak ada tapi-tapian," potong Steve berbicara. "Jangan dengarkan apa kata orang. Atau aku akan marah lagi," gertak Steve.
Dinda menarik nafasnya, dia ingin melapangkan pikiran agar tidak terlalu memikirkan apa yang ia rasakan. "Baiklah," Dinda mendengarkan kata-kata Steve. "Tapi janji ya, jangan melirik perempuan lain," ucap Dinda sayu.
"Iya, janji. Nggak akan itu terjadi," Steve menuruti kata sayu Dinda.
"Baiklah, kita nonton sekarang."
Steve menaikkan alisnya, sambil tersenyum dia melirik Dinda. "Seharusnya begitu, jangan membantah lagi," kata Steve sok bijak.
"Iya, iya," gerutu Dinda. "Nggak akan lagi seperti itu."
Mereka kembali jalan, tapi mendadak Steve membual. "Kacamata ini terlalu besar," Steve mengeluh. "Dia selalu melorot di hidungku," Steve ingin melepaskan kacamata yang menggangu pandangannya.
Tapi Dinda yang melihatnya langsung memasangkan kembali kacamata di hidung Steve. "Jangan di lepas, orang-orang pada melirik tuh," tegur Dinda. Dia waspada pada wanita di sekitarnya, takut-takut mereka mengenali wajah Steve yang tampan.
Steve melirik orang-orang yang melihatnya, dia men-decak. "Dasar manusia, suka memperhatikan penampilan orang lain."
Hingga di depan loket pembelian tiket bioskop. Antrian yang panjang membuat keadaan gerah.
Tempat loket di penuhi oleh orang-orang yang antusias ingin menonton.
"Memangnya film apa sih yang sedang booming, sampai-sampai penontonnya saja membeludak seperti ini," Steve menggerutu. Matanya jengkel harus masuk dalam antrian panjang.
"Film trending hari ini sejak Minggu lalu adalah film yang di angkat dari novel terkenal karya penulis lokal. Pokoknya keren, sesuai dengan imajinasi penonton," jelas Dinda.
"Jadi, film ini akan di putar seminggu penuh," Steve menebak.
"Ya," balas dinda. "Maklum saja, film garapan sutradara terkenal, ya wajar kalau penontonnya bisa sampai jutaan. Bahkan mereka menggunakan efek CGI kualitas High definition," Dinda menginformasikan.
"Sudah mulai pintar ya dalam berkata," Steve menyentil pelan kening Dinda.
Perbincangan keduanya yang berada paling belakang antrian menarik perhatian. Jelas saja, Steve menjadi pusat perhatian karena badannya yang tinggi, hampir membuat orang-orang terpukau.
"Tuhkan, apa yang aku bilang," Dinda menyikut Steve. "Orang-orang akan melirik kamu."
Steve mencubit bibir Dinda, dia tersenyum seakan ini adalah hal biasa baginya. "Jangan lupa, aku kan pria tampan," kata Steve mawas diri.
"Hih..." Dinda menanggapinya seperti sedang jijik. "Sombong," tukasnya mengomel.
Orang-orang di sekitar melihat Steve yang mempesona. Beberapa bahkan menyangka bahwa Steve adalah artis yang sedang mempromosikan filmnya pada para penggemar.
Dinda di buat kewalahan menghadapi tatapan orang-orang yang melirik pacarnya. Khususnya, anak perempuan dan gadis belia.
Bahkan Dinda sering mengumpat mereka dengan kasar. Dinda berulang kali mengatakan para gadis yang melirik Steve dengan sebutan ganjen.
Orang-orang yang melihat Steve juga tidak melepaskan tatapan mereka. Pikir mereka mumpung ada pemandangan melihat wajah tampan yang gratis, jadi mereka menatap sepuasnya.
Orang-orang ribut membahas Steve.
BERSAMBUNG
__ADS_1