UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 33


__ADS_3

Aaaaah.....


Teriak Dinda yang terpeleset di eskalator dengan nada suara yang amat melengking keras.


Cukup licin bagi heels Dinda untuk berpijak dengan baik dan benar di bibir eskalator hitam legam beraksen kuning di beberapa sisinya. Lebih tepatnya di tengah-tengah eskalator terdapat garis berwarna kuning bagai Marka jalan di sepanjang eskalator itu berputar.


"Dinda!" teriak Johan panik berekspresi tegang seraya tangan Johan di ulurkan kepada Dinda secara responsif ingin meraih tangan Dinda agar tak terjatuh.


Dinda mencoba meraihnya, namun tubuhnya lebih dulu menjauh dari uluran tangan Johan.


"Kak Johan!" seru Dinda yang tak bisa meraih tangan Johan.


Matanya membesar kaget, karena tiba-tiba terperosok.


Tak ada rasa lain yang di alami oleh Dinda selain tubuhnya yang melayang hampir terjatuh di tangga berjalan itu.


Matanya terpejam takut dan tak ingin merasakan sakit yang akan di menimpanya kala tubuh ramping itu terjatuh di eskavator.


"Jika aku mati, setidaknya aku ingin melihat wajah orang-orang yang aku cintai untuk terakhir kalinya berfoto dalam satu bingkai sebagai sebuah kenang-kenangan ku kelak di alam akhirat. Tuhan, jika kau menghendaki kematian ku dengan cepat, maka, aku mohon setidaknya matikan aku dengan indah di sisi orang-orang yang aku cintai!" gumam Dinda dalam hati menyerah. Air mata membanjiri matanya tak kuasa menahan kepergian kala ajal akan menjemput dirinya, pikir Dinda saat itu.


Dinda sudah membayangkan bagai mana jadinya saat ia akan terjatuh kebawah. Kepalanya mengeluarkan darah yang banyak, rambutnya tersangkut di dalam eskalator sehingga terpurung kepalanya remuk macam kerupuk tergulung dalam eskalator atau ketika rambut panjangnya berputar di dalam eskalator lalu menyisakan tulang saja. Itulah yang Dinda pikirkan.


Dinda sudah membayangkan dirinya akan berakhir seperti di film thriller horor berjudul Final Destination. Film yang pernah ia tonton dan sangat mengerikan untuk di lihat.


Tak kuat ia membayangkan jika dirinya akan mati Dengan konyol akibat terjatuh di eskalator mall seperti yang ia bayangkan dalam film itu.


Ia tak ingin membayangkan hal kejam itu, yang ada di pikirannya saat itu ia hanya berharap ketika ia bangun dari terjatuh itu ia sudah mendapatkan dirinya berbaring di bangsal rumah sakit.


Dengan beberapa suster serta infus yang tertusuk di tangan. Itu yang Dinda inginkan saat dirinya mengahadapi kengerian eskalator yang terkenal angker dalam benak Dinda.


Tetapi, sekonyong-konyong tangisan Dinda dalam membayangkan hal-hal konyol itu, ia merasa sesuatu terjadi padanya. Ia tak merasakan sakit apapun dalam tubuhnya saat itu.


Melainkan ia mendapatkan tubuhnya dalam kenyamanan saat seseorang memeluknya dalam pelukan yang hangat.


Mata Dinda yang terpejam belum berani membuka matanya karena masih terbayangkan hal angker itu.


Tetapi dalam pelukan hangat itu, Dinda merasakan sebuah rasa yang tak biasa. Rasa hangat ini terlebih aroma tubuhnya yang harum, nafasnya yang mendengus segar dan cengkraman tangannya yang gagah dapat di pastikan pria jantan. Pria yang membuat Dinda sedikit ingin melihat sesosok wajah yang membantunya itu.


Samar-samar saat ia membuka mata perlahan, yang pertama kali ia lihat adalah hidung seorang pria yang tajam, dagu yang tegas serta rahang yang kuat.


Dalam memejamkan matanya, Dinda meraba bagian dada pria itu. Kekar dan perkasa serta berisi, dan itulah yang Dinda rasakan dari pria itu.


"Pak Steve!" seru Dinda kaget kala sadar dan mendapati siapa pria yang menggendong dirinya dalam pelukan hangat.


Steve dengan senyum licik menoleh kearah Dinda yang sedang menatap wajahnya yang kaku tak berdaya. Wajahnya pucat pasi dan nyaris menyamai warna kulit mayat.


Steve sama seperti sebelumnya, bertingkah introver tak banyak bicara dan dingin kaku karena ia bukan tipe pria yang suka berbasa-basi.


Steve lalu menurunkan Dinda dari pelukannya karena telah tiba di atas eskalator.


Ya Dinda hampir terjatuh di eskalator menuju ke atas mall bukan eskalator menuju ke bawah mall.


Setidaknya Steve yang sedang menggunakan eskalator tepat dimana Dinda hampir terjatuh menjadi pahlawan saat itu.


"Pak Steve! bagaimana Bapak ada di sini?" tanya dinda pada Steve yang menggendongnya dalam pelukan hangat.


Steve dengan senyum liciknya tak menggubris pertanyaan Dinda. Ia justru hanya memberikan tatapan tajam khas dirinya seperti biasa.

__ADS_1


Lalu Steve memalingkan wajahnya dan kini menatap wajah orang-orang di sekitarnya, terutama Johan, pria yang mencari perkara terhadap wanitanya.


Steve menatap wajah Johan dengan tatapan yang sangat tajam, setajam mata elang yang siap mencengkram mangsa.


Langkah kakinya perlahan mendekati Johan yang berdiri di hadapan mereka.


Dinda menjadi pemirsa dalam tingkah itu. Tingkah yang sedikit aneh mencurigakan bagi seorang Dinda.


Steve yang perlahan mendekati Johan tanpa aba-aba langsung menyerang pria itu dengan sebuah Bogeman mentah yang amat menyakitkan.


Brukkkkkk.....


Suara pukulan itu amat keras terdengar dari wajah Johan.


Dan seketika Johan langsung terkapar jatuh.


Wajahnya memar membiru dan bibirnya mengeluarkan darah segar.


Johan menahan sakit seraya memegang bibir berdarah itu secara jantan.


"Kau!!" pekik Johan dengan emosi yang menggebu.


Steve yang melihat pria itu tersungkur jatuh, sedikit memberikan senyum liciknya kembali terlebih pria itu memekik dengan nada tinggi. Puas bagi Steve memberikan satu pukulan pada Johan yang malang.


Johan tak terima begitu saja atas perlakuan Steve yang bar-bar memukul wajahnya. Johan ingin membalasnya, ia bangkit dari jatuhnya yang menyakitkan dan sudah menyiapkan kepalan tangan yang mengeras. Johan telah bersiap untuk membalas Bogeman mentah Steve.


"Kau kurang ajar karena beraninya memukul ku semau mu. Maka aku tidak akan membiarkan mu selamat keparat!" seru Johan memaksakan diri untuk bangun dari keterpurukannya yang amat menyakitkan.


Argggghhh....


Pekik Johan dengan emosional tak tertahankan ingin membalas dendam pada Steve yang bertindak keji padanya.


Ia mengangkat kakinya yang jenjang dan tanpa basa basi langsung menendang wajah Johan yang terbangkit ingin menyerangnya dengan kekuatan penuh.


Brukkkkkk.....Prakkkkkkk....


Untuk kedua kalinya Johan kembali tersungkur dengan menyakitkan karena wajahnya yang mulus mendapat tanda sepatu kulit yang amat keras dari sepatu buaya Steve sehingga wajah itu membekas dan memerah tak karuan.


"Sudah aku katakan! jangan pernah mengganggu tunangan sekaligus wanita kecil ku. Jika tidak nyawa mu sebagai taruhannya!" Steve menjongkokkan badannya pada tubuh Johan yang terkapar lemah itu. Ia membisikan ucapan kejam itu di telinga pria yang tak kuat menahan gempuran sepatu Steve.


Sementara Dinda dan Zico yang datang bersama Steve tak bisa berkata apa-apa selain menjadi saksi untuk perkelahian yang tak seimbang ini. Dalam keadaan seperti ini membuat hati kecil Dinda bimbang untuk menengahi keduanya.


Di satu sisi Dinda lebih takut pada Steve dan jika ia menghela Steve untuk menghentikan dirinya untuk melakukan kekerasan maka ia jauh lebih merasa amat mencekam di banding menghadapi Johan. Sedangkan di sisi lain, Dinda berharap dengan adanya bantuan Steve, Johan tidak lagi mengganggu hidupnya.


Dinda terpaku diam dan hanya bisa memegang kerah bajunya sebab ia bisa merasakan apa yang Johan rasakan. Rasa sakit akibat pukulan, seolah Johan adalah dirinya yang di lucuti dengan hina.


Ia menatap wajah Zico dan mengkode pria itu seakan memintanya sebagai penengah menggantikan dirinya yang terlalu lemah. Namun reaksi yang di berikan oleh Zico berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.


Ia mengangkat kedua bahunya seakan tidak ingin membantu meleraikan kedua pertarungan tak imbang itu dan mungkin Zico akan mengatakan, "Biarkan saja, toh mereka pria dewasa yang sama-sama emosional," begitulah ucapan yang mungkin Zico ucapkan pada dinda yang menatapnya dalam diam.


Dinda paham maksud itu dan ia tidak memintanya lagi.


Sementara Johan hanya bisa menahan kesal dan emosi yang meledak-ledak dalam dadanya akibat gempuran Steve yang merajalela. Nafasnya mendengus memburu tak teratur kala wajahnya menatap wajah licik Steve.


"Jika terjadi sesuatu pada wanita ku, maka aku pastikan kalian satu keturunan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Ini bukan sebuah ancaman, tetapi sebuah peringatan yang harus kau pahami!" Steve menambahkan ucapannya dengan tenang dan puas karena melampiaskan kekesalannya pada Johan.


Plak Plak Plak

__ADS_1


Steve menampar wajah Johan tidak terlalu keras sebagai pertanda bahwa Johan hanya pria lemah dan hina di matanya. Ia menampar wajah pria malang itu hingga tiga kali banyaknya di pipi bagian kanan Johan.


Johan tak bisa membalas karena tubuhnya lemah dan tak berdaya.


Sedangkan Steve bangkit mencoba meninggalkan Johan dan membalikan badannya.


Namun Johan tak tinggal diam. Dengan tenaga yang tersisa hanya sebatas pukulan lemah, Johan kembali mencoba menerjang punggung Steve.


"Pak Steve awas!" teriak Dinda yang menyaksikan tingkah cari mati Johan pada Steve.


Tanpa di beritahu oleh Dinda sekalipun Steve sudah tahu jika Johan akan melakukannya. Dengan tatapan tajamnya, Steve melirik ke belakang dan lagi-lagi wajah licik itu tersenyum ria.


KYAAAAA


Teriak Johan dengan tangan mengepal ingin melayangkan Bogeman panas di tengkuk kepala Steve yang menjadi sasarannya.


Namun Steve yang sudah sadar itu akan terjadi, dengan kaki jenjang dan panjangnya merespon dengan cepat dan lebih dulu menerjang perut Johan.


BRUKKKKKK..... PRAKKKKKKK..


Untuk ketiga kalinya Johan menikmati permainan Steve yang kasar, keji, tak berperikemanusiaan.


"Sudah aku katakan jangan mencari masalah dengan ku, ataupun orang-orang di sekitar ku. Jika kau tidak ingin membayar lebih atas tindakan mu." Ucap Steve kembali dengan sikap arogan. Dan ini menjadi peringatan kedua untuk Johan.


"Adegan kejam ini...... Seperti adegan kejam yang terjadi dalam sebuah drama action. Bahkan pak Steve jauh lebih kejam dari tokoh yang ada di film." Tanpa sadar Dinda semakin merasakan intuisi kejam Steve yang memberutal.


Dari belakang Steve, Vanya yang tadi di tinggalkan oleh Johan kini datang menghampiri tunangannya itu dengan ekspresi wajah khawatir dan cemas berlebihan.


Dinda paham bagaimana rasanya khawatir berlebihan pada seseorang yang amat ia cintai terlebih orang itu amat berarti bagi dirinya.


"Kak Johan... Kakak terluka parah," ucap Vanya menghampiri tunangannya itu yang sudah terkapar lemah.


Vanya sudah menyaksikan hal itu sehingga tidak ada pertanyaan apapun mengenai wajah Johan yang memar. Kali ini ia bertindak sebagai penolong wanita Johan, dan tidak melakukan sebuah drama yang terlihat kasual.


"Kak ayo kita bersihkan dulu luka kakak, agar tidak membengkak parah." Ujar Vanya sambil memapah Johan untuk bangkit dari jatuhnya.


Perlahan Johan membangunkan dirinya atas bantuan Vanya sambil tangannya memegang perutnya yang begitu amat sakit akibat kerasnya terjangan pantopel hitam legam Steve yang mengudara liar di perutnya yang datar.


"Kau tunggu saja! aku akan membalas mu suatu saat nanti!" teriak Johan sebelum dirinya di bawa pergi oleh Vanya.


Steve tak banyak bicara, namun ia hanya memberikan senyum penuh hasrat licik di wajah.


"Aku akan terus mengingatnya!" balas Steve dalam hati, menunggu saat itu.


Sementara Dinda masih terpaku dan tak bisa menjadi penengah di antara keduanya. Karena tak ada yang lebih kejam dari pada menghadapi Steve, pikir Dinda.


"Wajahnya terpancar aura kebengisan dan kekejaman. Namun dia sedikit terlihat hangat walau tak ia tunjukan secara langsung. Pak Steve aku ingin mengucapkan terima kasih tetapi aku takut. Takut jika melihat sepasang bola mata yang bengis itu," Dinda terpaku sejenak kala melihat Steve yang menghampiri dirinya.


Sedangkan di samping Dinda, pria bernama Zico yang sedari tadi datang bersama dengan Steve dengan senyum sok manis ala batita menunjukan ekspresi antusias menyambut Steve yang menuju kearah keduanya.


"Kamu sungguh hebat bos ku dalam bertarung," Zico mulai berbasa basi sambil tangannya pura-pura membersihkan jas biru Steve yang senada dengan celana bahannya seakan ada debu yang menempel di jas mahal itu.


Steve menatap wajah Zico dengan sinis tanda bahwa ia tak ingin di sentuh oleh pria macam dirinya.


"Oke... Oke... Aku paham. Maafkan aku," ucap Zico salah tingkah sambil memberikan senyum kecut tak enak untuk dilihat.


Steve tak menggubris Zico bahkan mengabaikan pria itu. Sebab perhatian pria ini teralihkan pada wanita yang ada di sebelah Zico. Wanita itu tertunduk seperti ingin menunjukan rasa takut, tetapi tak berani ia tunjukan sehingga ia terdiam bergetar.

__ADS_1


Steve menghampiri Dinda, tanpa pikir panjang menarik lengan wanita itu dan membawanya pergi menjauh dari Zico.


BERSAMBUNG


__ADS_2