
Jadwal keluar dari rumah sakit sang ibu seharusnya sepekan hingga dua pekan.
Namun dokter jaga yang menangani keadaan ibu Dinda sudah boleh membiarkan Nyonya Yuri pulang lebih awal.
Selama tiga hari terbaring di bangsal rumah sakit, akhirnya Dinda dan adik-adiknya bisa menikmati tidur yang nyenyak di rumah.
Kondisi Ibunya mulai membaik, tapi harus di bantu dengan kursi roda agar persendian sang ibu tidak bergeser kembali. Itu kata dokter yang memperhatikan kesehatan Nyonya Yuri.
Dinda bersama adik-adiknya dan sang Ibu kembali kerumah mereka yang terletak di dekat pinggiran kota. Sebenarnya rumah itu sudah bukan lagi bagian dari keluarga Dinda, namun karena barang-barang dan juga tenggak waktu meninggalkan rumah itu masih tersisa tiga Minggu.
Dinda memutuskan untuk kembali kesana sembari menunggu Ibunya benar-benar kembali pulih dan bisa berjalan walau di papah oleh tongkat.
"Huh.... Leganya bisa tidur di kasur," Miko merebahkan badannya, dia melepaskan seluruh rasa kelelahan beberapa hari tidur di rumah sakit.
Sementara Niko yang memandangi seluruh seisi rumah, tidak rela jika rumah peninggalan ayahnya di jual. Namun dia tidak bisa menahannya, tidak ada sanak saudara di kota ini. Bahkan Niko sendiri harus membuang kenangan lama mereka di rumah penuh kebahagiaan ini.
"Kak, Miko lapar nih. Nggak masak?" dari dalam kamarnya, Miko menegur. "Masak ala kadarnya saja kak, nggak masalah bagi Miko."
"Kita pesan makan saja, di rumah nggak ada apa-apa. Sayuran ibu juga sudah layu di lemari pendingin. Lampu juga mati, bagaimana mau memasak?" Dinda mengeluh.
Dinda yang tengah duduk di dekat ibunya di ruang keluarga hanya bisa pasrah melihat keadaan rumah besar mereka harus beralih tangan.
Miko dari kamar berlari menuju mendekati kedua saudaranya. Dia terlihat bersemangat. "Sekarang ada diskon di Dun's donuts, mau pesan itu?" Saran Miko. Dia menunjukan handphonenya pada Niko dan Dinda.
"Boleh deh, pesan satu gratis satu, hemat," Dinda setuju. "Ibu, bagaimana? Mau makan donat atau ibu mau makan yang lain?" Dinda meminta saran.
"Jangan kak," sambar Niko. "Kan Ibu lagi sakit. Nggak boleh makan yang manis-manis, nanti gula darah ibu naik."
"Ibu nggak punya riwayat penyakit gula darah, apalagi diabetes. Kenapa harus melarang ibu makan satu hingga dua donat. Asal jangan berlebihan," Dinda memberitahu. "Nggak masalahkan?"
"Niko hanya khawatir pada kesehatan Ibu. Lagi pula kalau Ibu sakit lagi gimana?"
"Sudah! Sudah!" Nyonya Yuri menengahi. "Ibu nggak apa-apa kok kalau hanya makan satu donat. Ibu juga kepingin makan seperti itu."
"Jadi nggak nih pesan makanannya? Mumpung ada penawaran khusus hari ini," Miko meminta pendapat.
"Jadi dong," balas Dinda. "Sekalian dengan Pizzeria dan minumannya. Biar nggak repot-repot pesan berulang kali," tambah Dinda.
"Oke siap, masuk list belanja online," Miko antusias.
Selama menunggu kedatangan makanan yang di pesan online Dinda membereskan semua pakaian ibunya. Sementara Niko dan Miko asik menidurkan diri di sofa besar.
Mereka enggan ringan tangan membantu ibu dan kakaknya yang sibuk di kamar.
__ADS_1
Sementara itu, di London. Pagi hari, Vanya yang ingin menenangkan diri dari insiden berantakannya acara pertunangannya dengan Johan beberapa Minggu yang lalu, lebih memilih kembali ke rumah orang tuanya di London.
Pagi hari Vanya dan kedua orang tuanya memilih berolah raga rugbi di lapangan dekat London indoor stadium.
Cuaca yang lumayan bagus, Inggris sedang di terpa musim gugur pasca musim salju yang tengah berakhir.
"Papa dengar kamu enggan balik ke Indonesia, kenapa?" tanya Ayah Vanya dari pinggir lapangan.
Pria berbadan lumayan berisi dengan kacamata menggelayut di telinga.
Tuan Heri Budi Astono. Pria itu adalah pengusaha kaya asal Indonesia yang lama menetap di Inggris dan salah satu pemilik klub bola kenamaan Inggris.
"Kurang tertarik lagi dengan Indonesia," jawab Vanya sambil fokus pada bola rugbi yang mengarah padanya. "Jangan bahas dulu tentang Indonesia apalah itu, Vanya pusing mendengarnya," perintah Vanya sewot.
"Mungkin dia kecewa pada keluarga Tama, makanya dia bosan di Jakarta," sahut Nyonya Dwi, ibu Vanya.
Wanita elegan yang menyanggul kepalanya mirip bunga, duduk di kursi sambil menyeruput teh hangat.
"Keluarga itu belum mengambil keputusan tegas mengenai anak mereka si Johan itu," Tuan Heri mengambil kursi lalu duduk dekat istrinya. "Mereka pikir pernikahan ini main-main," katanya berang.
"Sudahlah Pa. Tunggu dulu seperti apa keputusan yang akan di dekrit oleh keluarga Tama nanti, jika tidak ada perubahan, terpaksa investasi keluarga Heri di tarik," ucap Nyonya Dwi bersabar.
"Bagaimana mau menunggu, putri kita sudah terlalu berharap dengan si bocah tengik Johan itu, tapi apa yang dia lakukan?" Tuan Heri geram. "Di acara pertunangannya saja, dia berani menggoda wanita lain. Apa tidak membuat Papa marah!"
"Seharusnya seperti itu," jawab Tuan Heri. "Tapi bagaimana juga, semua tergantung Vanya? Apakah dia masih mau pada Johan atau tidak. Kalau dia mau meninggalkan si Johan, maka semua investasi Heri di grup Tama kita tarik. Toh selama ini kita tidak mendapatkan keuntungan apapun dari bisnis besar yang mereka jalani."
Nyonya Dwi menarik nafas agak lega, sambil memperhatikan Vanya yang berpakaian terbuka menghampiri mereka yang tengah duduk santai.
"Terima kasih Pa," Vanya tanpa pamrih langsung mengambil secangkir teh ibunya.
"Tidak masalah Nak, asal kamu senang, Papa akan memberikan apapun yang kamu mau," balas Tuan Heri.
Vanya mengambil tempat duduk tepat di depan wajah kedua orang tuanya sambil menyeka keringat menggunakan handuk kecil.
"Kalian bicara tentang apa? Kenapa berkata terima kasih segala," Nyonya Dwi ingin terlibat dalam perbincangan keduanya.
"Bukan apa-apa, hanya bisnis kecil yang tidak menguntungkan," jawab Tuan Heri.
Nyonya Dwi mengerutkan wajahnya, dia menatap Vanya, ingin tahu apa yang mereka rencanakan.
"Hanya mengenai tanah di pusat kota saja Ma," Vanya berkata jujur.
"Tanah pusat kota?"
__ADS_1
"Beberapa waktu yang lalu papa mengambil alih tanah panti asuhan di pusat kota Bandar Lampung," Tuan Heri menjelaskan. "Nantinya rencana Papa, tanah itu akan di jadikan hotel bintang lima atau kalau perlu bangun theme park terbesar di Asia melalui tanah itu. Karena bantuan bank lokal, akhirnya tanah itu bisa di ambil alihkan. Semua ini berkat saran Vanya," dia merinci ucapannya.
"Jadi Vanya sekarang tertarik berbisnis," sahut ibunya.
"Nggak juga sih ma," jawab Vanya. "Sebenarnya kemarin Vanya dengar tanah panti asuhan di pusat kota itu ada prospek yang cerah jika membuka mall, perkantoran atau theme park disana. Karena terletak di pusat kota, jadi Vanya tertarik membeli tanah itu. Untung saja ada bank lokal yang bisa di ajak negosiasi, dan akhirnya tanah itu menjadi milik kita, walau hanya tanah sepetak tapi nilai investasinya bisa berharga ratusan ribu dollar."
"Bagus-bagus," Nyonya Dwi kegirangan. "Berarti Papa akan membuka perusahan baru di sana? Begitu maksudnya," dia memastikan.
"Tebakan Mama benar," Vanya menjentikkan jarinya. "Dan bisnis ini menjadi bisnis pertama Papa di Indonesia," Vanya menyuarakan idenya.
Dari wajahnya terpancar ide licik. Bahwa sebenarnya bukan itu yang Vanya inginkan.
Vanya tahu bahwa tanah itu milik keluarga Dinda, panti asuhan yang telah lama berdiri. Vanya sengaja meminta bank lokal mendapatkan hak milik tanah, sebagai bentuk balas dendamnya pada Dinda.
"Vanya mandi dulu ya Ma, bau," Vanya mengendus ketiaknya yang berkucuran keringat seraya meninggalkan sang ibu.
Ibu Vanya hanya mengangguk, kini hanya dia dan suaminya sendiri yang berbincang-bincang.
"Papa sebenarnya memiliki ide yang bagus, Ma," ucap Tuan Heri.
"Ide yang bagus? Apa itu ide Papa?" Nyonya Dwi penasaran.
"Coba Mama pikirkan, kalau Vanya mendekati anak pengusaha grup Wong yang memiliki nilai investasi terbesar di Asia. Papa jamin, kalau kita mengundangnya dalam jamuan dan memperkenalkannya pada Vanya, siapa tahu Vanya bisa melupakan si Johan itu," ujar Tuan Heri mengemukakan idenya.
"Maksud Papa.... Papa ingin menjodohkan Vanya dan anak grup Wong? Begitu?"
"Betul," balas Tuan Heri. "Siapa tahu mereka saling tertarik satu sama lainnya. Jadi itu sedikit menguntungkan nilai investasi keluarga kita!" Jelasnya. "Apa lagi Vanya anak kita cantik, pria mana yang tidak akan menyukai wajah cantiknya," imbuh Tuan Heri menambahkan pujian.
"Ehm..." Nyonya Dwi mengangguk. "Ide Papa sepertinya bagus juga. Menjodohkan Vanya dengan putra grup wong dengan begitu selain menjalin kerjasama politik, juga bisa membantu menaikan nilai investasi perusahaan," Nyonya Dwi terlihat girang dengan ide brilian suaminya.
"Kapan kita mengundang mereka makan malam, Ma," Tuan Heri butuh saran seraya menyeruput teh hangatnya.
"Mama dengar, kalau Tuan Wong sendiri sulit di temui apalagi dia tidak pernah tinggal di Indonesia," Nyonya Dwi mengingat. "Tapi kalau putranya, setahu Mama dia ada di Indonesia. Dia menjalankan bisnisnya di sana sekaligus penerus group wong. Setidaknya sulit untuk menemui keluarga super sibuk dengan privasi publik yang tertutup rapat seperti mereka!"
"Mama yakin?" wajah Tuan Heri terlihat serius. "Kalau mereka sulit di temui?"
"Yakin," balas Nyonya dwi. "Kalau nggak salah namanya Steven-Steven gitu. Mama pernah dengar kalau dia selain menjadi menantu idaman, juga berkarisma."
"Papa punya ide," Tuan Heri mengusulkan idenya. "Bagaimana kalau kita buat undangan khusus untuk para pesohor dan pengusaha kaya se-Indonesia. Mungkin dengan begitu dia akan muncul."
"Apa Papa yakin dia akan muncul di acara ini?" Nyonya Dwi meragukan. "Bagaimana kalau dia sampai tidak menghadiri acara ini. Tentu rencana kita memperkenalkan Vanya dan pemuda itu akan gagal!"
"Mama tenang saja, Papa yakin dia akan datang ke acara ini."
__ADS_1
BERSAMBUNG