UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 93


__ADS_3

Kediaman keluarga Heri


"Mengenai kejadian malam itu, sungguh Vanya tidak tahu, bahwa Vanya menabrak putri pengusaha wong Pa," jelas Vanya pada kedua orang tuanya yang sedang mengintrogasinya di ruang keluarga. "Saat itu Vanya takut jika berurusan dengan polisi, sehingga Vanya tidak menyelidiki siapa yang Vanya tabrak."


"Bagaimana mungkin kita tidak mengenal wanita itu," Tuan Heri berkata. "Apalagi dia putri keluarga wong, aku takut jika mencari masalah dengan mereka. Putra grup wong itu akan mengusik bisnis Papa, itulah yang Papa khawatirkan," jelas Tuan Heri mengenai kecemasannya.


"Papa tenang saja," sahut Nyonya Dwi. "Anak muda itu tidak akan mengusik bisnis kita. Terlebih bisnisnya lebih besar, dia tidak akan mengusik bisnis yang hanya sebesar jari kelingking baginya!"


Tuan Heri yang mondar-mandir di hadapan putrinya dan sang istri, mengurut dagu. Dia mendongak, memikirkan ide, mengenai kecemasan yang menyelimuti dirinya.


"Bagaimana jika dia bertindak?"


"Itu tidak akan terjadi," jawab Nyonya Dwi. "Aku jamin, anak muda itu tidak mau mengotori tangannya hanya Ingin meruntuhkan bisnis keluarga Heri."


"Apa Mama yakin kalau dia tidak akan bertindak?" Vanya menyahut. "Terlebih dia pernah membuang Vanya ke tempat sampah yang menjijikan. Aku sangat dendam padanya," kata Vanya berang. Dia meremat sofa yang terbuat dari kain flanel. "Aku benar-benar tidak tahan melihat tingkahnya itu."


"Mama jamin," balas Ibunya yakin. "Kalian berdua tidak perlu cemas. Mama akan membuat perhitungan kalau perlu."


"Mama punya rencana apa?" Vanya berdiri, dia mendekat di pundak Ibunya. "Aku ingin tahu."


Nyonya Dwi menoleh, dia melirik putrinya. "Kamu dan Papa kamu hanya bisa terima terima beres. Dalam dua hari lagi, dia akan berakhir di dalam tempat peristirahatan terakhirnya."


"Terserah Mama sajalah," Tuan Heri menepis tangannya. "Papa mau istirahat dulu. Kita pikirkan rencana selanjutnya besok," katanya lalu pergi meninggalkan Ibu dan anak itu.


"Ibu akan mengurus anak muda itu, kalian tenang saja. Ibu yang akan bertindak," Ibu Vanya menyeringai tersenyum intrik.


"Mama memang yang terbaik," puji Vanya ikut tersenyum.


....


Johan yang sedang di rundung rasa kesal pada Ibu Dinda karena tak di izinkan berbicara pada Dinda walau sebentar. Dia lebih memilih pergi ke kelab malam. Dia ingin melepaskan semua keluh kesahnya melalui alkohol-alkohol yang terpajang di belakang bartender.


Dia ingin mabuk berat malam itu, melupakan kejadian tadi. "Satu gelas Winston cocktail," perintah Johan pada bartender pria.


Dengan cepat, bartender melayani permintaan Johan. Apalagi, Johan memesan minuman paling mahal yang pernah ada.


"Dia meminum Winston cocktail, pria kaya." ujar seorang wanita memperhatikan gelagat Johan.


Tepat di sebelah Johan, seorang wanita cantik duduk di dekatnya. Wanita berkulit putih, menggunakan pakaian seksi berwarna merah.


Dia tersenyum saat melihat Johan meneguk segelas bir termahal di dunia.


Wanita ini memainkan gelas birnya, dia menjilatinya hingga bagian pinggir gelas basah karena liurnya bercampur lipstik merahnya.


Dia merasa tergoda melihat Johan yang seksi.


"Jika Tuan tidak keberatan, bolehkan aku menemani Tuan muda?" Dia mendekati Johan, lalu menggodanya dengan suara lembut. "Aku siap melayani Tuan muda kapan pun tuan muda inginkan."

__ADS_1


Johan merasa bergairah setelah wanita itu mendesah geli di telinganya. Johan sudah agak mabuk setelah mencampur beberapa alkohol dalam minumannya yang mahal.


"Dinda," teriak Johan. Johan sudah berhalusinasi, yang terlihat di matanya saat itu adalah Dinda, bukan wanita manapun.


"Dinda?" wanita ini mengernyitkan dahinya. "Siapa dia?"


"Kamu Dinda-kan?" Johan mencengangkan bahu wanita yang di sangka-nya adalah Dinda. "Kenapa kamu bisa di sini?"


"Iya, ini aku, Dinda," ucap wanita ini mengikuti alur Johan yang sudah mabuk. "Apa kamu mencintai ku?" Pancingnya berkata, dia ingin tahu siapa itu Dinda.


Johan tidak melepaskan pandangannya pada bibir merah wanita itu. Juga bagian dada yang terbuka, membuat Johan terus merasa bergairah terangsang.


Wajahnya terlihat cantik, wajah Dinda. Wajah wanita yang di puja-pujanya. Bahkan harum yang di pakai wanita itu, mirip dengan harum tubuh Dinda. Harum yang sangat familiar di ingatan Johan.


Gairah Johan tak bisa di tahan, apalagi bayang-bayang Dinda ada di hadapannya. Karena kelab malam di temani lampu remang-remang sedikit gelap, Johan tanpa ragu mencumbu bibir merah wanita yang menggodanya.


Dia melumat habis bibir wanita itu, tanpa memberikannya kesempatan untuk memberontak. "Aku mencintai kamu, Dinda," ucap Johan berhenti sejenak mengambil nafas. Lalu dia melanjutkan lagi mencumbu bibir wanita itu.


"UHM..." Wanita itu hanya mendesah, dia ikut menikmati setiap gerakan tubuh Johan yang menggoda.


Wanita ini meraba-raba dada Johan yang kekar, memegang leher Johan, dan kali ini dia bertindak sedikit agak kasar dari permainan Johan.


"Maukah kamu menikah dengan ku," ucap Johan mengakhiri cumbuan-nya. "Tinggalkan saja Steve, pria itu sudah tidak waras," katanya bicara setengah sadar. "Dia tidak pantas untuk kamu. Hanya aku yang pantas menjadi suami kamu. Mari kita menikah, aku sangat.... mencintai kamu!"


"Tenang saja, aku akan meninggalkan Steve, demi anda Tuan," wanita ini sudah memahami alur Johan. Pria ini datang ke kelab malam karena sedang patah hati. "Aku bersedia menemani Tuan, kemanapun tuan mau."


Wajah Johan sudah memerah, di ikuti tubuh yang mulai sempoyongan. Badannya terasa panas berkeringat, tapi panas bukan karena dia sedang sakit, melainkan karena rangsangan alkohol yang memabukkan.


"Jangan panggil aku Tuan," kata Johan menepis bicara sempoyongan. "Panggil aku kak Johan. Pria yang pernah kamu cintai, pria yang pernah kamu agung-agungkan," perintahnya. "Aku lebih baik dari pada si pria berengsek itu. Steve, pria ******** yang tidak tahu malu, merebut kekasih ku."


"I-iya, kak Johan. Anda memang yang terbaik dari pada si berengsek sialan itu" balas wanita ini, dia agak ragu memanggil namanya. "Ayo aku antarkan anda pulang" ajaknya.


"Aku tidak mau pulang sekarang," bantah Johan. "Aku hanya mau, kekasih ku, Dinda menemaniku malam ini. Mari kita bersenang-senang!"


"Aku akan memuaskan kamu, jangan khawatir," lirihnya. "Aku akan melayani kamu sampai puas, aku berjanji," dia membisik di telinga Johan.


Godaan lembut wanita seksi ini terus membuat Johan memuncak gairah. Dia memeluk wanita itu, takut kehilangan.


Karena kursi yang di dudukinya ikut sempoyongan senada dengan tubuhnya, mendadak pelukan itu membuat keduanya terjatuh di lantai.


Johan berada di atas wanita itu, sementara wanita seksi ini hanya bisa menahan tubuh Johan yang berat menyelimuti tubuhnya yang kecil.


"Aku mencintai kamu Dinda," kata Johan membisik. Dia sangat mabuk, bicaranya mulai tak karuan. Bau alkoholnya menyengat, hingga wanita ini ikut tergoda. "Aku mau kamu menjadi istri ku, bukan menjadi milik si berengsek Steve!"


"Tenang saja, aku tidak akan membiarkan orang lain memiliki aku selain tuan."


"Ehm," Johan menurut. Kata-kata wanita ini senada dengan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


Wanita seksi di kelab malam ini, meraba saku celana Johan walau berat badan Johan tertahan di tubuhnya bagai kasur, tapi dia berusaha agar kuat menghadapi berat bobot Johan.


"Kartu VVIP black gold dan kartu tanpa limit platinum," wanita ini kaget, dia tidak menduga kalau Johan sangat kaya di luar dugaannya. "Rejeki memang tidak kemana."


Ide licik sudah terngiang di kepalanya. Dia ingin mendapatkan keuntungan dari Johan yang malang.


Karena ambisius, wanita ini membawa dan memapah Johan menuju hotel terdekat. Dia tidak bisa melepaskan pria seperti Johan.


Di kamar hotel, wanita itu menidurkan Johan dengan aman.


Dia memperhatikan Johan dengan seksama. Lekuk tubuh Johan yang seksi dan menggoda, hingga wajah indah Johan ia pandangi dengan Hidmat.


"Pria setampan ini, sangat sayang kalau tidak di manfaatkan," gumamnya kegirangan.


Wanita binal ini, meraba kulit Johan, hingga menuju ke perutnya yang keras. Perlahan dia memulai aksinya, aksi nakal wanita khas kelab malam.


Hingga malam itu terjadi, tanpa di duga Johan sudah tidur tanpa sehelai benang pun bersama wanita yang tidak di kenalnya di atas ranjang sprei putih sutera.


Dia terbangun kala matahari pagi masuk menyelinap melalui korden-korden putih sutra.


Betapa kagetnya Johan saat seorang wanita tidur pulas memeluknya. Dengan cepat Johan menendang wanita ini hingga jatuh di lantai sebagai refleksi kagetnya.


"Aw," wanita itu mengeluh, mengurut pinggangnya. "Kamu pria kasar, kenapa menendang ku tanpa perasaan," erangnya.


Johan yang berdiri di pinggir tempat tidur tanpa mengenakan pakaian, mendekati wanita itu. Dia mencengkram dagunya dengan keras.


"Katakan, apa yang kamu perbuat di kamar ku!" Johan amat marah. "Cepat katakan," sentaknya. "Katakan, apa yang sudah terjadi semalam!"


"Sakit, lepaskan dulu aku," wanita ini mengiba. "Kamu sudah menodai ku, lalu kamu mengancam ku."


"Apa? Menodai?" Johan membelalak kaget. Dia melepaskan cengkraman kasarnya. Dia menjauh dari wanita itu, lalu memperhatikan detail tubuhnya yang tanpa pakaian.


"Kamu telah menodai ku semalam, tapi apa yang aku dapat. Kamu justru mengancam ku," katanya meringis terisak. Dia memulai aktingnya seraya menutupi dada yang terbuka.


"Jangan mengada-ada, mana mungkin aku melakukan hal ini dengan wanita yang tak di kenal," Johan membantah, dia belum bisa menerima sepenuhnya pengakuan wanita yang belum pernah ia kenal ini.


"Kamu semalam terjatuh di pinggir jalan. Aku yang sedang melintas di sekitar sana, membantu kamu. Aku merasa kasihan pada kamu, oleh karena itu aku menbawa kamu ke hotel. Tapi apa yang aku dapat? Kamu justru menodai kesucian ku," katanya menjelaskan kebohongan.


"Tidak mungkin," Johan kembali membantah. "Mana mungkin aku melakukan hal ini pada orang lain, selain wanita yang aku cintai."


"Semalam kamu mengiggau nama Dinda. Kamu bilang mencintai Dinda, dan bilang menikah dengannya. Aku rasa karena kamu menganggap aku sebagai wanita itu, makanya kamu melampiaskannya pada ku," dia kembali meringis terisak. Air mata kepalsuan mendukung drama kecil yang di perbuatanya.


Apa yang telah aku lakukan? Johan memegang kepalanya yang terasa berat. Kepalanya sudah terasa pusing mendengar cerita wanita ini.


Johan memeriksa dompetnya, dari dalam dompet tebalnya, Johan melemparkan kartu master card tanpa limitnya pada gadis itu.


"Lupakan kejadian malam ini, anggap saja tidak terjadi apapun," kata Johan bicara sambil memakai pakaiannya lalu meninggalkan wanita itu seorang diri.

__ADS_1


"Kalau begini, rasanya tidak perlu lagi aku kerja keras mengumpulkan uang," seringai wanita ini tertawa puas.


BERSAMBUNG


__ADS_2