
KADO MISTERIUS
Ibu Yuri sedang mencuci sayuran di dapur. Di tengah pekerjaannya, terdengar suara bel listrik di luar berdering berulangkali.
"Iya, sebentar!" teriaknya dari dapur. "Masih jam segini. Masa mereka sudah pulang?"
Ibu Yuri menebak kalau yang terus menekan bel listrik rumah adalah kedua anaknya. Tapi, dia yakin tidak yakin, sebab masih pukul setengah satu siang. Kedua anaknya pulang jam empat sore, bisa jadi menurut Ibu Yuri bukan kedua putranya, tapi tetangga sebelah.
Dari dalam rumah, pintu yang terbuat dari kaca itu, berdiri seseorang memakai jaket kulit hitam—oh, memakai helm hitam juga dan seluruh pakaiannya senada—hitam.
Saat Ibu Yuri membukakan pintu, pria yang terlihat bolak-balik di depan pintu rumah itu mendadak pergi. Ketika Ibu Yuri melihat sekeliling, tak ada yang nampak, kecuali—ada kado besar di kakinya.
"Kado?" Ibu Yuri heran. Siapa yang menaruh bingkisan besar di depan pintu rumahnya, lengkap dengan sebuah buket bunga putih, di dalamnya terselip secarik surat. Kado itu terbungkus berwarna merah muda berbentuk hati.
Ibu Yuri kembali menelisik pandangan ke sekeliling. Di lingkungan tempat tinggalnya yang sederhana, tidak ada siapapun. "Siapa yang menaruh kado ini?"
Ibu Yuri berpikir, sebenarnya aneh saja. Sebelumnya tidak ada yang pernah melakukan ini di rumahnya, tapi tiba-tiba siang itu ada bingkisan misterius. Dia kembali masuk, membawa bingkisan merah muda itu. Di dalam, dia membuka kado itu.
"Baju pengantin?" katanya sambil mengerutkan alisnya. "Punya siapa ini? Apa mungkin ini salah alamat?"
Ibu Yuri ragu, siapa yang dengan sengaja telah meninggalkan baju pengantin berwarna putih itu di depan rumahnya. Jalan satu-satunya, adalah, dia harus memberitahu Dinda.
****
Di restoran tempat Dinda makan, ada seorang pelayan wanita berambut sebahu mengenakan topi hitam. Di depan pintu masuk ada sebuah meja, di sana duduk pria yang terlihat agak angkuh. Pria pekerja kantoran itu sedang memaki pelayan wanita di hadapannya.
Dinda yang sekilas memperhatikan, mengenal siapa itu.
"Vanya!" gumam Dinda pelan.
Ya, gadis itu terlihat sedang di marahi bahkan di omeli oleh salah satu tamu yang sedang makan. Dinda menghampirinya, lantaran Vanya sudah di dorong oleh pria itu.
Secepatnya Dinda menangkap tubuh Vanya agar tak terbentur meja kasir. Itu sangat berbahaya, terbentur sedikit, bisa-bisa tulang punggungnya patah.
Dinda amat geram atas ulahnya, pria itu adalah Johan. Pria yang melecehkan wanita di muka umum.
"Kak Johan punya perasaan nggak sih?" teriak Dinda berang seraya memegang kedua bahu Vanya. "Mendorong wanita apalagi kalau dia terjatuh gimana? Itu sangat berbahaya."
"Wohooo...... Dinda!"
Dinda tak begitu menggubris Johan usai mengomelinya, dia lebih membantu Vanya berdiri normal. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanyanya pada Vanya agak mencemaskan.
"Aku nggak apa-apa kok. Cuma insiden kecil," ucap Vanya. Dia mendekap nampan di dadanya.
Vanya terlihat agak depresi dan ketakutan saat Johan memperlakukannya semena-mena.
"Kak Johan tahu nggak. Apa yang kak Johan lakukan ke Vanya itu, jahat!" ucap Dinda sebal. Dia menatapnya nanar, sambil meninggikan suaranya. Sungguh, ini kali pertama Dinda berkata agak marah pada orang lain. Sebelum-sebelumnya, Dinda tidak pernah berkata meninggikan suaranya, bahkan pada adiknya pun tidak.
"Oh, Dinda ku yang manis ada di sini juga." Dengan santainya, Johan memegang kedua bahu Dinda.
Dinda, dengan cepat menampik tangan Johan dari tubuhnya. Johan paham, Dinda marah padanya karena memperlakukan Vanya kasar. Walau Dinda marah, Johan menyukainya.
Inilah sensasinya di marah oleh wanita yang dia puja-puja. "Dia tadi menumpahkan jus di baju ku. Wajar-kan kalau aku memarahinya. Secara dia kerja saja lalai, bagaimana bisa mengganti kerugian atas rusaknya jas mahal ku. Dia kan miskin."
__ADS_1
"Kak Johan!" pekik Dinda. "Kak Johan sadar nggak sih. Apa yang kak Johan lakukan ini adalah intimidasi dan rasis!"
"Sssttt..... Jangan meninggikan suara. Di lihat orang lain, nggak enak." Johan kembali berlagak santai, seakan ini hanya masalah sepele.
"Dinda, sudah. Aku mohon, sebaiknya kamu kembali saja makan. Aku bisa mengurus masalah ini," sambar Vanya menyela.
"Kak Johan sudah keterlaluan. Memperlakukan wanita seperti ini di depan umum, bukan sesuatu yang bisa di toleransi. Aku benci pria yang seperti itu," ujar Dinda pada Vanya.
"Untuk apa kamu dekat-dekat dengan Vanya. Kamu nanti ketularan virus, apalagi dia sekarang miskin. Virus miskinnya akan menular ke kamu nanti," sambar Johan meledek.
"Dari pada kak Johan merendahkan orang lain, sebaiknya kak Johan pergi dari sini." Dinda mengusirnya pergi, tidak peduli dia siapa. Dinda tidak menyukai pria-pria yang merendahkan wanita.
Johan tersenyum, tangan nakalnya mencubit dagu Dinda. Mendongaknya ke atas, di tatapnya kedua bola mata Dinda yang menurutnya itu sangat indah.
"Karena kamu yang meminta ku pergi. Maka aku turuti ucapan calon istri ku." Di ujung bicaranya, dia mengedipkan mata, sedikit tersenyum puas karena melihat Dinda di restoran ini. Ah, dia berhasil menggoda Dinda tanpa ada Steve yang menghalangi tindakan nakalnya itu.
Johan mengambil jasnya yang di sematkan di kursi restoran, menentengnya di tangan, kemudian ingin meninggalkan Dinda. Lebih tepatnya, restoran.
"Oh, iya," ucap Johan lagi sebelum dia pergi. "Hampir sebulan tidak bertemu, calon istri ku makin cantik saja. Oh, lebih tepatnya, si pria China itu sudah mati. Jadi, aku akan mengambil kembali barang milik ku yang di rebutnya. Ingat, kamu hanya milik ku, tidak akan ada yang berani mengambilnya tanpa melewati aku lebih dahulu." Johan membisik, sungguh, Dinda benci mendengar suara Johan yang sudah berubah ambisius.
"Dan selamanya aku tidak akan pernah Sudi mengenal kak Johan lagi." Ingin sekali Dinda menjawab bisikan Johan seperti itu, tapi dia tidak sanggup. Jujur, menyakiti perasaan orang lain bagi Dinda adalah sebuah hal yang tak pernah bisa dia lakukan.
Usai berbisik di telinga Dinda, Johan ingin pergi. Tapi dia kembali lagi, sebelum pintu restoran itu benar-benar mendepaknya. "Oh, satu lagi," katanya yang tiada henti untuk terus berkata. "Aku dan Vanya sudah bukan tunangan lagi. Jadi, aku di sini ingin memberitahu kepada kalian berdua. Pertama, Vanya tidak akan mengganggu hubungan kita lagi. Dan kedua, aku pastikan Dinda akan kembali menjadi kekasih ku. Jadi aku harap, Vanya mulai saat ini jangan mendekati kekasih ku. Aku tidak mau, wabah miskin mu membuat wanita ku nampak gembel. Aku benci virus gembel mu itu menyebar."
Dan, kata-kata itu menjadi yang terakhir. Johan benar-benar pergi setelah puas berulah. Dinda hanya bisa menahan nafas, amarah Dinda sudah mencapai di level tak terbendung. Suwer, Dinda ingin sekali menjambak, mencakar bahkan merobek-robek Johan kala itu.
"Kak Johan memang selalu seperti itu, jangan di ambil pusing." Vanya mengelus pundak Dinda, dia memahami kekesalannya pada Johan.
"Kenapa kamu harus diam saat dia menghina kamu?" tandas Dinda. Sangat di sayangkan kalau Vanya tidak membantah perlakuan Johan tadi meskipun Vanya yang salah. Jujur, kelakuan Johan sudah di luar batas menurut Dinda.
"Ya sudah. Kita duduk dulu," ucap Dinda. Dia mengerti perasaan Vanya saat ini. Dia menggiring Vanya duduk di meja tempatnya malam tadi.
"Sepertinya kalian butuh waktu berdua untuk bicara. Aku pergi lebih dahulu yah, Din." Mira, wanita yang bersama Dinda tadi, lebih memilih meninggalkan keduanya sendiri.
Dinda mengangguk, memang pada dasarnya Vanya terlihat agak depresi. Peluhnya sudah memenuhi keningnya. Gadis itu berubah total, dia terlihat berbeda sekali dari sebelumnya.
Vanya memangkas rambutnya hingga sebahu, pakaiannya juga tidak lagi modis seperti sebelumnya. Yang ada kini hanya pakaian pelayan restoran. Vanya benar-benar terlihat kucel dengan penampilan barunya.
"Terima kasih ya Dinda, tadi sudah membantu ku."
"Kamu nggak perlu berkata seperti itu. Aku nggak suka ada orang yang merendahkan wanita di depan publik," ucap Dinda.
Saat Dinda berbicara, Vanya melepaskan senyum sumringah nan hangatnya. Dia menatap wajah anggun Dinda, gadis itu benar-benar berkarakter. Vanya baru menyadarinya, di banding Dinda, dia tidak ada apa-apanya, kecuali status sosial yang pernah dia elu-elukan.
"Dinda." Vanya mulai berkata, di tatapnya wajah Dinda, di pegang-nya tangan lembut itu, Vanya sedikit tersenyum manis. "Kamu nggak marah atau dendam atas semua apa yang aku lakukan ke kamu selama ini, kan?"
Dinda menggeleng. "Jika aku melakukannya, mungkin hidup ku tidak akan tenang."
Dari kata-kata Dinda, Vanya yang menatapnya, tiba-tiba menangis. Tidak tahu kenapa, Dinda merasa heran. Mungkinkah pikirnya dia sudah menyakiti gadis itu?
"K—kamu kenapa menangis?" tanya Dinda bingung.
Vanya menarik nafas sesenggukan. Tangisan tersedu-sedu, sangat terisak. "Aku malu pada diri ku sendiri Dinda," katanya mengakui.
__ADS_1
"Kenapa malu?" Dinda mengernyitkan dahinya, jujur, gadis itu berkata agak kurang di pahami. "Apa yang membuat kamu malu?"
Saat menangis, Vanya menunduk. Dia tak mampu menatap wajah Dinda lagi. Sungguh, dia malu kala wajah cantik Dinda tersenyum padanya. "Aku malu pada kamu yang dulu selalu aku rendahkan. Dan sekarang, diam-diam aku menjadi pengagum rahasia mu. Aku benar-benar malu menatap wajah kamu yang terus berbaik hati pada ku."
"Kamu nggak perlu merasa malu. Aku nggak pernah berniat membuat kamu menjadi musuh ku atau aku mendendam atas kejadian masa lalu. Semua aku anggap sebagai mimpi buruk, kenapa aku harus mengingatnya. Hal itu akan membuat aku tidak bisa berpikir maju ke depan." Dinda mengusap kedua bahunya, mencoba menenangkan Vanya. Dinda memahami sisi lain wanita itu.
Karena niatnya tak tertahankan, Vanya langsung memeluk Dinda. Di pelukan Dinda, gadis itu menangis makin tersedu-sedu. "Terima kasih Dinda. Aku pikir selama ini akulah wanita yang terbaik dari semua wanita yang ada di seluruh dunia. Tapi aku salah. Ternyata, di banding kamu, aku jauh lebih buruk sebagai seorang wanita. Aku wanita yang egois. Hanya karena cemburu buta, aku sampai rela menghina kamu di depan orang banyak. Aku benar-benar wanita yang tidak pantas untuk di maafkan dan di kasihani."
"Hei, kamu nggak boleh ngomong gitu," Dinda mengelus punggungnya. Walau Vanya memeluknya secara tiba-tiba, Dinda merasakan kalau Vanya ada perubahan emosional. "Kamu dengar yah. Semua wanita itu adalah berlian yang mahal. Nggak ada yang namanya wanita yang hina hanya karena kita berpikir diri kita lebih cantik dan lebih baik dari orang lain. Tetapi menghargai sesama wanita, membuat berlian itu makin berkilau. Aku percaya, berlian di tubuh mu akan jauh lebih bersinar saat kamu sadar kalau kamu itu wanita yang berharga. Tidak ada yang namanya hina, yang ada, menghargai."
Dinda memberikannya senyum manis, Vanya sesekali menyeka air matanya. Ingusnya kadang meler, sehingga beberapa kali Dinda memberikannya tisu.
"Dinda, kamu tahu." Vanya menarik nafasnya yang agak berat. Baru kali ini, dia mendapatkan seseorang yang benar-benar membuatnya agak nyaman. "Kadang aku berpikir kalau status sosial ku bisa membuat aku mendapatkan apa saja yang aku mau, termasuk mendapatkan perhatian kak Johan.
Tapi—setelah mengenal kamu, memperhatikan kamu dan mengamati kamu. Diam-diam aku belajar banyak hal dari kamu—bahwa status sosial hanya sebagai alat penunjang saja. Hati yang tulus, menghargai orang lain adalah sebenarnya hal yang paling di kenang oleh orang lain. Saat melihat kamu hari ini. Aku sangat lega, sungguh."
"Hei, selama kamu membutuhkan teman curhat. Aku bisa selalu ada untuk kamu kapan pun kamu membutuhkan aku," kata Dinda menawarkan diri.
"Tidak salah kalau kamu di sukai banyak pria. Bukan karena perkataan ku yang menyebut kamu wanita ******. Tapi, kebaikan hati kamu membuat pria manapun merasa tertarik saat melihat kamu. Itulah yang aku coba pahami dari diri kamu, yang tidak aku miliki," ungkap Vanya.
Sejak saat Dinda membantunya membawa ke rumah sakit, sejak saat itu juga Vanya mulai tertarik ingin berhubungan lebih baik lagi dengan Dinda. Kini, di depan Dinda, Vanya mengakui seluruh rasa di dadanya. Rasa bersalah, permintaan maaf-an juga kagum, membuat Vanya makin percaya, kalau Dinda adalah wanita yang patut di contoh sebagai teladan.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Maka, mulai saat ini jadilah pribadi yang positif. Kamu cantik hari ini, dengan rambut sebahu."
"Kamu terlalu memuji ku," jawab Vanya tersenyum sumringah meninggalkan kisah haru tadi. "Terima kasih Dinda," ucap Vanya lagi. Dia memeluk Dinda untuk yang kedua kalinya. "Maafkan aku...... Maafkan atas semua kesalahanku."
"Sudahlah. Lupakan saja masa lalu," balas Dinda dengan sikap yang terbuka. "Kamu sudah melakukan yang terbaik saat ini. Itu semua karena tekad kamu yang ingin lebih baik. Bukan karena ku."
Sumpah! Demi apapun, Vanya merasa lega sekali saat Dinda memaafkannya. Sungguh, Vanya merasa bebannya bisa berkurang dalam kungkungan rasa bersalah.
"Ngomong-ngomong, kamu sekarang sudah bekerja jadi pelayan restoran?" tanya Dinda beralih.
"Iya," Vanya mengangguk. "Ini adalah kerja part time ku. Jadi aku menyukainya."
"Kamu kan lulusan universitas terbaik di Inggris. Kenapa nggak mencoba cari pekerjaan di kantor saja? Apalagi Skill bahasa Inggris kamu mumpuni loh." Dinda heran, jalan pemikiran Vanya sulit di tebak. Lulusan terbaik seperti Vanya, malah mau bekerja di tempat seperti ini. Walau sudah baik, tapi gaji yang di berikan tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan Vanya.
"Aku ingin menjadi Vanya yang baru. Aku ingin menjadi wanita yang tangguh, wanita pekerja keras dan wanita yang kuat. Oleh karena itu, aku tidak mau mengandalkan riwayat pendidikan ku. Aku sudah nyaman dengan pekerjaan ku." Vanya tahu, walau pekerjaan ini tidak cocok dengannya, tapi dia tetap melakoninya. Sebab, hidup sederhana seperti ini membuatnya lebih damai dan tentram. Ketimbang Vanya yang dahulu, selalu bersembunyi di balik punggung Ibunya.
Saat mereka tengah berbincang-bincang, terdengar lonceng di meja kasir berdering dua hingga tiga kali. Vanya tahu, itu isyarat untuk dirinya. Isyarat bahwa jam kerjanya sudah berakhir.
"Oh, iya. Jam kerja ku sudah berakhir. Aku harus pergi sekarang. Karena aku ada pekerjaan lain. Pekerjaan part time ku banyak, kalau kamu ada waktu. Kamu bisa datang ke kios bunga Wendy's florist. Di sana, aku bekerja bersama seseorang yang kamu kenal," ucap Vanya pada Dinda.
"Siapa?" tanya Dinda penasaran.
"Niko," jawab Vanya. "Dan sekarang aku bekerja di toko bunga bersama adik kamu."
Niko? Dinda baru tahu kalau adiknya itu satu pekerjaan dengan Vanya, di toko bunga pula. Dan dari mulut Vanya jugalah dia tahu bahwa diam-diam Niko kerja part time.
"Oh, ya Dinda. Aku berangkat sekarang yah. Terima kasih Dinda atas waktunya siang ini," ucap Vanya lalu meninggalkan Dinda seorang diri.
Dinda masih terpaku, kedua adiknya ternyata memiliki pekerjaaan sampingan. Terakhir kali dia ingat Niko kerja di restoran, kali ini sudah beralih ke toko bunga.
Dinda melambaikan tangannya ke arah Vanya yang sudah berjalan di luar restoran. Tidak terduga, ternyata adiknya bisa satu pekerjaan dengan Vanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jaga kesehatan yah, ini ucapan ku pada pembaca.