
_____________________________________________
Dinda terbangun dari tidurnya ketika bola matanya terasa sudah tidak sanggup lagi terpejam.
Samar-samar matahari pagi menusuk pelupuk matanya yang sulit terbuka.
Kornea mata itu terasa perih ketika di buka perlahan.
"Kamu sudah bangun?" Tidak jauh dari tempat tidur berselimut putih bersih itu, seorang pria berkata.
"Kak Johan. Kakak......" Dinda tidak kaget, hanya saja rasanya aneh. Pria itu ternyata belum pergi juga dari sisinya.
"Kamu baru saja sadar, Dinda. Jangan memaksakan diri untuk bangun. Takutnya kamu belum sepenuhnya pulih," kata Johan mengkhawatirkannya.
"Memangnya ada apa dengan ku kak? Apa yang terjadi." Sambil bertanya, Dinda memegang kepalanya yang terasa mau pecah itu. Sakit. Sungguh, Dinda merasa sakit di kepalanya itu bagai di hantam ribuan Godam besar.
"Kamu sudah dua hari ini nggak bangun-bangun. Aku khawatir pada mu Dinda. Oleh karena itu, aku mohon jangan memaksakan diri untuk mengingat kejadian kemarin."
Johan tahu, Dinda sedang memikirkan kejadian kemarin.
Johan hafal pada pemikiran Dinda. Pemikiran dimana Dinda harus tahu kejadian sebelumnya tanpa menunggu orang lain menjelaskannya.
Dinda tidak langsung berkata bahwa dia akan mengingat kejadian sebelumnya. Tapi Johan yang ada di depannya ini agak ambigu.
Saat melihat Dinda seperti orang kebingungan. Johan menyungging, menyeringai tersenyum kecil.
Dua hari ini aku memasukan obat tidur di tubuh mu. Itulah kenapa mata kamu memerah, mulut terasa panas dan kepala terasa agak berat. Itu semua karena efek dari dosis obat. Tenang saja, tidak berbahaya. Sebentar lagi juga akan hilang dengan sendirinya.
Ketika Dinda mulai pulih dari sakit kepala yang perlahan mereda. Dinda mulai sadar kalau dia bukan di hotel tempat dimana terakhir kali dia tertidur. Seluruh ruangan ini di cat putih bersih, sementara di hotel saat itu Dinda masih ingat—kalau cat hotel berwarna kuning keemasan.
Dimana aku saat ini. Kenapa aku merasa aku seperti ada di tempat lain. Dinda menelisik sekeliling, memang yang di lihatnya tempat ini sudah berbeda dari sebelumnya.
"Kita di mana kak Johan, sekarang?" tanya Dinda yang merasa asing dengan suasana di sekitarnya. "Kenapa aku merasa kalau tempat ini agak aneh."
"Ehm..... Maaf Dinda kalau aku membawa kamu pergi ke sini tanpa persetujuan kamu." Johan sebenarnya ingin merahasiakan di mana mereka sekarang. Tapi Dinda sudah sadar kalau mereka bukan lagi di Jakarta, melainkan sudah di Afrika.
"Maksud kak Johan?" Dinda memicingkan matanya hingga menyipit. Di lihatnya wajah yang sedang ragu berkata itu. "Kita ada dimana sekarang kak?" sentak Dinda panik. Dia berdiri, menelisik sekeliling ruangan.
"Dinda tenangkan dulu diri kamu. Aku tidak menculik kamu kok," balas Johan. Sambil dia berusaha menenangkan Dinda yang sedang panik tak karuan ini. "Tenangkan dulu diri kamu. Kita baik-baik saja. Kamu jangan khawatirkan apapun saat ini. Ada aku di sini."
"Lalu kita ada dimana ini kak. Kenapa aku merasa asing di sini!" Walau Johan mencoba menenangkannya, namun Dinda tetap saja panik. Dia terlihat cemas berlebihan.
"Kita ada Ethiopia, Dinda." Johan agak meninggikan suaranya, Dinda terlalu emosional sejak saat dia sadar dari tidurnya. "Kamu jangan panik begitu. Sekarang kita di Ethiopia."
Ethiopia? Kenapa aku ada di sini. Kenapa aku bisa di sini. Bukankah aku masih ada di Jakarta. Kenapa bisa sampai di Ethiopia. Bagaimana bisa itu terjadi.
Dinda mencoba mengingat-ingat kejadian kemarin. Tapi rasa sakit di kepalanya itu semakin menderu seiring otaknya memaksa memanggil ingatan di masa kemarin. Bukan ingatan kemarin yang dia dapatkan, tapi rasa sakit yang menjeram di kepalanya.
"Dua hari yang lalu kamu yang meminta ku membawa pergi sejauh mungkin dari sisi kehidupan kamu yang kelam. Kamu sendiri yang sudah meminta ku untuk meninggalkan Jakarta. Itulah kenapa aku membawa kamu ke Addis Ababa. Itu semua atas permintaan kamu."
Johan mencengkram tangan Dinda erat. Dia ingin membuat Dinda tidak terlalu emosional lantaran tak tahu apa-apa tentang kepergian ini.
Wajah Dinda sudah menangis larut dalam perasaaan tak menyangka. Aneh saja, sejak kapan dia berkata seperti itu. Bagaimana mungkin dia tidak tahu kalau Johan membawanya ke Ethiopia.
Yang pasti, rahasia ini Dinda tidak akan tahu dengan cepat. Butuh waktu untuk mencerna isi dari permasalahan ini.
Saat Johan mengatakan hal-hal tadi, rasanya tubuh Dinda lemas tak berdaya. Dia terduduk lesu di pinggir ranjang, meratapi nasibnya yang sudah tak tahu bagaimana. Di negeri orang. Di tempat yang tak tahu seperti apa ini, Dinda hanya bisa menahan pilu.
"Kapan aku mengatakan hal itu kak. Kapan?" Dinda merengek. Sambil menangis dia memukul dada Johan tidak terlalu kuat.
__ADS_1
Johan yang duduk di depan Dinda, pasrah saat dadanya di pukul Dinda. Dia tahu, Dinda sedang melampiaskan emosinya yang sesaat itu.
"Kamu mengatakannya tanpa sadar. Dan aku sudah bertanya hingga berulang kali apakah kamu yakin mau pergi meninggalkan Jakarta. Dan kamu tetap saja pada pendirian kamu untuk meninggalkan Indonesia. Kak Johan tidak membohongi kamu Dinda, kak Johan berkata jujur."
Johan sebisa mungkin bersikap natural seperti biasanya. Walau Dinda sudah tersedu-sedu, Johan tidak peduli. Saat ini yang terpenting membuat Dinda yakin kalau rencana ke Ethiopia ini adalah permintaan Dinda.
Maafkan aku Dinda karena membohongi kamu. Aku lakukan semua ini karena aku tidak mau kehilangan kamu lagi.
"Tapi aku merasa itu hanya ucapan dalam tidur yang mengigau semata. Seharusnya kak Johan tidak terlalu menanggapinya dengan serius."
Melihat Dinda yang terus menitikkan air matanya. Johan yang merasa Dinda perlu sandaran, memeluknya dengan kehangatan. "Kamu jangan khawatir. Kalau kamu sudah baikan, kak Johan janji. Kak Johan akan membawa kamu pulang. Maafkan aku yang ceroboh karena membawa kamu tanpa menunggu kamu sadar. Maafkan aku Dinda."
Johan mengelus lembutnya rambut Dinda, harumnya aroma rambut itu membuat Johan merasa seperti di taman bunga. Jujur, aroma ini, suasana ini dan kondisi ini yang Johan impikan sejak dulu.
Mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Sekalipun Dinda menangis keras hingga air mata itu tak lagi mampu keluar—mengering. Tetap saja hasilnya sama. Waktu tak bisa kembali seperti kemarin.
"Kak Johan," rengek Dinda. Dalam pelukan itu Dinda merasa agak nyaman. Layaknya pelukan hangat yang di berikan oleh pria yang paling Dinda cintai. Dia sudah melupakan kisah sedihnya saat ini.
"Hem...," balas Johan seraya mengendus di pusat ubun-ubun kepala Dinda. "Ada apa?" tanyanya. Tapi pelukan itu belum lepas, justru makin hangat dan intim.
"Bagaimana dengan keadaan Ibu. Apakah dia tahu keadaan ku sekarang."
"Ibu baik-baik saja. Kamu jangan khawatir tentang mereka. Aku sudah meminta orang-orang ku memantau keadaan Ibu dan kedua adik mu,"balas Johan. Bukan sesuatu yang tabu untuk berbohong. Berkata tidak jujur adalah bagian dari hidup manusia. Johan ada di bagian itu.
"Benarkah?" Dinda memastikan.
Johan mengangguk. Dia yang paling tahu kisah ini. "Kamu jangan khawatir, Ibu sudah tahu kalau kamu ada bersama ku," katanya berbohong.
Walau hanya sebuah kata-kata yang di ucapkan oleh Johan. Namun rasanya Dinda yakin kalau Johan berkata jujur.
Tapi bagi Johan itu bualan semata. Nyatanya dia tidak sama sekali menghubungi Ibu Yuri, atau memberitahu keadaan mereka saat ini. Johan hanya perlu menjalankan rencananya, setelah itu beres.
Kamu bukan gadis bodoh Dinda. Hanya saja kamu terlalu percaya pada ucapan orang lain. Selalu berpikir positif, itulah kenapa orang-orang menganggap kamu spesial. Jangan salahkan aku jika membohongi kamu. Tapi salahkan keadaan. Mereka yang memaksa ku melakukan semua ini.
Selama dua hari Dinda menghilang, Ibu Yuri sangat was-was. Sumpah, dia merasa tanpa nyawa kala tahu putrinya pergi di bawa oleh Johan.
Di teras rumah, Ibu Yuri terlihat mondar-mandir. Melangkah kesana kemari dengan telepon genggam di pegang erat di jari jemarinya.
Hadapan Ibu Yuri hanya satu. Dinda menghubunginya saat itu—ditengah rasa khawatirnya yang sedang membelenggu. Tapi itu hanya angan-angan saja. Buktinya, hingga saat ini tidak ada kabar satupun yang di terima Ibu Yuri dari kemarin.
"Dinda. Bagaimana kabar kamu sekarang nak. Ibu khawatir dengan kamu saat ini."
Cinta seorang Ibu memang besar. Rasanya Ibu Yuri ingin menangis setiap saat kalau Dinda tidak ada kabar. Wajah itu tidak bisa membohongi siapa saja yang melihat. Wajah yang berisi guratan kekecewaan pada Johan yang telah membawa kabur putrinya dengan nekat.
Saat sedang menahan kesedihannya, putra Ibu Yuri, Miko baru saja tiba di teras rumah. Yah, terlihat anaknya itu kelelahan. Saat dia tiba di rumah, Miko langsung mengambil tempat duduk di kursi plastik di teras.
"Bagaimana. Apa ada kabar dari kak Dinda?" tanya Ibu Yuri. Bagai orang yang kelaparan, dia menuntut jawaban pada sang putra.
Miko menggeleng. Ibu Yuri tahu kalau putranya itu sedang berusaha, apalagi keringat sudah membasahi badan. "Belum Bu," katanya agak lesu.
"Maksudnya gimana, Miko?" tandas sang Ibu. "Kamu belum tahu juga kemana kak Dinda di bawa pergi?"
"Kak Steve dan kak Zico sudah mencarinya Bu. Miko dengar kak Dinda di bawa ke Ethiopia. Hanya menunggu kabar dari kak Steve dan kak Zico saja yang bisa kita lakukan saat ini. Selebihnya, kita harap kak Dinda baik-baik saja."
Kala mendengar Miko berkata kalau Steve sedang berusaha. Hal lain yang di pikirkan oleh Ibu Yuri. "Dia sudah kembali?"
Miko mengangguk. "Dua hari yang lalu. Semoga kedatangannya yang penuh kejutan ini bisa membawa kak Dinda kembali."
Steve. Ibu Yuri tahu kalau anak itu pasti sedang berusaha menemukan Dinda. Jadi rasa khawatir Ibu Yuri perlahan menurun, karena pria yang dia harapkan itu akhirnya datang.
"Tapi, bagaimana nak Steve bisa kembali. Selama tiga bulan ini..... Dia....."
__ADS_1
Bukan hanya Ibu Yuri yang penasaran pada kejutan yang di lakukan oleh Steve. Miko juga sama.
"Dia sebenarnya tidak berobat ke Jerman Bu," sahut Miko. "Kak Steve sebenarnya tidak sekarat akibat tembakan di malam itu. Tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, Miko saja bingung mencernanya."
Orang lain memang memiliki kisah-kisah mereka tersendiri. Jujur, kisah orang lain jauh lebih menarik saat di Kulik ketimbang mengulik kisah diri sendiri.
Ehm, setiap kebohongan pasti akan terbongkar. Serapat apapun kau menutupinya dan sekuat apa kau untuk tidak menyebarkannya. Namun hasilnya sama saja, semua yang sudah di rahasiakan beribu tahun lamanya juga pasti akan ketahuan.
Ide menghilang Steve ini bukanlah sebuah kebohongan belaka. Tapi ada alasannya dia melakukan itu. Hanya saja kita tidak perlu pre-judge mengenai kehidupan orang lain.
Kita memang punya banyak rencana. Tapi sayangnya, hanya tuhan yang memiliki banyak alur. Rencana apapun yang ingin kita lakukan, kadang tak sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tapi amat di kasihani. Rencana Steve menghilang selama ini justru harus membuatnya kewalahan mendapatkan kembali pengisi hatinya. Selama dua hari ini dia berada di Afrika, namun belum juga mendapatkan kabar apapun.
"Bagaimana. Apakah kamu sudah mendapatkan kabar tentang cecunguk itu?" tanya Steve.
Steve dan Zico sedang berada di cafe kecil di tengah pusat kota Addis Ababa. Di sana, Zico baru saja tiba yang entah dari mana, Steve tidak tahu.
"Aku sudah mengecek kantor tempat orang tuanya membuka bisnis. Kata orang-orang di kantornya, pria itu tidak ke kantornya sama sekali sejak kemarin. Bahkan mereka juga tidak tahu kalau dia datang ke Ethiopia." Zico memberitahu. Sambil duduk, pria modis ini melipat kacamata hitamnya, lalu menepi-nya di kerah leher kausnya.
Cuaca di Ethiopia sedang panas, wajar kalau banyak orang menggunakan kacamata hitam. Biasa, agar mata tidak silau. Apalagi Steve, dia memang terlihat cocok dengan pakaian kaos oblong tipisnya itu.
"Jika benar mereka ada di Addis Ababa. Seharusnya kita sudah dapat informasi tentang dia saat ini. Tapi kenapa sangat sulit menemukan mereka."
Entahlah. Steve saja merasa bingung. Begitu rapatnya Johan bersembunyi, sehingga keberadaannya saja sulit di ketahui.
"Kita tunggu kabar dari orang-orang koneksi ku Steve, hingga nanti sore. Jika tidak ada kabar, baru kita kembali. Karena aku rasa mungkin dia tidak ke Ethiopia. Mungkin saja dia ketempat lain membawa Dinda. "
"Tidak," sambar Steve cepat. "Tidak perlu terburu-buru kembali. Kita punya waktu sampai besok untuk tetap di Addis Ababa. Selama waktu itu, kamu harus menemukan keberadaan mereka."
"Tapi Steve," rengek Zico. "Bagaimana kalau kita tidak berhasil menemukannya?"
"Maka cari terus sampai ketemu. Jika belum ketemu, cari terus, cari lagi, tambah lagi koneksi mu dan usahakan sampai orang-orang payah itu lelah mencarinya."
Mencari orang di kota asing seperti Addis Ababa ini sangat sulit. Apalagi mencarinya dengan cepat. Zico tidak sanggup sebenarnya, tapi dia tidak berani menolak perintah temannya itu.
"Okelah, aku akan berusaha."
Walau hanya janji yang saat ini di ucapkan oleh Zico, Steve tidak menggubrisnya. Dia hanya mau hasil, bukan ucapan yang tak ada pencapaian.
Steve meninggalkan Zico sendiri di dalam cafe kecil ini. Rasanya sudah tidak tahan lagi meladeni orang-orang yang tak berguna di matanya itu.
Dinda. Aku janji, tidak lama lagi kita akan bertemu. Kamu harus bersabar menunggu ku. Aku pasti akan menjemput mu. Dan kita akan kembali lagi seperti dulu. Pulang bersama ku, kita nikmati senja di ufuk sungai Thames. Mengelilingi sungai Huangpu di Shanghai. Dan menikmati makanan kaki lima di Korea. Tunggu aku Dinda. Aku pasti menjemput mu.
Sambil berjalan di trotoar jalan pusat kota Addis Ababa, Steve mengomel di benaknya. Jalan pedestarian saat itu tengah ramainya. Apalagi Addis Ababa adalah kota kaya di Afrika. Kaca mata hitam itu tidak terlalu cukup menutup diri dari silaunya matahari siang. Sehingga Steve menambahkan topi khas negara setempat di kepalanya.
Steve berjalan menuju ke hotel—yang tidak jauh dari tempatnya saat itu berada. Tidak di pikirkan oleh Steve sebelumnya—bahwa semua akan menjadi seperti ini.
Dinda. Seharusnya kamu tahu kalau aku sudah kembali. Seharusnya kamu tahu kalau aku tidak pernah melupakan kamu. Tapi kamu saat ini menghilang. Walau sampai ujung dunia aku harus mencari kamu, maka akan aku ikuti alur ini.
Di tempat ini, aku harapkan kamu benar-benar ada di sini. Kita bertemu di ujung matahari tenggelam. Aku harap waktu berhenti, yang pada akhirnya bisa mempertemukan kita lagi.
Aku harap kita bisa bersatu lagi. Semoga di bawah awan kota Addis Ababa ini, kita bisa di pertemukan. Percayalah, aku selalu di sisi mu, sampai kapan pun—
Steve masih berjalan di sekitaran pedestarian di dekat jantung kota. Dari balik sakunya suara telepon itu berdering. Saat di lihat, layar handphonenya itu menampilkan nama pria si kolot itu.
"Zico. Kenapa anak ini menelpon?" Steve menengok kebelakang. Jarak antara dia dan cafe agak jauh beberapa puluh meter. Kalau masih dekat dengan cafe, pikir Steve tak akan dia menjawab telepon itu. Tapi—jari-jarinya justru berkata lain.
Ketika menjawab telepon itu, suara khas Zico menggema di speaker gawai Steve.
"Kami sudah menemukannya!" belum sempat Steve menjawabnya, Zico lebih dulu berkata.
__ADS_1
BERSAMBUNG
3K ❤️ UWU SEKALI.