UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 155


__ADS_3

“Aku menulis bukan untuk tujuan mulia. Tapi aku ingin menghilangkan stres atas kegilaan yang aku rasa. Bukan kata-kata mutiara yang aku sajikan, hanya literasi tak berarti yang kalian nikmati.”


_____________________________________________


“Pindah ke Shanghai kita tunda saja lagi ya. Kita tunggu beberapa bulan, sampai Iqbal benar-benar sudah siap. Takutnya nanti fisiknya belum kuat kalau di ajak jalan-jalan.”


“Aku sih menurut saja apa kata suami ku,” balas Dinda. “Kapan pun kita berangkat ke Shanghai, aku siap.”


Steve memahami istrinya. Dia tahu, Dinda belum bisa di ajak jalan. Apalagi harus duduk lama di pesawat.


Dia duduk di ranjang, sambil asik bermain dengan si kecil. Dinda baru saja selesai memasak, lalu merapikan baju-baju suaminya.


Sudah seminggu ini Dinda keluar dari rumah sakit. Istri Steve ini juga sudah membaik keadaannya.


Yah, Steve juga selama seminggu ini tidak masuk kantor. Hanya karena dia tidak mau berpisah dengan putranya.


Putra Dinda memang jarang menangis sejak di lahir-kan. Kecuali saat lapar, barulah dia mulai menangis. Dan nyaman-nyaman saja Steve rasakan.


Kehadiran si buah hati tidak mengusik tidur Steve yang nyenyak. Tidak seperti apa yang dia pikirkan. Di mana ada bayi, di situ para suami tidak bisa tidur.


Setiap saat bayi kecil yang berumur hampir dua Minggu ini selalu tertidur pulas. Namun kali ini dia tidak tidur, matanya agak samar-samar terbuka di ikuti mulut yang ternganga.


“Sepertinya dia lapar. Kamu beri dulu dia ASI,” kata Steve yang sudah hapal pada kelakuan si kecil—pengganggu.


Steve mulai membiasakan diri untuk tidak cemburu. Maklum saja, puding kenyal Dinda kini harus berbagi dengan putranya. Dan itu membuat Steve harus menahan cemburu.


“Iqbal benar-benar mirip Ayahnya. Dia tidak rewel, tapi sekalinya meminta pasti menangis tanpa henti,” ucap Dinda menyinggung.


Steve hanya terkekeh, sambil memperhatikan puding kenyal Dinda yang gigit gemas oleh bayi kecilnya.


“Aku sebenarnya marah. Kenapa putra ku harus menyusu pada Ibunya. Seharusnya dia meminum susu pabrikan. Itu jauh lebih baik dari pada meminum susu istri ku.”


Dinda mendengkus tersenyum, ada-ada saja kelakuan Steve ini. “Kamu selalu begitu. Ini bayi kita. Dan kamu tega membiarkan Iqbal meminum susu buatan mesin.”


“Habisnya dia mengambil barang milik Ayahnya.”


**********


“Oh. Kenapa aku harus menanggung semua beban pekerjaan ini!” gerutu Zico.


Dia mengacak rambutnya kasar. Rasa pusing itu membuatnya makin stress.


“Semenjak menikah, Steve selalu melimpahkan pekerjaan kantor pada ku. Oh tuhan, cobaan apa yang kau berikan pada ku!”


Steve memang bos yang kejam. Di saat situasi seperti ini, dia malah jarang masuk kerja. Rasanya kesal ketika harus mengurus semua berkas ini seorang diri. Zico tidak bisa memakluminya saat ini. Menelantarkan karyawan namanya.


Ketika sedang sibuk mengomel, pintu ruangan Zico di sela oleh ketukan.


“Masuk!” balas Zico.


Dari luar, dia mendengar suara ketukan pintu. Dia menoleh sebentar melihat siapa yang mengganggunya seperti ini.


Zico menaikkan kedua alisnya, wajahnya terlihat heran saat melihat seorang wanita datang padanya.


“Vanya!”


Gadis itu tersenyum. Dia mendekap berkas cokelat di dekapannya. “Selamat siang Pak. Saya Vanya, calon pegawai yang kemarin memasukan resume dan CV seminggu yang lalu.”


Zico tahu, tidak perlu Vanya menyebutkannya. Namun ini formalitas, sebagai pencari nafkah, Vanya harus bersikap ramah.


Zico mengerutkan alisnya, mengedipkan matanya berulang kali.


Serius. Dia mau bekerja di sini? Aku nggak lagi mimpikan.


“Pak Zico?” Vanya melambaikan tangannya, pria di hadapan Vanya ini terlihat melamun. “Hallo. Pak Zico. Bapak baik-baik saja kan?”

__ADS_1


“Oh, maaf,” balas Zico tersadar. “Silahkan di lanjutkan.”


“Jadi begini. Saya sudah mengajukan surat lamaran kerja saya seminggu lalu di sini. Dan saya mendapatkan email balasan dari kantor ini, katanya saya harus datang hari ini karena ingin interview.” Vanya melanjutkan bicaranya, sedangkan Zico mengangguk paham.


“Bisakah aku melihat lagi CV dan resume kamu. Kami perlu mencocokan dengan data surat lamaran yang kamu masukan beberapa Minggu yang lalu,” pinta Zico. Vanya memberikan map cokelat pada Zico.


Vanya mengulu* tersenyum. Dia tidak terlalu gugup, hanya sedikit mendebar lantaran melamar pekerjaan di kantor ini. Sungguh, rasanya seperti mimpi. Dan ingatan Vanya teringat pada kejadian saat dia membentak Steve kala itu. Oh, antara malu dan canggung, Vanya sudah mulai merasakannya. Apalagi kalau melihat Steve nanti, Vanya tidak bisa membayangkannya.


Karena rekomendasi orang-orang kantor di Surabaya. Pada akhirnya aku mau melamar di kantor ini. Semoga kantor ini mau menerima aku sesuai dengan kualifikasi ku.


Semoga hasilnya tidak mengecewakan.


“Ehm. Dari hasil pengalaman kerja dan juga riwayat pendidikan kamu. Aku tidak bisa menempatkan kamu di posisi lead manager. Sesuai posisi yang ada, kami hanya bisa menempatkan kamu sebagai karyawan bagian saja. Dan itu butuh proses untuk naik jabatan tergantung dengan prestasi kamu sebagai karyawan di sini.”


Usai membaca dan menelaah surat lamaran kerja milik Vanya, Zico memberikan opsi pada Vanya. Dan jujur, hanya itu yang tersedia di kantor ini, tidak lebih.


Kala ucapan dengan jelas itu merinci sebagai apa posisinya di tempat ini. Vanya tidak keberatan, memang pada dasarnya semua karyawan di sini lulusan terbaik dari universitas ternama dunia. Vanya tidak berkecil hati, bekerja saja menjadi karyawan biasa tak masalah. Itu sudah keberuntungan, apalagi sudah di terima bekerja di sini.


“Saya menerima tawaran ini Pak. Di posisi manapun saya di tempatkan. Saya siap bekerja,” balas Vanya sedikit terbuka. Dia tidak mau membuang-buang kesempatan di perusahan besar ini.


Zico mengulurkan tangannya pada Vanya, mereka mencapai kesepakatan bersama. “Kalau begitu, maka perjanjian kontrak kerja ini akan di tandatangani besok. Sekaligus kamu bisa langsung bekerja. Selamat bergabung di perusahaan kami!”


Vanya membalas jabatan tangan Zico yang lembut. Pria ini amat ramah, sehingga Vanya tak urung memberikannya sebuah senyuman manis. “Terima kasih sudah memberikan saya kepercayaan. Kalau begitu saya permisi dulu Pak!”


Zico mengangguk, sambil matanya memperhatikan lekuk tubuh wanita yang sudah berlalu dari ruangannya ini.


“Ckckck. Wanita itu sudah berubah total,” ujar Zico menggeleng pelan.


Memang, pada dasarnya sifat manusia tiada yang tahu. Hari ini jahat, besok berubah menjadi baik. Dan bisa saja itu berubah lagi jadi jahat. Itulah yang Zico rasakan dari seorang Vanya. Wanita kalangan sosial kelas atas ini, pada akhirnya mau bekerja sebagai karyawan biasa di kantor ini. Sesuatu yang luar biasa di luar perkiraan.


Huh, Zico bisa melepaskan napas lega. Semua akhirnya kembali ke semula. Baik-baik saja dan tentram. Tidak ada lagi drama yang mengusik ketenangan hidupnya. Yah, kecuali drama Steve. Pria itu aktornya kali ini.


“Kalau begitu, mulai sekarang aku harus giat bekerja. Tinggal beberapa bulan lagi, aku akan mengurusnya sendirian. Oh Steve, kau adalah bos yang kejam.”


Tuhan, jika aku harus berakhir menjadi pekerja kantor yang giat. Setidaknya biarkan aku menikah dahulu. Aku tidak mau menjadi pria lajang selamanya. Hiks.


°°°°°°°°°


Terima kasih Tuhan. Walau ak tidak bekerja sebagai karyawan besar, setidaknya bekerja di kantor Group Wong ini sudah lebih dari cukup.


Kau masih berbaik pada ku yang terlalu buruk ini. Aku tidak pernah bersyukur pada mu, dan hari ini kau memberikan hamba mu sebuah kesempatan. Dan aku akan memanfaatkan kesempatan yang kau berikan sebagai asa untuk memperbaiki diri.


Vanya masuk ke kantor Steve atas dasar rekomendasi teman-teman sejawatnya di Surabaya. Jika bukan atas dorongan mereka dan dukungan mereka, mana mungkin Vanya mau bekerja di sini.


Apalagi melihat latar belakang pendidikan yang dia tempuh. Vanya bukan lulusan universitas biasa saja. Tapi universitas bergengsi di Inggris. Itulah kenapa dia harus mempertimbangkan pekerjaan yang dia jalani—sesuai dengan pendidikannya.


Vanya berjalan di pelataran kantor. Ketika sedang menunggu taksi di pinggir jalan, Vanya melihat motor merah yang sedang di kendarai oleh Niko. Senyum merekah di kembangkan oleh Vanya, hampir setahun tidak bertemu, anak itu makin terlihat tampan.


“Aku kira dia sudah tidak bekerja lagi di toko bunga itu. Ternyata dia masih bertahan di sana. Niko, Niko. Kamu benar-benar pekerja keras.”


Niko mungkin tidak melihatnya, namun Vanya jelas terus memperhatikan kendaraan yang melaju fokus di jalurnya.


Vanya ingat, kala masih satu pekerjaan dengan Niko di kios bunga itu. Niko pernah berkata ingin kuliah jalur prestasi atau beasiswa. Dan tentunya dia ingin meraih nilai tertinggi, sebab kampus yang di incarnya adalah kampus luar negeri.


Ketika dia menunggu taksi, kebetulan ada satu taksi yang sedang melintas. Vanya melambaikan tangannya, agar mobil itu berhenti.


“Kios Wendy florist,” ucap Vanya pada sopir. Dia hendak menuju kesana.


“Aku tidak tahu jalannya Nona. Bisa tunjukan jalannya.”


“Oh tentu. Di perempat lampu merah, ambil jalur kanan,” kata Vanya membalasnya.


Sang sopir menuruti, belok kanan. Itu jalannya.


Sudah hampir setahun ini aku tidak ke Jakarta. Papa dan Mama juga tinggal bersama kak Arka.

__ADS_1


Rasanya aku lepas saat ini. Semua beban di masa lalu yang sudah terlupakan, membuat aku nyaman sekarang.


Sampai taksi abu-abu yang Vanya tumpangi tiba di depan kios Wendy florist. Dan rasanya Vanya agak canggung sebab lama tak ke tempat ini.


Niko memanjangkan lehernya ketika ada taksi yang menepi di bahu jalan di seberang kios bunga. Dari celah-celah kaca, Niko melihat wanita keluar dengan pakaian rapi.


“Kak Vanya!”


Sosok yang menghilang selama setahun ini, kini kembali ke tempat ini. Namun bukan sebagai Vanya yang dulu mengantarkan bunga, tapi sebagai wanita karir. Niko melihatnya seperti itu.


“Hei. Kak Vanya. Apa kabar?” tegur Niko—ketika wanita itu hampir masuk ke kios ini.


Masih di depan pintu kaca yang menggantung tulisan 'OPEN' ini, Niko langsung menyambutnya.


“Hei Niko. Kabar kakak baik-baik saja,” balas Vanya dengan senyum berseri.


“Syukur deh. Aku kira kak Vanya menghilang kemana saja selama ini.”


“Nggak kok Niko. Kak Vanya nggak menghilang kemana-mana kok. Hanya fokus pada pekerjaan.”


Ada beberapa karyawan di sana, rasanya Vanya masih akrab dengan tempat ini. Terutama dengan sepeda pink di depan. Niko mengajaknya duduk di kursi, tempat terakhir di mana Vanya dan Dinda pernah berbincang.


“Kak Vanya kira kamu sudah tidak lagi bekerja di sini. Syukurlah, ketika menunggu taksi di depan kantor Wong, aku melihat kamu.”


Niko juga sebenarnya melihat Vanya tadi dari kaca spion motornya. Namun dia tidak yakin apakah itu wanita yang dia kenal atau bukan. Wajahnya samar-samar dari jauh. Bisa-bisa, Niko salah mengenal orang kalau sok ingin menegurnya tadi.


“Nggak kok kak. Aku masih bertahan di sini,” kata Niko mendetailkan ucapannya. "Kak Vanya sendiri. Sudah lama menghilang, sekarang muncul. Kakak sudah dapat pekerjaan baru kah?”


Vanya mengangguk pelan, di sertai senyum kecil. “Kakak mulai besok kerja di kantor Wong. Dan hari ini baru selesai interview.”


“Wah. Hebat,” sergah Niko takjub. “Kantor kak Steve itu susah masuknya. Kakak bisa masuk dan bekerja di situ, sungguh sesuatu yang luar biasa. Kakak memang hebat.”


“Ah hebat dari mana. Biasa saja.” Walau Niko takjub padanya, namun Vanya merasa pujian itu berlebihan. Dia merasa canggung. “Mungkin karena melihat kakak kerja giat, oleh karena itu Pak Zico mau mempertimbangkan dahulu Kak Vanya.”


“Kak Vanya terlalu merendah.”


Saat mereka asik berbincang, teman sejawat Niko mendapatkan panggilan. “Niko. Ada pesanan bunga untuk panti jompo. Antar sekarang.”


Ah, inilah yang paling di benci Niko. Baru saja dia datang dari mengantarkan pesanan bunga sebelumnya. Sekarang datang lagi. Istirahatnya seakan amat singkat.


“Jangan lupa tulis alamatnya kak. Aku tidak mau tersesat lagi seperti kemarin.”


Walau Niko malas mau berangkat mengantarkan pesanan, namun bokongnya mengajak berlalu.


“Aku ikut boleh?” Vanya menawarkan jasa. Niko berdelik saat Vanya menarik lengan baju panjangnya.


“Kak Vanya yakin mau ikut?”


Vanya mengangguk. “Sudah lama tidak mengantar bunga seperti ini. Aku masih ingin mencoba.”


Apa boleh buat. Niko tidak menolaknya. Mereka berlalu, Vanya memegang buket bunga sebanyak sepuluh buket. Dia duduk gaya wanita pada umumnya saat menaiki motor. Lantaran Vanya menggunakan rok mini selutut, itulah kenapa dia tidak bisa duduk seperti kebanyakan.


Tadi sebelum berangkat, Niko memakaikan Vanya helm. Oh, romantis sekali. Tapi Vanya tidak berdebar, dia bukan wanita yang seperti dulu bisa mudah jatuh cinta.


“Kak Vanya terlihat makin bahagia. Dia juga terlihat makin cantik setelah sekian lama tidak bertemu. Kak Vanya, apakah dia selama ini sudah melupakan masa lalunya.”


Dari kaca spion motornya, Niko memperhatikan batang hidung wanita ini. Entah kenapa, saat melihat Vanya, Niko merasa gugup. Vanya terlihat makin mempesona, sampai Niko ingin terus memperhatikan dirinya.


Vanya memegang erat perut Niko, anak ini membawa motor agak kencang. Dan Niko merasa makin gugup saat tangan putih itu mengerat lembut di tameng ususnya.


“Pelan-pelan Ko,” teriak Vanya. “Kakak agak takut.”


Niko tersenyum, wanita itu khawatir terlebih mengerat di perutnya. Juga menyandarkan kepalanya di punggung Niko. Dan Niko merasa senang saja.


“Kak Vanya tenang saja. Niko sudah membawanya pelan-pelan kok.”

__ADS_1


__ADS_2