UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 65


__ADS_3

Semalaman Dinda membantu menurunkan suhu badan Johan yang panas. Dan syukur, setelah pagi hari tubuhnya yang di kompres dengan air hangat ini sudah sedikit mereda.


Perlahan suhu tubuh Johan kembali dalam keadaan suhu normal.


Kasur empuk milik Niko dan Miko harus rela di berikan pada pria asing itu.


Mereka sekarang mengungsikan diri, tidur di depan televisi. Seperti tamu, mereka berdua tidur berselempangan sejak semalam. Keduanya menggunakan piyama yang sama berwarna putih, cocok sebagai anak rumahan.


Tadi malam Miko mengumpat Johan. Dia meminta adiknya Niko, jika Johan sudah pergi, dia harus menggantikan sprei, agar tidak ketularan virus Johan.


Miko masih bersikap implusif dengan karakteristik mendendam. Tipe seorang wanita, tapi Miko memiliki karakteristik ini.


Miko sangat agresif, bagai induk singa yang kelaparan.


Miko bangun, karena tidurnya yang tak nyenyak, dia menggerutu di depan kaca kamar mandi. "Tuh kan kak, mata panda Miko muncul lagi. Ini semua gara-gara si Johan sialan itu," gerutu Miko sewot.


Dia bicara pada Dinda yang sedang memasak. Jarak antara kamar mandi dan dapur sangat dekat, Miko duduk dulu di depan kaca kamar mandi sambil melihat kakaknya yang sibuk dengan wajan. Mendengar kata-kata Miko yang sewot pada Johan, Dinda tersenyum, bukan hal yang aneh, kebiasaan Miko suka merajuk.


Miko melihat jam, tepat, waktu menunjukan pukul enam pagi. "Kakak nggak siap-siap berangkat kerja," tegur Miko. "Sudah siang."


"Kakak cuti sepertinya hari ini," jawab Dinda, tapi matanya mengabaikan perhatian Miko. "Kak Rina cuti lagi hari ini."


"Biasanya juga dia kencan, kalau sudah meminta cuti," Miko hapal pada kelakuan Rina, sepupu mereka yang menjaga perpustakaan. "Dasar perempuan mata keranjang. Nggak bisa tuh melihat cowok ganteng, pasti langsung di embat. Sudah seperti mangsa saja," umpat Miko.


"Yah, di maklumi lah. Dia juga butuh Quality time," Dinda bersikap dewasa. "Lagi pula, kasihan dia, sudah lama menjomblo. Mana akut, lagi," ledek Dinda jumawa.


"Memangnya kakak sendiri nggak jomblo," sekarang Miko yang meledek Dinda. "Kakak juga kan jomblo, mana akut, pula," Miko menirukan suara Dinda.


"Hi..." Gertak Dinda. "Mau kakak patil dengan spatula ini," ancam Dinda dengan menggunakan cutil kebanggaannya. "Jangan bahas masalah jomblo lagi," Dinda mengganti topik pembicaraan. "Intinya kak Rina lagi cuti hari ini. Dia butuh waktu untuk istirahat menenangkan diri apalah itu," omel Dinda.


"Iya juga sih," Miko paham. "Tapi nanti yang jaga toko siapa?" tanya Miko. "Kalau kak Rina cuti."


"Ya, terpaksa kakak, siapa lagi?" Hardik Dinda.


Miko ber-oh kecil, sambil menganggukkan kepala. "Kak, gimana keadaannya," Miko membisik mendekati Dinda.


"Sudah lumayan. Nggak panas lagi."


"Bagus deh," tukas Miko. "Tapi, ngomong-ngomong kenapa dia bisa basah kuyup begitu? Apa dia dalam masalah," Miko ingin bergosip.


Dinda menatap Miko. "Kemungkinan begitu," Dinda juga tidak mengerti. "Oh, iya, sudah siang, kalian tidak sekolah," Dinda mengalihkan pembicaraan.


"Nggak, tanggal merah," jawab Miko singkat.


Mendengarkan ucapan Miko, Dinda menghentikan sejenak kesibukan memasaknya. "Tanggal merah," Dinda menirukan.


"Iya," Miko mengangguk. "Tanggal merah. Kenapa? kakak kok seperti terkejut begitu," Miko mulai ingin tahu.


"Nggak apa-apa," Dinda kembali melanjutkan osengan masakannya. "Kalau begitu nggak perlu cuti, kakak pikir hari ini bukan tanggal merah."


Dari belakang keduanya, Niko yang berpiyama putih, menyela perbincangan kedua kakaknya. Rambut singa masih menggelayut dan wajah mengantuknya masih natural.


Niko duduk di meja makan, menopang dagunya sambil melihat Miko dan Dinda yang mengenakan celemek biru.


"Nggak usah masak terasi kak," tegur Niko. "Bau, mirip aroma kentut," Niko bicara setengah sadar apalagi aroma masakan Dinda menyeruak.


"Sejak kapan kita masak terasi," tuntut Dinda. "Jangan bicara aneh-aneh."


"Niko hanya memberi tahu, mungkin saja kak Dinda khilaf memasukan terasi kedalam masakan yang kakak buat."


Dinda melirik Miko yang berdiri di sampingnya, dia menyilang tangan dada. Miko mengangkat kedua bahunya, kali ini dia netral.


Kebetulan masakan yang buat Dinda sudah selesai. Semua sudah siap di meja.

__ADS_1


Johan yang entah sejak kapan berdiri di pintu dapur, kemungkinan melihat dan mendengar perbincangan mereka.


Pria itu sudah sadar, Dinda yang melihat Johan sudah bangun membual menyapa pagi. Dinda menyapa berbasa-basi, setidaknya dia ringan bicara.


"Kak Johan belum begitu membaik, kenapa harus jalan ke dapur."


Dinda memapah tubuh Johan, dia jalan tertatih-tatih. Tubuh Johan masih lemah, Dinda membawanya ke meja makan. "Kak Johan duduk dulu di sini, aku akan menyiapkan makanan untuk kakak."


Johan duduk di sebelah Niko, dia melihat Niko. Dia ingat bahwa Niko adalah anak yang pernah berkelahi dengannya di hotel tempo hari.


Namun dia tidak melupakan Miko yang juga berdiri di dekat kompor.


Johan terkejut. "Kalian?"


"Mereka kembar," sahut Dinda. "Dia Miko yang duduk di di sana, dan di sebelah kamu namanya Niko, mereka kembar identik," Dinda menjelaskan sambil menuangkan Johan bubur. "Kadang sulit membedakan mereka," ucap Dinda memberitahu.


"Kamu tidak pernah bilang jika punya adik," Johan menuntut. "Bahkan aku baru tahu sekarang," kata Johan yang benar-benar baru menyadari semua ini.


"Itu karena kak Johan tidak pernah bertanya," jawab Dinda sederhana. "Mereka beda usia enam tahun dengan ku," jelas Dinda.


Johan melihat kembali wajah kedua anak itu. Nyatanya, Johan pun tak bisa membedakan wajah keduanya, mereka sangat mirip.


Sulit di bedakan, gumam Johan kebingungan. Yang pastinya, Johan menganggap bahwa Niko yang duduk sebelahnya adalah anak yang berkelahi dengannya di hotel waktu itu.


Namun jelas-jelas yang memukul wajahnya adalah Miko yang sedang duduk di dekat kompor.


Sedangkan Miko hanya bisa mendengus, dia menyukai tingkah lugu johan, pria paling aneh yang pernah Miko lihat.


"Aku mandi dulu, kalian lanjutkan sarapan kalian." Miko beranjak. Dia tidak ingin mengganggu acara makan mereka.


Suara bel listrik berbunyi, Dinda ingin membukanya. Biasanya yang datang sepagi ini adalah wanita Jawa yang menikah dengan pria Jerman sekaligus pemilik apartemen sebelah.


Sudah menjadi rutinitasnya, setiap pagi dia memberikan Dinda sup dan makanan lainnya. Wanita itu ramah, wanita yang pernah berjumpa dengan Steve beberapa waktu lalu.


Wanita yang di anggap Miko adalah bibi jamur berjalan. kebiasaan bagi Niko memanggilnya begitu, sebab rambut wanita itu selalu di sanggul. Sehingga nampak seperti jamur berjalan, Miko sering meledeknya.


"Steve," Dinda kaget. Jelas saja Dinda kaget atas kedatangan Steve yang mendadak seperti ini, sebab ada Johan di dalam rumahnya. "Ada apa sepagi ini kamu datang?" Dinda ingin tahu.


Dinda tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Steve melihat Johan, dia hanya bisa berharap semoga Johan tidak keluar dari dapurnya.


Atau Steve sendiri yang akan melempar Johan keluar dari lantai atas gedung. Dinda sudah bergidik ngeri.


Tidak seperti biasanya, ini pertama kali bagi Dinda melihat Steve datang ke apartemennya. Pagi sekali, seperti ada sesuatu yang hendak dia sampaikan.


"Aku dapat telepon, kalau di rumah ini ada si pria brengsek itu," ujar Steve memburu ingin masuk.


"Ah, siapa si brengsek yang kamu maksud?" Dinda pura-pura menutupi jika ada Johan di dalam. Dia gagap dalam berkata.


"Siapa lagi kalau bukan si Johan itu," Steve mengernyitkan alisnya. Dia tersenyum jahat.


Bagaimana Steve bisa tahu jika ada Johan di rumahnya, pikir Dinda. Dia penasaran siapa yang memberitahu Steve tentang keberadaan Johan.


Steve mendongak kepala Dinda yang tertunduk menutupi kebohongan menyembunyikan Johan di dalam rumahnya. Dinda tidak bisa mengelak, Steve berkata benar.


"Kenapa diam? sudah mulai berbohong?" sindir Steve. "Atau kamu masih menyukai dia, makanya kamu tidak memberi tahu ku tentang dia semalaman ini."


"Tidak," pekik Dinda. "Mana mungkin aku akan berbohong pada kamu," Dinda membela diri.


"Lalu? Kenapa menyembunyikan Johan di dalam dan tidak memberitahu aku tentang dia. Semalam dia tidur di rumah kamu, apa itu bukan sebuah kebohongan dengan tidak mengatakannya pada ku," Steve meminta penjelasan dari Dinda.


Steve merasa tidak adil baginya karena Dinda berbohong mengenai Johan.


"Aku tidak bermaksud begitu," kilah Dinda. "Aku tidak bermaksud menyembunyikan Johan di sini, tapi...."

__ADS_1


"Kamu masih menyukai dia," sambar Steve. "Iyakan. Katakan saja kalau kamu masih menyukai dia," Steve mengatakan perspektifnya.


"Aku tidak menyukai Johan sama sekali. Aku sudah melupakan dia bertahun-tahun yang lalu, kenapa kamu memojokan aku," Dinda sedikit emosional. "kenapa kamu malah menuduh ku yang tidak-tidak."


Dinda membalikkan badan, dia tidak ingin bertengkar. Dinda membiarkan Steve di depan pintu, masuk atau tidak Steve kedalam rumahnya Dinda tidak peduli.


Tapi Steve tidak membiarkan Dinda pergi begitu saja. Dia membutuhkan penjelasan yang akurat langsung dari mulut Dinda. Steve tidak mau mendengar desas desus tidak jelas seperti kabar burung.


Steve tidak mau mendengarkan perkataan yang berbelit-belit. "Katakan apakah kamu masih menyukai dia atau tidak!" Teriak Steve dengan nada tinggi.


Steve memegang tangan Dinda dengan erat, dia butuh pengakuan Dinda.


"Cepat katakan!" Steve menyentaknya.


"Aku katakan sekali lagi, aku tidak menyukai dia sama sekali!" tegas Dinda. Dia menangis sebab Steve membentaknya, ini pertama kalinya bagi Dinda di perlakukan kasar oleh ucapan Steve.


"Lepaskan," Dinda memberontak. "Kamu memegang tangan ku erat sekali, sakit," Dinda mengeluh.


Air mata Dinda tersinkronisasi tidak bisa diam untuk keluar. Bahkan air matanya lebih cerewet dari Mak lampir yang menderu di pelupuk mata dengan deras seperti air keran.


Steve melahai tertawa. "Kalau tidak menyukainya, lalu kenapa kamu menyembunyikannya di dalam rumah kamu? Kamu bisa memanggil keluarganya agar menjemput dia ke mari atau menghubungi ku," Steve memojokan Dinda. "Apakah kamu melupakan aku? Atau memang kamu sengaja melakukannya agar rumor kamu sebagai wanita penggoda itu benar," Steve berkata kasar, dia tidak menyaring lebih dahulu ucapannya.


"Jangan pernah katakan aku sebagai wanita penggoda," pekik Dinda. "Aku tidak pernah berpikir untuk menjadi wanita yang di katakan orang-orang kebanyakan."


"Lalu apa maksud kamu menyembunyikan pria berengsek itu di dalam? Kamu sengaja kan melakukannya," Steve menuntut penjelasan yang lebih lugas lagi, dia tidak butuh air mata Dinda.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin membantu. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan," Dinda membela diri, namun jawabannya kurang jelas.


Steve tidak menyukai jawaban yang kurang logis dan lugas ini.


"Sudahlah," ucap Steve. Dia melepaskan genggamannya. "Aku tahu sekarang, hanya aku yang mencintai kamu sepihak. Aku terlalu berharap banyak pada kamu," Steve terlihat kecewa.


Steve meninggalkan Dinda, dia tidak mau mendengarkan perkataan Dinda lagi.


Namun Dinda tidak menyerah, dia mengejar Steve yang sedang merajuk. Dinda memeluknya dari belakang dengan erat.


"Aku mohon, aku bukan seperti yang kamu pikirkan," Dinda memelas, tangisannya cukup mengatakan bahwa dia tulus. "Aku mohon, percaya pada ku. Aku tidak pernah berpikir untuk menyembunyikan Johan di rumah ku."


Steve yang terlanjur kecewa, melepaskan tangan Dinda yang mengerat di perutnya. "Aku butuh waktu untuk memahami semua ini. Tolong lepaskan aku," ujar Steve tidak ingin membahas semua ini. "Jangan cari aku dalam waktu dekat."


Dia melepaskan paksa tangan Dinda. Dia kembali melanjutkan perjalanan, namun Dinda tidak membiarkan Steve pergi dalam keadaan salah paham.


Dinda masih mengejarnya hingga parkiran apartemen. Di sana Dinda menarik jas Steve. Dia tidak bisa merelakan bahwa Steve harus cemburu pada Johan yang semalam tidur di rumahnya.


"Johan tinggal di rumah ku, bukan hanya ada aku saja. Tapi ada Miko dan Niko. Mereka yang membantu aku menolongnya semalam. Badannya panas, jadi aku panik sampai-sampai lupa menghubungi keluarganya, itu saja, aku tidak ada maksud ingin menyembunyikan dia di rumah ku," Dinda menjelaskan semampunya.


Dia masih mengerat di jas Steve sambil menangis tersedu-sedu.


Steve membalik badannya, memegang bahunya seraya menatap wajah Dinda dan memperhatikannya dengan khidmat.


"Jika semalam kamu menelpon ku, maka semuanya tidak akan seperti ini, tapi kamu tidak melakukannya, justru kamu melupakan aku. Maaf, jika aku selama ini belum bisa membahagiakan kamu," pungkas Steve mengakhiri pembicaraan.


"Aku butuh waktu untuk menerima penjelasan ini dengan akal sehat ku," kata Steve untuk terakhir kali. Dia benar-benar pergi meninggalkan Dinda, mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri, kini sudah pergi bersama tuannya.


Mobil steve tak meninggalkan jejak sekalipun. Dinda merasa menyesal kenapa dia tidak menelpon Steve semalam.


Aku terlalu bodoh. Mengapa aku tidak melakukan apa yang di inginkan Steve, aku wanita bodoh. Gumam Dinda menyalahkan dirinya.


Dinda menangis, meratapi diri kenapa dia melakukan ini pada Steve. Jelas saja Steve tidak akan percaya pada perkataannya.


Dinda terkulai lemah, apalagi kepercayaan Steve padanya sudah sedikit renggang. Dinda menolong Johan, tapi Dinda tidak memikirkan konsekuensi atas niat baiknya ini.


Sedangkan Johan berdiri di balkon apartemen, dia melihat kejadian ini. Johan menikmati pertengkaran Steve dan Dinda dengan kepuasan yang tiada tara. Dia tersenyum saat melihat Dinda terpuruk di parkiran apartemen.

__ADS_1


Johan mendengus dia menyeringai tawa.


BERSAMBUNG


__ADS_2