UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 59


__ADS_3

Kediaman keluarga Tama.


Kejadian beberapa waktu lalu saat di acara pertunangan Johan, Tuan Tama selaku kepala keluarga sekaligus pemilik Tama grup sangat murka pada perilaku Johan.


Dia sangat geram pada anak semata wayangnya itu yang terobsesi pada Dinda. Bahkan melupakan diri bahwa dia sedang melangsungkan upacara pertunangannya dengan Vanya.


Di ruang keluarganya, Tuan Tama beserta Nyonya Diana memarahi Johan yang bertindak tak tahu balas budi pada mereka.


Bagai seorang polisi yang sedang mengintrogasi tersangka pelaku kejahatan, wajah tua tuan Tama terlihat amat garang. Wajah pria berkacamata dengan perut besarnya ini sangat emosional, cocok memerankan karakter antagonis.


"Kamu," tuan Tama menunjuk Johan dengan kasar. "Anak macam apa kamu, yang berani menggoda perempuan lain di tengah upacara pertunangan sendiri," Tuan Tama memekik marah. Dia sangat kesal pada Johan. "Buat malu saja."


Johan yang duduk di sofa hanya bisa tertunduk menyesali perbuatannya. Dia menerima semua kemarahan sang ayah. Tuan Tama tak henti mengomel dan menceramahi Johan.


"Seberapa pantasnya kamu bersanding dengan perempuan yang asal usulnya tidak jelas begitu, hah," pria berkacamata ini membentak Johan. Dia tidak segan memarahi anak tunggalnya itu.


"Katakan, seberapa pantasnya kamu bisa bersanding dengan perempuan yang asal usulnya tak jelas itu," tuntut tuan Tama. Terlihat dia amat geram. "Kamu hanya akan hidup melarat jika bersanding dengan perempuan miskin itu."


Nyonya Diana mencoba menenangkan suaminya, dia mengelus bahu suaminya yang berisi lemak itu. "Pa, sudah, jangan marah-marah terus sama Johan. Ingat sama kadar gula darah papa," nyonya Diana mengingatkan suaminya. Dia sedikit bersikap romantis perhatian. "Yang lalu, biarlah berlalu. Jangan di ungkit lagi, kasian Johan kalau terus di salahkan."


"Diam!" Tuan Tama menepis tangan Nyonya Diana dengan kasar. "Aku sedang marah dengan anak yang tak tahu diri seperti dia. Anak durhaka yang tak bisa menjaga sikap di muka umum."


"Tapi pa....." Johan ingin membela.


"Diam," tuan Tama menyentak kembali. "Siapa suruh kamu bicara," Tuan Tama menggeram. "Anak yang hanya bisa buat malu saja."


Sorot mata Tuan Tama amat tajam, dia menatap Johan dengan biji mata yang hampir keluar dari kelopaknya.


"Pa... Coba papa tenangkan diri papa dulu," Nyonya Diana kembali menenangkan suaminya itu. "Jangan marah-marah, nanti kolestrol dan gula darah papa naik."


"Omong kosong dengan penyakit," kilah Tuan Tama. "Semua penyakit ini di sebabkan oleh anak tolol macam dia. Anak tolol yang hanya di buta-kan oleh cinta monyet dari wanita yang tak jelas asalnya itu."


"Pa.... Stop!" Johan bertindak, dia kali ini membentak ayahnya. "Jangan pernah katakan Dinda wanita yang tidak tahu asal-usul nya. Johan lebih tahu siapa dia, bukan papa yang hanya menilai orang lain dari harta dan status sosial."


"Kamu..." Amarah tuan Tama memuncak. "Kamu anak tolol belajar dari mana beraninya membentak orang tua, hah."


"Ini semua karena papa dan mama yang selalu menuntut Johan ini dan itu. Jangan salahkan Johan jika Johan bertindak membantah ucapan papa," Johan kembali menyentak, dia tak bisa menahan emosinya untuk membantah kata-kata sang ayah. "Aku menyukai Dinda atau tidak, itu urusan ku. Johan mohon, jangan ikut campur lagi pada urusan pribadi Johan."


Tuan Tama mendekati Johan yang terduduk santai di sofa. Nafasnya terengah-engah, dia menghirup udara masuk kedalam paru-parunya agak berat.


Tuan Tama melayangkan tamparan keras di wajah Johan hingga membuat wajah anaknya memerah. Sedari tadi dia menahan tangannya agar tidak ringan, namun itu tidak berhasil baginya untuk mengendalikan tangan nakalnya itu.


Usai menampar Johan, Tuan Tama kembali mengomelinya dengan kata-kata tak pantas untuk di dengar dan terbilang kasar.


Tuan Tama menunjuk Johan dengan jari telunjuk yang menegang. "Papa ingatkan sekali lagi. Jangan pernah temui wanita itu lagi, atau semua aset grup Tama tidak akan di wariskan kepada kamu. Kamu mengerti!" Tuan Tama menggeram, dia menggertak giginya sekeras mungkin.


Pria paruh baya itu tak bisa menahan emosinya saat Johan terus membantah perkataan yang ia lontarkan.


"Ingat! Papa mengingatkan kamu sekali lagi, kalau tunangan kamu adalah Vanya. Hanya dia yang di akui oleh keluarga Tama sebagai menantu di rumah ini, kamu paham," pria tua itu tak henti-hentinya membentak Johan tanpa memberikan celah sedikitpun bagi anaknya itu berbicara.


"Aku tidak akan pernah menuruti permintaan kalian untuk menikahi Vanya," bantah Johan. "Sampai kapan pun aku tidak akan melakukannya!" Dia beranjak dari duduknya, Johan ingin berlalu meninggalkan Omelan pedas sang ayah. "Jika itu keputusan papa, sebaiknya papa saja yang menikahinya. Dengan begitu papa pasti akan bahagia."


Bicara Johan untuk terakhir kalinya, dia mengatakan itu seakan itulah keputusan akhir yang telah ia tegaskan. Dia tida peduli bahwa ayahnya akan mengomelinya sepanjang masa.


"Jangan kurang ajar kamu," tandas tuan tama. "Siapa kamu beraninya mengatakan hal-hal tak masuk akal seperti itu," pria tua itu makin menggila dalam berkata. "Anak tak tahu di untung!"

__ADS_1


Kata-kata yang di ucapkan oleh Tuan Tama sangat menusuk, hingga membuat Johan menghentikan sejenak langkahnya. Dia masih berani mendengarkan ocehan ayahnya yang terus menggema panas di telinganya.


"Jangan salahkan papa jika kamu tidak akan dapat sepeser pun harta dari keluarga Tama," Tuan Tama berteriak, sedikit mengancam. "Kamu akan mati kelaparan jika membantah ucapan ku."


Johan mengepal tangannya sekeras mungkin hingga kulit tangannya menjadi agak pucat karena kekurangan darah. Dia membalikkan badannya menatap sang ayah yang terus mengomelinya.


Dia menarik nafas berang. Johan mulai geram pada ayah yang terus menerus menekan hidupnya itu.


"Lalu apa yang papa inginkan!" Johan menuntut penjelasan sambil berkata dengan nada tinggi. "Semua yang papa inginkan sudah Johan penuhi. Apalagi yang harus Johan abdikan pada keluarga ini."


"Tinggalkan wanita itu," jawab tuan Tama. Dia ikut berkata dengan nada tinggi. "Menikah dengan Vanya, dan lupakan si wanita miskin itu. Dengan begitu aku akan merasa tenang."


Johan mendekati ayahnya, dia terlihat mulai sayu. "Kenapa harus menikahinya kalau keadaan keuangan perusahaan dalam masa yang bagus. Bekerja sama tanpa harus ada pernikahan politik bukan kah sama saja, bisa menekan keuangan perusahaan." Johan berkata seakan idenya paling benar.


Namun tuan Tama membantahnya mentah-mentah. Dia tidak menyukai gaya bicara Johan yang sok tahu dan sok pintar itu. "Begini nih," kata Tuan Tama bicara. Jarinya tak bisa diam untuk bergetar menunjuk Johan. "Kalau otak kamu sudah di isi oleh cinta, cinta, cinta yang tak ada artinya itu. Kamu jadi sulit berpikir dengan jernih. Tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah," tuan Tama makin menggarang, dia tak bisa membendung emosi.


"Semua buyar. Martabat keluarga hampir hancur bahkan reputasi keluarga sudah tak ada artinya lagi. Semua orang menggosipi keluarga Tama, bagaimana kamu akan menyelamatkan reputasi keluarga ini," tuntut tuan Tama pada Johan.


"Ini semua karena putra mu yang kamu didik tidak benar seperti ini," tuan Tama mengoceh, dia tak berhenti mengomelinya.


Nyonya Diana mendekati Johan yang termangu tak berkata sepatah kata pun. Dia terbungkam seribu bahasa saat pria tua itu mengatakannya anak durhaka.


"Johan.. Kamu jangan terlalu mengambil hati ya ucapan papa mu itu. Dia memang suka berkata kasar," kata Nyonya Diana mengerat di bahu anaknya. Dia berusaha meredam amarah Johan agar tak tersulut oleh api kemarahan sang ayah.


"Bela saja terus," ucap tuan Tama melanjutkan kata-katanya yang pedas. "Karena kamu manja-manja kan terus, makanya dia berani melawan orang tua. Sampai-sampai dia melupakan identitasnya sebagai anak yang berbakti, ini semua ulah kamu sebagai ibu yang tidak becus mengurus anak,"


Tuan Tama menyalahkan istrinya karena tidak ahli dalam mendidik anaknya, sehingga dia beranggapan Johan adalah anak pembangkang.


"Kamu," tuan Tama menunjuk istrinya. "Tolong ajarkan dia bagaimana cara membalas budi pada orang tua. Jangan sampai dia tidak hormat pada kepala keluarga Tama," perintah tuan Tama.


Tuan Tama memperingatkan pada Johan untuk yang terakhir kalinya. Dia berlalu setelah puas memaki putra semata wayangnya.


Wajah Johan sudah memerah dan menegang. Keringat panas dingin mulai menerpa. Tangannya sudah mengepal keras, siap mem-bogem sang ayah yang bertindak terlalu keras padanya.


Namun Johan menahan semua kekesalannya pada sang ayah yang sudah sedikit renta itu. Johan masih berpikir ulang untuk mengatasi ayahnya itu.


Sedangkan Nyonya Diana meminta Johan duduk menenangkan dirinya dulu. Dia tidak tega anaknya di perlakukan semena-mena oleh sang suami.


"Wajah mu memerah, mama ambilkan obat dulu ya," kata Nyonya Diana perhatian.


"Tidak usah ma," seringai Johan menolak. "Johan tidak apa-apa."


"Tapi bibir kamu berdarah. Mama ambilkan obat merah dulu, biar nggak bengkak," Nyonya Diana bersikeras, dia terus memaksa.


Johan pasrah, dia tak menolaknya lagi. Namun saat itu, Johan kembali mengingat kata-kata sang ayah. Johan makin geram kesal pada pria tua itu.


Nafas Johan memburu kencang, dia kembali mengepalkan tangannya penuh amarah. Dia benar-benar tak terima di perlakukan seperti itu.


Mengingat cacian ayahnya tadi, Johan melampiaskannya pada sofa empuk yang ia duduki. Dia memukul sofa yang terbuat dari busa itu, dengan segenap tenaganya. Dia melampiaskan semua amarahnya di sofa bagai memukul samsak. Dia juga tidak terima jika Dinda yang harus di salahkan karena ulahnya.


Pikiran Johan saat itu makin kacau dan runyam. Karena kesal, Johan beranjak pergi meninggalkan ibunya yang sedang mengambil obat merah untuknya.


Dia pergi tanpa memberi tahu ibunya dahulu kemana dia akan pergi. Johan amat frustasi atas kehidupan pribadinya yang identik ingin bebas selalu di atur dan di kendalikan oleh ayahnya.


"Rumah saja panas, seperti neraka," gerutu Johan di depan pintu rumah. Dia membanting pintu hingga terdengar kerasnya suara daun pintu itu. "Apalagi pemilik rumah. Sama-sama seperti makhluk neraka yang suka memerintah orang lain semaunya."

__ADS_1


Dia mengeluarkan mobilnya dari garasi. Dalam keadaan kesal, Johan tak bisa berpikiran lurus. Entah kemana dia akan membawa mobilnya pergi, Johan sendiri tak tahu.


Sebelum pergi, sudah kebiasaan Johan jika dia sedang dalam keadaan emosional, dia akan merusak barang-barang di sekitarnya.


Vas bunga besar yang menjadi pajangan di depan pintu rumah Tama ia banting. Johan sengaja melampiaskan kemarahannya pada semua yang ia anggap bisa membalaskan amarahnya.


Dia pergi tanpa arah dan tujuan, sangking kesalnya Johan pada kata-kata sang ayah, dia kembali melampiaskan amarahnya pada musik di dalam mobilnya.


Johan memutarkan lagu yang entah apa bahasanya, Johan tak mengerti. Lagu bernada berat, yang di tebak oleh Johan adalah lagu rock. Lagu dengan suara parau itu ia putar dengan suara bas yang menggema keras meninggi hingga melebihi batas wajar volume.


Johan nampak seperti orang gila, menjerit-jerit di dalam mobil sambil mengikuti irama lagunya. Sepanjang jalan yang ia lalui dan sepanjang lagu yang berputar dengan suara keras, Johan mengeluarkan seluruh suaranya.


Woho! Teriak Johan. Dia berharap dengan begitu apa yang tadi telah terjadi bisa membuatnya lega. Dia melepaskan semua keluh kesahnya di jalanan.


Dia mengemudi dengan kecepatan sedikit tinggi. Dia ingin melupakan semua kejadian tadi. Sebisa mungkin Johan ingin melupakan semua yang telah berlalu, tapi perkataan sang ayah terus terngiang dalam kepalanya.


Di dalam mobil, Johan dia kembali melampiaskan amarahnya pada stir mobil yang keras. "*******..." Ucap Johan masih dalam emosi. "Kenapa si tua Bangka itu tidak mati saja sekalian. Atau dia saja yang menikah dengan Vanya, kalau dia terus saja memaksa. Tua Bangka yang menjengkelkan," Johan mengumpat ayahnya dengan kata-kata kasar.


"Menikah dengan Vanya menikah dengan Vanya, pria tua sialan," Johan mengomel, mulutnya agak di manyun-manyunkan berbicara ala ayahnya.


Johan mendengus, mulutnya tak bisa terhentikan untuk terus mengumpat sang ayah. "Pria tua tak tahu malu. Kalau tahu begini hidup ku setelah dewasa, sewaktu kecil dulu lebih baik aku tidak di lahir-kan sama sekali dari keluarga Tama," kata Johan menyesal atas kehidupan yang ia miliki.


Kebetulan saat itu suasana jalan sedang lumayan macet. Terlebih lampu rambu-rambu lalu lintas masih menyala berwarna merah.


Suasana hati yang panas di tambah macetnya jalan membuat otak Johan serasa ingin meledak. Dia sudah tak tahan menunggu di jalan yang sedang ramai ini.


Johan mendercit, suasana hati yang tak baik membuat Johan tak sabaran. "Mobil itu juga sialan," Johan agak parno-an. Dia amat membenci situasi seperti ini. "Sedikit merepotkan orang lain kalau begini, benar-benar pengemudi yang ingin memancing kemarahan orang lain," gerutu Johan.


Berulang kali Johan menekan kelakson mobilnya agar mobil yang ada di depannya segera menepi. Dia sedang berada di ambang kesabaran.


"********," teriak Johan marah. Di dalam mobilnya dia memburu, serasa sudah setahun dia ada di jalan itu.


Tin... Tin...


Dia menyibak kaca mobilnya, kembali Johan berteriak. Kali ini dia memaki pengguna kendaraan di depannya.


"Oy... Yang punya mobil hitam di depan, cepat minggir," pekik Johan. Dia sudah tak sabaran ingin berlalu.


Johan ingin keluar dari mobilnya, dia ingin menegur pemilik mobil hitam itu.


Tetapi, rambu lalu lintas telah berganti menjadi hijau, mobil yang membuatnya berang tadi sudah melaju meninggalkan jalurnya.


Johan menarik nafas panjang. Dia lega karena terbebas dari pengapnya jalan kota Jakarta. "Begitu seharusnya dari tadi, kalau seperti ini, maka aku tidak akan mengumpatnya seperti ****!" tandas Johan berkata sarkas.


Johan yang tak tahu kemana akan pergi, lebih memilih tetap melaju dijalan, mengikuti insting bensin mobilnya. Walau sejujurnya Johan tidak berpikir kemana dia akan pergi menghilangkan pikiran yang kacau.


Namun pria itu ingat tempat saat dia sedang dalam pikiran gundah. Danau, dia ingat betul kalau di kampusnya, dia dan Dinda sering pergi ke danau saat sedang ingin melepaskan stres.


Jalan di jalur yang di lalui Johan, sedikit agak sepi. Dia memilih memutar balikkan kendaraannya.


Dengan sigap dan sedikit terburu-buru, Johan mempercepat laju kendaraannya.


Dia menuju ke danau di dekat kampusnya dulu. Dia ingin bernostalgia di sana. Mengenang hari-hari indah bersama dengan Dinda saat mereka masih berpacaran.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2