
Mengetik selama berjam-jam di keyboard, membuat tangan Eva kaku. Dia melirik jam tangannya, tertera jam sebelas lebih lima puluh sembilan menit.
Jam makan siang. Eva merenggangkan seluruh badannya, lega bagi Eva bisa melepaskan kepenatan bekerja sedari tadi. Dia teringat Dinda, biasanya jika jam makan siang tiba, dia selalu bersama dengan temannya itu.
"Jam makan siang, mau makan bersama?" Eva menghampiri Dinda yang duduk di meja kerjanya. Fokus, perhatian Dinda pada layar komputer belum teralihkan bahkan tidak menghiraukan Eva.
"Din, sudah jam dua belas. Mau makan siang nggak?" Eva menegur sembari mengingatkan Dinda. "Dinda!" teriak Eva mengulangi.
"Iya kenapa?" Sentak Dinda santai. "Jam kerja nih, teriak-teriak nggak jelas!" Dinda menggerutu, lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
Eva men-decak, dia merasa lelah mengingatkan Dinda yang lupa pada waktu. "Sekarang pukul empat sore, waktunya pulang."
Jam empat sore apaan, masih jam dua belas. Matanya perlu di periksa ke dokter kandungan, biar nggak lupa waktu, Dinda berkata pelan sambil melihat arloji di tangannya.
"Astaga!" Dinda memekik. "Jam makan siang, aku hampir lupa," ujar Dinda panik seraya merapikan berkas-berkas yang menumpuk.
Eva yang sedari tadi berdiri di tepi meja kerja Dinda, memasamkan wajahnya sambil menyilangkan tangan di dada. "Dua kali aku menegur menawarkan makan, tapi kamu nggak merespon," Eva berkata jutek. "Mungkinkah aku harus menggunakan speaker pengeras suara biar kamu nggak tuli saat aku memanggil!"
"Maaf," balas Dinda. "Aku pikir belum waktunya istirahat," Dinda memelas iba. Dia tahu, bahwa dirinya bersalah karena terlalu kolot.
"Ya sudah, lupakan," Eva mengibaskan tangannya, berdiri merapikan pakaian ingin bersiap-siap pergi makan. "Mumpung jam makan baru saja di mulai, ayo kita makan."
"Oke, kita berangkat sekarang," Dinda merapikan berkas-berkas, dia juga bersiap ingin makan, meninggalkan lebih dulu pekerjaannya.
Kebetulan saat melewati ruangan kerja Eva, Mira yang juga hendak pergi makan tak sengaja berpepasan dengan keduanya. "Kalian mau makan di luar?" tanyanya.
Eva dan Dinda yang sedang berjalan, berdiri tepat di depan pintu masuk ruangan bagian keuangan. Mereka mengangguk saat Mira bertanya pada mereka.
"Kalau kalian nggak keberatan, aku boleh join-kan?" Ujar Mira ingin menjadi bagian keduanya. "Kebetulan aku juga terbiasa makan siang sendiri, bosan rasanya kalau tidak memiliki teman ngobrol saat makan!"
"Nggak masalah," balas Dinda. "Selagi Mbak Mira merasa nyaman, kami merasa senang." Dinda menyikut Eva, agar wanita ini setuju pada ucapannya. "Iya-kan Va, nggak masalahkan kalau Mbak Mira join bareng kita!"
Eva mengangkat bahunya, dia setuju-setuju saja. "Kenapa harus menolak, sesama kolega kan harus saling mendukung," tukas Eva senada.
"Uh, teman-teman sejawat ku memang paling pengertian," puji Mira. Dia merangkul kedua wanita ini, lalu membawanya pergi meninggalkan kantor.
"Kalian mau makan apa?" tanya Eva. Kini mereka bertiga ada di restoran yang tidak jauh dari kantor. Tempat yang ramai, karena karyawan dari kantor lain juga banyak yang makan di tempat makan ini.
Dinda menimbang-nimbang, dia bingung ingin makan apa. "Aku sepertinya, makan shusi saja deh," pesan Dinda. "Sekalian sama minumnya, bobba tea yang lagi hits."
"Aku juga senada dengan Bu Dinda," sahut Mira tanpa menunggu Eva bertanya. "Dan untuk bobba tea-nya, aku ingin di tambahkan sedikit whip cream dan tambahan mocca-nya di perbanyak," Mira mengedipkan matanya, dia menggoda Eva yang ingin memesan makan.
"Oke," Eva membalas kedipan mata Mira sambil membentuk huruf O dari tangannya. "Wait a minute."
"Mbak Mira," Dinda memulai bicara. "Lain kali jangan panggil Bu dong, aku merasa canggung. Aku belum terbiasa dengan panggilan seperti itu."
Dinda meringis, Mira terlalu berlebihan menganggapnya sebagai teman sejawat yang harus di hormati.
Mira yang tengah memainkan handphonenya, berhenti menggunakan gawainya. "Aku sih nggak masalah kalau memanggil kamu Dinda, secara aku lebih tua dari kamu. Cuma, kamu tahu sendiri. Pak Steve, dia terlihat garang, aku takut jika dia memarahi ku karena tidak menghormati gadisnya," ungkap Mira.
"Pokoknya jangan panggil aku Bu deh Mbak," tandas Dinda. "Aku kan belum setua itu."
"Iya deh kepala devisi mengalah," jawab Mira. "Nggak lagi memanggil Bu, tapi memanggil Nyonya Steve sepertinya bagus," Mira merayu.
"Nggak boleh," Dinda memanyunkan bibirnya. "Aku nggak mau di panggil dengan sebutan seperti itu."
"Aku ikut alur saja deh," Mira kembali mengalah. "Asal kamu bahagia dan tidak membuat Pak Steve marah. Maka seluruh karyawan di kantor Wong merasa damai."
Dinda mendengus. "Terima kasih Mbak Mira, sudah mengerti aku," katanya cukup lega.
"Bicara dengan kolega yang pengertian seperti aku, mungkin seluruh pegawai kantoran di muka bumi ini merasa nyaman saat bicara pada ku," Mira mengibaskan tangannya, dia bicara agak berwibawa.
Makanan yang di pesan Dinda dan Mira telah tiba. Makan yang memenuhi nampan plastik berwarna hitam lengkap dengan sendok dan garpu ini terlihat sangat lezat.
"Hari ini ada diskon, jadi dapat satu baki sushi tambahan," Eva memberi tahu.
"Diskon?" Dinda mengulangi lagi perkataan Eva. "Dalam rangka apa dapat diskon tambahan?" tanya Dinda, sambil melenturkan sumpit yang menempel kaku.
"Katanya ada perayaan Imlek, mungkin itulah penyebab adanya diskon," jawab Eva sambil menyeruput mie panjang.
"Hah, Imlek," sentak Dinda terkejut.
"Kenapa?" sahut Mira ikut terkaget. "Kenapa terkejut begitu mendengar kata Imlek?"
__ADS_1
Dinda mendeham, dia meminum air, pura-pura tersedak. "Bukan apa-apa kok," balas Dinda bersikap natural. "Cuma tersedak sushi."
Mira ber-oh kecil, seraya memahami situasi Dinda. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan siang ini. Nanti keburu dingin."
Eva melirik Dinda, wanita ini amat intrik di matanya. Penuh teka teki, Dinda harus di waspadai karena dia terlalu banyak menyembunyikan rahasia di balik wajah santainya.
Siang itu, tidak sengaja bagi Rendy, makan di restoran yang sama dengan Dinda. Tepat di belakang Mira, Rendy duduk.
Secara kebetulan, Rendy melihat Dinda yang tengah asik makan. Rendy berpikiran untuk menyambangi Dinda yang sedang makan tanpa menghiraukan Eva dan Mira yang duduk di sebelahnya.
"Hei Din," sapa Rendy. "Kamu makan disini juga?" dia berkata basa-basi.
Dinda membelalak matanya, pikir Dinda sudah lama tidak bertemu dengan dia. Kini dokter muda nan ramah ini makin berubah signifikan. Dinda memberikan senyum hangat saat pria itu berdiri di sebelahnya.
"Boleh aku duduk di sini?" pinta Rendy.
Dinda menatap kedua temannya, dia butuh persetujuan keduanya mengizinkan Rendy bergabung bersama mereka.
Mira dan Eva mengangkat bahunya masing-masing, semua terserah pada Dinda. Mereka berisyarat begitu.
"Bo... Boleh saja sih Ren," balas Dinda. Dia sebenarnya ragu mengizinkan Rendy bergabung, saat itu di berjanji pada Steve tidak mengulangi perbuatannya dekat dengan pria lain.
Tapi Dinda juga tidak mau mengusir Rendy, bukankah Rendy temannya, kenapa harus menolak dia saat bergabung makan bersama.
"Ngomong-ngomong, lama nggak bertemu Din," Rendy memulai pembicaraan. "Terakhir kali kita bertemu di dekat klinik tempat ku bekerja. Sekarang kamu juga ada di sini."
"Dinda sudah di pindahkan kok mas," sambar Eva. "Kebetulan, aku dan dan Dinda sudah pindah di kantor depan sana," tunjuk Eva pada kantor Steve yang di maksudnya.
Rendy melirik kantor tempat Dinda bekerja, mengikuti arahan Eva. "Pantas saja tidak bertemu lagi di kantor lama kalian. Ternyata sudah pindah kerja rupanya."
"Sebenarnya, kami menjadi karyawan rekomendasi dari Pak Steve, oleh karena itu kami pindah ke kantor ini," Dinda memberitahu.
Rendy ber-oh kecil, lalu menutup mulutnya dengan minuman senada yang di pesan Dinda.
"Kebetulan bertemu mas Rendy di sini, memangnya Mas dari mana?" Eva beralih bicara.
"Sebenarnya, seminggu yang lalu aku di pindah tugaskan bekerja di rumah sakit Bunda asih. Karena tempat makan ini dan tempat ku bekerja tidak jauh, jadi setiap hari aku makan di sini. Atau kadang-kadang kalau bosan aku mencari tempat makan lain," jelas Rendy. "Karena makan sendiri, aku terkadang merasa bosan jika tidak mempunyai teman bicara."
Eva mengangguk. Berkata oh pelan sambil mengaduk-aduk minuman di tangannya.
Rendy menatap Mira, Dinda, dan Eva. Dia menunggu persetujuan dari ketiganya.
"Tidak perlu di traktir," dari belakang Mira, Steve menyambar tawaran manis Rendy. "Makan siang semua karyawan ku siang ini, menjadi tanggung jawab ku!"
Mira dan Eva seketika berdiri saat Steve datang di restoran. Mereka membungkuk segan, tidak berani menatap wajahnya yang sangar.
"Hoi Steve," Rendy menyapa akrab. "Lama tidak bertemu, kamu makin berubah, makin tampan saja," katanya memuji.
"Jangan berbasa-basi, aku tidak suka tingkah receh mu," kata Steve berulah. "Tidak perlu berkata manis di depan ku."
"Ayolah bro," rayu Rendy. "Kamu datang bersama Zico, bertemu dengan sahabat lama justru marah-marah. Nggak ada berubahnya."
"Pak Steve, sebaiknya saya permisi dulu, jam makan siang hampir berakhir," Mira menyela pembicaraan, hendak mengundur diri, dia tidak berani melihat Steve yang mulai berulah. Dia takut pada pertikaian baik besar maupun kecil, Mira tidak mau menjadi saksi kekejaman pria ini.
"Saya juga Pak," sahut Eva. "Sebaiknya saya dan Bu Mira kembali kekantor sekarang!" Keduanya melangkahkan kakinya agak cepat, rasa takut menyelimuti tubuh mereka.
"Hei, jangan pergi," teriak Dinda pada keduanya. Mereka sudah menjauh, mereka terlihat takut saat Steve ada di hadapan mereka. "Aku di tinggalkan," kata Dinda pelan.
Kini yang tersisa hanya Steve, Dinda, Zico dan Rendy di meja yang sama.
Kenapa Steve harus datang di saat seperti ini sih, Dinda menggigit bibirnya. Dia tidak berani menatap Steve yang mulai menggarang.
"Kemari!" perintah Steve pada Dinda.
Langkah kaki Dinda menuruti ucapan Steve. Dinda mulai takut pada Steve yang menunjukan sikap posesif-nya.
Rendy menarik tangan Dinda, dia tidak ingin Dinda mendekati Steve apalagi menuruti perintah pria garang itu.
Namun Steve yang berwajah menakutkan, sulit di bantah oleh Dinda. Tidak peduli apapun, Dinda tetap mendekati pria garang ini.
"Jangan pernah pegang wanita ku!" Steve meninggikan suaranya seraya menarik lengan Dinda. "Aku tidak suka kamu menyentuh wanita orang lain!"
"Wanita mu?" Rendy bertindak. "Dia teman ku, sekaligus wanita yang spesial. Kenapa harus menjadi wanita kamu?" ucapnya sambil memaksa tertawa tidak enak.
__ADS_1
Rendy menarik kembali lengan Dinda agar menjauh dari Steve. Tapi Steve dengan cepat menghentikan tindakannya.
"Kamu pikir kamu siapa beraninya menyentuh gadis ku," Steve terlihat memuncak marah, jauh lebih garang saat ini dari pada sebelum-sebelumnya.
"Tsk," Rendy men-decak. "Aku adalah teman spesial Dinda, memangnya salah jika menyentuhnya."
"Kau!" Steve mengepal tangannya, siap memukul wajah Rendy. Namun Dinda dengan cepat menghentikan kebiasaan Steve ini.
"Rendy, Steve," Dinda menengahi. "Kalian ini teman lama, kenapa harus ada pertikaian kecil saat pertemuan seperti ini."
Steve menarik bahu Dinda, lalu memeluknya erat. "Kamu lihat, dia adalah kekasih ku saat ini. Jadi jangan berani-berani mencoba mendekati dia," Steve mendengus tak menyukai Rendy yang berusaha mendekati kekasihnya.
"Lalu kenapa kalau dia kekasih kamu?" Rendy menentang. "Pernah dengar pepatah sebelum janur kuning melengkung, siapapun boleh mendekati Dinda."
"Hm," Steve kembali tersenyum masam. "Begitu banyaknya wanita cantik di dunia ini, kenapa Rendy teman lama justru menyukai gadis sejelek ini. Apa kamu nggak malu bersaing dengan ku," kata Steve sarkas.
"Apa bedanya aku bersaing dengan kamu atau yang lainnya," balas Rendy. "Selagi aku bisa memiliki Dinda, siapa yang bisa menentangnya!"
"Menarik!" sahut Steve. "Teman lama ku ingin bersaing mendapatkan calon istri orang lain? Di mana harga diri kamu sebagai pria?" Ledek Steve.
"Apa maksud kamu?" Rendy mulai memuncaki amarahnya, batas sabarnya mulai terganggu.
Zico yang berdiri di dekat Steve, menengahi amarah Rendy yang mencekam. "Sudah Ren," ucap Zico. "Masa hanya karena wanita kalian harus bertengkar, malu di lihat orang banyak!"
"Saat itu aku pernah bilang, tidak peduli dengan siapa aku akan bersaing. Selagi memperebutkan cinta Dinda adalah sebuah keharusan, maka aku akan berjuang hingga titik terakhir sekalipun harus mengorbankan persahabatan kita," Rendy menaikan egonya, dia ingin mempertegas siapa dirinya di hadapan Steve. "Aku tidak peduli jika harus berkorban mendapatkan Dinda, sekalipun harus bersaing dengan Steve."
Namun Steve, dengan ringannya, tidak peduli pada Rendy. "Biar aku perjelas siapa aku di hadapan Dinda," Steve mulai bertindak. Dia memamerkan betapa hebatnya dia pada Rendy.
Tanpa ragu, Steve menggendong Dinda dalam pelukannya. Dia sengaja melakukannya di hadapan Rendy karena ketika di mall saat itu, Zico memberitahu dirinya bahwa Rendy berusaha mendekati kekasihnya.
"Steve, apa yang kamu lakukan?" berontak Dinda. "Cepat turunkan aku. Malu di lihat orang banyak."
"Jangan takut sayang, biarkan cecunguk seperti Rendy paham siapa dia. Beraninya bersaing dengan ku," Steve menggendong Dinda, melewati Rendy dan meninggalkan pria itu di atas kecemburuan.
"Kurang ajar kau Steve," teriak Rendy tak terima. "Cepat lepaskan Dinda. Dia tidak pantas dengan pria kasar seperti mu."
Steve menurunkan Dinda, dia ingin menghajar mulut kotor Rendy. Tapi Dinda menghentikannya kembali, Steve sangat berbahaya apalagi saat marah. Dia sangat brutal, bahkan kejam.
"Biarkan aku yang menjelaskan pada Rendy," ujar Dinda. "Kamu yang sabar, ini hanya kesalah pahaman saja. Rendy nggak mungkin berkata seperti itu, dia hanya sesumbar saja," Dinda berusaha menenangkan diri Steve yang emosional.
"Bagus," timpal Steve. "Jelaskan siapa aku di dalam hidup kamu, agar Rendy tahu siapa dia siapa aku di dalam hati kamu."
Dinda menarik nafas panjang, dia berusaha menjelaskan pada Rendy. "Maaf Ren sebelumnya," Dinda berkata. "Aku dan Steve, sebenarnya pacaran. Aku ingin menjelaskan kesalahan ini. Berhubung karena kejadian ini, aku menghargai sikap kamu yang suka membantu orang lain. Tapi, aku mohon kamu mengerti. Aku dan Steve benar-benar saat ini pacaran, dia tidak mengada-ada."
"Jadi selama ini kamu hanya menganggap aku sebagai teman?" Rendy menuntut penjelasan.
Dinda mengerutkan alisnya, dia memicingkan matanya, melihat raut wajah Rendy. "Maksudnya?"
"Aku selama ini sudah suka sama kamu sejak saat kita berteman di SMP. Aku baru saja ingin mengatakan cinta ku pada kamu," Rendy menjelaskan, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa Dinda bersama Steve. "Aku ingin mengungkapkan perasaan ku pada kamu, bahwa selama ini aku mencintai kamu."
"Maaf Ren," jawab Dinda. "Aku tidak tahu kalau kamu menyukai ku. Tapi jujur, aku sejak awal hanya menganggap kamu sebagai teman. Tidak lebih," Dinda menjelaskan dengan tegas. "Aku benar-benar menghargai rasa suka kamu pada ku, walau sejujurnya aku tidak pernah merasakan kalau mau diam-diam suka pada ku."
Itu artinya, hanya aku saja yang memiliki perasaan ini. Perasaan mendebar, perasaan yang ingin memiliki dan ingin di cintai oleh satu wanita. Aku bodoh tidak menyadarinya sejak awal, Rendy terdiam untuk sesaat, menelaah ucapan Dinda. Apa bagusnya si Steve, kenapa Dinda malah menyukainya. Kenapa bukan aku. Bahkan Steve pria kasar, apa yang Dinda lihat darinya? tidak mungkin jika Dinda memandangnya karena uang.
"Bagaimana? sudah jelas sekarang bagaimana posisi kamu di hati Dinda?" Steve memancing kegaduhan. Dia puas melihat Rendy terpuruk.
Rendy termangu dan tak berkutik saat Steve berkata meledeknya. Dia tidak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. Dinda ternyata sehati dengan Steve yang kasar, bahkan sudah berpacaran. Rendy tidak berkata apa-apa, hanya bisa melihat Steve membawa Dinda pergi dari hadapannya. Tubuhnya terasa sangat lemas tak berdaya, pengakuan Dinda telah mematahkan hatinya.
"Sudah aku katakan, jangan mencoba menyainginya. Kamu malah mengabaikan kata-kata ku," Zico yang berdiri di sebelah Rendy, menepuk pundaknya. Zico memahami situasi yang sedang di alami oleh Rendy. "Jangan bilang kalau aku tidak memperingati kamu sebelumnya. Sebagai teman yang baik, aku hanya ingin kalian berdua tetap damai walau pada akhirnya akan berselisih seperti ini.
"Aku tidak menyangka kalau Dinda yang selama ini aku suka, bisa jatuh cinta pada pria semacam Steve," ungkap Rendy. "Dia gadis yang aku suka sejak dulu, kini justru menjadi kekasih orang lain."
"Nggak usah mendramatis deh Ren," tegur Zico. "Cewek cantik di luar sana banyak. Kenapa harus bersaing mendapatkan Dinda kekasihnya Steve segala, yang ada persahabatan kita yang akan retak."
"Karena kamu belum pernah merasakan rasanya kehilangan orang yang di cintai!" Sentak Rendy. "Makanya kamu bisa bicara enteng."
"Cih," Zico mengerutkan keningnya. "Bicara kamu seperti yang sudah ahli saja dalam kisah asmara. Kalau mau menangis karena patah hati, sebaiknya jangan di sini, dia toilet saja. Aku sibuk, banyak pekerjaan, aku harus balik ke kantor sekarang!" Zico meninggalkan Rendy sendiri. Dia lega akhirnya Rendy tahu kebenarannya, kebenaran bahwa dia kalah oleh Steve dalam meraih hati Dinda.
Zico sudah bersikap netral pada keduanya, tidak memihak Rendy maupun Steve. Hanya saja, untuk kisah segitiga ini, Zico masa bodoh. Mereka yang menentukan, Zico sudah merasa bebannya dalam dirinya berkurang saat Rendy di tolak mentah-mentah oleh Dinda.
"Setidaknya, aku sudah memperingatkan dia, bahwa dia akan kalah melawan Steve," di depan ambang pintu restoran Zico menengoknya. Dia ingin memastikan bahwa Rendy akan baik-baik saja akibat patah hati ini.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Bonus picture