
Selama empat tahun terakhir, Vanya yang berstatus sebagai tunangan Johan, sudah tinggal bersama dengan keluarga Tama sejak kali pertama keduanya dijodohkan.
Ia tidak peduli jika Johan ilfil padanya karena selalu menempel seperti gurita. Yang terpenting, berada dekat terus dengan Johan adalah kebahagiaan tersendiri bagi Vanya.
Ayah Vanya memiliki bisnis yang sangat besar di Inggris sekaligus pemilik saham terbesar di salah satu klub sepak bola kenamaan Inggris. Sehingga bukanlah hal yang aneh jika Vanya dipandang sebagai putri bangsawan.
Sikap angkuh dan sombong memang sudah mendarah daging dalam image-nya dan merupakan bagian dari sifat alamiahnya sejak kecil.
“Wanita berengsek itu ternyata sudah memiliki seorang yang bisa diandalkan. Awas saja pria sombong itu, aku akan membalasnya nanti.”
Vanya pulang kerumah Tama dalam keadaan bau dan kotor. Sehingga membuat beberapa pelayan di rumah besar Johan terkekeh geli penuh olok-kan kala menyaksikan dirinya yang terlihat seperti gembel.
“Apa yang kalian ketawakan?” tanya Vanya kesal. “Apakah kalian sedang mentertawakan diriku?”
Vanya berdiri di depan pintu, dengan dua pelayan menyambut kedatangannya. Sementara, dua pelayan yang dia bentak tadi, menunduk takut melihat amarah Vanya.
“Tidak nyonya. Kami tidak mentertawakan Anda,” balas salah satu pelayan.
Keduanya tahu kalau Vanya memiliki temperamen yang buruk. Siapa pun yang tidak dia sukai di rumah ini, maka ia bisa menyingkirkan orang itu termasuk pelayan di hadapannya.
“Sana pergi kalian dari hadapanku. Aku tidak ingin melihat kalian berdua.”
Dua pelayan itu pergi, sehingga sedikit bisa menurunkan atensi kemarahan Vanya.
__ADS_1
”Oh ya ampun Vanya. Apa yang terjadi padamu sayang?" tanya Diana, Ibu Johan. Wanita yang bersanggul bak kalangan sosialita kelas atas. Tangan Nyonya Diana memegang bahu Vanya dengan jijik karena bau. Akh, benar-benar enggan dia ingin menyentuh kulit Vanya. “Kenapa kamu bisa seperti ini. Siapa yang melakukan tindakan ini pada keluarga Tama!”
“Ini semua gara-gara wanita ****** itu Bu. Dia yang melakukan semua ini.”
“Wanita mana yang kamu maksud?” tanyanya kembali. Dia sangat penasaran.
“Siapa lagi kalau bukan Dinda si wanita ******* itu Bu. Dia dengan berani melakukan semua ini padaku.”
“Oh rupanya wanita itu masih ada di kota ini. Beraninya dia melakukan hal kurang ajar seperti ini pada keluarga Tama. Awas saja dia.”
“Iya Bu. Bahkan dia juga mendorongku dengan keras di hadapan semua orang. Tak hanya itu Bu. Dia juga berani menyebutku wanita ****** perebut suami orang di depan teman-temanku!”
Vanya melakukan drama yang bahkan tidak dilakukan oleh dinda. Diselingi dengan air mata palsunya, dia mencoba mengelabui mertuanya yang tidak berguna itu.
"Dia bekerja di perusahaan grup Wong Bu,” jelas Vanya. “Aku tahu tempatnya bekerja.”
“Hm.... Rupanya dia bekerja di sana. Baiklah sekarang kamu mandi bersihkan badanmu Besok pagi kita akan memberikan wanita itu pelajaran yang tak akan pernah dia lupakan.”
“Baiklah Bu, aku akan mandi dulu jika begitu. Terima kasih ya Bu atas bantuan Ibu selama ini. Aku sangat berharap bisa membuat Dinda jauh-jauh dari kehidupanku!”
Seraya memeluk tubuh wanita tua itu Vanya sedikit memaksa matanya untuk mengeluarkan air tangisan kesedihan atas penghinaan yang dilakukan Dinda. Ya, dia memang wanita yang bisa melakoni aktingnya. “Aku ingin dia segera enyah dari sini Bu, sehingga kedepannya dia tak mengganggu hubunganku lagi dengan kak Johan.”
Nyonya Diana tak bisa menolak pelukan Vanya meskipun dia amat jijik dengan bau sampah. Terlebih dirinya anti kuman.
__ADS_1
Dengan wajah memaksa, wanita tua ini memeluk tubuh Vanya.
“Jika bukan karena keluarga Tama butuh bantuan investasi besar-besaran untuk memperluas bisnis keluarga. Mana mungkin aku akan memeluk wanita hina ini. Hanya membuat tubuh ku penuh kuman saja!”
Wanita tua bergumam sewot sambil mulutnya komat-kamit tak jelas mendengar tangisan haru Vanya.
Sesekali dia menutup hidungnya tanpa sepengetahuan Vanya, di saat kedua wanita ini berpelukan. Maklum saja, memperlakukan Vanya sedikit baik, bisa membuat posisi keluarga Tama sedikit nyaman.
“Iya besok kita akan membuat dia dipermalukan di depan semua orang. Kamu yang sabar ya."
Nyonya Diana bersikap sok peduli dengan mengelus dan membelai rambut Vanya dengan hangat seakan dia ingin mengatakan bahwa dia harus tegar menghadapi wanita penghibur semacam Dinda.
“Baiklah Bu, aku langsung ke kamar
ku saja kalau begitu!” tukas Vanya mengakhiri pelukannya pada nyonya Diana.
“Inilah yang aku harapkan."
Diana dalam hatinya, sudah tidal kuat menahan bau di tubuh vanya. Dengan senyum palsu dia membalas Vanya penuh kehangatan dan kasih sayang. Nyonya Diana ahli dalam memainkan perannya sebagai wanita antagonis. “Baiklah sayang. Kalau begitu lanjutkan kegiatanmu.”
Dan Vanya meninggalkan wanita tua yang ia benci di depan pintu. Dirinya melangkah pergi menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
“Jalannya saja sok anggun. Malang bagi Johan-ku jika harus menikah dengan nenek tua seperti dia. Bahkan dia tidak cantik seperti Dinda. Jika bukan karena Dinda terlahir dari keluarga miskin, aku dari dulu pasti akan menikahkannya pada Johan.”
__ADS_1