
Sebelum kembali ke Jakarta, Dinda membawa Steve mengunjungi panti asuhan tempat anak-anak terlantar di tampung.
Di bangun berlantai tiga ini, panti asuhan yang berada agak jauh dari pusat kota, mungkin terdapat lebih dari ratusan anak yatim piatu.
Dinda hanya merindukan anak-anak yang telah di besarkan oleh ibunya, selebihnya, Dinda ingin berpamitan pergi. Kemungkinan lama akan kembali ke kota ini.
Sedikit menyedihkan, namun di sinilah Dinda merasakan keluarganya. Steve tersenyum sumringah saat anak-anak belia itu mengerumuni Dinda.
Steve menyandarkan bokongnya di teras rumah sembari melihat kegaduhan anak-anak kecil menyambut kehadiran Dinda.
Bahkan anak-anak itu merengek agar tidak di tinggalkan maupun di lupakan oleh Dinda.
Mungkin hari itu adalah hari terakhir bagi Dinda menginjakan kakinya di sini. Kota tempat dia di lahir-kan, dengan anak-anak panti sebagai kenangan masa remajanya.
"Mereka sudah ku anggap sebagai adik-adik kandung ku sendiri," Dinda memulai bicara. Dia menghampiri Steve yang tengah melihat dirinya bersenda gurau bersama anak-anak yatim ini.
"Kamu begitu peduli pada mereka, apa kamu tidak merindukan mereka suatu saat nanti!" Steve berkata, sementara Dinda duduk di sebelahnya.
Mereka berdua berbicara sembari melihat anak-anak memperebutkan sepuluh kotak pizza dan donut yang di beli Steve sebagai buah tangan datang ke panti ini.
"Sejujurnya, aku akan merindukan mereka suatu saat nanti," ungkap Dinda. "Tapi, harus bagaimana juga. Perasaan ku saat ini sudah jauh lebih tenang saat anak-anak ini di biayai oleh pemerintah. Setidaknya mereka sudah mendapatkan tempat yang layak dan jika mereka berjodoh akan ada banyak anak-anak mendapatkan orang tua asuh."
Steve memegang tangan Dinda, dia tersenyum bahagia karena Dinda begitu peduli pada orang lain yang bahkan dia sendiri tidak tahu siapa dan dari mana asal mereka.
"Apapun yang kamu lakukan, aku yakin, kamu pasti melakukannya dengan sepenuh hati," hibur Steve. "Jangan pernah bersedih walau harus berpisah dari anak-anak yang sudah kamu anggap seperti adik kandung kamu sendiri."
Dinda ikut tersenyum senang, apalagi Steve mendukungnya. "Kamu lihat anak itu," Dinda menunjuk salah satu anak panti. "Anak berusia dua tahun itu bernama Mila," Dinda memberitahu. "Aku belajar banyak dari anak berusia dua tahun itu. Di usianya yang masih belia, dia harus menerima kenyataan bahwa dia harus berpisah dari kedua orang tuanya. Saat aku memberitahu dia bahwa aku bukan ibunya, apa yang dia lakukan? Dia pasrah, dia tetap tidak bersedih walau dia sempat menyangka bahwa aku adalah ibunya," Dinda mengenang sambil menahan haru.
Steve menjadi pendengar yang baik, Steve tahu sisi lain dari gadisnya yang unik. Mencintai orang lain dengan tulus, bahkan memperlakukannya dengan baik. Sekalipun Steve pernah marah saat Dinda menolong Johan, namun Steve tidak bisa memungkiri jika itulah sifat alamiah Dinda.
Steve menarik Dinda, dia menempelkan kepala Dinda di bahunya. "Jika kamu merasa ingin menangis karena tidak bisa berpisah dari anak-anak ini. Kamu bisa menangis di bahu ku, aku siap menjadi wadah menampung air mata kamu yang keluar," ujar Steve menghibur. "Aku tidak rela jika setiap air mata kamu terjatuh."
Dinda sebenarnya ingin menangis, tapi karena Steve selalu menghiburnya, Dinda merasa air mata yang akan terasa seperti tertahan oleh sebuah kekuatan.
__ADS_1
Dinda mengelus punggung tangan Steve, sambil menahan campur aduk perasaan bahagia Steve ada bersamanya, juga ada hati yang harus meninggalkan anak-anak yatim ini.
"Dari pada kita mengharukan anak-anak yang mungkin beberapa tahun lagi akan melupakan aku, sebaiknya kita pulang ke rumah sekarang. Mungkin ibu sudah menunggu kita," Dinda melirik jam di tangannya. Dia berinsiatif mengajak Steve meninggalkan panti asuhan ini.
Sementara Miko dan Niko yang ada di rumah bersama Ibu Yuri, membereskan seluruh pakaian sang ibu.
Kini tiga koper sintetis sudah tersedia di teras rumah.
Hanya berisikan pakaian sang ibu, photo dan juga barang-barang peninggalan sang ayah. Selebihnya, tidak ada yang lain.
"Huh," keluh Miko mengambil nafas sambil menyeka keringat. Dia duduk di sofa seraya memandangi seisi rumah yang akan di tinggalkan. "Akhirnya, rumah peninggalan ayah harus di kosongkan."
Ibu Yuri yang sudah bisa berjalan walau di bantu oleh tongkat, mendekati kedua putranya yang tengah duduk.
"Kedepannya kita tidak akan kembali lagi ke kota ini," ucap Ibu Yuri.
Niko yang sempat menyadarkan kepalanya di tepi sofa, mendadak duduk tegap. "Pokoknya kita akan melupakan kota ini," tandasnya bersuara. "Ketika di Jakarta nanti, Niko dan kak Miko akan mengajak Ibu liburan mengelilingi seluruh kota. Ibu tenang saja, Niko akan menepati janji."
"Seperti banyak duit saja membawa ibu jalan-jalan," sambar Miko berkata ketus.
"Ish," Miko ingin memukul adiknya yang reseh. "Sejak kapan aku nyinyir, yang ada kamu itu yang selalu nyinyirin kakak," bantah Miko tak setuju pada perkataan adiknya.
"Lihatkan Bu," Niko mengadu. "Kak Miko selalu memperlakukan Niko seperti anak buangan, apa Ibu rela jika anak ibu di perlakukan semena-mena seperti ini?"
"Sudah-sudah," Ibu Yuri menengahi perdebatan kecil ini. "Kalian kakak adik selalu bertengkar. Kalian itu kembar, segala sesuatu seharusnya Seiya sekata, bukan saling kontra," kata Ibu Yuri bijak berkata.
"Ibu seharusnya tahu," Niko berulah. "Aku dan kak Miko hanya beda lima menit. Kenapa harus aku memanggilnya kak Miko, bukankah memanggil Miko saja cukup!" Niko menggerutu sebal.
Ibu Yuri yang duduk di sebelah Niko mencoba mendamaikan hati Niko yang tengah sebal. "Biarpun beda lima menit, tapi kamu harus menghormati yang lebih tua," ucap Ibu Yuri bersabda. "Walau kalian bertiga lahir dari rahim yang sama, tetapi ibu tidak pernah membeda-bedakan kalian. Ibu menyayangi kalian, tidak ada bedanya kamu, Kak Miko, maupun Kak Dinda. Kalian sama di mata Ibu, anak-anak ibu yang tersayang."
"Dengerin tuh kata Ibu," timpal Miko senada dengan ibunya. "Harus menghormati yang lebih tua!"
"Iya deh, iya, Niko mengalah," jawab Niko ketus. "Yang tua kak Miko, aku tidak peduli. Hanya saja, kalau urusan visual, tolong Ibu jangan memberikan rating di bawah angka lima. Niko jauh lebih tampan dari Kak Miko," celetuk Niko membuyarkan suasana gaduh tadi.
__ADS_1
"Tsk! Baru tampan saja bangga," Miko menyunggingkan bibir masam.
Ibu Yuri yang ada di hadapan mereka, hanya bisa menggelengkan kepala. Kedua bocahnya itu selalu seperti itu sejak kecil.
Di depan halaman rumah beralaskan aspal, terdengar suara mobil Steve membunyikan klaksonnya.
"Tuh, mereka sudah tiba," kata Ibu Yuri mengisyaratkan. "Sebaiknya kita berangkat sekarang.
Di depan rumah, Dinda dan Steve yang baru saja berpamitan di panti asuhan, kini sudah siap kembali ke Jakarta.
"Semua barang sudah di bereskan Bu?" Dinda mengingatkan. "Nggak ada yang ketinggalan lagi kan?"
Ibu Yuri mengangguk. "Semuanya sudah siap, berangkat sekarang saja. Takut kehujanan di jalan," tegurnya.
Dinda menengok keluar, melihat langit seperti yang di katakan oleh Ibunya. "Iya sih Bu," jawab Dinda. "Berangkat sekarang sepertinya kita tidak akan ketinggalan kapal." Dinda menyikut Steve, dia mengingatkan kekasihnya.
"Iya Bu, berangkat sekarang saja," balas Steve ber-ide.
"Ya sudah, kalau begitu berangkat sekarang," ucap Ibu Yuri setuju. "Niko, Miko, tolong bawakan koper Ibu ke bagasi mobil Nak Steve," perintahnya pada kedua bocah kembar ini.
"Siap Nyonya!" balas keduanya antusias.
Keduanya melaksanakan tugas dari Ibunya, mereka memasukan koper-koper kedalam bagasi mobil Steve.
Semua sudah siap, mereka hendak berangkat. Tapi Ibu Yuri menghentikan sejenak langkah Steve. "Nak Steve," panggilnya. "Apa mungkin mobil Nak Steve muat untuk lima orang?"
Steve membalikan badannya, dia melihat Ibu Yuri sambil tersenyum. "Tenang saja Bu," balas Steve. "Mobil saya muat kok untuk delapan orang. Ibu tidak perlu khawatir soal ini."
"Oh syukurlah," Ibu Yuri lega, dia mengurut dadanya, melepaskan rasa khawatirnya tadi yang takut menyusahkan Steve. "Ibu takut jika tidak mampu menampung Ibu dan ketiga anak Ibu."
"Tenang saja kok Bu," Steve berkata ramah. "Mobil saya mobil murah. Hanya saja saya memilih mobil yang mampu menampung tempat duduk yang luas," ucap Steve merendah.
"Ya sudah Bu," tegur Dinda. "Berangkat sekarang."
__ADS_1
BERSAMBUNG