UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 168


__ADS_3

Shanghai, musim semi 2020



°°°°°°°°°°°°°°°°°



Berjalannya waktu, tidak membuat kita harus berhenti di satu titik—di mana kita akan terkungkung dalam masa lalu yang kelam.


Kehidupan baru di Shanghai, nyatanya asik bagi Dinda. Di mana dia bebas menikmati bunga-bunga cantik di taman belakang rumah.


Beruntung, di masa depan akhirnya dia menikmati kehidupan yang indah. Semua itu tidak terlepas dari kejamnya masa lalu yang hampir merengkuh kebahagiaannya.


Saat ini, Dinda menunggu putra dan suaminya keluar dari kamar mandi. Dan yang kalian ketahui, Steve sama seperti kala tinggal di Indonesia. Suka bermain air dengan putranya. Pria manja.


Pria satu ini, makin hari dia makin tak bisa menjauh dari putranya. Walau sedetik, rasanya setahun bagi Steve kalau tidak melihat sang anak. Lama sudah Dinda menanti keluarnya bapak dan anak itu dari bilik kamar mandi. Dan sama saja, meski sudah di tunggu, mereka tidak akan keluar—jika bukan Dinda yang menjemput—lebih-lebih mengomelinya.


“Sudah hampir satu jam kalian mandi. Kenapa lama sekali sih!” Dinda mengomel tiada henti. Sungguh, kalau pepatah mengatakan, “Marah-marah terus. Nanti cepat tua,” mungkin itu sudah menimpa Dinda. Dia akan lebih tua dari suaminya setiap kali Dinda mengomel.


Steve membuatnya kesal. Selalu. Putranya bahkan di biarkan mandi bebas berkeliaran. Ayah dan anak itu, sudah mandi telanjang, masih saja minta di layani lebih oleh Dinda. Sampai membuat Dinda turun tangan, masuk kedalam kamar.


“Ayo keluar. Nanti kalian masuk angin.”


“Sebelum itu. Tolong bersihkan dahulu punggung ku. Baru kami keluar.”


“Sayang,” Dinda berusaha sok manis kala pria di hadapannya ini merayu. “Maaf, aku hari ini tidak bisa melakukannya. Aku mohon, sebaiknya keluar sekarang.”


“Nggak mau,” tolak Steve. “Bundanya saja tidak mau melayani ayah, bagaimana Ayah akan keluar dari kamar mandi. Benarkan Nak.”


Steve mengeluh pada Iqbal, anak kecil itu polos. Jika saja dia mengerti, mungkin Iqbal kecil sama seperti Ayahnya, sama-sama menyebalkan.


“Sayang. Aku hari ini malas untuk mengomel. Jadi, cepat sekarang keluar. Iqbal sudah kedinginan.”


“Bohong. Iqbal saja asik tuh main sama bebek mainannya. Kamu saja yang tidak ingin aku bersama putra ku.”


“Hiks. Aku tidak berpikir seperti itu.”


Akh...... Dinda meringis ingin menangis rasanya. Kenapa suaminya ini keras kepala sekali. Sementara di bawah, orang-orang sudah menunggu mereka—ingin makan malam bersama.


“Oke. Aku mengalah. Aku akan bersihkan. Tapi setelah itu, kalian harus keluar. Kalian sudah dari tadi mandi. Aku takut kalian masuk angin.”


Steve cengengesan, inilah yang dia harapkan. Istri yang pengertian.


“Surga kita nak. Bunda menurunkan egonya. Hihi.” Steve membisik di telinga Iqbal.


Sementara Dinda, dia menggosok punggung suaminya ini terpaksa. Kesal rasanya, kala Steve terus merundungnya seperti ini. Dia menjadi istri yang ternistakan.


“Kalau sudah di punggung, sekalian ya di dada, perut dan..... Syukur-syukur bagian bawah kamu gosok pakai sabun. Kan sudah lama nggak pegang yang aneh-aneh.”


Dinda meliriknya, suaminya ini sudah cengengesan terkekeh.


“Mesum.”


“Biar. Lagi pula mesum pada istri ku sendiri. Mblek”


Steve menjulur lidahnya. Meledek Dinda dengan ekspresi jelek yang pernah di lihat oleh istrinya. Alih-alih marah, Dinda perlahan menyungging tersenyum.


“Dasar suami edan.”


Tangan Steve menarik tangan Dinda yang menggosok di lehernya. Lalu menuntun tangan itu menggosok perut, dan meraba dada Steve hingga turun ke bawah. Tempat di mana ada rangsangan yang aneh.


Si kecil asik bermain sendiri, pasangan suami istri ini tak menghiraukan putra mereka.


“Kalau menurut seperti ini kan enak. Jadi kita sama-sama di untungkan.”


Dinda mendengus, bibir yang tercetak itu beringsut sebal. “Kamu memang tidak ada berubahnya. Selalu membuat aku harus terdiam di posisi itu.”


Bukan Steve namanya kalau tidak tahu kelemahan Dinda. Perut yang menggoda, dan itu kekuatan terbesar Steve. Kelemahan Dinda, dia manfaatkan dengan baik. Jadi, inilah rahasianya kenapa Dinda tidak bisa menolak pesona suami perkasanya ini.


Steve mengecup kening Dinda. Wajah basah itu sudah lama merindukan wajah mulus istrinya.


“Kamu harusnya tahu. Kenapa aku tidak bisa berpaling dari wajah istri ku!”


“Karena selalu enak di ledek,” singgung Dinda.


Steve menggeleng. “Bukan,” katanya kontra. “Tetapi kecantikan istri ku inilah, yang membuat aku sulit berpaling.”


Gombal.


“Bilang saja kalau kamu meminta sesuatu.”


“Hihi....” Lagi-lagi Steve cengengesan terkekeh. Dinda ahli menebak kebenaran. “Aku tidak minta lebih. Aku hanya mau istri ku melayani ku nanti.”


°°°°°°°°°


Usai mandi, Dinda langsung memakai kan baju untuk Iqbal. Kebiasan Steve, putranya selalu di ajak mandi berlama-lama. Dan setiap kali dia ingin mandi, selalu harus bersama Iqbal.


Padahal Dinda tidak mau putranya mandi bersama Ayahnya. Bukan karena Dinda tak mempercayainya, tetapi seperti saat ini. Tangan putranya sampai keriput, karena terlalu lama berendam di air.


Di atas kasur, Dinda meletakkan baju rajutan dan celana bahan yang sering Steve kenakan ketika kerja. Dan baru saja selesai suaminya memakai bajunya.


“Aku sudah selesai. Ayo kita turun ke bawah,” ajak Steve.


“Sebentar lagi. Aku memakaikan Iqbal bedak dulu.”


Wih, Steve melihat putranya makin menggemaskan. Semua pakaian yang dia kenakan membuatnya makin imut. Steve duduk di sebelah putranya, dan mulailah kembali sifatnya.


“Sayang. Putra Ayah hari ini sangat tampan. Ayah yakin, besar nanti Iqbal pasti jadi aktor tertampan se-Asia.”


Kecut. Dinda memanyunkan bibirnya, dia tidak berharap itu akan terjadi.


“Iqbal harus menjadi seorang pebisnis. Dia tidak boleh jadi publik figur.” Dinda menyahut.


“Kita lihat saja nanti.”


Oke. Sekarang bukan waktunya berdebat canda gurau. Saatnya ke bawah. Di luar sudah berapa kali orang-orang rumah meminta mereka turun. Iqbal sudah selesai di dandan, Steve juga sudah rapi menyaingi putranya.


Dan mereka turun ke bawah. Makan malam sudah sedari tadi siap, dan karena menunggu keduanya. Alhasil, makan malam sempat tertunda.

__ADS_1


Steve menggendong Iqbal, Dinda seperti biasanya. Berjalan biasa tanpa buah tangan. Steve yang selalu membawa Iqbal, padahal seharusnya itu tugas Dinda. Namun apa boleh buat, anaknya juga senang setiap kali Steve mendekapnya hangat.


Ketika sedang turun, suara gaduh


mulai pecah. Dan suara itu terasa hingga ke telinga Dinda dan Steve.


“Kak Stevie,” kata Dinda pada Steve.


Steve melihatnya juga. Stevie sedang membantah ucapan sang ayah. Dinda dan Steve memasang ekspresi wajah bingung. Entah apa yang terjadi, sang ayah terlihat murka.


“Kak Stevie sepertinya sedang memprovokasi Papa,” bisik Steve pelan.


Dinda mengangguk, dia senada dengan Steve.


“Papa jangan diskriminasi dong sama Stevie. Kalau Stevie tidak mau menikah dengan Jackson, kenapa Papa harus memaksa. Jalan hidup ku—aku sendiri yang menentukan. Dan semua ini tidak ada urusan dengan Papa!”


Stevie terlihat meninggikan suaranya. Sang ayah juga terlihat menahan amarah. Sementara Sang Ibu dan nenek mematung bisu. Mereka tidak bisa menengahi adu argumentasi kedua orang itu.


“Jika kamu tidak menikah dengan Jackson. Siapa yang mau menikahi kamu? Katakan!”


“Aku bisa membuktikannya pada Papa—kalau Stevie bisa menemukan jodoh Stevie sendiri. Tapi tidak sekarang. Beri Stevie waktu.”


“Alah. Alasan!” tandas sang Ayah. “Bilang saja kalau kamu mau kabur lagi!”


Terang Stevi makin kesal atas ulah Ayahnya. Sialnya, Stevie tidak bisa lagi meninggikan suaranya. Sang ayah jauh lebih mengerikan dari monster di hadapannya ketika sedang murka.


“Pa....”


“Tidak ada alasan apapun. Kali ini keputusan final. Kamu harus menikah dengan Jackson! Dengan atau tanpa persetujuan kamu.”


“Pa!”


Sang Papa tidak menghiraukannya lagi. Dia meninggal meja makan dalam keadaan marah.


Stevie mendengus kesal, dia di abaikan begitu saja oleh Ayahnya.


Dari perdebatan ini, Steve mengambil kesimpulan—kalau Stevie dan ayahnya meributkan masalah Jackson.


Dan Steve paham jalan cerita pertikaian ini. Pasti masalah pernikahan—yang membuat keduanya adu argumentasi.


“Jika Papa masih memaksa Stevie untuk menikah dengan Jackson. Maka, dengan senang hati Stevie meninggalkan rumah ini.”


Tuan wong berhenti ketika suara Stevie memancing amarahnya lahi. Langkahnya yang hendak menuju ke kamarnya, kini berubah menjadi tatapan sinis. Stevie masih berani berkata dengan nada seperti itu padanya.


“Jika kamu ingin melakukannya, silahkan. Tapi ingat, kamu jangan pernah kembali lagi ke rumah ini. Aku tidak butuh seorang anak yang membangkang seperti kamu.”


“Pa!”


“Aku bukan Papa mu mulai saat ini. Aku tidak memiliki seorang putri yang selalu membantah perintah ku. Jadi kamu silahkan pergi dari sini sekarang. Pintu Kepergian terbuka lebar. Dan diantara kalian semua, jangan ada uang berani menahannya.”


Usai menunjuk Stevie kasar, Tuan Wong kembali melanjutkan langkahnya—meninggalkan mereka yang terperangah —menyaksikan drama ini.


Stevie makin beringsut kesal tak tertahankan. Wajahnya mulai murka. Dan ini kali pertama bagi Stevie harus meninggikan suaranya lagi di hadapan Ayahnya sendiri.


“Oke. Jika Papa berharap begitu. Stevie akan pergi. Terima kasih atas semua yang Papa berikan untuk Stevie. Akan aku buktikan kalau aku bisa menemukan calon suami ku sendiri.”


Bahkan tidak takut jika harus keluar dari rumah. Tuan Wong melirik sedikit, tidak sampai lehernya menoleh. Kemudian dia membuang napas berat. Lalu kembali berjalan ke kamarnya.


“Vie. Nak. Kamu mau kemana!” Ibu Diah menarik lengan Stevie. Di depan pintu rumah sang Ibu menahannya. Tidak peduli kalau suaminya tadi sudah memperingati mereka untuk tidak menahan Stevie.


“Lepaskan Ma. Stevie bukan siapa-siapa lagi sekarang.”


“Enggak. Kamu nggak boleh pergi.”


“Percuma Ma. Stevie tidak akan menjilat kembali ludah yang sudah Stevie buang. Mama jangan menahan Stevie. Ini keputusan Stevie.”


“Jangan pergi. Mama mohon. Ucapan Papa tadi hanya asalan saja. Jangan di pikirkan. Mama mohon, jangan lakukan hal-hal konyol.”


Stevie menyingkirkan tangan sang Ibu, dia benar-benar harus pergi. Tidak peduli Ibunya sudah meringis sedih, Stevie bertindak tega.


“Maaf. Stevie harus pergi.”


Dinda membantu Ibu Diah menenangkan diri. Stevie sudah keluar rumah, mungkin sudah jauh langkahnya. Ibu Diah terus menangis, dia tidak bisa menahan Stevie, rasanya seakan dia mulai runtuh.


“Mama tenangkan diri Mama dulu. Jangan banyak berpikir. Aku dan Steve akan menyusul kak stevie.”


Ibu Diah mengangguk, namun air mata di sudah tak tertahankan. Mengucur deras, seakan tangisan itu adalah perpisahan terakhir dengan putrinya.


“Steve akan menyusul kak Stevie Ma. Mama masuk saja kedalam.”


Steve berlari kedalam tadi, mengambil kunci mobilnya. Di malam pukul delapan waktu Shanghai ini, Steve mengintervensi keadaan.


“Steve. Aku ikut.”


Dinda menarik lengan Steve—ketika dia berlari kecil menuju mobil di garasi. Iqbal yang tadi di berikan Steve padanya, ikut Dinda bawa. Steve mengizinkannya.


“Nek. Tolong jaga Mama. Kami pergi dulu,” kata Steve memburu.


Nenek yang bertongkat kayu nan sepuh ini, mengangguk pelan. Sesekali dia membenarkan kacamatanya yang hampir melorot, kemudian menatap kedua cucunya yang pergi meninggalkan pekarangan rumah.


“Ayo. Kita masuk dulu. Biarkan Hassan dan Dinda mencari Evie,” ajak wanita tua itu pada Ibu Diah.


Ibu Diah memaksakan diri masuk kedalam. Walau tangisan tadi tak bisa menahan Stevie, namun itu cukup membuatnya tersiksa.


°°°°°°°


Sambil menyetir, Steve terus fokus melihat para pedestrian yang berlalu lalang. Dia berharap, salah satu di antara ratusan pejalan kaki itu adalah Stevie. Jalan di trotoar kota Shanghai lumayan ramai, namun belum nampak wanita itu di mata Steve dan Dinda.


Mata Steve makin tajam, dia terus menyoroti wanita yang paling menonjol. Karena itu Stevie, dia wanita cantik. Pasti jadi pusat perhatian kalau keluar rumah.


Wanita itu ber-rok hitam selutut. Rambutnya tergerai. Oleh karena itu, dia pasti mudah di kenali. Apalagi wanita itu lumayan tinggi, jadi pembeda dari wanita lainnya.


Dinda ikut mengedarkan pandangannya. Mencari wanita bertubuh langsing itu. Sama seperti Steve, Dinda sedang berusaha.


Mobil mereka berjalan pelan, agar pencarian mereka membuahkan hasil.


“Cepat sekali kaki kak Stevie pergi. Belum sekejap, dia sudah hilang. Tidak mungkin kan kalau kak Stevie itu setan yang bisa menghilang.”


“Hush,” hardik Dinda. “Kamu pikir memangnya ada setan secantik kak Stevie.”

__ADS_1


“Ya bisa saja begitu. Buktinya, sekarang kak Stevie cepat banget hilangnya. Belum juga sampai satu jam dia kabur.”


“Kalau kak Stevie setan. Terus suami ku ini apa?”


Glek..... Iya juga. Mungkinkah Steve setan yang menikahi Dinda. Atau nanti ada berita bertajuk, “Seorang wanita cantik, menikahi seorang pria tampan yang ternyata adalah setan.”


Ih serem. Ngeri juga kalau ada berita seperti itu.


“Iya deh. Aku ngalah. Aku tarik lagi ucapan ku tentang setan tadi. Ngeri.”


Dinda terkekeh geli. Lagian, sembarangan ngatain kakaknya sendiri setan. Lalu dia apa? Bukankah mereka satu produk yang di cetak di mesin yang sama—walau beda tahun produksi.


“Lihat Bal. Ayah suka melucu. Hihi.”


Laju kendaraan yang pelan, membawa mereka terus fokus mencari Stevie yang kabur. Sialnya, dari semua pejalan kaki di kota ini, tidak ada seorang pun yang mereka kenal.


Bahkan sempat beberapa kali Dinda menghubungi Stevie, namun gawainya tidak terhubung. Mungkin Stevie mematikan ponselnya.


Jalan terus menyusuri bahu jalan di kota ini, membuat mereka harus bersusah payah. Pasalnya, bekum nampak bulu hidung wanita itu di pelipis mata mereka.


Hingga mobil mereka tiba di Yangpu bridge, jembatan yang menghubungkan dua sisi kota Shanghai. Di sana, mata Dinda agak cekatan.


“Itu sepertinya kak Stevie.” Dinda menunjuk. Di depan mereka samar-samar memang seperti Stevie, wanita yang berdiri di pinggir jembatan.


Dia memanjat pembatas jembatan, seakan dia ingin bunuh diri layaknya di drama Asia.


“Iya. Itu kak stevie.” Dinda berkata yakin, setelah melihatnya dengan jelas.


“Kita kesana.”


Steve menepikan mobilnya di pinggir jalan. Mereka menghampiri Stevie yang terlihat seperti ingin mengakhiri hidupnya.


Angin malam kencang-kencangnya, membuat rambut Stevie yang tergerai—berurai manja bak di kipas oleh pengering rambut.


“Kak Stevie!” teriak Dinda.


“Kenapa kalian ke sini?” tanya Stevie.


“Kami mencari kakak. Kakak pergi, membuat Mama menjadi down.” Steve memberitahu.


Stevie turun dari tempat yang dia panjat. Nekatnya Stevie, membuat dua orang itu deg-degan.


“Ayo kak, pulang. Kakak tidak boleh mengakhiri hidup seperti ini. Semuanya bisa di bicarakan baik-baik.” Dinda mencoba meyakinkan Stevie. Wanita ini memang keras kepala.


“Aku tidak mau. Biarkan saja aku mati dari pada harus menikah. Aku benci di jodohkan.”


“Kak,” Steve mengerengkuh. “Kakak tidak boleh egois seperti ini. Kakak harus membuka hati kakak perlahan untuk Jackson. Kakak harus mencobanya. Tidak harus dengan cara seperti ini.”


“Aku tidak mau. Sekali lagi ini adalah keputusan terakhir. Aku tidak akan mau menikah dengannya.”


“Kak!” kembali Steve dengan raut wajah hampir menyerah. “Jika kakak mencoba mengakhiri hidup seperti ini. Meloncat ke bawah, aku pastikan nama kakak tidak akan pernah aku sebutkan pada Iqbal—kalau dia memiliki seorang Tante yang baik hati. Tidak akan pernah aku menceritakan kisah hidup kakak padanya. Aku pastikan, kakak benar-benar luput dari ingatan kami.”


Eh. Stevie mengerjapkan matanya. Dia melihat Iqbal sebentar, kemudian melihat Steve dan Dinda. Tidak tahu apakah Steve sedang mengancam, dia bingung.


“Apakah itu sebuah ancaman?” tanya Stevie.


“Terserah kakak mau menanggapinya seperti apa. Aku hanya bisa memastikan kakak tidak ada riwayat kehidupan di dalam ingatan kami.”


“Steve....”


“Kak. Aku tidak butuh penyangkalan kakak. Jika kakak nekat melompat ke bawah. Maka kita sudah putus hubungan seiring berlalunya malam dari jembatan Huangpu.”


Ah. Ngeri. Steve sudah mengancamnya dengan kata-kata sarkas yang membuat Stevie mati kata. Merinding rasanya saat adiknya sendiri tidak memihaknya. Bahkan dia sendiri memaksa dirinya untuk menikahi Jackson. Adik Lucknut.


“Haruskah kakak.....”


Wanita ber-dress hitam ini, tiba-tiba berhenti bicara kala dari belakang Steve—pria yang dia hindari datang. Bahkan turun dari mobil pun, dia membanting kasar pintu mobilnya.


“Stevie!” teriaknya dengan nada cemas bercampur puas karena telah menemukan mereka di pinggir jembatan.


Steve dan Dinda menoleh. Ternyata Jackson juga datang. Pria tampan satu ini nampaknya baru saja mendapatkan kabar kalau Stevie kabur. Buktinya, dia bisa tahu kalau mereka ada di sini.


“Untuk apa kamu datang ke sini. Aku tidak mau melihat kamu!”


“Vie.” Jackson mendekat perlahan, mencoba menenangkan Stevie. Sementara Stevie makin mundur hingga terjebak di pembatas jembatan. “Vie. Tolong jangan nekat. Aku tahu kalau kamu tidak mau menikah dengan ku. Itu bukan berarti kalau kamu akan membenci ku seperti ini. Kita bisa bicarakan baik-baik. Dan aku akan katakan pada Papa mu, kalau kita tidak akan menikah. Aku mohon, kamu kembali bersama ku.”


“Tidak. Itu hanya akal-akalan kamu saja.”


“Tidak Vie. Aku berkata jujur.”


“Kak Stevie. Coba dengarkan dahulu Jackson.” Steve menyahut, “Coba kak Stevie lihat, apa kak Stevie rela meninggalkan kami yang mencintai kakak. Iqbal, Dinda, aku, Mama, Papa dan semua orang. Kami tidak mungkin membuat Kakak menderita. Sungguh.”


“Benar vie.” Jackson senada, “Aku janji. Aku tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengan ku. Itu janji ku untuk mu. Ayolah kita pulang.”


Stevie mendengus, dia memasamkan wajahnya. Kesebalannya sudah di ambang pintu kemarahan.


“Itu tidak akan terjadi. Dari pada aku kembali pada kalian. Lebih baik aku mati, agar aku tidak menderita seperti ini lagi.”


Senyum kecut di wajah Stevie, membuat ketiga orang itu was-was. Utamanya Steve, dia paling paham mengenai Kakaknya yang ambisius.


“Kak. Apa yang hendak kakak lakukan?” tanya Steve.


Stevie tersenyum miring. “Maaf. Seharusnya sejak awal kakak mati saja. Agar kejadian seperti ini tidak ada. Selamat tinggal.”


“Kak Stevie!”


Gila. Stevie melompat ke bawah. Dia nekat, padahal Stevie tahu. Sungai Huangpu airnya amat dingin. Terjun dari ketinggian, seakan nyali Stevie tidak kendur.


Jackson gerak cepat. Dia mencoba meraih tangan Stevie, namun sayang dia sudah terjun ke bawah.


“Aku akan menyusul Stevie. Jika kami tidak selamat, mohon kalian memakamkan kami di satu tempat. Aku hanya ingin beristirahat di dekat Stevie.”


Kata-kata terakhir Jackson ini membuat Steve merinding parah. Orang itu juga nekat. Usai berkata, Jackson ikut melompat ke bawah, kegilaan itu membawa pria ini masuk ke jurang yang sama—seperti yang di lalui oleh Stevie.


“Mereka gila!” gerutu Dinda. “Bagaimana mereka bisa melakukan ini.”


Steve angkat bahu, perjuangan mereka di luar atas wajar.


“Aku akan menelpon polisi. Kita perlu bantuan.”

__ADS_1


__ADS_2