
Drrtttttttt....
Dering telepon bergetar keras dari mini bag Dinda yang berwarna merah muda.
Ia menjawab panggilan telepon itu. Pikir Dinda tidak sibuk dan tidak menggangu aktivitasnya. Sehingga ia menjawab telepon dengan suka cita.
"Halo! apa? sejak kapan kalian sampai! baiklah kakak akan segera tiba! kalian tunggu saja di rumah." Ucap Dinda menjawab telepon lalu mengakhirinya.
"Siapa yang menelpon?" Stevie menyela bertanya.
Dengan senyum manis Dinda menjawab, "Bukan apa-apa kak. Hanya adik-adik ku saja yang menelpon."
"Oh ternyata adik mu? aku pikir telepon mendesak!" seru Stevie sedikit lega, karena pikirnya terjadi sesuatu.
"Tidak! tidak! tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja aku ingin berpamitan pulang sekarang. Lebih baik aku pergi dulu karena adik-adik ku sudah menunggu di apartemen."
"Kamu ingin pulang sekarang?" tanya Stevie lagi.
"iya."
"Kalau begitu biarkan Steve mengantarkan kamu pulang," ucap Stevie seraya menyikut Steve sebagai kode agar mengantarkan Dinda pulang.
"Tidak perlu kak. Aku bisa pulang sendiri." Dinda merespon dengan cepat.
"Berani menolak perintah ku, akan aku anggap ini sebagai sebuah penghinaan!" seru Stevie sedikit galak.
"Tapi kak..."
"Tidak ada tapi-tapi. Sekali aku mengatakannya maka tidak ada negosiasi dan penolakan. Aku benci penolakan." Tegas Stevie dengan gaya bicaranya yang khas.
"Cepat antarkan Dinda pulang sekarang. Adik-adiknya sudah menunggu," perintah Stevie pada adiknya Steve.
"Mengapa harus aku yang mengantarkannya? bukankah dia kesini sendiri? harusnya dia pulang sendiri juga." Steve pura-pura cuek dan memasang ekspresi wajah sewot.
Tetapi Stevie justru naik pitam dan marah atas jawaban Steve yang terlalu sok ingin di perhatikan.
"Oh jadi sekarang kamu ingin bilang bahwa dia bukanlah lagi tanggung jawab mu sebagai bos yang memperkerjakan karyawannya. Atau kamu mau bilang jika kamu ingin pura-pura cuek lalu membuat aku marah begitu!" Stevie menuntut marah.
"Wanita ini selalu saja memerintahkan aku seenaknya saja. Jika bukan kakak ku mungkin aku sudah membuang dia ke sungai Nil agar menjadi santapan buaya lapar. Setidaknya ini mengurangi beban ku." Gerutu Steve dalam hati mengumpat kakaknya.
"Tidak perlu mengumpat ku dalam hati. Katakan ingin mengantarnya sekarang atau memilih aku memukul kepala mu agar otak mu mulai paham!" Stevie dengan keahliannya, mampu membaca isi pikiran jahat Steve yang sedang mengumpat dirinya dalam hati. Ia merasakan hal itu dari raut wajahnya yang sedikit suram menjengkelkan.
Steve sangat menginginkan hal ini, bahkan tidak di perintahkan kakaknya sekali pun ia pasti akan melakukannya. Ia menantikan hal ini, mengantar gadis kecilnya dan ingin menyiksanya dengan bibir kotornya itu. Senyum licik mengembang di wajahnya menghiasi pikiran kotor yang meradang.
"Baiklah. Aku akan mengantar Dinda pulang." Jawab Steve pura-pura terpaksa. Kakaknya terlalu garang, sehingga membuat Steve lagi-lagi menelan ludah kesengsaraan penuh ancaman. Tetapi sejujurnya ia menikmati drama yang di buat kakaknya.
"Bagus. Itu baru seorang pria yang sangat jantan dan bertanggungjawab. Ya sudah antarkan dia pulang sekarang," Stevie bicara seraya mengelus rambut di tengkuk belakang kepala steve.
Pikir Stevie adiknya ini sangat menurut mirip leo, si kucing Persia yang sering ia belai manja. Stevie seolah berkuasa atas segala apa yang adiknya lakukan. Ia bangga pada dirinya karena berhasil membuat adiknya patuh.
__ADS_1
Dinda terkekeh kecil kala melihat kegalakan kakaknya pada Steve yang selalu ingin ia hindari bahkan tak ingin mata sebelah pun di lihat. Ia bahkan tak percaya jika seorang pria pemarah dan posesif bisa patuh begitu saja kakaknya. Drama adik kakak ini membuat Dinda sedikit terkocok perutnya.
"Ayo berangkat, aku akan antarkan kamu pulang sampai rumah mu," ucap Steve dengan jarak bicara yang amat dekat.
Sangat dekat, sampai-sampai nafas Steve menyeruak masuk kedalam hidungnya. Tidak bau, tapi cukup wangi bahkan bisa di jadikan pengharum ruangan jika itu memungkinkan karena rajinnya pria ini merawat diri.
Senyumnya yang licik mulai mengembang di wajah Steve. Karena ia tahu tanpa di perintahkan oleh kakaknya pun ia pasti akan melakukannya. Bahkan senang hati ia akan mengantarkannya. Inilah Steve, pura-pura menolak dan cuek tetapi hatinya berkata ia ingin melakukannya.
Bukan munafik, tetapi Steve ingin menikmati alur tarik ulur ini. Dia merasa tertantang.
Namun tetap saja, Steve harus menyembunyikan liciknya pemikiran itu dengan tingkah pura-pura garang dan kasar.
Jika tidak? orang-orang akan melihat bahwa ia pria yang lemah, di budak oleh cinta.
Steve beranjak dari kursinya, lalu menarik Dinda. Ya, Steve menarik Dinda dengan kasar seperti biasanya dan Steve pikir itu hal biasa karena Dinda sudah beberapa kali menerima pegangan kasar itu.
Tetapi Stevie yang melihat kejadian itu, justru dirinya yang geram atas tindakan adiknya yang ia nilai terlalu kasar pada wanita.
"Hei!" pekik Stevie menyela langkah kaki keduanya.
Steve menengok ke arah kakaknya, pikirnya ada apa lagi wanita cerewet itu menghentikan langkah mereka.
"Apa begini cara mu memperlakukan wanita. Kamu selalu bertindak kasar. Kamu memegang tangannya terlalu keras!"
Steve menyadarinya, maka dengan cepat ia melepaskan pegangan tangannya.
"Bahkan pegangan tangan pun ia perhatikan. Apakah dia ini pengamat hubungan atau seorang pengawal gadis kecil ini. Mengapa dia selalu melakukan hal-hal seperti ini." Umpat Steve dalam hati.
"Romantis seperti apa? bahkan kami belum berkencan? jadi tidak ada hal yang perlu di romantiskan." Steve mulai bersuara namun ia tak peka seperti yang diinginkan kakaknya.
"Anak ini masih belum paham apa itu sisi romantis. Aku ingin menghajarnya jika aku sedang gelap mata!" geram Stevie menahan amarah di dada. Ia ingin sekali mengumpat adiknya bersama ibu-ibu di sekitar komplek agar pikirannya bisa tenang karena berbagi sebuah gosip hangat. Namun sayang ia tak ingin melakukan hal ini.
Ia menarik nafas dalam-dalam karena lelah terus-menerus memperingati adiknya agar peka. Pusing, itulah yang ia rasakan kala menghadapi tuan pemarahnya.
"Mengapa harus menunggu berkencan jika ingin melakukan hal-hal romantis? aku pikir kamu adalah pria yang hanya bertingkah introver dan pemarah saja, tetapi juga kamu lebih idiot. Idiot mu itu bahkan jauh lebih idiot lagi dari Mr. Bean." Stevie berujar sewot.
"Lepaskan jas mu!" perintah Stevie semaunya.
"Untuk apa?"
"Lepaskan dan selimuti bahu Dinda."
Keduanya berdebat pada hal-hal terkecil yang tidak penting. Sungguh bagi Dinda kelakuan kakaknya dalam mengatur Steve luar biasa hebat. Bahkan ia perlu belajar pada Stevie dalam memonotize adiknya.
"Cepat lepaskan. Atau aku sendiri yang akan melepaskannya!"
"Baiklah aku akan melakukannya." Balas Steve sewot.
Steve dengan serta Merta melepaskan jas hitam kebanggaannya. Ia memasangkan jas itu ke bahu Dinda.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot Pak. aku nyaman dengan pakaian ku saat ini!" Dinda mencoba menolak karena merasa tidak enak hati, tetapi Steve tetap melakukannya karena ia juga tak tega melihat gadis kecilnya kedinginan.
"Dengarkan ucapan kakak ku jika kamu masih punya hati. Jika tidak ratu Mesir itu akan mengutuk ku. Kau paham!" bisik Steve di telinga Dinda. Ia berbisik pelan penuh rayuan.
Lagi-lagi daun telinga Dinda memerah dan geli karena menahan berahi yang menggelora.
"Pria ini pasti sengaja melakukannya. Pria mesum!" seru Dinda. Batinnya ingin sekali menampar wajah Steve yang nakal, namun apa daya dia hanya seorang gadis kecil yang tak punya uang banyak.
melakukan hal ini sama saja dengan menjerumuskan dirinya dalam jurang api neraka yang amat dalam.
"Kak aku pulang dulu. Selamat malam kak." Dinda berpamitan dengan sopan.
"Oke. Hati-hati di jalan, dan hubungi aku jika pria pemarah ini ugal-ugalan dalam berkendara. Mengerti!" peringat Stevie.
Dinda mengangguk dengan senyum manis dan meninggalkan rumah beserta penghuninya.
Steve benar-benar merasa seakan seperti sedang dalam sebuah drama film televisi saat menyaksikan keduanya. Sok manis dan sok akrab, itulah yang Steve umpat pada keduanya.
Di dalam mobil Steve mengemudi kendaraannya dengan laju sedang.
Sementara Dinda yang duduk di sebelahnya melirik sepasang mata yang sedang fokus itu. Steve penuh tanda tanya? itulah yang ia pikirkan. Ingin rasanya Dinda tahu masa lalunya yang penuh lika-liku ini.
Ia bertindak kasar, cuek bahkan suka bar-bar namun di hadapan kakaknya ia sangat patuh bahkan jauh dari kesan kasar.
Dinda melihatnya sebagai seorang pria yang sempurna dari segi apa pun tak ada bandingannya, kecuali adik-adiknya yang ia anggap menyamai ketampanan Steve. Steve patuh membuat Dinda sedikit bahagia, karena ini kali pertamanya ia menyaksikan hal ini. Dinda sungguh di buat terpana pada sikap Steve.
Tak terasa mobil yang di kendarai oleh Steve tiba di apartemen Dinda.
Dinda keluar dari mobil Steve seraya berkata, "Terima kasih Pak Steve atas tumpangannya hari ini."
Steve mengangguk mengiyakan ucapan Dinda.
"Maaf Pak! aku ingin mengembalikan jas Bapak."
Steve tersenyum kecil melihat gadis kecil itu ramah. Ia merasa puas hari ini karena gadis itu patuh bahkan tidak seperti hari biasanya. Dimana ia selalu saja membuat dan mematahkan trik kotor Steve.
Seperti di malam saat pertama kali ia memasak di rumahnya. Dinda mematahkan tak tik kotornya sehingga Steve merasa sedikit bergidik jengkel. Namun hari ini ia tidak melakukannya. Steve sedikit bangga.
"Ehm!" Steve pura-pura bertingkah berwibawa bak seorang yang paling di segani.
"Aku tidak menginginkan jas itu lagi. Kamu bisa menyimpannya sebagi kenang-kenangan dari pria tampan. Atau ketika kamu membutuhkan kehangatan seorang pria, kamu bisa menjadikan jas ini sebagai pelampiasan mu." ucap Steve narsis.
"Tapi Pak...."
"Ingat ucapan kakak ku. Aku benci penolakan!" tegas Steve seraya meniru gaya bahasa kakaknya.
Lalu ia kembali masuk kedalam mobilnya dan tak ingin berlama-lama berada di sekitar apartemen. Puas, itulah yang ia rasakan hari ini.
Dinda terpaku melihat tingkah pria ini. Dia terkadang bertindak manis dan kadang juga membuat dirinya geram. Dinda di buat bingung atas perilaku Steve yang begitu berbeda-beda di setiap situasi. Tidak konsisten menjaga sikap.
__ADS_1
Tanpa di sadari Dinda mulai memikirkan pria ini. Ia belum beranjak dari area parkiran dan masih menyaksikan mobil Steve yang baru saja keluar dari area apartemen ini.
BERSAMBUNG