
“Setelah aku di remehkan, barulah kalian sadar kalau aku berbahaya.” Corona berargumentasi.
_____________________________________________
“Dinda!”
Steve terperangah saat melihat istrinya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tadi Steve sempat khawatir berlebihan, sebab Dinda masih belum ada kabar.
Sekarang dia baik-baik saja. Steve mendekati istrinya yang terbaring tak berdaya. Kecemasan itu membuat Steve akhirnya bisa bernafas lega.
“Sayang. Kamu sehat-sehat saja?”
Steve memastikan kalau istrinya tak mengapa. Ketika Steve sudah hadir di ruangan bersalin ini, Dinda amat senang. Di tengah kerjaan yang padat, Steve masih sempat-sempatnya datang menemuinya.
“Kamu membuat aku hampir tidak bisa bernapas. Kamu hampir membuat aku gila tadi.”
Lebay ikh. Cuma ngelahirin doang. Belum meninggal, bucin akutnya di kondisikan mas Steve. Malu di lihat para suami yang lain di luar sana. Ehe.
“Aku nggak apa-apa kok. Aku baik-baik saja. Ini semua karena dukungan semua orang.”
Tidak peduli yang lain, Steve mencium kening Dinda haru. Sang istri akhirnya bisa melahirkan dengan selamat, bersama bayi yang sudah lama di nantikan.
Suara bayi memecah suasana kebahagiaan. Steve benar-benar ingin menangis bahagia rasanya. Apalagi bayi kecil itu sudah ada di depan mata.
“Ini bayinya Pak. Sudah kami mandikan.”
Suster yang tadi membersihkan putranya dari sisa-sisa darah persalinan, kini memberikan bayi mungil itu kepada Steve.
Tangan-tangan lembut nan kecil sang bayi di tambah suara tangisannya yang baru saja usai. Kini menambah suasana bahagia si pria garang ini.
“Lihat sayang. Bayi kita sangat tampan.”
Steve menunjukkan bayinya pada Dinda, dan sang istri tersenyum bahagia.
“Baru saja punya anak. Bahagianya nggak bisa di kontrol.” Stevie berdelik. Dia mencoba memprovokasi sang ayah bayi memalui mulut kasarnya. Omelan itu, selalu mengusik dirinya.
Namun Steve apatis. Dia tidak memperdulikan ucapan kakaknya itu.
Niko dan Miko yang melihat bayi kecil nan mungil ini sudah muncul ke permukaan bumi, kini ikut girang.
“Syukurlah. Calon penerus pria pemarah sudah keluar. Semoga besar nanti tidak menendang om ya kalau om punya salah.”
Celetukan Miko ini sontak membuat seisi ruangan mendengus tertawa. Miko, kelakuannya memang ada-ada saja. Dia mencoba ikut memprovokasi ayah bayi melalui sindiran.
Mereka semua memperhatikan bayi kecil yang tengah menguap mengantuk ini. Matanya terpejam, tidak mau membuka.
“Ya ampun. Benar-benar deh. Aku yakin, keponakan kecil ini pasti besarnya nanti sombong. Sampai-sampai tidak mau membuka matanya melihat dunia.”
Niko mencubit pelan pipi bayi kecil. Dia ikut gemas melihat sang bayi yang kini terlelap di gendongan Ayahnya.
Ibu Yuri membantu Dinda mengelap keringatnya. Putrinya itu susah payah melahirkan putranya. Dan ini menjadi kelahiran pertama Dinda.
“Kamu nggak ada keluhan sama sekali nak setelah melahirkan bayi ini?” tanya Ibu Yuri pelan.
Dinda menggeleng, mulutnya mulai berkata menjawab. “Nggak kok Bu. Dinda nggak ada keluhan apapun saat ini.” Walau tadi dia masih agak lemah kehabisan tenaga.
“Baguslah. Kalau kamu merasa sakit di bagian tertentu. Cepat katakan pada Ibu ya. Biar bisa segera di tangani dokter.”
Dinda hanya mengangguk. Seusai melahirkan, Dinda jadi banyak diam. Dia malas bicara, sebab semua tenaganya sudah terkuras semua. Namun pandangannya tetap fokus pada satu hal.
Yaitu suami dan anaknya. Steve tengah tersenyum bahagia, sebab menjadi yang pertama menggendong bayi mereka.
__ADS_1
“Uh. Bayinya ganteng banget. Gemes lihatnya.”
Stevie menyela. Dia ingin mencubit pipi putra Steve ini, namun Steve lebih dulu menampik tangan Stevie.
“Tangan kakak banyak kuman. Sebelum menyentuh putra ku, sebaiknya cuci tangan yang bersih dulu.”
Wah penghinaan besar bagi Stevie. Memang Stevie belum mandi apalagi cuci muka. Cuci tangan pun tidak. Tapi bukan berarti Stevie akan sejorok itu.
“Hei. Kamu serius menghinaku seperti itu?”
“Memang pada dasarnya begitu. Kakak tidak boleh menyentuhnya. Aku tidak akan mengizinkannya.”
Stevie men-decak sebal. Semua ini karena Dinda yang memaksanya datang kerumah sakit tanpa merias wajah dahulu. Jangankan merias wajah, mandi pun tidak. Hanya sikat gigi, dan itu beruntung Stevie lakukan tadi pagi. Tidak tahu, apakah belek masih menempel ada di matanya atau tidak. Dia masih tidak berpikir terlalu jauh ke sana.
“Lihat sayang. Dia tidak rewel. Dia tidak menangis,” kata Steve pada Dinda. Dia mencoba memamerkan jagoannya pada sang Ibu bayi. Dinda tersenyum, sementara yang lainnya memperhatikan.
“Sepertinya bayi kecil ini meniru Nak Steve. Seingat Ibu, saat melahirkan Dinda. Selagi bayi dia menangis terus. Tapi bayi ini tidak. Ibu rasa dia mengikuti sifat Ayahnya yang kuat.”
Steve tersipu malu dan merona. Ibu Yuri mencoba membandingkan dia dan putranya. Jelas, mereka satu keturunan. Putranya itu adalah produk ciptaan Steve, dan dia juga pernah bilang: “Kalau anak-anaknya nanti harus mirip dengannya dalam segala hal.” Itulah kenapa Steve dengan bangga ingin memamerkan kepada dunia kalau dia sudah memiliki jagoannya sendiri. Bukan jagoan neon yah.
“Masih kecil saja hidungnya sudah tajam. Sungguh bibit unggul nih,” ucap Niko yang terus memperhatikan.
Sudah lama bagi Niko tidak pernah melihat bayi kecil. Rasanya melihat bayi Dinda yang baru lahir ini, semua orang ikut bahagia.
“Ngomong-ngomong, siapa nama bayi ini kak. Rasanya nggak enak banget kalau hanya memanggil bayi.”
Oh. Steve hampir lupa memberitahu nama putranya. Karena begitu bahagia, dia sampai melupakan pokok penting ini. Beruntung, Miko menyadarkannya.
“Namanya Joseph Al-Iqbal Wong. Kalian bisa memanggilnya Iqbal.”
“Terus. Kalau teman-temannya nanti memanggil?” Stevie menyahut. “Wong, atau.....”
Oh. Stevie ingin mengakui kalau nama itu agak kuno. Tapi apalah daya. Namanya sudah di sebutkan.
Steve berulang kali mencium putranya. Aroma bayi membuat Steve enggan melepaskan sang bayi. Namun itu tidak lama. Karena perawat yang mengurus persalinan dan bayi Dinda, datang ingin membawa bayi.
“Maaf Pak. Ini waktunya bayi masuk kedalam ruang inkubator,” kata perawat pada Steve. Namun Steve melongos, alih-alih memberikan bayinya pada perawat.
“Kenapa harus masuk ruang seperti itu. Bukankah sama saja kalau anakku di sini saja bersama Ibunya.”
Perawat menggeleng. “Bayi yang baru lahir agak sensitif. Di takutkan karena terinfeksi kuman, daya tahan tubuh bayi akan menurun.”
Steve melirik Dinda. Tidak rela jika harus berpisah dengan putra kecilnya. Steve mengerutkan keningnya, Dinda paham maksud isyarat kening dari Steve.
“Biarkan bayinya di masukkan ke ruang inkubator. Di sana steril.”
“Bagaimana kalau bayi kita di tukar dan di culik. Kamu tahu, hal semacam itu sering terjadi di rumah sakit.”
“Ini bukan di film-film bambank,” sahut Stevie. Dia agak geram, namun juga ingin terkekeh pada Bapak bayi yang protektif. “Itu tidak akan terjadi. Di sini ada kamera cctv. Nggak usah ngaco deh.”
“Benar apa yang nak Stevie bilang. Rumah sakit ini aman,” sambar Ibu Yuri membenarkan. Di ikuti anggukan oleh Miko dan Niko. Mereka setuju pada kedua wanita yang berkata mengenai pemahaman ini.
“Jika kak Steve perlu. Aku akan mengawasi Iqbal dua kali dua puluh empat jam.” Miko menawarkan jasa. Dia dengan senang hati melakukannya.
Ya. Terpaksa bagi Steve harus melepaskan putranya pada perawat. Walau berat, namun semua orang berkata harus di masukkan ke ruang inkubator ini.
“Jaga dan rawat putra ku. Awas, jangan sampai dia kenapa-kenapa. Jika itu terjadi, akan aku tuntut rumah sakit ini. Kalau perlu, akan aku robohkan bangunan ini,” kata Steve pada perawat.
Ancaman bernada nyeleneh ini, membuat perawat terpekik ingin terkekeh. “Kami akan melakukan yang terbaik. Bapak tidak perlu khawatir akan keamanan Putra Bapak.”
Perawat keluar, dan Steve terlihat makin lesu. Sungguh, dia kalau bisa tidak mau anaknya ada di ruang NICU. Tapi—Sudahlah. Steve tidak bisa membantah.
__ADS_1
Steve duduk di sebelah Dinda, wajahnya memerah padam. Terlihat benar, kalau suaminya ini agak kesal bukan kepalang. Namun bisa di tahan.
“Anak kita sehat-sehat saja. Kenapa harus di masukan di ruang NICU segala.”
Dinda tersenyum ramah, kala suaminya membisik pelan. “Meskipun dia sehat-sehat saja. Iqbal juga butuh kehangatan. Di sana dia akan hangat, di tambah ruangannya steril. Anak kita pasti akan terhindar dari penyebaran infeksi virus.”
Oh. Wajah Steve terlihat lesu. Baru beberapa menit di tinggalkan putranya, dia merasa sudah berat.
“Baiklah.”
****
Stevie berdiri di depan ruang NICU. Dari balik layar handphonenya, dia memamerkan bayi kecil yang baru lahir itu pada Ibunya.
“Mama lihat. Iqbal terlihat tampan. Mirip Steve kecil,” ucap Stevie pada Ibunya.
Sang Ibu tersenyum bahagia, walau terhalang jarak dan bayi kecil yang terbungkus inkubator. Tak ayal, Ibu Diah merasakan kebahagiaan kala melihat putra Steve ini.
[“Mama ingin melihatnya. Tapi Mama tidak bisa kembali Jakarta sekarang.”]
“Mama tahan saja di sana. Jangan ke Indonesia. Nanti Stevie akan selalu menghubungi Mama mengenai perkembangan Iqbal. Oke Ma. Jangan ngeyel, demi keselamatan Mama.”
Gawat kalau sang Ibu datang ke Indonesia. Stevie sudah bergedik ngeri. Pasti jika Ibunya datang ke Indonesia, maka Ayahnya datang juga. Stevie tidak mau mengambil resiko mengenai hal ini. Pernikahan, itu sudah pasti terjadi jika Tuan Wong sudah turun tangan.
[“Iya Mama tidak akan ke Indonesia. Kamu di sana bantu Dinda jaga putranya. Jangan sampai cucu Mama kenapa-kenapa.”]
“Siap Ma!” balas Stevie. “Jangan khawatir. Mama akan tahu perkembangan si kecil di sini. Mama yakin saja pada Stevie.”
[“Ya sudah. Mama matikan dulu teleponnya. Kalian jaga kesehatan di sana.”]
“Oke Ma!”
Ah. Lega. Sebenarnya Stevie sudah takut. Suer, kalau orang tuanya datang, maka Stevie akan ikut pulang ke Shanghai. Dan........
“Ah gawat. Aku tidak mau di paksa menikah!”
“Siapa yang akan menikah kak?”
Miko berdiri di belakang Stevie. Dia cukup mendengar suara wanita ini yang terlihat cemas.
“Bukan siapa-siapa,” balas Stevie beralih. Lalu pergi meninggalkan ruangan yang di tunggu oleh Miko.
Aneh.
****
Sejak siang, Steve terus berada di rumah sakit. Dia enggan pulang, walau Dinda memintanya.
Pasca melahirkan, Steve terus berada di sisi Dinda. Hingga malah hari ini, Steve tetap di sana. Padahal di sana sudah cukup ada Stevie, Niko dan Miko serta Ibunya. Tapi dia bebal, tidak mau sama sekali.
Dinda ingat, tadi pagi dia memasak untuk Steve. Pastilah makanan yang dia masak itu akan terbuang sia-sia.
“Terima kasih sayang. Terima kasih sudah melahirkan anak kita dengan selamat.”
Steve mengambil satu tangan Dinda, lalu menanggalkannya dia pipi. Punggung tangan Dinda dia usap lembut di pipinya. Dinda tersenyum, suaminya ini sangat perhatian.
“Aku juga senang karena bisa melahirkan bayi kita dengan selamat. Semua itu karena aku ingat kamu dan bayi kita.”
“Aku sudah bilang sejak awal. Kamu pasti bisa melewatinya. Dan Syukurlah, kamu berhasil melewati fase menyusahkan ini. Aku benar-benar bersalah karena membuat kamu menderita.”
BERSAMBUNG
__ADS_1