UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 131


__ADS_3

"Apa kau terkejut melihat kedatangan ku!" ucap Steve dengan santainya mendekati Tony Kim. Dengan pakaian rapi, jas hitam yang lembut itu membuat pesona Steve memang tak bisa di ragukan kalau dia benar-benar pria penuh misteri.


"Bagaimana kau bisa selamat dari tembakan ku. Juga kau bisa selamat dari sengatan listrik yang telah aku lakukan pada mu. Apakah aku salah menembak mu kala itu." Tony Kim nampak kebingungan. Belum sampai seminggu berita mengenai tentang Steve yang sekarat, namun kali ini dia sudah hadir di hadapannya.


Baru beberapa hari yang lalu pikirnya dia mendapatkan kabar kalau Steve akan cacat seumur hidup. Tapi kenapa sekarang....


"Kau tidak salah. Hanya terlalu bodoh untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah." Steve berkata menipulatif, ah sensasi ini yang ingin Steve rasakan.


Bagaimana dia bisa melakukannya. Aku yang salah? Bagaimana bisa. Jelas-jelas aku sudah menembaknya. Bahkan dia sendiri sekarat. Rahasia apa yang dia buat di balik kejadian ini.


"Tidak mungkin kalau bocah cecunguk seperti mu terkena tembak mainan. Aku sendiri melihat kau hampir mati. Kau pasti sudah memanipulasi keadaan!"


Steve menyungging melicik. Bukan hal yang sulit baginya untuk bangkit dari kematian. "Kau kira hanya kau saja yang memiliki akal cerdik," ucap Steve dengan angkuhnya. Seperti sebelumnya, Steve tidak ada ubahnya dalam bertindak. "Kau lupa. Di usia ku yang kedelapan belas tahun, aku sudah membawa bisnis keluarga ku bisa sukses. Semua itu aku lakukan karena terencana dan terorganisir. Sama dengan hari ini. Aku melakukannya terencana dan tersusun rapi agar tidak melakukan hal-hal yang ceroboh."


"Cih. Bocah cecunguk sialan. Jika tahu kau saat ini masih hidup, pada malam itu seharusnya aku menembak kepala mu!" kata Tony Kim yang mulai menggeliat geram.


"Saat ini aku sudah di hadapan mu. Kenapa tidak kau tembak saja kepala ku?"


Steve menantang, dia tidak takut kalau Tony Kim akan menembak kepalanya.


Dengan senang hati Tony Kim mengangkat pistolnya, membidik kepala Steve. Tapi, para detasemen khusus anti teror yang berjumlah puluhan itu—juga mengangkat Laras panjang mereka—Ikut membidik Tony Kim.


Alih-alih membidik Steve, justru Tony Kim merasa terancam.


Melihat dirinya sudah terkepung oleh puluhan anak peluru, Tony Kim sudah merasa ngeri. Ah, pikirnya sangat sial hari ini. Tidak pernah di bayangkan kalau dia akan menjadi lelucon bocah yang di anggapnya kesialan ini.


Steve mengangkat tangannya, tanpa berkata, dia memerintahkan para petugas itu menurunkan senjata mereka masing-masing. "Penjahat seperti dia tidak perlu di balas dengan tembakan," katanya meledek.


"Kurang ajar. Kau mungkin bisa selamat dari ku di malam itu karena kebodohan ku yang tidak langsung melenyapkan mu. Namun, kali ini, akan aku buat kalian menyaksikan kalau Tony Kim patut di juluki penjahat berdarah dingin."


Steve tidak lupa kalau ada Vanya di sisi Tony Kim sebagai tawanan. Hanya gertakan semata, Steve tidak takut kalau harus Vanya yang meninggal.


"Kau ingin menembaknya?" tanya Steve. Pria ini berkata agak serius, tidak ada keraguan sedikitpun. "Kau yakin akan menembaknya?"tanya Steve kembali. "Jika kau yakin, tembak saja. Kami tidak merasa kehilangan pun jika dia mati."


"Pak Steve, anda....." Vanya tak menyangka kalau Steve datang bukan membantunya, tapi malah menyuruh Tony Kim menghabisinya.


"Ssstttt..." Steve mendesis, berjalan perlahan mendekati Tony Kim yang berdiri di pinggir rooftop. "Kamu pikir aku datang ingin menyelamatkan kamu. Jangan pernah berharap kalau aku akan melakukannya."


Langkahnya yang perlahan itu, membawa Steve berdiri tepat di samping Tony Kim. Steve berbicara, seakan Tony Kim yang memegang senjata bukanlah sebuah ancaman. Steve memasukan tangannya di dalam saku celananya, lalu memandang hamparan gedung-gedung di depannya.


"Kau tahu," Steve melanjutkan bicaranya. "Malam dimana kau menembak ku. Saat itu aku menggunakan rompi anti peluru sebagai antisipasi. Dan aku juga menambahkan tiga kantong darah di dalam baju ku. Darah-darah itu aku beli dari rumah sakit sesaat sebelum peristiwa berdarah itu terjadi. Hasilnya, kau bisa melihatnya sendiri, kalau aku masih selamat."


Steve memberitahu dan menjelaskan kepada Tony Kim, bahwa dia satu langkah lebih maju dari pada si pria bercodet ini. Walau Steve agak jijik kala mengingat darah-darah orang lain membasahi bahkan mengotori kemeja putihnya kala itu. Namun, dia berusaha menahan rasa jijiknya itu, sebab dia harus totalitas menjalankan perannya.


"Ternyata kau jauh lebih licik dari yang ku duga rupanya." Suwer, Tony Kim baru tahu prihal ini. Steve sudah tahu kalau dirinya akan bertindak, sebagai tameng dia sudah menyiapkan semua ini.


"Sebagai pelengkap aktingku. Aku rela bertingkah pura-pura sekarat kala kau menembak puluhan peluru di tubuh ku. Apalagi sengatan raket nyamuk mu itu, sungguh tak mempan bagi ku." Steve menambahkan kata-katanya. Dia ingin memperjelas, kalau sebenarnya usaha Tony Kim ingin membunuhnya hanyalah sebuah kesia-siaan.


Ya, ya, ya. Tony Kim mengakui kalau dia ceroboh dengan tidak membunuhnya secara langsung. Akan tetapi— "Jika kau tidak bisa mati saat ini. Maka sebagai gantinya, ayah dan anak ini menjadi ganti nyawa mu yang belum sempat aku renggut itu. Mereka akan mati bersama ku!" Tony Kim menyerukan.


Sekalipun dia mengancamnya dengan menawan Vanya dan Tuan Heri, Steve tidak keberatan. Namun— "Kau harus mati!" ucap Steve yang entah sejak kapan sudah ada pistol di tangannya.


Tanpa ada aba-aba, Steve langsung menembak Tony Kim, hingga tepat mengenai dada pria itu. Walau tubuhnya bersembunyi di balik tubuh Vanya, tapi Steve sudah memprediksi kalau pelurunya tepat sasaran.


DOR!!


Peluru itu berakhir menyangsang dada Tony Kim. Sampai tubuh itu terpuruk dan tersungkur terjatuh.


"Dia terlalu banyak bicara," kata pria ini. Steve benci harus berkata panjang lebar. Inilah kenyataannya, kalau Tony Kim harus menerima bidikannya.


"Pak Steve. Kau?" Akibat tembakan yang lepas secara mendadak itu, Vanya menjadi traumatis dan terpaku. Belum selesai Vanya terkaget-kaget akibat peluru yang lewat di pelipis telinganya, Vanya sempoyongan. Sesaat kemudian dia tersungkur pingsan.

__ADS_1


Steve menyambut tubuh Vanya yang hampir terjatuh di lantai. Beruntung, Vanya tak terbentur di lantai yang keras. Steve memangkunya, tubuh wanita itu lemas tak berdaya.


Sedangkan Tony Kim yang sudah terkapar berdarah, perlahan merangkak mendekati pistolnya. Saat pistol itu sudah di tangan, dia membidiknya ke punggung Steve, walau agak berat baginya mengangkat benda berbahaya itu. "Aku.... pastikan kita akan mati bersama!" Tony Kim berkata agak terbata-bata, niatnya harus terpenuhi. Namun—


Belum sepenuhnya Tony Kim menarik pelatuk pistolnya, Steve lebih dahulu menembak tepat di kepala Tony Kim tanpa melihat wajahnya.


DOR!!


Suara nyaring yang merusak gendang telinga ini berakhir menyangsang di kepala Tony Kim. Kali ini, pria itu benar-benar mati.


"Dia patut menerimanya."


****


"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Miko pada adiknya. Mereka tiba di kontrakkan kecil Vanya. Baru saja tiba, belum genap dua menit. "Kamu tidak salah rumah kan."


Niko mengangguk, kontrakan kecil itu memang rumah Vanya. "Ketika hujan malam itu, aku yang mengantarkan kak Vanya pulang. Dan ini tempatnya," balas Niko.


"Tapi komplek di sekitar sini sepi." Miko celangak celingukan mencari orang-orang di sekitar. Walau ada banyak rumah kontrakan, tapi tak ada satupun orang di sekitar komplek ini.


"Pintunya terbuka Ko," sahut Dendy menyela. Ketika matanya tengah jengah melirik kesana kemari, dia menemukan pintu itu dalam keadaan terbuka tidak terlalu lebar.


Kedua mata adik dan kakak itu kompak menatap ke arah pintu, dan ya. Pintu itu memang terbuka, walau hampir tak tampak terbuka tadi.


"Kita masuk atau tidak?" tanya Miko pada keduanya.


Niko tanpa menjawab, dia lebih dahulu masuk ke dalam. Dia meninggalkan kakaknya dan Dendy yang banyak berpikir.


"Mau masuk saja harus banyak bertanya. Memangnya di dalam ada hantunya. Sampai-sampai harus di tanya segala." Sambil masuk kedalam kontrakan kecil itu, Niko tanpa sepengetahuan keduanya bergumam mengumpat. Ah, pokoknya kakaknya itu telat mikir. Apa-apa harus meminta persetujuan dan pendapat orang lain.


Ketika mereka ada didalam. Hal yang sama mereka rasakan. Kejadian yang di alami oleh Vanya, kini mengular pada ketiga anak itu.


"Kenapa ruangan ini sangat berantakan?" gerutu Miko. Tangannya kadang mengambil barang-barang yang tergeletak sembarang. Semisal vas bunga dan lain-lain lalu menepikannya di meja. "Sepertinya memang benar kalau penghuni rumah di culik," kata Miko menyanggah.


"Ini handphone kak Dinda kan?" katanya sambil menunjukan handphone yang baru saja dia temukan di sofa.


"Iya ini punya kak Dinda," Miko membalas. Dia mengambil handphone itu, di perhatikan dengan benar. Tetap saja, itu adalah handphone milik kakaknya. "Benar, ini handphone punya kak Dinda," ucap Miko memperjelas.


"Itu artinya, kak Dinda memang benar-benar dari sini tadi." Niko menebak-nebak, matanya melirik sekeliling ruangan yang tengah berantakan itu. Matanya agak jeli, lalu..... "Ini handphone kak Vanya," katanya lagi setelah menemukan barang itu tergeletak jatuh di bawah meja.


"Itu artinya, mereka pergi tidak membawa gawai, Ko," Dendy menyela berkata. "Coba cek handphonenya. Siapa tahu ada petunjuk."


Miko sependapat dengan Dendy, tanpa ragu dia mengecek handphone kakaknya. Tapi hasilnya nihil saat Miko mengeceknya. "Nggak ada apapun. Hanya panggilan dari kak Eva dan kak Vanya. Lalu, panggilan buat kak Steve yang tidak terhubung. Hanya ini saja yang ada di riwayat panggilan telepon kak Dinda."


"Masa sih Ko. Coba cek handphone kak Vanya. Siapa tahu di situ ada petunjuk lain," kata Dendy berinisiatif.


Miko melirik adiknya. Saat menyalakan layar handphone milik Vanya, hasilnya terkunci. "Pakai privasi."


"Kamu tahu nggak Niko, kode handphone kak Vanya?" tanya Dendy. Dia meneruskan keinginan Miko.


"Ah, aku saja tidak tahu," jawab Niko kilas. Jujur, bagi Niko dia hanya tahu sekilas mengenai handphone milik Vanya. Itu pun masih kode yang lama. Tidak tahu kode terbaru dari sandi layar milik wanita itu. "Tapi, aku ingat kalau sandi layarnya yang dulu pakai sandi tanggal lahirnya. Enam belas Januari, itu sandi layar yang terakhir kali aku tahu."


"Kita coba," sambar Miko cepat.


Tat Tut suara layar handphone itu di tekan. Dan benar saja, kodenya sesuai dengan ucapan Niko.


"Bagaimana? Berhasil?" tanya Dendy bak seseorang yang kelaparan, siap menunggu jawaban.


Miko mengarahkan layar ponsel itu pada Niko dan Dendy. Di dalam layar ada alamat tempat kakaknya dan Vanya pergi. Saat Dendy melihatnya, dia membelalak kaget.


"Itukan gedung proyek milik APINDO. Ngapain mereka kesana?" kata Dendy yang sedikit hafal pada tempat itu.

__ADS_1


"Kamu tahu tempat itu Den?" tanya Niko.


Dendy mengangguk, sungguh dia tahu mengenai tempat itu walau sekilas. "Aku pernah kesana tahun lalu karena pulang malam, nggak sengaja kehujanan. Aku mampir sebentar, oleh karena itu aku sedikit tahu letaknya."


"Kalau begitu, kita kesana. Jangan buang-buang waktu." Belum usai Dendy berkata, Miko lebih dahulu mengajak bergegas. Tidak peduli apapun, yang terpenting bagi Miko bisa sampai di sana.


Demi kak Dinda.


****


Di hotel, kala Johan asik menatap wajah indah Dinda, tiba-tiba dering telepon dari saku celananya bergetar.


Johan mendercit, sungguh sebal baginya kalau di ganggu di saat-saat sedang asik berimajinasi dengan wajah Dinda.


Wajah wanita yang tengah tidur itu, hampir membuat Johan tak tahan untuk terus memandangnya. Bahkan tak ada niat bagi Johan untuk tidak melepaskan tatapannya. Namun telepon yang berdering itu harus membuat Johan kesal, lantaran mengganggu.


"Kenapa sih dia mengganggu di saat-saat seperti ini," umpat Johan ketus. Walau dia marah karena di ganggu, tapi jarinya tetap menjawab telepon itu. "Hallo," ucap Johan garang. "Ada apa menelpon."


"Anu bos. Pria itu kembali," jawab penelpon. Suara itu terdengar tak teratur, kadang nafasnya terdengar oleh Johan seperti orang yang terkena asma. Dia berkata terburu-buru, tanpa mengucapkan kata basa basi padanya.


Saat berkata "pria itu kembali" Johan hingga dua kali melihat layar di teleponnya. Ekspresi wajahnya juga terlihat masam, di ikuti dahinya yang mengkerut. Nomor yang menelepon Johan adalah anonymous, nomor milik anak buah Tony Kim. "Kamu sedang tidak salah menghubungi orang kan?" tanya Johan memastikan.


"Tidak bos. Aku benar-benar menelpon bos Johan," katanya meyakinkan. "Pria itu sudah kembali. Dia selamat."


"Tunggu. Kamu bilang tadi pria itu sudah kembali. Pria mana yang kamu maksud. Mungkin kamu salah melaporkan." Kembali dengan ucapan acuh tak acuh, Johan tak begitu responsif kala suruhan Tony Kim yang menelpon.


"Aku tidak salah lapor bos. Aku hanya ingin berkata kalau bos Tony sudah mati tertembak. Dan sekarang mereka sudah meringkus semua bandit-bandit bos Tony."


Apa yang di maksud pria ini. Apa di sedang berusaha berurusan dengan ku.


Johan entah kenapa agak meragukan pria ini. Tapi mendengarkan pengakuannya tadi, Johan juga percaya. Walau bimbang.


"Siapa yang melakukannya. Dan bagaimana bisa kamu melaporkannya pada ku?" tanya Johan lagi.


"Dia bos. Pria yang saat itu bos perintahkan membunuhnya. Pria di malam itu yang sekarat. Kekasih dari wanita cantik itu," balas pria dari balik telepon itu.


Pria yang aku perintahkan untuk di bunuh. Johan mengernyitkan dahinya, seingatnya hanya ada satu orang yang dia ingin lenyap-kan. Yaitu......


"Apa maksud mu, pria China bernama Steve itu?" Johan memastikan.


Suara dari balik telepon, mungkin mengangguk. Dia membenarkan ucapan Johan. "Aku tidak tahu namanya, tapi yang jelas pria berwajah tampan itu yang melakukan. Bos harus pergi sekarang, pria ini terlihat bengis," ucapnya memperingati.


Johan dengan segera mematikan ponselnya. Tangannya terkepal keras, geram lantaran Steve sudah kembali.


Sial. Dia sudah kembali. Bagaimana bisa dia masih hidup, bahkan sekarang sudah kembali juga membunuh Tony Kim.


Bukankah dia sekarat. Selama tiga bulan ini dia.....


Johan sama seperti Tony Kim, dia kaget mendengar kala pria ini sudah kembali. Pikirnya, jika Steve tidak mati, maka dia akan cacat seumur hidup. Nyatanya, ekspektasinya tak sesuai kenyataan. Johan harus menelan ludah pahitnya sendiri.


"Pria China itu. Kurang ajar. Aku pikir dia hilang selama tiga bulan ini karena sekarat hampir mati. Ternyata dia masih hidup. Sial!" Johan hanya bisa menahan amarahnya saja. Sebab, pria yang di duganya sudah sekarat itu sudah kembali dari persembunyiannya.


Johan bekerja sama dengan Tony Kim untuk melenyapkan Steve. Siapa sangka, justru mimpinya itu harus terkubur sedalam mungkin. Steve nyatanya membuat kejutan, dengan muncul kembali di tengah Johan yang sedang merasa berjaya.


"Jalan satu-satunya yang harus aku lakukan adalah...." Johan menatap Dinda yang sedang pulas tertidur.


Tidak lama setelah itu, Johan mengeluarkan sebuah wadah kecil putih dari saku jasnya. Isinya adalah obat bius sekaligus obat penenang. Mungkin pikir Johan dia tidak ada pilihan lain selain melakukan hal ini.


"Maafkan aku Dinda. Aku tidak bisa membiarkan pria China tak tahu diri itu memiliki kamu. Hanya aku yang pantas bersanding dengan kamu, tidak ada yang lain. Hanya aku."


Kegilaan Johan membawanya nekat memasukan dua butir obat kedalam mulut Dinda. Karena Johan berpikir sebelumnya kalau Dinda sadar, bisa jadi rencananya akan gagal. "Dengan memasukkan dua butir obat bius ini. Aku harap kalau kamu akan sadar untuk beberapa jam kedepan. Setelah itu, aku jamin kita akan menikah."

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2