UNINTENTIONAL

UNINTENTIONAL
Episode 27


__ADS_3

Dinda menapaki langkah kaki menuju lorong apartemennya. Bunyi sepatu ulah langkah kakinya amat berisik. Suara khas heels yang suka membuat heboh akibat celetukan haknya yang tinggi. Klotak klotak klotak, itulah bunyinya tergantung bagaimana telinga mendengarnya.


Di lorong apartemennya, Dinda melihat dua orang remaja berusia belasan tahun sedang berdiri di depan apartemennya. Keduanya berdiri di dua sisi yang berbeda dan dengan koper hitam tergeletak di masing-masing tubuh tinggi itu.


Mereka menyandarkan tubuh mereka di dinding apartemen seraya kepala tertunduk fokus memainkan handphone.


Salah satu diantaranya memakan sebuah permen bergagang dan satunya lagi mengenakan headset merah menempel di daun telinga bak seorang disc jockey profesional.


Mereka nampak seperti menunggu seseorang. Dinda tahu siapa dua orang itu. Dua orang yang ia kenal baik dan amat familiar. Tak sulit bagi Dinda untuk mengenal keduanya meski ia melihat dari jauh.


"Niko! Miko!" teriak Dinda memastikan penglihatannya.


"Kakak!" sahut keduanya menoleh ke sumber suara yang memanggil.


Dinda terburu-buru menghampiri kedua adiknya yang manis ini. Sudah lama tidak bertemu rasanya Dinda ingin menghabiskan rasa rindu bersama dua bocah kesayangannya. Dinda nampak girang sehingga kedatangan keduanya amat di nantikan.


Ya mereka adalah Miko Ardian putra dan Niko Andrian putra.


Keduanya adalah adik kandung Dinda yang kembar identik.


Mereka berusia enam belas tahun dan saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah atas di salah satu sekolah swasta terbaik di Jakarta.


Keduanya tinggal di asrama dan tidak tinggal di apartemen bersama kakak mereka.


Kedua adik Dinda ini adalah kebanggaan tersendiri bagi wanita ini. Mereka hangat dan suka membantu dirinya. Miko sebagai kakak Niko adalah kakak yang bertanggung jawab. Bahkan ia kadang bersikap sok dewasa seakan ia adalah tulang punggung keluarga. Ayah, pikir Dinda.


Keduanya andalan Dinda dalam membandingkan diri dengan Steve. Masalah tampan, jangan di ragukan karena Dinda bisa menjamin bahwa Steve pasti akan minder jika melihat dua adik kembarnya ini. Masalah tinggi sudah pasti sama dengan Steve, pemilik kaki jangkung yang sombong itu.


Adik Dinda sangat populer di sekolahnya bahkan mereka sering merasa seperti seorang selebriti kala para murid wanita selalu mengikuti langkah kaki mereka kemanapun mereka pergi.


Bosan karena selalu di kerumuni oleh banyak gadis sehingga membuat mereka sering pulang ke apartemen Dinda di kala hari libur tiba. Jika tidak pulang maka bisa-bisa gerbang asrama bisa penuh oleh para gadis yang kepo pada kegiatan keduanya di dalam asrama.


Mereka bukan selebriti, tetapi ketika melihat keduanya orang-orang akan menganggap mereka seperti kalangan sosialita. Mereka menggunakan persepsi fisik sebagai tolak ukur menilai seseorang.


Dalam kehidupan sehari-hari, Dinda menjadikan mereka sebagai motivasi hidup saat dirinya sedang terpuruk. Ya, karena keduanya amat menyayangi satu sama lain bahkan akur. Bahkan mereka amat menurut pada dirinya yang lemah ini.


Inilah salah satu yang membuat Dinda bangga pada kedua adiknya. Ia kuat menghadapi apa pun di kemudian hari karena ada adik-adiknya yang selalu memotivasi hidupnya.


"Kakak buka dulu pintu apartemennya. Pasti kalian lelah berdiri menunggu kakak." Ucap Dinda yang tahu perasaan adik-adiknya. Lelah, itu yang mereka rasakan.


Dinda membuka pintu apartemennya lalu mempersilahkan adiknya masuk dengan girang. Keduanya masuk ke apartemen Dinda yang menurut mereka besar dan futuristik. Tetapi bagi Steve rumah penampungan itu lebih kecil dari kandang kambing di rumahnya.


Maklum saja, Steve melihatnya dari kacamata status sosial bukan dari toleransi semata. Meskipun begitu Steve adalah pribadi yang bicara jujur apa adanya. Sehingga tidak perlu menutup diri pada kehidupan sosial darinya.


Suasana apartemen gelap karena sudah menjadi kebiasaan Dinda mematikan lampu. Meskipun Dinda pemilik rumah terkadang ia lupa di mana sakelar lampu berada sehingga ia meraba-raba dinding mencari stop kontak.


Cletek .....


Dinda menyalakan lampu apartemen agar bisa memerangi gelapnya malam. Kedua adiknya Miko dan Niko langsung mengambil tempat dan merebahkan diri di sofa empuk Dinda.


"Oh ya tuhan. Ini sangat empuk!" seru Niko menikmati empuknya sofa dalam rebahan yang enjoy dan relax. Seakan dia tidak pernah merasakan hal ini selama hidupnya.


Dinda terkekeh kecil melihat tingkah Niko. Sedangkan Miko bertindak seperti biasanya, bertindak sok dewasa seakan dia pengganti ayah mereka. Ia duduk di kursi dengan nyaman dan menyilakan kedua ditangannya di dada. Mirip prilaku Steve pikir Dinda yang menyaksikan tingkah Miko.

__ADS_1


Dinda tahu, keduanya pasti lelah. Apalagi lelah menunggu dalam waktu yang lama. Dinda berinisiatif membuatkan mereka minuman yang segar. Perhatian Dinda pada adik-adiknya adalah yang nomor satu.


"Kalian pasti lelah. Ayo minumlah dulu jus mangga ini," ucap Dinda menyela keduanya yang sedang bersantai. Keduanya tak bisa menolak minuman segar ini.


Keduanya meminum dengan nikmat setiap air sari buah itu masuk kedalam tenggorokan.


"Sungguh nikmat!" seru Niko menikmati titik penghabisan tetasan jus yang ada di dalam gelas.


Dinda terkekeh melihat ulah manja adiknya yang satu ini. Sementara Miko tak bergeming. Ia tak berbicara sama sekali.


"Kenapa kalian pulang dari asrama selarut ini? Apakah ada masalah di asrama?" Dinda bertanya penasaran.


"Masalah? kakak pikir kami para vandal yang suka membuat onar?" Miko merespon cepat dengan ekspresi sewot.


"Iya kakak tahu kalau kalian anak baik-baik. Yang kakak tanyakan apakah ada masalah lain di asrama? sehingga kalian pulang ke sini." Dinda kembali bertanya.


"Apa kakak tahu hari ini hari apa?" Niko memulai.


"Hari Sabtu? kenapa?"


"Apa kakak lupa kalau kami sekolah full day school. Tentu saja kami hari ini pulang untuk liburan. Lagi pula di asrama sudah tidak ada siapapun kecuali penjaga sekolah. Untuk apa kami bertahan menunggu disana!" Niko dengan Ekspresi menggemaskan pura-pura mengiba.


"Iya iya iya! maafkan kakak karena telah melupakan hal ini." Dinda mengalah. Tak ada hal lain yang lebih baik selain melihat adiknya tersenyum.


"Lalu mengapa kalian membawa koper? bukankah libur kalian hanya dua hari?"


Kedua adiknya saling menatap dan memberikan kode dengan kedipan mata.


"Kakak. Biarkanlah kami tinggal bersama kakak. Biarkanlah kami keluar dari asrama kak. Aku mohon kak. Kami merasa tidak bebas selama tinggal di asrama!" Niko memohon sambil memegang erat kaki Dinda.


Dinda bingung pada tingkah keduanya. Apa yang terjadi, mengapa mereka bertindak kekanakan seperti ini.


"Hei. Tunggu dulu. Ada apa ini. Mengapa kalian bertindak seperti ini. Apakah terjadi sesuatu?" Dinda bertanya memastikan.


"Terjadi sesuatu? kakak pikir kami ini anak-anak nakal yang selalu membuat onar? kakak terlalu berlebihan dalam menanggapi suatu masalah!" respon Miko dengan cepat.


"Kalian yakin?" Dinda memastikan.


"Tentu saja kami yakin. Lagi pula alasan kami ingin keluar dari asrama bukan karena kami tidak menyukainya. Tetapi....."


"Tetapi apa?" Dinda penasaran menunggu kelanjutan cerita ini.


"Sebenarnya kami sangatlah merindukan makanan rumahan. Dan ingin sesekali kami makan makanan buatan kakak seperti dulu. Tetapi apalah daya, semuanya tidak akan terjadi. Pasti kakak akan bertindak seperti ibu menolak keluar dari asrama dan kami merasa seperti anak tiri yang selalu di duakan." Niko memelas iba kembali melancarkan aksinya dalam mendalami peran.


Dia ahli dalam berakting dan pandai mendramatisir suatu keinginan.


"Siapa bilang kalian di duakan seperti anak tiri. Kakak tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika keputusan kalian sudah bulat ingin kembali tinggal dengan kakak, maka kakak izinkan."


"Apakah kakak serius?" sambar Niko cepat.


Ia memeluk Dinda sebagai ungkapan kebahagiaan. Sedangkan Miko menikmati sandiwara yang di buat oleh adiknya. Niko mengedipkan mata tanda rencana mereka berhasil.


"Tentu saja kakak serius. Lagi pula kakak melihat adik-adiknya kakak kurus sekali. pasti kalian tidak makan makanan yang bergizi bukan?"

__ADS_1


"Ya setidaknya kakak mulai memperhatikan kami!" respon Miko cuek.


Niko menambahkan kata-kata drama dalam ucapanya.


"Bahkan kakak tahu, kami tidak di perbolehkan makan mie yang lezat. Bukankah itu kejam?" Miko menambahkan bumbu drama dalam adegan ini.


"Benarkah begitu? apakah koki asrama yang mengatakan hal itu?" Dinda kali ini beritanya dengan nada serius.


"Benar kak. Koki asrama yang melarang," Miko membenarkan pertanyaan Dinda.


"Kalau begitu kakak akan melaporkan hal ini pada pihak sekolah agar koki asrama di beri peringatan!" ucap Dinda seraya ia ingin meraih handphone-nya.


Mendengar ucapan kakak mereka, kedua remaja ini saling menatap wajah satu sama lainnya. Mereka kaget karena tak membayangkan jika hal ini akan terjadi.


Mereka saling meng-kode dengan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua yang paham.


Mungkin bahasa tubuh itu mengatakan, "Cepat hentikan kakak, atau hidup kita akan berakhir kembali di asrama!" itulah mungkin yang mereka katakan.


Niko paham atas kode yang telah mereka diskusikan sebelumnya. Sehingga Niko mengambil langkah pencegahan dengan menarik gaun kakaknya.


"Kak! tidak perlu menelpon pihak sekolah. Kami tidak ingin di anggap seperti seorang wanita yang suka mengadu domba di sana sini. Aku mohon kak jangan lakukan itu." Niko memohon kembali dengan ekspresi tak kalah mengiba. Matanya berkaca-kaca penuh haru. Tak kuat bagi dinda melihat tingkah lucu yang terselubung ucapan permintaan ini.


"Oke! baiklah! kakak paham pada situasi kalian. Kakak tidak akan menghubungi kepala sekolah." balas Dinda santai.


Akhirnya karena ucapan penuh tipu daya adik-adiknya, Dinda menyetujui ucapan Niko yang semanis gula pikir Dinda. Sungguh tak kuat bagi dirinya jika di serang dengan ucapan yang begitu mengiba.


"Yes!" Miko kembali bergidik puas karena akting adiknya luar biasa hebat.


"Kak Dinda memang luar biasa. Aku bangga pada kak Dinda." Miko memuji dengan motif terselubung nya.


"Kakak tahu kalau kakak baik. Tetapi ada syaratnya jika ingin kembali tinggal disini."


"Syarat apa kak? katakan! aku akan melakukannya!" seru Niko antusias.


Dinda tersenyum manis melihat adiknya antusias. Ia tak melanjutkan apa persyaratan itu, karena ia tahu adiknya pasti sudah paham pada situasi ini.


"Okelah aku paham. Mulai Minggu besok aku akan melakukannya." Ucap Niko paham pada persyaratan kakaknya.


"Mengapa tidak di laksanakan besok? bukankah kalian libur? Miko? bagaimana dengan mu."


"Tidak kak! besok aku ada kegiatan lain. Aku belum bisa, kecuali ya, aku akan melakukannya pekan depan." Miko menyela.


Dinda tak bertanya lagi. Karena ia tahu pasti mereka menolak karena esok hari ingin berkencan dengan pacar mereka.


Dinda memahami situasi ini, karena ia pernah muda walau tidak pernah pacaran saat SMA.


BERSAMBUNG


Jangan lupa tinggalkan like+ komentar kalian ya.


Semoga cerita ini membuat kalian terhibur.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2