
RENDY DAN PERTANYAANNYA
"Maaf kalau aku nggak bisa menahan dia agar tetap bekerja disini. Keputusannya untuk resign nggak bisa di ganggu gugat. Tadi aku juga sudah menawarkannya untuk bekerja di restoran keluarga ku, tetap saja dia menolak." Dari telepon seluler miliknya, Zico berkata pada seseorang.
Zico memberitahu tahu segala hal yang baru saja terjadi. Yah, dari balik telepon itu, dia—Zico memberitahu dengan rinci.
Usai mengatakan bahwa Dinda akan resign pada orang yang ada di teleponnya, Zico lalu menutup panggilan telepon itu.
Dia mondar-mandir di depan jendela kaca, sesaat sebelum telepon itu beranjak dari telinganya. Sesekali dia memperhatikan layar teleponnya, mungkin menunggu telepon dari seseorang.
Aku tidak tahu apakah keputusan ku ini benar atau salah dengan membiarkan dia resign. Aku hanya berharap, dia baik-baik saja.
Tidak ada yang lebih baik saat ini menurut Zico, selain mengkhawatirkan wanita itu. Sungguh, baru kali ini Zico di hadapkan pada situasi seperti ini. Sebelum-sebelumnya, hidup Zico aman dan tentram, tidur pun nyenyak. Sekarang, boro-boro nyenyak, kadang dia lupa pada segala hal saat teleponnya berdering setiap saat.
Menjaga Dinda seperti kemauan Steve, jauh lebih berat ketimbang mengurus pekerjaan rumahan. Bagaimana kalau dia hilang? Di culik, atau...... Bahkan dia menghilang. Sungguh, Zico tidak bisa memantaunya dua puluh empat jam penuh.
Aku harap Steve bisa secepatnya kembali. Lalu tidak menyusahkan aku seperti ini lagi. Aku lelah menjaga jodoh orang lain.
****
Rendy tadi tidak sengaja lewat di depan gedung kantor Steve karena hendak mencari makan. Maklum saja, sedari tadi malam dia menjadi dokter jaga, bisa di bilang lembur—kalau di kantor. Jadi, dia agak lapar.
Kebetulan lewat, tidak sengaja baginya bertemu Dinda. Lebih tepatnya, dia berpapasan dengan gadis itu, walau sebenarnya hanya dia yang melihat Dinda. Sementara Dinda terlihat seperti orang yang kebingungan, berdiri di depan kantor.
Karena kantor Steve dan rumah sakit tempatnya bekerja berdekatan, tidak salah kalau Rendy sering hilir mudik di trotoar kantor pria itu—Steve.
Tadi Rendy mengajak Dinda pergi ke cafe untuk minum, sekedar mengobrol sebentar. Karena membahas masalah resign, ada banyak pertanyaan yang ingin Rendy tanyakan pada Dinda.
"Ehm, balik lagi ke perbincangan awal kita. Kamu yakin resign karena keputusan kamu sendiri? Hal ini nggak berkaitan dengan Steve, kan?"
Rendy menebak, sebenarnya apa yang membuat Dinda sebegitunya ingin berhenti. Dugaannya mengarah pada tak ada kabarnya Steve hingga saat ini. Bisa jadi, seperti itu. Toh, dalamnya lautan bisa di ukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Jelas, apa yang ada di benak dan juga pikiran Dinda, Rendy tidak bisa memahaminya.
Alasannya resign juga, hanya Dinda yang tahu.
Dinda menggeleng, dia sedikit memaksakan sedikit tersenyum. "Aku resign bukan karena Steve atau hal lainnya. Tapi aku ingin mencari suasana baru."
"Mendadak seperti ini—rasanya aneh, Dinda!"
Dinda tahu kalau ini mendadak. Dia yang resign, tapi kenapa semua orang yang heboh. Dinda tidak habis pikir, baru resign saja, semua orang sudah melontarkan banyak pertanyaan padanya.
"Yah, intinya aku akan mencari pekerjaan baru beberapa hari kedepan," katanya memberitahu. "Dan ini tidak ada kaitannya pada Steve," tambahnya menjelaskan. Dinda sebenarnya tidak mau membahas Steve saat ini. Sehingga, mulutnya itu bicara alakadarnya. Tidak mendetail.
"Mencari pekerjaan saat ini susah, loh, Dinda. Memangnya kamu yakin dalam waktu dekat kamu bakalan dapat pekerjaan?"
Kata Rendy ada benarnya juga. Memangnya ada perusahaan yang secepat ini mau menerima dirinya bekerja. Tapi—
"Aku akan berusaha Ren. Semua nggak ada yang nggak mungkin kalau belum di coba."
"Apa aku boleh memberikan saran?" kata Rendy agak ragu.
"Apa?"
"Bagaimana kalau kamu bekerja di klinik, bersama ku. Maksudnya, di klinik ku. Di tempat ku bekerja sedang butuh tenaga apoteker. Dan, kebetulan aku sering jaga malam di rumah sakit, jadi klinik ku sering aku tinggalkan. Aku kekurangan pekerja saat ini," kata Rendy menawarkan. Dia beberapa kali mengernyitkan dahinya, lalu menormalkan lagi. Rendy berharap kalau Dinda mau menerima tawarannya.
Namun, seperti Zico tadi, kali ini Rendy harus berakhir pada penolakan. "Aku rasa kamu salah orang deh Ren," jawab Dinda. "Kamu tahu kan, kalau aku lulusan S1 akuntansi. Aku nggak ngerti banget tentang dunia parmasi. Salah-salah, aku nanti berakhir menjadi pembunuh karena nggak tahu memberikan resep pada pasien atau pembeli obat. Kamu tahu-kan, jadi apoteker itu harus tahu segala macam obat dan bisa membaca tulisan dokter."
"0h iya, ya," sambar Rendy cepat. "Aku lupa kalau kamu sering hitung uang," katanya sambil sesekali berekspresi malu-malu.
"Oleh karena itu, jadinya nggak nyambung kalau aku lulusan akuntansi, tiba-tiba bekerja jadi apoteker."
Dinda ternyata satu langkah lebih cerdas darinya. Rendy hampir lupa, bahwa Dinda bekerja di kantor Steve sebagai staf accounting, bukan staf apoteker. Rendy ingin terkekeh mengingat tawaran konyolnya pada Dinda tadi.
"Oke, oke. Aku lupa tadi. Ehm...... Jadi, kita sekarang beralih bicara," ucap Rendy.
"Mengenai."
__ADS_1
"Steve, bagaimana kabarnya?"
"Ehm......" Mendengar pertanyaan Rendy, Dinda mencoba menaturalisasi keadaan. Dia menyeruput secangkir minuman dingin, sebelum menjawab pertanyaan pria itu. "Dia masih belum ada kabar," katanya memberitahu.
"Sampai saat ini?" Rendy menaikan kedua alisnya. Pikirnya sudah sebulan berlalu, masa pria itu tidak memberikan kabarnya pada Dinda sama sekali.
Dinda mengangguk pelan, bibirnya agak menyungging tersenyum. "Aku sudah mencoba menghubunginya. Tetap saja panggilan di alihkan."
"Setega itu dia pada kamu," kata Rendy. Benar, Rendy mendapatkan kesempatan yang baik kalau dia mau mendekati Dinda. Tapi—bukan Rendy namanya kalau bermain kotor seperti ini. Dia ingin bersaing secara sehat, walau Steve saat ini tidak ada di Indonesia, tetap, Rendy tidak mau mengindahkan niatnya bermain curang.
"Aku nggak tahu bagaimana persis dia di sana. Kak Stevie juga sulit di hubungi sampai saat ini. Ya mau bagaimana lagi." Seraya berkata, sesekali Dinda mengangkat kedua bahunya. "Mungkin memang saat ini Steve belum pulih. Aku yakin, dia pasti sembuh cepat atau lambat."
Rendy melongo, melihat keluar cafe, di ikuti tangannya mengurut dagu bak seseorang yang berjenggot. "Seharusnya sih, kalau sudah sebulan ini dia nggak ada kabar, pasti ada pemberitaan media. Bukankah dia pengusaha tajir melintir, masa kehidupannya tertutup."
"Dia bukan orang yang seperti itu," sahut Dinda. "Steve pria yang nggak terlalu suka kalau mukanya seliweran di media. Mungkin saja Steve tidak mau kalau orang-orang tahu mengenai kondisinya saat ini. Lagi pula kamu juga tahu kalau kecelakaan yang menimpanya sebulan yang lalu, hanya karyawan kantor dan orang-orang terdekat saja yang tahu mengenai kejadian ini. Jadi wajarlah kalau dia nggak ada kabar sampai saat ini."
"Benar sih apa yang kamu bilang. Steve memang tertutup mengenai kehidupannya." Rendy paham betul, seperti apa Steve. Meskipun dia dan Steve teman sekampus, namun mereka tidak dekat layaknya Steve dan Zico.
Mereka hanya satu kampus, tapi beda program studi. Dan kebetulan satu asrama kala itu, mengenal Steve adalah sebuah kebetulan. Karena, Steve sendiri adalah mahasiswa asal Indonesia dulu kala kuliah di Jerman. Jadi bisa di bilang, mereka dekat hanya karena mahasiswa satu zona.
Gadis ini selalu berpikir positif. Pantas saja banyak pria yang mengaguminya. Selain dia cantik, tidak pernah dia yang tidak mengkhawatirkan orang lain. Bahkan, dia rela mengorbankan dirinya sendiri, agar orang-orang di sekitarnya bisa bahagia walau dia sendiri terluka.
Rendy termangu, menatap wajah Dinda dalam diam. Kekagumannya pada Dinda membuatnya yakin kalau Dinda memang pasangan yang pas untuk semua pria.
"Kok melamun, Ren," tegur Dinda. Mata pria itu tidak berhenti menatapnya.
"Oh, enggak," jawab Rendy menyadarkan diri. "Aku hanya kepikiran sesuatu."
Ah, otak Rendy benar-benar nggak bisa move on. Dalam batinnya, hati kecil Rendy meminta dia sadar. Sadar kalau dia pernah di tolak oleh Dinda, jadi untuk apa dia berharap lebih pada Dinda.
Namun, itu tidak semudah yang hatinya inginkan. Tetap saja, melihat pesona Dinda, Rendy tak bisa melupakan wajah cantik itu. Rendy, benar-benar tidak bisa melupakan wajah Dinda walau seberapa keras dia mencoba.
"Oh, Ren, maaf. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku masih banyak hal yang ingin aku lakukan. Aku pergi dulu yah, Ren." Dinda mengambil tasnya di atas meja. Sesekali tadi dia melihat jam di tangan, waktu menunjukan tengah hari.
"O—oke Dinda," balas Rendy. "Perlu aku antar pulang?" tawarnya pada Dinda.
"Oh, oke Dinda. Hati-hati di jalan ya," jawab Rendy sambil memberikan senyum manis.
Dari dalam cafe, Rendy benar-benar memperhatikan detail lekuk tubuh Dinda. Pikirnya pantas saja Steve menyukai gadis itu. Dia berbeda dengan wanita yang pernah di temui Rendy sebelumnya.
Seandainya aku lebih dahulu bertemu dengan kamu. Mungkin saja, kita saat ini sudah bersama. Tapi sayang, kamu lebih dahulu bertemu dengan dia. Juga dengan pria di mall kala itu—Johan.
Aku nggak tahu masa lalu kamu beberapa tahun belakangan seperti apa. Yang jelas, melihat kamu seperti ini, aku benar-benar mengagumi mu dalam sosok diam.
Memperhatikan Dinda terus menerus, mungkin tidak baik bagi Rendy. Dia takut kadar gula darahnya meningkat. Gadis itu sangat manis dan imut. Apalagi wajah baby facenya. Ah, Rendy merasa diabetesnya makin bertambah seiring tak bisa melupakan wajah Dinda di ingatannya.
Namun, kalau Rendy membandingkan, sebenarnya Dinda dan Steve memang cocok. Keduanya memiliki wajah baby face. Tapi—sayang Rendy juga tidak mau di lihat jelek di mata Dinda. Kadang kala, Rendy membandingkan dirinya dengan kedua orang itu. Sungguh, dia juga merasa nggak terlalu buruk buat Dinda, apalagi karirnya juga oke.
Mana ada dokter muda dan ganteng yang sukses berkarir di usia muda seperti aku.
Pikir Rendy, tidak ada satu wanita pun yang bisa menolak kharismanya.
Namun, tetap saja. Steve masih menjadi pria paling yang menyebalkan, lantaran lebih dahulu mendapatkan hati Dinda, ketimbang Johan sialan itu.
Oh, pria itu selalu satu tingkat lebih pintar, tinggi, tampan dan berkharisma di banding aku yang hanya remahan upil.
Suwer, Rendy sangat ingin mengumpat Steve setiap saat.
"Tapi kalau di pikir-pikir, aku dan Johan...... Nggak............, sebenarnya aku lebih tampan dari Johan. Pria perebut kekasih orang itu, nggak ada baiknya di depan wanita manapun. Oh, sungguh, Johan pria paling absurd abad ini." Rendy diam-diam melongos. Kali ini, Johan juga menjadi tolak ukurnya dalam membanding-bandingkan ketampanan mereka.
*****
"Pa, Vanya berangkat kerja dulu ya. Kalau Papa mau makan atau apa, Vanya sudah siapkan semuanya di atas meja," kata Vanya pada sang Ayah.
Tuan Heri hanya mengangguk sambil matanya fokus menyaksikan berita di televisi.
__ADS_1
Ya, sejak perusahaan mereka juga bersama seluruh aset yang di ambil alih oleh Steve. Keluarga besar Tuan Heri akhirnya benar-benar runtuh dari daftar pebisnis kaya.
Kini mereka tinggal di kontrakan kecil di pinggiran kota Jakarta. Kemewahan yang pernah mereka nikmati bertahun-tahun yang lalu, kini berganti menjadi sebuah kesederhanaan.
Makan saja, saat ini Vanya sudah mulai menyukai tempe dan tahu. Dulu, dia benci makanan itu. Namun sejak saat dimana dia bertekad untuk berubah, tak ada lagi segala hal yang dia benci. Saat ini segala yang dia benci berubah menjadi syukur. Semua itu adalah pemberian Tuhan, mana ada Vanya akan menolak rezeki. Beruntung dia masih bisa makan, jika berkaca dari kehidupan anak jalanan, Vanya terbilang masih harus belajar banyak.
Vanya meninggalkan rumah sempitnya itu, dengan menenteng sebuah rantang berisi makanan. Oh, iya Vanya berencana ingin pergi ke rumah tahanan dulu sebelum bekerja.
Selama seminggu, tiga kali Vanya membesuk Ibunya. Nyonya Dwi juga saat ini sudah berubah, mengikuti jejak anaknya. Kini dia mau menerima makanan apa saja yang di bawa oleh Vanya. Tempe dan tahu, dia memakannya. Jauh lebih baik kala sang putri yang memasak, ketimbang makan dari makanan para sipir penjara. Hambar rasanya.
Saat Vanya menutup pintu rumah kontrakan, di depan rumah kecil itu juga tiba sebuah mobil hitam mengkilap.
Tak lama kemudian, keluar seorang pria dengan pakaian rapi. Sedangkan dari sisi sebelah pintu mobil, juga keluar seorang wanita menggendong anaknya.
Vanya tahu itu, dia adalah kakaknya. Anak tertua Heri, pria yang mengundurkan diri dari daftar penerima kekayaan keluarga.
"Kak Arka!!" teriak Vanya dari teras rumah. Seakan tak percaya, dia berlari menemui kakaknya, lalu memeluk pria itu. "Kakak. Kenapa kakak selama ini nggak pernah mau menjenguk atau mencari kabar tentang Vanya. Apa kakak mencoba melupakan Vanya?" di pelukan saudaranya itu, Vanya sesenggukan menangis tersedu-sedu.
"Vanya. Maafkan kakak ya," ucap Arka bersalah. Melihat adiknya itu, Arka bisa merasakan bahwa adiknya sudah mengalami kesusahan akhir-akhir ini. "Maafkan kakak yang lama nggak menemui kamu."
Istri Arka, Anita mendekati Vanya. Dia mengelus rambut adik iparnya itu. "Maafkan Mbak dan kakak mu ya Vanya. Kami belum ada waktu mencari kamu. Dan kebetulan, hari ini kak Arka agak senggang, jadi kita memutuskan berangkat ke Jakarta dari Surabaya. Karena kami khawatir pada kamu dan Papa."
"Vanya nggak marah kalian nggak mencari atau menanyai kabar Vanya dan Papa. Justru dengan kedatangan Mbak Nita dan kak Arka di sini. Vanya sudah merasa senang," ungkap Vanya girang.
Mata yang sempat menangis itu, sungguh merasa lega kala melihat kakak satu-satunya datang jauh-jauh dari Surabaya menemuinya. Vanya tidak menyangka kalau sang kakak masih mengingatnya. Dia menyeka air mata yang mengalir itu, melupakan kesedihannya tadi.
"Nero, ini Tante Vanya. Coba kasih salaman yang manis." Anita meminta anaknya yang di gendong itu, menyapa Vanya. Dia memberikan tangan sang putra pada Vanya, agar menciumnya.
"Oh, ya ampun, jagoan ku, Nero. Tante sampai lupa wajah kamu karena sudah lama nggak ketemu."
Anak imut itu—Nero mau mencium tangan Vanya. Tadi juga Vanya mengelus rambut tipis sang keponakan. Karena sudah lama tak bersua, Vanya mengambil Nero dari pelukan sang kakak ipar. "Sayang Tante. Kamu makin berat saja deh," ucap Vanya gemas.
Di timang-timangnya sang keponakan, rasa harunya tadi pada sang kakak pada akhirnya terlupakan ulah sang anak kecil yang imut itu.
"Papa di mana? Dia ada di dalam?" tanya Arka.
"Buat apa kakak nyari Papa?" balas Vanya keheranan.
"Cuma mau bertemu. Sudah lama nggak melihat Papa."
"Jangan kak," sambar Vanya saat Arka ingin masuk ke dalam kontrakan kecil mereka.
"Kenapa?" sahut Anita.
"Papa masih marah dengan kakak dan Mbak. Papa nggak akan mudah memaafkan kalian, apalagi membiarkan kakak dan Mbak bertemu dengannya. Justru, Papa akan marah saat melihat kalian. Jadi, jangan menemui Papa sekarang, tunggu waktu yang tepat." Vanya menjelaskan, lebih-lebih mengenai pernikahan kontroversial keduanya, sungguh, ending dari pertemuan ini bisa di tebak.
"Lalu, bagaimana?" Arka meminta solusi.
"Kita ke rumah tahanan saja. Mungkin Mama mau bertemu dengan kak Arka."
"Apa Mama mau menerima keberadaan Mbak," Anita mengkhawatirkan. Jujur, selama ini Anita belum pernah sekalipun berani menatap wajah sang mertua. Apalagi sikapnya yang tidak suka pada dirinya, hal ini membuat Anita cemas kalau kehadirannya akan menjadi malapetaka bagi Nyonya Dwi.
"Mbak Nita tenang saja. Aku akan meyakinkan Mama, agar menerima Mbak."
Anita menatap wajah sang suami, Arka. Terlihat di wajah Anita, tergambar ekspresi agak takut dan cemas. "Kamu nggak usah khawatir. Aku yakin Mama nggak akan marah lagi mengenai pernikahan kita," ucap Arka pada Anita. Dia memeluk istrinya, agar dia tidak lagi terlalu cemas. "Aku janji, Mama pasti akan menerima kamu sebagai menantunya."
"Aku beneran takut Ka?"
"Kita belum mencoba. Jangan dulu takut pada hal yang belum tentu benar-benar terjadi," kembali Arka meyakinkan istrinya.
"Mbak Nita nggak perlu khawatir. Aku yang akan bertanggung jawab kalau Mama menolak kehadiran Mbak," sahut Vanya.
Karena kakak adik itu bersikukuh, maka Anita menurut saja. Kali ini, dia berharap. Semoga kedatangannya bisa di terima dengan lapang dada oleh sang mertua.
"Ya sudah. Kita ke rutan sekarang." Tanpa pikir panjang, Arka memboyong keduanya kedalam mobil.
__ADS_1
Sejak ada Nero di pelukannya, Vanya tidak melepaskan si bocah menggemaskan itu. Bahkan ketika ingin membesuk sang Ibu pun, Vanya tetap asyik bermain dengan Nero.
BERSAMBUNG