
Ceklek....
Kosong dan sepi itulah yang Dinda temui saat dirinya membuka pintu apartemen. Ia tahu itu sepi karena adik-adiknya sedang sibuk pada kegiatan mereka. Alhasil dirinya hanya mendapati ruangan kosong tak berpenghuni.
Niko sedang ada di toko buku sementara Miko sedang latihan basket sehingga ia memaklumi semua ini.
Di depan pintu apartemennya, Dinda sedikit mengenang kejadian tadi dan sebelum-sebelumnya. Dalam pikirannya masih teringat pada ucapan Steve yang prestisius pada dirinya.
Ia terhenti sejenak di depan pintu apartemen seraya berpikir keras akan hal yang terjadi tadi. Seakan kejadian tadi adalah kisah paling absurd yang pernah ia lakukan seumur hidupnya.
Ucapan Steve yang terkadang berbeda di setiap saat, membuat Dinda selalu salah paham.
Saat pertama kali bertemu dengan pria itu, kesan pertama yang ia rasakan adalah aura kengerian, kesombongan, semena-mena, bar-bar dan introver.
Namun setelah mengenalnya selama beberapa waktu ini, Dinda merasa sedikit memahami pria itu.
Dalam benaknya terngiang beberapa ucapan baik dan buruk yang terus saja terkenang.
"Kamu lebih baik pulang saja, toh jam kerja mu tinggal beberapa jam lagi. Aku mengizinkan diri mu pulang tanpa membantah sedikit pun," ucapan ini masih terdengar jelas dalam indera pendengarannya.
Betapa baiknya Steve tadi karena telah mengizinkan dirinya pulang lebih awal bahkan mengantarkan pulang sampai tujuan.
"Oh tuhan. Kenapa dia melakukan hal-hal baik hari ini untuk ku. Aku merasa sangat tidak enak hati padanya." batin Dinda bergidik merasa bersalah.
Lalu belum usai ucapan itu, kini ucapan lainnya kembali melintasi lagi dalam ingatannya yang masih segar.
"Aku siap memberikan bahu ku untuk mu sebagai sandaran saat kamu sedang bersedih."
"Lupakanlah semua keluh kesah, tatap masa depan dan biarkanlah yang telah berlalu pergi begitu saja bagai terbangun dari sebuah mimpi yang buruk."
"Berbagilah penderitaan mu dengan ku, siapa tahu beban mu bisa berkurang dalam pelukan ku."
Dinda terkenang pada pelukan hangat Steve yang nyaman. Tubuh kekar nan lebarnya terasa sangat empuk seperti kasur kala itu.
Dalam pelukan Steve, Dinda merasakan degup jantungnya. Dag Dig Dug, suara itu terdengar melintas di telinga Dinda saat pria itu memeluk erat tubuhnya. Tubuhnya yang hangat dan aromanya yang wangi, membuat Dinda begitu tenang seakan dia sedang berlibur di pulau Mariana.
Perasaan nyaman seperti itu tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Bahkan jika ada yang menjualnya di toko khusus, secara ekslusif dinda akan membelinya.
"Ucapan Pak Steve yang seperti itu membuat ku ingin melompat dari jembatan Brooklyn saja. Tak kuat aku menahan malu kala menceritakan semua kisah hidup ku padanya." Dinda berpikir bahwa dia tak seharusnya bicara yang ambigu.
Ia memegang kepalanya seakan ingin menghentikan otaknya agar tidak terus memikirkan ucapan Steve.
"Bodoh, bodoh, bodoh, bodoh.... Mengapa aku menceritakan kisah ku padanya terlebih menangis di pelukannya. Astaga Dinda.... Sadarlah bahwa dia bos mu yang galak!" Dinda bergumam tak karuan membayangkan kelakuannya tadi.
"Tidak...Tidak.. Anggap saja itu hanya sebuah ilusi.. Jangan di pikirkan." Dinda menarik nafas dalam-dalam menenangkan dirinya.
"Tetapi bagaimana jika tangisan ku tadi meninggalkan kotoran di jas mahalnya. Bahkan ingus ku bisa saja menempel di jasnya tanpa sepengetahuan ku. Tuhan..... Setidaknya air mata ku lebih murah dari pakaian dalam Pak Steve yang bermerek itu. Sesungguhnya ini adalah adegan paling memalukan bagi ku," lanjutnya berucap menduga-duga bersalah.
Orang bilang jika sudah memikirkan pria yang sangat tidak di sukai, itu pertanda bahwa diri sendiri sudah mulai jatuh cinta pada orang yang di benci secara tak langsung.
Seberapa kerasnya diri sendiri dalam menampik bahwa dia tidak mencintai bahkan telah berjanji tidak akan jatuh cinta pada pria yang di benci, justru makin membuat benang cinta terus terikat dengan erat.
Kemana pun diri pergi, maka cinta itu dengan sendirinya akan terhubung satu sama lainnya dengan cara telepati.
Namun jika bersikap datar alias monoton dalam menghadapinya maka jalan pikiran tentang cinta akan mengalir dengan sendirinya bagai air yang mengalir tanpa di ketahui oleh empunya hati.
__ADS_1
Cinta kadang membuat gila tetapi cinta juga adalah suatu hal yang menyenangkan jika di jalani dengan baik terlebih jika satu dan lainnya saling mencintai.
"Tidak..... Aku tidak ingin memikirkan dia apalagi jatuh cinta pada pria yang paling kasar dan introver macam dia. Sudah cukup bagi ku berhadapan dengan cinta." Ujar dinda bicara penuh keyakinan.
Tetapi seberapa kerasnya ia mencoba tak memikirkan Steve, tetap saja wajah dan ucapan pria angkuh itu masih menempel dalam ingatan dinda yang masih belum terjamah oleh pikiran kotor.
"Kau gadis kecil yang binal. Beraninya kau menggantikan pakaian ku. Maka kau harus mengganti rugi atas apa yang kau lakukan."
"Jadilah kekasih ku. Aku sangat mencintaimu!"
"Perjanjian kontrak antara kita berdua, cukup membuat mu tahu bahwa aku adalah pria yang tak bisa di lawan oleh siapa pun termasuk kamu gadis kecil nan binal."
Ucapan Steve yang narsis, penuh godaan dan rayuan membuat Dinda makin aneh. Otaknya saat itu di penuhi oleh gairah untuk mengetahui kisah Steve yang narsistik.
Sehingga Dinda bertanya-tanya mengapa pria itu selalu bicara seenaknya saja dan terkesan seperti pria yang memiliki dua kepribadian yang berbeda di setiap kondisi dan situasi.
Dinda berpikir keras tentang Steve yang kejam namun di sisi lain dia menunjukan sikap manja. Rasanya ingin pecah otak Dinda saat memikirkan semua itu secara bersamaan dan ia mulai menyadari bahwa Steve sudah menjajah pikirannya.
"Akh..... Tidak mungkin. Mana mungkin pria terkutuk itu mengatakan suka pada ku. Padahal jelas di awal pertemuan ku dengannya, dia sudah memberikan kesan buruk kepada ku." Dinda menuntut kesal mengingat kejadian di hati itu.
"Tidak.... Tidak..... Tidak..... Dia hanya bicara sembarangan saja. Aku tidak boleh memikirkannya. Tidak boleh. Pokoknya tidak boleh." Dinda merasa sebal dan parno-an secara sepihak.
"Tetapi ciuman di bawah hujan itu."
Kembali dengan ingatan yang telah berlalu, Dinda kembali mengingat kejadian itu. Kejadian yang begitu absurd dan tak masuk akal dalam benaknya.
Namun sekonyong-konyongnya, tanpa di sadari, adiknya, Miko tak sengaja melihat aksinya itu.
"Kakak! kapan kakak tiba di rumah. Dan aku tidak mendengar suara kakak membuka pintu?"
Adik Dinda menyela dirinya yang sedang berfantasi liar dengan sebuah gelas jernih di tangannya.
Miko sedikit bingung sambil memegang tengkuk belakang kepalanya karena ucapan kakaknya terdengar ambigu. "Aku?"
"Aku pikir sudah sedari tadi di rumah. Tapi tidak tahu pasti jam berapa aku disini, tetapi aku datang setelah melihat matahari memerah senja."
"Huh....." Dinda menghela nafas panjang. Lega karena menghilangkan terkejutnya atas kehadiran Miko secara mendadak.
"Kamu membuat kakak hampir saja mati mendadak. Lain kali jika melihat kakak pulang di sambut dengan ramah, bukannya di tegur kaget seperti itu. Kakak hampir saja mati berdiri tadi," ucap Dinda sewot.
Miko paham atas ucapan kakaknya, namun ia heran atas apa yang ia lakukan sambil batinnya bertanya. "Sejak kapan aku membuat kakak menjadi kaget. Perasaan ku tadi aku menegurnya dengan santai? apa kakak sedang dalam masalah kah?" Miko berpikir untuk sesaat.
Dinda beranjak dari pintu usai lepas dari lamunan sejenak, melewati sang adik yang berdiri dengan wajah tampannya yang masih menggunakan masker penutup wajah seraya memegang gelas minum.
Tetapi Dinda sadar akan sesuatu? ia mulai menyadari hal ini saat melihatnya secara langsung.
"Astaga Miko!" seru Dinda memuncak.
"Ada apa kak? kenapa kakak terperangah kaget seperti itu." Miko merespon cepat.
"Sejak kapan kamu memiliki sepatu ini. Coba jelaskan pada kakak." Tunjuk Dinda pada sepatu mahal yang di kenakan oleh Miko saat itu.
"Astaga!!" Miko ikutan berseru dalam hati dan mulai sadar.
"Aku hampir lupa jika kakak bekerja di grup wong. Pasti dia akan bertanya-tanya tentang semua ini. Kakak tidak akan berhenti bertanya sebelum di berikan jawaban memuaskan. Aku harus mencari alibi."
__ADS_1
Miko mulai sadar bahwa kakaknya sudah memperhatikan sepatu yang ia kenakan.
Sepatu mahal dengan harga kompetitif paling murah yakni IDR 11,9 M yang pastinya butuh waktu sebulan bagi Dinda menabung untuk membelikan adiknya itu.
"Sepatu BELAGIO ini maksud kakak?" tanya Miko tersadar pura-pura lugu tak paham.
"Iya dari mana kamu mendapatkan sepatu ini. Coba jelaskan pada kakak, Karena setahu kakak, kakak membelikan kamu dan Niko sepatu yang harganya di bawah satu jutaan." Dinda menuntut penjelasan.
"Atau kamu mencuri ya? katakan pada kakak sepatu siapa yang kamu curi!" Dinda bersikap impulsif dan proteksi.
Ucapan kakaknya bagi Miko terlalu berlebih-lebihan, karena ia belum menjelaskan pada kakaknya dari mana ia mendapatkan sepatu itu, maka Miko memikirkan sebuah alibi dengan matang.
"Aku tidak mencuri kak. Benar. Aku tidak mencurinya dari siapa pun. Aku bersungguh-sungguh tidak mencuri."
"Lalu dari mana kamu mendapatkan sepatu mahal ini?" Dinda bertanya serius.
"Ada salah satu teman ku yang sedang berulang tahun. Jadi aku ingin menghadiahi dia sebuah sepatu dan aku tidak hanya membeli dan menghadiahinya saja kak. Tetapi Niko juga ikut aku belikan sepatu ini."
"Lalu?" Dinda menyeringai ucapan adiknya.
"Lalu ya... Aku akhirnya membelikan sepasang sepatu untuk teman ku sebagai hadiah ulang tahunnya. Tapi ya.... Sangat di sayangkan, karena dia mengatakan bahwa tidak membutuhkan hadiah dari kami karena sepatu di rumahnya begitu banyak sampai-sampai memenuhi rak sepatunya."
"Yakin seperti itu?" Dinda seolah bagai detektif Conan terus mencecarnya dengan kalimat tak yakin.
Dengan sedikit keraguan, Miko mengusap kepala agar bisa menghilangkan keraguannya dalam berbohong dan di selingi senyum kecut. "Yakin kak. Lagi pula sepatu ini adalah sepatu imitasi yang di jual di pasar online, jadi harganya hanya sampai lima ratus ribu saja kak." Miko mendapatkan alibi dengan ide cemerlang.
Dinda sebenarnya tak yakin pada ucapan Miko, terlebih sepatu yang di gunakannya itu nampak mirip dengan aslinya.
"Kakak meskipun bekerja di bagian keuangan, tetapi kakak tahu harga dan juga bentuk dari sepatu ini. Jangan sampai kakak tahu sesuatu dari mu yang di sembunyikan. Kakak mengawasinya!" seru Dinda memata-matai adiknya dengan ucapan konyol.
Ia menepuk pundak adiknya seraya ingin meninggalkan Miko, lalu menuju ke kamar.
GLEKKK...
Miko menelan liur pahit penuh kengerian seakan seperti sedang di teror oleh psikopat.
"Iya kak. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun dari kakak. Aku menjamin hal itu," ucap Miko terpaksa senada dengan kakaknya.
"Baguslah. Tahukan hukuman untuk orang berbohong itu apa?"
"Siap tahu. Membersihkan kamar mandi, berbelanja ke pasar. Membersihkan setiap sudut rumah dan setelahnya jika semua sudah selesai di kerjakan maka harus berdiri di pojokan rumah." Miko merespon dengan cepat.
"Bagus kalau begitu. Artinya Miko masih paham pada peraturan berbohong. Lain kali jika ketahuan berbohong, maka kakak akan buang kalian ke asrama agar kalian tidak bisa menikmati makanan yang enak dan lezat!" Dinda mengancam dengan tingkah krusial.
"Aku paham kak." Miko patuh mengenai hal ini.
Sementara Dinda yang menuju ke kamarnya terkekeh melihat tingkah adiknya yang amat patuh menggemaskan.
"Fyuh....." Miko menyeringai dengan nafas lega.
"Untung saja aku bisa menipu kakak. Jika ketahuan maka semua pekerjaan ku pasti akan di tentang olehnya. Lega...."
Miko bicara kecil penuh kelegaan terlepas dari pertanyaan sulit.
Sambil tangannya mengurut dada penuh kelegaan terlepas dari semua ucapan intimidasi kakaknya.
__ADS_1
BERSAMBUNG