
Jalan yang tergesa-gesa, pada akhirnya membawa ketiga anak yang mencari Dinda itu sampai di gedung yang mereka tuju.
"Apa ini gedungnya?" tanya Miko pada Dendy. Dia ingin memastikan dengan benar kalau mereka tidak salah alamat.
"Iya," angguk Miko. "Ini gedungnya. Ayo kita langsung masuk kedalam."
"Lihat itu, ada banyak mobil di dalam." Niko menyela, menunjukkan jarinya kearah mobil. "Bagaimana kita bisa masuk kalau di jaga seperti itu."
"Apa mungkin itu mobil para penjahat yang menculik Papanya teman kak Dinda," Dendy berargumentasi.
Mereka tengah berada di gerbang palang parkir otomatis. Saat melihat sekumpulan orang-orang ada di sana, mereka mengendap-endap bak pencopet.
"Aku rasa itu bukanlah penjahatnya deh. Lihat di kap mobil itu ada logo aparatur sipil negara. Mungkin mereka adalah petugas keamanan." Miko menyadari, apalagi plat mobil berwarna kuning. Itu artinya pemilik kendaraan bukan penjahat, tapi orang-orang dari pihak keamanan.
"Kita dekati saja kak. Mungkin kak Miko benar, itu bukan mobil para penjahat." Niko setuju dengan kakaknya. Lagi pula, memang orang-orang itu terlihat menunggu di bawah. Sementara ada jaring pengaman di atas mereka.
Mobil yang di maksud oleh Niko adalah mobil milik para detasemen khusus anti teror. Mereka mendekati para petugas, dan disana para petugas menjaga agak ketat.
Kala mereka bertiga tiba di sana, tiba-tiba salah seorang petugas menegur, melihat mereka.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya seorang petugas.
Sontak, ketiga anak-anak itu kaget dan bergidik ngeri. Ah, melihat rupa mereka saja sudah mengerikan bagi Niko, apalagi menatap mata mereka yang melirik sinis.
"Ah, anu.... Kami hanya..... Ingin melihat kakak kami saja," balas Niko agak gagap. Sungguh, Niko sudah merasa takut saat ditanya garang seperti tadi.
"Kalian tahu, di atas sangat berbahaya. Siapa yang akan mengizinkan kalian naik keatas. Jangan cari perkara di sini!" seru petugas yang membawa senjata Laras panjang di tangannya.
Miko dan Dendy kompak mendongakkan kepala mereka melihat ke atas. Gedung yang tingginya mencapai puluhan lantai itu, di tutupi sebuah jaring pelindung.
"Bagaimana bisa kita keatas. Kita di persulit sekarang," bisik Dendy.
Miko menjawab, mungkin tak ada ide yang harus di ucapkan saat ini. Kecuali, "Aku juga bingung. Mereka membatasi kita, itu artinya di atas benar-benar memang sedang terjadi sesuatu yang mengerikan."
"Masalahnya saat ini kak Dinda bagaimana. Apakah dia benar-benar ada di atas?" tandas Niko.
"Iya Ko. Saat ini kak Dinda yang perlu kita pikirkan." Dendy menyahut setuju.
Benar sih, kak Dinda tidak tahu nasibnya. Apakah dia ada di atas atau tidak, aku tidak tahu. Tapi, para petugas ini mempersulit kami. Bagaimana caranya naik ke atas tanpa membuat kekacauan.
Mereka memikirkan ide. Saat sedang mencari celah agar bisa ke atas, talki walki salah seorang petugas berbunyi. Dengan jelas mengatakan kalau di atas ada korban yang terluka.
Chek-chek. Unit satu delapan tujuh, chek. Kami butuh bantuan tim medis ke atas sekarang. Ada korban yang terluka di sini. Kami ulangi, ada korban terluka di atas, segera kirimkan tim medis ke atas.
"Kalian dengar, di atas meminta bantuan. Apa itu artinya ada yang terluka?" ujar Niko memberitahu.
Dendy dan Miko sepakat kalau mereka juga mendengar ucapan dari talki walki itu.
Ide itu muncul, senyum sumringah datang kala petugas-petugas itu lengah tak menahan mereka. Apalagi ada beberapa mobil ambulance yang datang dengan sirine yang mengguncang telinga.
Dendy mengkode, ini saat yang tepat untuk naik keatas. Kedua kakak beradik itu setuju, mereka mengerti bahasa isyarat dari Dendy.
"Kita lari sekarang. Atau kita tidak bisa naik ke atas."
"Kakak terlalu banyak bicara. Ayo pergi sekarang," tandas Niko. Oh, kakinya agak lebih cepat dari pada kedua orang yang bersamanya itu.
Dendy dan Miko mengekori Niko. Adiknya memang tak terduga, bisa-bisanya tanpa berpikir ulang langsung naik ke atas.
Ketiganya meninggalkan para petugas yang tak lagi memperhatikan mereka bertiga. Oh, jujur, ketiga anak itu tidak sanggup menaiki ratusan anak tangga. Tapi—langkah mereka sudah setengah gedung.
Tidak mungkin kalau mereka akan turun ke bawah lagi.
Di rooftop gedung, Zico amat menyayangkan kematian Tony Kim. Tidak menyangka saja kalau pria itu akan berakhir pada kematian.
__ADS_1
"Bawa mereka semua. Jangan biarkan satu orang pun di antara mereka ada yang kabur." Kepala komando detasemen khusus anti teror memerintahkan kepada seluruh personelnya agar meringkus semua bandit-bandit sialan itu.
Berhubung mereka menyerah, upaya menangkap mereka tidak terlalu sulit. Apalagi Tony Kim sudah mati, semakin membuat para anak buahnya tak sanggup bertindak.
Tapi ada beberapa anak buah Tony Kim yang sudah kabur lebih dahulu, sebelum mereka tiba. Lantaran tak mau bernasib sama seperti teman-teman sesama penjahat lainnya, kabur adalah pilihan yang tepat.
Zico menelisik bagian tubuh Tony Kim. Ada dua tembakkan yang menyangsang bagian tubuhnya. Darah segar sudah mengguyur di permukaan lantai.
Kala Zico sedang duduk merendah di hadapan mayat Tony Kim, sebuah panggilan datang memasuki rongga ponselnya yang sempat hening.
Di situasi seperti ini, Zico ingat kalau dia sempat mematikan ponselnya. Tapi kenapa ada telepon yang masuk. "Apa aku tadi lupa mematikan ponsel ku?" ucap Zico keheranan. Namun seingatnya tadi dia sudah mematikan telepon itu.
Ketika membuka layar handphonenya pun, Zico melihat yang menelponnya adalah satpam hotel. Pikir Zico ada apa, tak biasanya dia menelpon seperti ini.
"Ada apa kau menelpon ku di saat seperti ini?" tanya Zico. Dia malas berkata, itulah sebabnya Zico berkata kilat. "Jika tidak terlalu penting, jangan menghubungi ku sekarang," katanya memberitahu.
Zico bukan sensi atau sedang dalam mode marah-marah, tapi dia sedang malas menanggapi telepon masuk.
"Pak, kami melihat Bu Dinda di bawa seorang pria keluar dari hotel dalam keadaan pingsan. Katanya pria itu tunangannya, tapi seingat saya tunangan Bu Dinda itu pak Steve. Bisakah anda datang sekarang ke hotel." Satpam ini memberitahu, terlebih pria yang bersama Dinda itu asing di matanya.
"Hah. Dinda di bawa oleh pria yang mengaku tunangannya?" Zico terhenyak kaget. Tapi mulutnya tak tahan untuk mencecar bertanya. "Kamu tahu siapa yang membawanya pergi?" tanya Zico ingin tahu.
"Namanya.... oh, sebenar. Aku tidak tahu namanya tapi." Saat dia hampir lupa mengenai identitas pria yang membawa Dinda itu, beruntung. Sebab satpam ini berdiri di dekat meja resepsionis hotel. Dia membisik pada wanita bagian resepsionis, meminta identitas pria tadi. Dan saat melihatnya, satpam itu langsung memberitahu Zico. "Namanya Johan pak. Identitasnya masih kami simpan di buku penerima tamu hotel," ucap pria ini menjelaskan. Dia mendapatkan identitas pria yang dia maksud, dari KTP Johan yang sempat di catat bagian resepsionis.
Johan lagi Johan lagi. Bosan bagi Zico harus mengingat nama si brengsek itu.
Pria yang menghubungi Zico ini bekerja sebagai bagian keamanan di hotel tempat di mana Johan membawa Dinda sebelumnya.
Ah, lebih tepatnya satpam itu bekerja di hotel yang masuk dalam proyek investasi grup Wong.
Saat satpam ini memberitahu Zico—pria ini melihat ke arah Steve yang sedang membantu Vanya menyadarkan diri. Lalu, tak lama kemudian dia kembali berbicara pada penelpon.
"Kamu yakin itu Dinda?" bisik Zico pelan. Dia tidak mau Steve tahu kalau terjadi sesuatu pada Dinda. "Kami yakin tidak salah lihat bukan?"
Sial. Kenapa harus seperti ini, umpat Zico yang kesal. Seharusnya tidak begini. Tapi kenapa pria aneh itu ada bersama Dinda. Anjay.
"Baiklah, kamu tunggu di sana. Kami akan segera sampai." Ucap Zico. Langsung menutup teleponnya, dan menghampiri Steve. Tidak tahu apa yang akan terjadi, yang pasti Steve akan berang kalau tahu mengenai ini. "Steve, kamu harus tahu mengenai hal ini," ucap Zico terengah-engah.
"Apa?"
"Dinda," katanya kilat.
"Ada apa dengan Dinda?" tanya Steve. Dia lupa kalau Dinda masih menunggunya saat ini. Tapi sayang, berita kali ini akan membuat Steve harus melupakan kerinduannya pada wanita itu.
"Dia di bawa pergi oleh Johan," kata Zico yang tak mau menutupi kejadian ini dari prianya Dinda itu.
Steve yang sedang memangku kepala Vanya, perlahan menanggalnya di lantai. "Hah!! Apa kamu bilang. Dia di bawa si pecundang itu?" Steve meninggikan suaranya. Tangan-tangan kekarnya sudah terkepal hingga memerah. "Kurang ajar. Si pecundang itu!"
"Aku dapat kabar dari satpam hotel. Katanya Johan pergi belum lama. Sebaiknya kita langsung kesana saja. Aku takut mereka akan pergi jauh." Tambah Zico mendetailkan ucapannya.
Belum usai Zico membahas hal ini, Steve langsung mengambil langkah seribu. Dia mencoba meninggalkan rooftop dengan tergesa-gesa.
"Kamu ikut aku," ajak Steve pada Zico. "Pria itu sudah mulai berulah," katanya yang sudah geram.
Steve tidak lagi memperdulikan orang-orang yang ada di rooftop. Pikirannya sudah tertuju pada satu orang, yaitu Dinda.
Ketika hendak turun melewati ratusan anak tangga darurat. Dendy, Miko dan Niko juga tiba di atas rooftop. Melihat Steve, kedua anak itu terbelalak kaget.
"Kak Steve!" teriak Niko lebih dulu. "Kakak......"
Steve tidak terlalu menggubris keduanya, tapi. "Kalian bantu menjaga Vanya dan bawa dia kerumah sakit. Kami ada urusan mendadak. Ingat, jaga dia di rumah sakit, jangan pernah meninggalkan dia sebelum aku kembali," perintah Steve pada keduanya.
Setelah Miko dan Niko tiba di rooftop, tim medis yang datang dengan tandu juga sudah ada di atas tangga dekat rooftop. Ah, Steve hanya bisa mendorong mereka agar tak menghalanginya menuruni anak tangga.
__ADS_1
Hanya Dinda yang ada di pikirannya saat ini, tak ada yang lain.
"Percepat langkah mu. Aku tidak mau kehilangan Dinda lagi kali ini!" seru Steve pada Zico.
Temannya itu membuntuti Steve, mempercepat langkahnya menyamai langkah Steve yang menurini hingga empat anak tangga sekaligus.
Di atas rooftop tadi, Niko terhanyuk bingung atas apa yang dia lihat barusan.
"Bukankah kak Steve masih dalam masa pengobatan di Jerman. Tapi kenapa dia sekarang ada di sini?" Niko berpikir kalau yang dia lihat tadi bukan Steve, tapi orang lain. "Apa aku tadi salah lihat kak?" tanyanya pada Miko.
"Dia memang benar-benar kak Steve. Kamu tidak salah lihat," balas Miko membenarkan.
Miko sama halnya seperti adiknya, Niko. Dia juga kaget karena melihat Steve ada di rooftop gedung.
Tapi bagi Dendy, karena baru kali ini dia melihat Steve, karena sebelumnya dia hanya mendengar rumor tentang pria itu. Sungguh, pantas saja pria itu sangat di cintai oleh Dinda, ternyata memang dia berkharisma.
"Dari pada kita membahas kak Steve sekarang. Ayo kita bantu Vanya dulu. Nanti setelah itu kita bahas lagi kak Steve." Miko ingin melupakan sejenak mengenai banyaknya pertanyaan tentang pria itu. Tadi Steve berpesan agar menjaga Vanya di rumah sakit, jadi dia harus menjalankan permintaan pria itu.
Mungkin bagi Steve, kehilangannya tanpa kabar selama tiga bulan ini adalah suatu hal yang biasa saja. Tapi tidak bagi Dinda dan yang lainnya. Steve adalah nyawanya, oleh karena itu saat Steve tak ada Dinda merasa tak berdaya.
Steve juga merindukan gadisnya. Apalagi selama tiga bulan tak mengabari Dinda, dia merasa makin tak bisa membendung rasa kerinduan itu. Tapi hal ini berbeda, Johan si pria berengsek itu sudah merusak kebahagiaannya saat ini.
"Pelan-pelan saja Steve. Lampu merah, kita di tilang nanti kalau kamu menerobos begitu." Zico mengingatkan, walau Steve terlihat gusar, namun tak sepatutnya mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi.
Omong kosong dengan hukum. Aku tidak peduli apa itu tilang. Yang terpenting aku harus bisa mendapatkan Dinda ku lagi.
Walau Zico menegur, bukan berarti Steve akan mengindahkan perkataannya. Justru, lampu merah yang ada di depannya, ia terobos. Seolah tak peduli pada keselamatan orang lain, Steve tidak menghiraukan ada begitu banyak nyawa yang hilir mudik di depannya.
"Awas Steve," teriak Zico. Di depan mereka ada wanita yang mendorong troli bayi sedang menyebrang jalan. Dengan sigap Steve membelokkan kemudi, sehingga dia bisa menghindar dari penyebrang jalan. "Hampir saja kamu membunuh orang," kata Zico sembari mengembuskan nafas lega. Dia mengomeli temannya itu, ah sebal rasanya kalau harus satu mobil dengan pria yang tak tahu aturan ini.
"Di hotel mana satpam itu berada?" tanya Steve singkat. Perhatiannya tetap tertuju pada jalan yang dia lalui. Dia tidak mau membahas tentang Zico mengomelinya tadi.
"Belok kanan. Hotel comparison. Tadi satpam bilang mereka sebelumnya masuk kesana." Sambil menunjuk arah, Zico berpegangan erat. Steve tidak tahu bagaimana caranya mengemudi dengan baik, jadi Zico agak was-was mengenai hidup dan matinya.
Dinda, Dinda, Dinda. Kenapa kamu harus pergi bersama dia. Kenapa kamu masih selalu ceroboh seperti ini.
Bagi seorang pria bernama Steve ini, hanya ada Dinda dalam dirinya. Semua tak ada yang di pedulikan saat sesuatu menyangkut nama gadis itu.
Ketika sampai di hotel, mobil Steve langsung di parkir di dalam lobby hotel. Tidak ada yang melarangnya mau parkir dimana, dia pemilik gedung itu. Bukan masalah baginya mau menepikan mobilnya dimana pun. Bahkan Steve kalau mau dia bisa menepikan mobilnya di dalam gedung hotel. Tapi itu tidak etis.
Steve turun dari mobilnya, membanting pintu mobil itu dengan kasar.
Dia berlari ke dalam hotel, menemui meja resepsionis. Di sana pria yang menghubungi Zico tadi sudah menunggu.
"Pak Steve. Aku pikir anda......"
"Lupakan masalah lainnya. Kemana pria yang membawa Dinda pergi." Steve mengehentikan bicara pria yang terhenyak kaget itu, memotong perkataannya jauh lebih baik untuk menyingkatkan waktu.
"Tadi pria itu bilang mau membawa Bu Dinda ke rumah sakit. Katanya Bu Dinda mabuk, dan kami melihat dia memang tidak sadarkan diri," jawab pria ini.
CK, sial. Seharusnya aku datang lebih awal. Kalau begini, aku harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang.
Saat satpam terlihat berusia empat puluh tahunan itu berkata, Steve tidak lagi bertanya apapun padanya. Steve mengikuti kata hatinya, dia harus ke rumah sakit.
Sementara hari sudah semakin menggelap. Steve memang gusar, Zico yang menemaninya sedari tadi paham betul mengenai tingkah Steve.
"Rumah sakit mana mereka pergi?" tanya Steve. Mobil hitam yang dia kemudikan itu, kini menyongsong jalan menuju ke tempat yang ingin di tuju Steve.
"Belok kanan, di depan ada rumah sakit yang paling dekat dengan hotel."
BERSAMBUNG
__ADS_1